OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 101. AWAL YANG BARU


__ADS_3

Ini merupakan bab lanjutan dari omah simbah dan di bab 101 dan selanjutnya penulis akan menceritakan tentang lika liku Pram dan Rian mendidik buah hati mereka.


Penulis berharap pembaca masih setia mantengi cerita ini dengan segala kekurangannya.


Hanya dukungan pembaca, teman-teman seperjuangan, serta hadiah, like, faforit dan vote, komentar yang sudah mampir di cerita omah simbah ini, terima kasih saya ucapkan dan saran-saran yang mendukung bisa membuat penulis terus semangat untuk terus maju.


Jangan lupa vote, faforit, hadiah dan like, serta komentarnya agar penulis betah begadang tiap malam sambil ngehalu.


Yuk kita gasken saja, ceki dot.




BAB 101 . AWAL YANG BARU



Perjalanan rumah tangga Prameswari dan Rian baru di mulai, kelahiran buah hati mereka menjadi semangat tersendiri serasa lengkap dan menjadi keluarga utuh.



Dan dari semua itu, Pram dan Rian merasa sangat beruntung di mana dua ibunya masih bisa mendampingi cucu-cucu mereka dan ikut andil merawat mereka, terukir senyum yang tak pernah habis dari bibir dua nenek ini yang kini sudah mulai menua.



Mak Sunar, semenjak suaminya meninggal lebih memilih tinggal bersama kami, serasa mendapatkan tiga ibu sekaligus. Toh nyatanya mak Sunar sangat menyayangi anak-anak ku seperti anaknya sendiri, merawatnya dengan ikhlas dan cerewetnya yang super duper melebihi dua neneknya.



Beruntung ibu dan ibu mertuaku sangat memaklumi hal itu, toh nyatanya semua masih dalam porsinya dan tugasnya yang bertanggung jawab.



Meski di rumah kini ada mbak Ning dan mbak Yas, namun tugas mereka hanyalah untuk bersih-bersih dan memasak, selanjutnya untuk urusan anak-anak dan khususnya diriku Prameswari tak mengijinkan mereka untuk membantu kecuali tiga orang yang di percaya Pram.



Waktu pun berjalan begitu cepat ketiga anakku bukan lagi balita empat tahun yang menuntut perhatian penuh, menatap mereka yang mulai beranjak besar dengan segala tingkah mereka.



Kinanti dan Kinara, kini telah berusia dua belas tahun, gadis kembar yang memiliki sifat yang sangat berbeda, Kinanti lebih periang, gesit dan mudah bergaul dengan siapapun, namun berbeda dengan Kinara yang kalem, pendiam dan terkesan penakut, tapi di balik semua itu ternyata mereka berdua menjadi pasangan yang menguatkan satu dengan yang lainnya.



Lintang, anak laki laki nomor dua kini berusia delapan tahun, anak laki-laki dari keluarga ini memiliki kemiripan wajah sebelas dua belas dengan Prameswari hanya saja kulitnya yang putih bersih, seakan menujukkan jika ibunya berkulit bersih akan nampak seperti Lintang sedangkan Arion, kini berusia empat tahun anak paling bontot merupakan kolaborasi lengkap, hidung nya mirip Prameswari, namun mata dan bibirnya mirip aku.



Bukan hal aneh jika masih pagi rumah sudah ramai, apalagi ini hari minggu.



Suatu kesenangan sendiri bagi anak-anak karena hari ini waktunya mereka di ajak ke sawah.



"Mak .... panggil Lintang yang sudah tak sabar menunggu wanita yang mulai berumur kepala enam puluh ini, namun dengan semangatnya mak Sunar masih gesit melakukan ini dan itu apalagi untuk anak-anakku dan mak Sunar adalah faforitnya Lintang dan Arion.



"Mak" panggilnya lagi dengan sedikit keras.



"Ayo ... buruan" ajaknya lagi dan teriakan, Lintang ini membuat si kecil Arion ikut merengek, bergelayut di kaki mak Sunar, hingga mak Sunar sedikit kesulitan untuk berjalan.



"Mak .... rengek Lintang dan Arion bersamaan, Pram yang sibuk menata sarapan di meja makan, akhirnya sedikit menengok untuk melihat.

__ADS_1



Melihat mak Sunar yang kerepotan akhirnya mau tidak mau menegur "Lintang, Arion"


panggilan sang ibu membuat dua jagoan ini berhenti merengek.



