
Sengaja ingin berbincang di mushola, Ibu Asih hanya tersenyum saja saat aku bilang ingin berbicara dengan santainya seakan tahu yang ku maksud langsung menepuk bahuku.
"Sudah biarkan Kinara seperti itu, lagian Kinara sudah sering melihat nya namun dia belum faham, sekarang tugasmu yang mengarahkan
jangan sampai ada hal-hal yang membuat Kinara salah mengerti Pram."
"Nur, masih ingat saat kinara pertama kali tahu tentang dunia lain layaknya Pram?"
Seketika ibu mengangguk "benar saat itu waktu Pram lahiran, semalaman Kinara menangis dan menunjuk salah satu sudut ruangan rumah sakit dan dengan cara ngomong nya saat itu, Kinara bilang lihat mbak cantik" jelas ibu panjang lebar.
"Tapi hanya sekali itu saja, toh memasuki rumah Kinara sudah tenang lagi gak bilang lihat ini dan itu, mungkin kalau ibu ajak keluar dia sering bilang lihat ini dan itu, untung sang besan bisa menenangkan Kinara."
"Yang penting sekarang Kinara itu rajin shalat dan mengaji, jadi semua masih bisa di kendalikan.
Aku dan mas Rian langsung saling menatap tak percaya "Lha .... kok aku yang gak tahu apa-apa di sini" ucap mas Rian sembari menunduk.
"Kamu itu le, sibuk cari uang saja, sesekali anaknya di lihat."
Hatiku bertambah yakin, memang benar apa yang di katakan leluhurku saat aku menemuinya 'kini tinggal Kinanti yang akan aku tanya-tanya ' ucap hatiku.
Perbincangan kami terputus saat Arion sudah memanggil karena lapar.
Satu persatu kami beringsut berdiri menuju rumah dan masuk ke ruang tengah, benar anak anak sudah duduk menunggu kedatangan kami.
Satu persatu ku tatap anakku, saat mataku tertuju pada Kinanti nampak perbedaan yang jelas antara keduannya dan pandangan ku terputus saat Lintang memanggilku.
Sembari memberikan lauk untuk Lintang aku juga berusaha untuk mendekati kinanti, tapi bukan untuk saat ini, aku sedikit tertegun banyak hal yang tak aku tahu tentang dua twin K, ku karena obsesi ingin mempunyai anak yang lebih dari dua.
Setelah beberapa saat mereka satu persatu meninggalkan meja makan, kini tinggal aku yang masih duduk melihat mereka masuk ke kamar masing-masing.
Sesaat kemudian ku lihat Kinanti dan Kinara berjalan ber iringan menaiki tangga dan berhenti sesaat.
Masih dalam penglihatan ku nampak mereka berhenti sejenak dan berbicara sesuatu, tapi itu membuat keduanya berdebat.
Senyum ku seketika tersungging, mungkin ini perdebatan yang biasa mereka lakukan, hingga ku dengar salah satu mereka menutup pintu dengan keras.
Tak terasa waktu berulir begitu saja hingga adzan isya berkumandang Kinanti tak juga turun ke bawah .
Melihat Kinanti tak datang ke meja makan membuatku sedikit heran tak biasanya Kinanti bersikap begini,sementara Kinara juga bersikap biasa saja.
Masih dengan heranku akhirnya kakiku melangkah naik juga menemui Kinanti
mengetuk pintu kamarnya beberapa saat, namun tak ada jawaban sedikit pun,hingga di ketukan terakhir pintu baru terbuka.
"Hai, sayang kok, gak turun makan nak? tanyaku sembari duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Kenapa?kini mataku sudah memindai seluruh kamar Kinanti.
Hanya menggeleng, kemudian menatapku
dengan lekat dan langsung merangkul ku.
"Eh, kenapa?" mana putri ibu yang periang."
"Kalau tak keberatan boleh cerita sama ibu, gak mau cerita gak apa apa, ibu akan tunggu sampai Kinan mau cerita!"ucapku sembari berdiri.
"Bu .... kini Kinanti merangkulku dengan erat hingga aku jatuh terduduk di ranjang.
"Tapi janji ibu gak marah kan?" tanyanya ragu.
Aku tersenyum sembari menatap nya ibu gak akan marah nak, ibu malah senang karena Kinanti percaya dengan ibu dan mau cerita."
Nampak tersirat rona bahagia dari wajah Kinanti, Memang ada apa?
Sesaat menunduk kemudian menatapku
"Bu, tadi selepas makan siang aku berantem dengan Kinara" ucapnya sembari menunduk.
"Memang kenapa? ada apa Kinanti, coba cerita siapa tahu ibu bisa bantu."
