
Aneta, Genie dan Ray kini tengah berada di kediaman Ray sendiri..ya setelah mereka memutuskan untuk tinggal satu atap kini Ray benar-benar membawa Genie dan Aneta ke rumahnya rumah pribadi miliknya meski tak terlalu besar seperti mansion milik Rey ayah Genie tapi suasananya begitu nyaman.
"Woahhh Daddy..rumah Daddy besar sekali" ujar Aneta antusias.
"Benarkah..tapi tidak seberapa besar dari rumah grandpa Rey Daddy nya mommy" ucap Ray melirik ke arah Genie.
"Benarkah..mommy benarkah rumah grandpa Lebih besar dari rumah Daddy?" tanya Aneta begitu penasaran.
"Iya sayang..sudah ayo masuk dulu..di luar dingin" ajak Genie melirik ke arah Ray dengan lirikan tajam.
Yang di lirik hanya menyunggingkan senyuman saja karena apa yang dia katakan memanglah benar adanya..rumahnya di banding kan dengan mansion ayah Genie bukanlah apa-apa..mungkin hanya halaman belakang saja.
Ray membawa Genie dan Aneta kayak kedalam rumahnya..dia menunjukkan kamar Aneta.. sampailah mereka di kamar Aneta..Aneta membuka pintu kamarnya dan melihat isi di dalamnya..dia sangat senang.. sesuai keinginannya.
"Wahhhh Daddy.. terimakasih Aneta senang sekali mempunyai kamar sendiri..kamar yang Aneta mau.. terimakasih Daddy" ucap Aneta berbinar-binar melihat kamarnya sendiri.
__ADS_1
"Sama-sama cantiknya Daddy..beri Daddy kecupan kalau begitu" pinta Ray memiringkan pipinya.
"Tentu saja Daddy..cups" Aneta mengecup pipi Ray dengan sayang dia benar-benar bahagia.
"Sudah sekarang istirahat ya..hari sudah malam pasti kamu capek kan..kalau begitu Daddy dan mommy ke kamar dulu ya cantiknya Daddy..cups" Ray pamit sambil menarik Genie keluar dari kamar Aneta dna meninggalkan Aneta sendiri agar bisa beristirahat.
Setelah di luar kamar Genie meninju perut Ray dengan kesal.. apa-apaan dia main ajak ke kamar memang dia pikir Genie apaan.. benar-benar tidak bisa di biarkan si cabul itu.
"Arkhhhhhhh ssshhh kau..awshhh kau benar-benar gila hah..kenapa kau memukulku gadis gila..astaga ssshhh" ucap Ray dengan menahan sakit di perutnya untuk kesekian kalinya dia kena bogeman Genie.
"Makanya kalau punya otak di pakai..kau pikir aku mau sekamar denganmu apa..sialan kau.. aku mau satu atap denganmu hanya karena Aneta jika bukan sudah habis kau ku hajar sejak tadi.. menyebalkan" cerocos Genie Tak berhenti mengungkapkan kekesalannya.
"Oh..makanya bilang yang jelas supaya aku tidak salah pengertian..huhh mana kamarku..apa ini?" tanya Genie melangkah menuju sebuah kamar yang dia yakini adalah kamarnya.
Sedang kan Ray dia hanya tersenyum smirk melihat Genie masuk kedalam kamar yang bukan kamar Genie sendiri..waktunya pembalasan Ray.
"Kenapa kamarnya seperti kamar laki-laki..ck dasar tidak tau mode" ucap Genie meneliti setiap sudut kamar yang dia kira adalah kamar nya.
__ADS_1
"Ekhemm..nona sepertinya anda benar-benar sudah tidak sabar ya bermain denganku?" ucap Ray menyusul Genie dan semakin mendekati nya.
"Kau..mau apa kau di kamar ini.. keluarlah sebelum aku menghajarmu lagi" gertak Genie
menyelamatkan diri.
"Ini kan kamarku..jadi suka-suka aku" ucap Ray santai sambil duduk di ranjang.
"APAAAAA?"
"Kenapa..kau yang masuk sendiri jadi tidak ada jalan lain untuk bisa keluar sebelum kau menerima hukumanku" ucap Ray menyeringai melihat kegugupan Genie.
"Kau..mau apa kau..jangan macam-macam ya tuan cabul..kau tidak tau betapa aku mengerikan kalau sedang marah" ancam Genie menakut-nakuti.
"Wahhhh aku semakin penasaran..buktikan" ucap Ray tersenyum.
"Ck..sialan kau..buka pintunya..mana kuncinya aku sudah gerah ingin mandi juga baju-baju aku tidak ada.. cepatlah" ucap Genie kesal karena pintu nya malah di kunci kan sialan si cabul itu.
"Sabar nona..kita bahkan belum mulai"
__ADS_1