"Lintang panggil bapak dan nenek serta kakak sekalian untuk sarapan "mak, ayo sekalian denga Arion nya juga."



Merasa namanya di panggil Arion kecil mengandeng tangan mak Sunar "maem, yo, le? nampak Arion kecil mengangguk.



Lintang yang sedari tadi mendapat tugas untuk memanggil belum juga naik ke atas untuk memanggil .



"Lintang" panggil bapak dan kakak juga nenek, ucap Pram sekali lagi.



" Biar mak, saja yang panggil Pram."



"Emak duduk saja bantu Arion" ucap Pram lagi.



Lintang masih belum juga beranjak dan masih duduk saja, Pram masih sibuk dengan makanan di meja.



"Jangan harap setelah ini ibu akan mengijinkan Lintang ke sawah "mak, setelah sarapan gak usah ajak Lintang ke sawah" ucap Pram lagi sembari berjalan ke atas dan sedikit emosi.




"Siapa yang masih pagi ini sudah merajuk terdengar suara di belakang mak Sunar.



"Lintang, Nur ...."



"Hm .... mau kemana memang? tak menjawab hanya menunduk "Lagian masih pagi le, masih dingin."



Kini mereka sudah berkumpul meja makan nampak Kinanti, Kinara dan yang lainnya.



"Mbak Ning dan mbak Yas, ayo sarapan dulu, tinggal itu dulu dan nanti di lanjutkan lagi.



Setelah sarapan nampak Lintang mulai mendekati sang bapak dan mulai merajuk berharap sang bapak mengijinkan ke sawah.



" ya, pak ... bolehkan ke sawah, boleh kan? rengek Lintang.



"Hem .... sepertinya tadi ada yang tidak melakukan tugas dan malah merajuk, di rumah saja, minggu ini gak boleh ke sawah."

__ADS_1



"Dan jika memanggil mak Sunar gak boleh teriak dan jangan di ulangi, itu gak sopan Lintang."



Mendengar ucapan sang bapak akhirnya dengan badan lesu menuju ke kamarnya hingga siang hari saat makan siang Lintang baru keluar.



Nampak wajah sembabnya, berjalan menuju sang ibu dan langsung merangkul "Lintang minta maaf bu dan gak akan mengabaikan perkataan ibu" ucapnya pelan.



Mendengar ini Pram tersenyum "ibu sudah memaafkan, sekarang minta maaf ke mak Sunar, karena Lintang sudah gak sopan."



Sedikit berlari menuju kamar mak Sunar dan tak lama kemudian sudah keluar lagi.



"Sudah minta maaf!! ucap sang ibu.



"Sudah .... ucap Lintang dengan tersenyum.



"Ini baru Lintangnya ibu" sembari mengusap kepalanya.



Setelahnya Lintang menuju atas memanggil yang lainnya untuk turun dan kemudian bergegas ke kamar para nenek.



Melihat hal ini Pram hanya tersenyum "anak


yang pintar dan cepat belajar" ucap hatinya.



Siang ini semua nampak gembira, apalagi mendengar celoteh Arion si bontot paling rame.



Senyum Pram tiba-tiba terhenti saat melihat Kinara menunduk dengan dalam tanpa mau melihatku, seketika Pram memandang seluruh ruangan tengah ini dan memindai setiap ruangan namun tak nampak apa-apa.



Sejenak Pram berdiri menatap Kinara sesaat kemudian Pram terkejut 'sejak kapan Kinara mempunyai pendamping' ucap hatiny.



Ternyata apa yang di takutkan terjadi juga, masih duduk terdiam memandang Kinara dari atas dengan menghela napas panjang Pram, masuk dalam kamarnya.



Duduk termenung, akhirnya sekuat apapun aku menutup semua jalan agar anak anakku tak mewarisi ilmu yang ku punya, ternyata semua sia-sia dan benar takdir yang menentukan siapa yang di beri kepercayaan untuk amanat ini.



Setelah mengatur napasku setenang mungkin kini aku duduk dengan tenang seperti yang sudah-sudah, nyatanya Kinara lah yang mereka pilih untuk mewarisi semuannya.



Seketika dadaku serasa sesak, setelah pertemuanku dengan leluhurku dan semuanya tak bisa di tangguh kan.


__ADS_1


Kini aku sudah kembali berdiri menatap Kinara gadis yang pendiam dan tenang, berbeda dengan Kinanti, dua sifat yang berbeda saling melengkapi.


__ADS_2