"Aku jengkel dengan Kinara bu, selalu membicarakan hal yang aneh-aneh dan selalu melarangku pergi ke sawah atau ke warung mak Siti, karena ada yang selalu melihatku dan seperti tadi Kinara marah-marah karena aku pergi ke sawah" ucapnya dengan menggebu.
Seketika dadaku berdesir, memang sudah berapa lama Kinanti? tanyaku memastikan.
"Sejak aku dan Kinara naik kelas enam bu dan Kinara makin sering berbuat aneh-aneh melukis di bukunya apa yang di lihatnya, terkadang aku takut jika Kinara menunjukkan lukisannya."
"Ibu lihat saja di kamar Kinara" ucap kinanti sembari cemberut.
"M ... gak boleh begitu sama saudara, harus rukun" ucapku lembut. "Mungkin Kinara mengingatkan itu untuk kebaikan Kinanti" ucapku sembari mengusap kepalan nya.
"Sudah ceritanya? ku lihat kinanti mengangguk.
"Sekarang sudah lega, tak baik marah-marah sembari membanting pintu, pintu kan gak salah, kenapa di jadikan pelampiasan."
"Jangan di ulangi ya? habis ini minta maaf, nanti setelah makan malam ibu akan ke kamar Kinara, sekarang makan dulu, ayo ..."
Setelah mendengar cerita Kinanti akhirnya aku bertambah yakin akan Kinara, menuruni tangga berdua nampak Kinara melihatku dan Kinanti dengan tersenyum memanggil saudari kembarnya.
"Kinan ayo, sengaja aku sisa ini buat kamu, ayo cepat sebelum habis" ucapnya bersemangat.
Yang di panggil masih dalam mode marah
__ADS_1
"Ayo .... nanti perut nya kosong, kasian Kinara sudah menunggu kamu, ayo sana ...."
Ku lihat kini dua twin ku sudah duduk berdampingan dengan cepat Kinara menyodorkan makanan yang di maksud.
Nampak kini ke duanya mulai terlihat seperti tadi pagi, sedikit tersenyum aku menatap dua twin K ku, bertepatan dengan tatapan mas Rian tertuju padaku.
Dengan bahasa tubuhku akhirnya aku menjawab tatapan mas Rian.
Menikmati makan malam dengan berbagai pertanyaan di hatiku "kenapa Kinara setenang ini? atau pagar yang ku buat di rumah ini atau....
Hingga terdengar suara Arion merengek, ingin segera ke kamar "sebentar ya Arion" sembari aku menghabiskan makan ku.
"Sama bapak dulu gih, ibu mau membereskan ini dulu" ucapku sembari berdiri.
Namun Arion sudah terlanjur merajuk dan menangis.
"Mbak Yas tolong, di bereskan mejanya, Arion rewel" ucapku sembari mengangkat tubuh Arion.
Sementara yang lainnya sudah berjalan naik ke atas, ibu dan ibu mertuaku juga sudah masuk kamar dan kini tinggal mak Sunar yang masih sibuk membantu mak Yas dan mbak Ning.
Hampir masuk kamar saat Kinanti datang mendekat "bu ....bjangan lupa lihat kamar Kinara juga, janji?!"
"Ya, sayang ibu akan lihat kamar Kinara setelah menidurkan adikmu, ibu janji."
Akhirnya setelah mendapat jawaban dariku Kinanti berlalu dam masuk dalam kamarnya sembari tersenyum.
Membuka kamar Arion, nampak si bontotku sudah terlelap dalam pelukanku, namun saat ku baringkan Arion masih belum mau aku tinggal dan masih memelukku dengan erat, hingga satu jam akhirnya Arion benar-benar bisa ku lepas.
Merapatkan selimutnya dan menutup pintu dengan perlahan.
Belum juga kaki ku melangkah ke bawah aku teringat akan janjiku pada Kinanti.
Dengan berjalan perlahan aku menuju kamar Kinara nampak lampunya pun masih menyala.
Sedikit membuka pintu kamarnya, sedikit ku longokkan kepala ku melihat ke ranjang namun tak ada Kinara di sana.
Kini aku memilih membukanya sedikit lebar, aku tersenyum saat ku lihat Kinara tertidur di meja belajarnya dan tengah tidur di beberapa kertas di atas mejanya.
Sedikit mendekat dan ingin membangunkan Kinara agar berpindah tempat ke ranjang.
Namun aku sedikit terkejut saat melihat gambar yang berserakan di meja.
Dengan perlahan ku angkat tubuh Kinara memindahkan ke ranjang, sepertinya Kinara tertidur pulas, karena tak merespon dengan gerakan ku.
Setelah semuanya beres kini aku beranjak ke meja belajar, menata kertas itu sembari melihat satu persatu gambar Kinara.
__ADS_1
Sejenak aku terpaku dengan sosok yang tak pernah aku temui, sosok yang sepantaran dengan Kinara dan Kinanti 'siapa dia?' ucap hatiku.