
"Pram ... "
"Rian ... "
Panggilan ibu mengejutkan kami. "Yang satu senyum-senyum, yang satu cemberut," sembari berjalan mendekat. "Kebiasaan," ucap ibu sembari duduk di tengah kami.
"Melihat kalian seperti ini rasanya nggak usah lama-lama ibu menikahkan kalian, umur kalian juga sudah cukup," ucap ibu sembari berdiri.
"Bu ... ucap Pram sembari mengejar langkah ibu di belakangnya.
"Ibu nggak mau tahu, dari pada kalian ribut terus saling suka saja kok gengsi," ucap ibu lagi.
"Sudah malam Rian, pulang hati-hati," ucap ibu sembari masuk ke kamarnya, nampak Rian berjabat tangan dan menuju keluar dan sedikit mengerling pada Pram. Tak menghiraukan kerlingan Rian, tapi aku malah merengek ke ibu. "Bu. bolehkan Pram tidur dengan ibu?"
"Tentu boleh, sini sembari menepuk kasur di sisinya."
"Ibu tidurlah, ibu baru sembuh, aku hanya ingin tidur sembari memeluk ibu," ucap Pram dan sesekali sudah menguap.
"Sejak kapan, kau manja Pram!! ucap ibu lagi.
"Pram," Panggil ibu. "Hiya Bu? Selama tiga bulan kemana? kini aku pindah posisiku bersandar di ranjang. "Maaf Bu, bukan maksud Pram menghilang. Tetapi Pram mendapat undangan dari Bu Wigati selama tujuh hari," ucap Pram sembari menatap ibu yang sedang berbaring.
"Pram, pikirkan niat Rian, dia baik dan ibu tak tahu harus berbuat seperti apa jika tak ada Rian kemarin-kemarin. Rian sudah banyak membantu kita Pram!! Terdengar suara ibu sedikit tercekat."
"Tidur lah besok kau juga harus kuliah,"kini ibu menatap Pram dan menjewer lagi.
"Sejak kecil, ibu tak pernah menjewer dan sehari ini ibu terus menjewermu, kau membuat ibu marah Pram."
Aku hanya menunduk mendengar omelan ibu dan menunduk, kini ibu memilih tidur memunggungi Pram, serasa ada sesak di hati Pram dengan ikut berbaring miring aku memeluk ibu dari belakang dan merangkulnya.
"Ibu sudah tidak muda lagi Pram, terimalah tawaran Rian, berbuat baiklah," ucap ibu sebelum terlelap. "Ya Bu," jawab Pram pelan dan masih merangkul ibu.
Pagi menjelang masih pukul enam Rian sudah di rumah. "Cepet Pram, kelas pagi," ucap Rian.
Kita nanti juga harus menghadap Dosen jurusan, kamu suka bikin masalah," ucap Rian sembari berjalan dan tak sabar.
"Sudah Pram berhenti kuliah saja ibu nikahkan," ucap ibu di dapur.
"Ibu ... ucap Pram dan kini sudah meraih tangan Ibu untuk pamitan.
Tak butuh waktu lama untuk tiba di kampus menuju ruang Dosen jurusan masih terlihat kosong. "Kita tunggu sepuluh menit lagi," ucap Rian.
Akhirnya dosen yang di tunggu-tunggu datang juga, begitu sang Dosen masuk ruangan
"Permisi Pak," sapa Rian. "Oh ... saudara Rian masuk," ucapnya sembari menatap Pram kemudian tersenyum.
"Kamu ... "
__ADS_1
"Saya Prameswari Pak," ucap Pram sembari duduk.
Setelah duduk di depan Pak Dosen Rian mengeluarkan map dan menyerahkan pada Pak Dosen. Membuka map itu sesaat, membolak balik kertas lalu menatap Rian sejenak. "Kan ijin nya masih tiga bulan lagi?"
"Melihat lagi, tapi syarat-syaratnya sudah lengkap, semuanya sudah di acc," ucap pak Dosen menatap kami berdua dan menutup mapnya. "Rian, apa hubungan kalian, Bapak lihat kok kamu sangat perhatian," ucap pak Dosen.
"M ... anu-anu, Pak ! sembari Rian menggaruk kepalanya. Pak Dosen masih menatap kami berdua. "Jika tak menjawab dengan jujur kalian tak boleh masuk kelas," ucap pak Dosen lagi, sembari berdiri.
"Saya calonnya Rian Pak," jawab Pram tiba tiba. Seketika aku menoleh dan tersenyum ada perasaan senang di hati Rian, Pram mengakui aku sebagai calonnya langsung di depan Pak Dosen.
Hingga suara batuk kecil membuyarkan tatapan Rian pada Pram, Rian sedikit menunduk untuk mengurangi rasa malu.
"Oh ... mangkanya Rian sangat perhatian. selamat ya!!"
"Silahkan, masuk ke kelas,"bucap Pak Dosen sembari melihat jam.
Berjalan berdua dengan Rian, melewati perpustakaan nampak Tania berdiri dan tersenyum padaku.
"Hai Tania," sapa Pram sembari melambaikan tangannya. "Kebiasaan," ucap Rian kini sudah membekap mulut Pram.
"Lepas," ucap Pram dengan sedikit tak jelas dan sembari menghentakkan tangannya.
"Jawab. Kini Rian sedikit menarik Pram ke tepi tembok. Kenapa kau mengaku sebagai calon ku."
"Karena kau kemarin sudah melihat punggung aku jadi kau harus tanggung jawab," ucap Pram pelan.
Rian mendekat ke telinga Pram dan membisikkan sesuatu yang membuat Pram benar-benar malu.
"Pas," ucap Pram saat di depan kelas, Rian langsung menyeret Pram masuk, karena pak dosen sudah di belakang kami dan menggeleng.
