
"Hey sudah aku bilang aku tidak apa-apa..hanya sedikit pekerjaan..baiklah ingat jangan melakukan apapun karena aku tak main-main dengan ancaman ku mengerti?" ujar Malvin mengusap kepala Hailey dan pergi.
Hailey tampak terdiam namun seketika dia tersenyum dan merona..secepat itu kah dia bisa membuka hati nya untuk Malvin..ya tuhan jika memang Malvin yang terbaik yang telah kau pilihkan untuk Hailey maka persatukan mereka.
"Dia manis sekali tidak seperti___ah sudah lah dia dan lelaki brengsek itu jauh berbeda..Malvin sangat baik meski tidak mengenal ku..apa aku bisa membuka hati untuk nya..ya tuhan aku harus bagaimana menyikapi nya.. aku tersentuh dengan perlakuan manis nya tapi aku takut jika itu hanya kedok semata" ujar Hailey tengah gundah gulana memikirkan lagi perasaan nya.
Hailey masih belum bisa memberikan harapan atau kepastian pada Malvin karena mereka baru saja kenal satu sama lain..dia tidak mau jika di suatu hari nanti dia menemukan fakta mengejutkan tentang Malvin malah akan membuat dia berat meninggalkan pria itu.
Sementara itu Malvin telah sampai di kantor..dia menuju ruangan nya dana menemukan beberapa dokumen sudah menunggu nya..tanpa banyak basa-basi Malvin langsung memulai pekerjaan nya yaitu memeriksa dokumen-dokumen itu.
"Wow..seperti nya aku akan pulang cepat hari ini" ujar Malvin tersenyum melihat dokumen yang hanya ada beberapa saja di atas meja.
Di saya Malvin tengah serius dengan pekerjaan nya ponsel nya berbunyi dia tau pasti itu dari bos nya..tanpa menunggu lama Malvin mengangkat panggilan itu dengan masih fokus menatap dokumen di hadapan nya.
"Ya bos" jawab Malvin.
"Kau dimana?" tanya Ray.
"Di kantor bos..ada yang bisa saya bantu?" tanya Malvin pada intinya.
"Aku butuh bantuan mu" ujar Ray mengatakan tujuan nya menelfon Malvin.
__ADS_1
"Katakan bos jika saya bisa maka akan saya lakukan" jawab Malvin cepat masih dengan menatap dokumen di tangan nya.
"Tolong gantikan aku dan Genie ke acara jamuan makan malam di restoran xxx dua hari lagi..maaf Genie masih rewel kau tau sendiri kan dia tidak suka acara-acara seperti itu?" ujar Ray menjelaskan.
"Iya bos..baiklah saya akan datang mengganti kan anda" Malvin menerima tawaran Ray karena dia tidak ada pilihan lain.
"Thanks Malvin kau yang terbaik..bulan ini gajimu naik 2x lipat" ujar Ray mengatakan rasa terimakasih nya.
"Terimakasih bos" senyum di wajah Malvin terbit begitu lebar dia senang bosnya memang paling pengertian kepada nya.
Sambungan telepon terputus dan Malvin kembali mengerjakan pekerjaan nya hingga tak terasa hari sudah semakin sore..kini waktu nya Malvin kembali ke apartemen..entah kenapa Malvin begitu semangat kembali ke apartemen biasa nya dia paling malas kembali ke apartemen nya karena tak ada siapapun selain kekosongan.
Sampailah Malvin di restoran..dia bergegas menuju kedalam dan memesan makanan yang dia pikir Hailey akan menyukai nya karena jujur dia tidak tau makanan kesukaan Hailey.
Dia serius dengan perkataan nya tadi saat di apartemen sebelum ke kantor..dia ingin menjadi kan Hailey pendamping nya meski saat ini memang dia belum memiliki perasaan lebih pada Hailey namun dia nyaman dengan keberadaan Hailey di apartemen nya.
Bisakah ini dia anggap suatu awal yang baik untuk memulai suatu hubungan..jujur dia tidak tau seperti apa harus memulai suatu hubungan dengan lawan jenis dia sudah lupa sejak hati nya di hancurkan dengan kejam nya oleh seorang wanita yang dia sukai.
Jauh sebelum dia mengenal Ray dan merintis karir bersama Ray..di saat dia masih menjadi pekerja di pabrik sebagai karyawan biasa,saat itu usianya masih sekitar 20 tahunan wajah nya juga belum setampan saat ini karena dia masih cupu tapi dia memiliki kemampuan dalam dunia bisnis yang dia tutupi dengan penampilan nya..dia menyukai seorang wanita namun dia tidak berani mengatakan perasaan nya..hingga suatu ketika dia menyatakan perasaan kepada wanita itu dan di tolak mentah-mentah bahkan di hina habis-habisan..sejak saat itu lah dia tak lagi respek terhadap wanita.
Dia memang menghormati wanita tapi untuk menjalin suatu hubungan dengan wanita dia memilih mundur karena takut akan kegagalan tapi dia melihat Hailey dengan cara berbeda-beda..wanita itu tampak lain dari wanita kebanyakan yang hanya memandang harta dan rupa.
__ADS_1
"Semoga keputusan ku tidak salah..semoga ini yang terbaik untuk kami" ujar Malvin berharap semoga langkah yang dia ambil adalah langkah yang tepat untuk mereka.
Sementara itu di apartemen Hailey tampak sudah rapih..dia sudah mandi dan tampak membuatkan teh untuk Malvin juga makanan seadanya..hanya nasi goreng dengan telur dan sosis.
Hailey tak mau berdiam diri saja karena dia akan bosan jika hanya duduk dan tidur..dia juga tidak enak pada Malvin yang sudah bekerja namun dia hanya tiduran di kamar..ck ini bukan style nya.
"Semoga Malvin suka..aku hanya mampu membuatkan nya nasi goreng saja..jika tenaga ku sudah terkumpul mungkin aku bisa membuatkan nya yang lain juga tapi aku sungguh tak ada tenaga..maafkan aku Malvin aku tidak berguna" ujar Hailey tampak murung karena hanya mampu membuat nasi goreng saja.
Tak berapa lama kemudian Malvin telah sampai di tempat parkir nya..dia keluar dari mobil nya dan menuju lift yang ada di sana..dengan tangan menenteng makanan dia tampak tersenyum melihat kelakuan nya sendiri.
"Aku tidak yakin dia akan suka dengan makanan ini..huhh entah lah yang pasti aku sudah mencoba menunjukkan perhatian dan keseriusan ku..semoga dia suka" ujar Malvin bergumam di dalam lift.
Sampailah Malvin di unit nya..dia bergegas membuka pintu unit nya dan masuk kedalam..dia melihat Hailey tampak sudah duduk di sofa ruang tamu nya.
"Ely" panggil Malvin ketika melihat Hailey tengah duduk di sofa.
Hailey yang merasa nama nya di panggil langsung menoleh..dia melihat Malvin tengah menatap nya.. Hailey bangkit dan berjalan menuju ke arah Malvin berada tapi di hentikan oleh Malvin.
"Stop..biar aku yang ke sana" ujar Malvin menghentikan langkah Hailey.
Hailey tampak terdiam dan kembali duduk..jujur perut nya nyut-nyutan.. Malvin semakin dekat dan dia telah sampai di depan sofa kemudian dia duduk di samping Hailey dan menatap intens Hailey.
__ADS_1