
"Ka..kau..arkhh ssshhh kau..benar..benar arkhh uhukkk..gadis gila" ucap Ray terbata dengan memegangi bagian perutnya yang di bogem Genie.
"Rasakan karena kau sudah berani mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk keuntungan mu sendiri tuan cabul" Genie melangkah meninggalkan Ray yang masih asik memegangi perutnya.
"Ssshhh..dasar..gadis..gila..arkhh..sialan" umpat Ray.
Ray bangkit dan berjalan dengan pelan sambil sesekali meringis kesakitan saat merasakan bagian yang Genie hajar sedikit ngilu.
"Bantuan dan bayaran..thanks atas bantuannya dan terimalah bayaran dariku tuan Ca-Bul " Genie melesak meninggalkan Ray di depan restoran.
Sementara Ray dia benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya sendiri kenapa malah mau membantu gadis gila itu..astaga apa dia sudah kehilangan kewarasan nya.
"Ssshhh tidak seharusnya aku membantu gadis gila itu asssshhhh ini sangat menyakitkan" Ray menggerutu sambil berjalan menuju mobilnya dan masuk lalu mulai menjalankan mobilnya menuju kediamannya.
....KEDIAMAN REY....
"Mom..dad..Genie pulang" ucap Genie kala melihat kedua orang tuanya tengah duduk santai di sofa.
__ADS_1
"Astaga my Princess sudah pulang..sini beri Daddy pelukan Princess" ucap Rey sambil merentangkan tangannya.
"Of course dad" Genie masuk kedalam pelukan Rey pelukan yang hangat dan tak pernah berkurang kehangatan nya malah semakin bertambah setiap harinya.
"Kau dari mana sayang?" tanya Laura mengelus rambut Genie yang kini duduk di tengah-tengah dia dana suaminya.
"Genie dari show Mom terus mampir resto eh nggak taunya ketemu kutu kucing ilang deh napsu makan Genie..mommy Genie laper banget mom" Genie menceritakan harinya pada kedua orang tuanya karena ini sudah jadi kebiasaan nya selama ini.
"Astaga dia masih mengganggu Princess Daddy..hmm kau mau Daddy apakan dia nak?" tanya Rey yang juga geram dengan Sammy anak dari rival bisnis nya semasa muda dulu.
"Entah lah dad..dia selalu mengganggu Genie di setiap kesempatan..ck..syukurlah tadi Genie di tolong sama rekan bisnis kami Gio jadi aman sementara" jelas Genie.
"Itu siapa ya namanya tadi..emmm ah iya Rayano Cartwright" jelas Genie yang baru mengetahui nama panjang pria cabul itu.
"Rayano Cartwright? seperti nya Daddy agak familiar dengan nama Cartwright" ucap Rey
"Sudahlah dad..kau sudah tua jangan terlalu mengingat yang sudah tidak sanggup kau ingat" ucap Genie meledek.
__ADS_1
Obrolan mereka masih berlanjut hingga pelayan memanggil dan mereka menuju ruang makan..di sana sudah ada Gian dan Rachel juga ketiga cucunya yang tengah berlarian kesana kemari.
Rey dan Laura sangat bahagia karena masih bisa melihat anak cucu nya..mereka tak tau kapan ajal akan menjemput jadi mereka akan berusaha untuk selalu ada di antara keluarga nya agar tak ada penyesalan ketika mereka di panggil tuhan kelak.
*
*
Lain pula di rumah Ray..Ray sendirian di rumah pribadinya..belum pernah ada yang dia ajak ke sana karena dia tak mau di ganggu bahkan mantan istrinya pun tidak tau jika dia mempunyai rumah pribadi yang dua kali lipat lebih besar dari kediaman orangtuanya.
Ray membangun rumah impiannya sendiri dengan hasil kerja keras nya selama menabung hampir 2 tahun..awalnya dia bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan ayahnya namun karena merasa hidupnya selalu di atur akhirnya Ray memutuskan untuk membangun sendiri usahanya dan sukses.
Perusahaan yang dia bangun mampu menyaingi perusahaan Daddy nya yang terbilang cukup besar namun masih kalah besar dengan perusahaan Ray sendiri.
"Tuan apa and akan makan malam sekarang?" ucap bibi pelayan paruh baya menghampiri Ray.
"Boleh bi..siapkan saja" ucap Ray tersenyum hangat.
__ADS_1
"Baik tuan" bibi pelayan melesak menuju dapur dan mempersiapkan makanan untuk Ray.