Melihat aku dan Rian berjalan berdua masuk kelas Hanifa langsung melotot tak percaya dan menunduk.
Aku dan Rian langsung memilih duduk terpisah seperti biasa, Hanifa yang masih saja menatap dengan heran dan terkejut.
Secara diam-diam sifat usil Pram muncul, Pram berdiam sejenak. "Tania. Tania.Tania kembali Pram memanggil hingga sosok Tania muncul tersenyum menatap Pram. "Aku bisa minta tolong, nampakkan wujud mu pada gadis itu, tunjukkan wajah aslimu," ucap batin Pram.
Tak menunggu waktu lama Tania langsung menjalankan tugas yang aku perintahkan.
Kelas yang tadinya sepi kini tiba-tiba menjadi ramai dengan suara teriakan Hanifa. "Han. han. hantu ... sembari tangannya menunjuk nunjuk di depannya.
Seketika semua mata memandang Hanifa dengan heran dan kelas tiba-tiba menjadi gaduh.
Rian yang menyadari situasinya langsung melotot pada Pram. Pram sedikit tersenyum membalas tatapan Rian dan mengajungkan ibu jari pram.
Hingga beberapa saat kemudian, setelah kekacauan yang Hanifa buat, keadaan sudah kembali hening dan Hanifa tak lagi berteriak teriak. Pak Dosen yang sedari tadi juga sibuk dan bingung menenangkan Hanifa, kini melanjutkan kembali materi yang tertunda tadi.
Sudah dua jam, akhirnya Pak Dosen mengakhiri materinya dan berlalu meninggalkan kelas.
__ADS_1
Begitu melihat pak Dosen keluar, Rian langsung mendekat pada Pram. "Pulang yuk," ajak Rian sembari menarik tangan Pram.
Melihat ini Hanifa langsung melotot
"Hey Rin. Lihat ada yang masih mau sama bekas aku," ucap Hanifa menyindir.
Aku diam memandangnya sembari aku kirim pukulan ghaib menuju mulutnya. Aku buat kau tak bersuara hingga satu jam," ucap Pram sembari senyumnya terkembang.
Berlalu sembari tersenyum puas. "Pram ... panggil Rian." Tak menghiraukan panggilan Rian kini Pram melangkah keluar. 'Itu hukuman karena berusaha mencelakai kemarin," ucap hatiku.'
"Kamu, nggak aneh-aneh kan?" tanya Rian pelan. "Memangnya aku kenapa? sembari aku cubit perutnya.
"Ayo pulang. Aku juga mau ke rumah Simbah," sambil menuju ruang parkir
Sembari menunggu Rian mengeluarkan sepedanya, kini pandangan Pram tertuju pada Santi dan Nurdin. Aku sedikit tersenyum melihat rupannya mereka sudah jadian.
"Pram. Ayo," ajak Rian. Melajukan motornya dengan sedikit pelan, meraih tangan Pram agar aku mau merangkulnya.
"Nggak usah begini, aku lebih suka memegang bahumu," ucap Pram pelan.
"Pram ... Protes Rian. "Jika kamu ngotot aku naik angkot," ucap Pram kini yang mengancam.
Tidak menghiraukan ancaman Pram malah kini menghentikan motornya dan menarik tangannya. "Diam, seharusnya begini, jika kau memegang bahuku aku bukan temanmu, aku calon suamimu, ingat itu dan jangan kau lepas," ucap Rian dengan sedikit keras sembari melajukan motornya.
Hingga sampai di ujung gang aku sedikit melepas tangan ku , tersenyum saat beberapa ibu-ibu melihat aku dan Rian. Sembari melajukan motornya sedikit lambat.
"Mampir ke rumah Ibu dulu," ucap Rian dan langsung berhenti di depan rumahnya.
Setelah mengucap salam Rian langsung menyeretku masuk. "Bu ... panggil Rian sembari meraih tangan Bu Asih untuk di cium.
"Eee ... ada calon mantu," ucap ibu sembari berdiri dari duduknya, aku dan Rian yang tak menyadari jika ada dua orang duduk di kursi ruang tamu dengan terkejut mereka melihat semuanya.
"Aduh ... ibu sampai lupa Pram. Itu ada Hanifa," ucap ibu. "Hanifa kenalkan ini calon mantu ibu, pasti kalian juga sudah kenal," kembali ibu berucap.
"Pram, ini calon mantu ibu dan mereka sudah ibu jodohkan sedari dulu bahkan saat mereka masih bayi lho! cerita ibu dengan menggebu.
Mendengar percakapan ibu aku menunduk dengan senyum puasku. "Rian tinggal ke dalam Bu," ucap Rian secara tiba-tiba.
Masih menatap Hanifa dan Rina hingga sesaat kemudian Rina langsung menyenggol Hanifa beberapa kali, sadar akan kode dari Rina. Maaf tante kami pergi dulu karena ada keperluan," ucapnya tiba-tiba.
"Lho, kok tiba-tiba pergi? Rian dan Pram juga baru datang. Maaf tante besok-besok
kami datang berkunjung lagi," ucap Hanifa.
"Oh ya, jika kalian tak keberatan, besok sore kalian tante undang di acara pinangan Rian dan Pram," ucap tante tanpa basa basi.
Seketika aku menatap Bu Asih dengan terkejut. "Pram apa kamu belum di beritahu," kembali Bu Asih berucap. Seketika aku menatap Hanifa, nampak wajahnya merah menahan malu dan bergegas pergi bersama Rina.
__ADS_1
"Hati-hati," ucap tante Asih saat Hanifa dan Rina berpamitan.
Namun sorot matanya menandakan kebencian dan kemudian tersenyum culas.