
Setelah mengatakan itu ibu Asih dan Rian duduk bersila, duduk bersebelahan. Terlihat ibu Asih membaca sesuatu bibirnya komat kamit. Tak berapa lama kemudian terlihat berhenti. Menatap sejenak kemudian tersenyum.
"Rian. Tunggu Pram, ibu akan pulang sebentar, ada yang usil ingin menganggu hubungan kalian, nampaknya mengirim sesuatu pada Pram."
"Beruntung kau jalannya ke arah yang tepat
dan bertemu sosok yang baik dan sepertinya ada yang ingin mencelakai, tapi dia meminjam tangan orang lain Pram."
Setelah beberapa saat kemudian," Rian ibu pulang dulu."
Setelah melihat ibu Asih keluar Rian duduk beringsut sedikit mendekat. Bersamaan dengan ibu masuk. "Tolong ini tehnya, habis ini istirahat saja, sudah tiga hari Rian di sini dan Rian juga sampai nggak kuliah."
Aku menatap Rian dan meraih tangannya.
"Maaf," ucap Pram pelan. Rian hanya tersenyum," sudah minum dulu, habis ini makan bubur ya!"
Mendengar kata bubur, seketika ibu kembali berdiri. "Aduh. Kok jadi lupa, ibu buat bubur dulu," ucap Ibu sembari ke belakang.
Sedikit meraba bibirnya, Pram sesaat meringis nyeri, efek dari panas tubuh Pram hingga bibir Pram kini kering dan sedikit pecah.
Melihat Pram meringis sembari memegang bibirnya. "Nanti aku mintakan madu ke Ibu biar sedikit lembab," ucap Rian. Istirahatlah sembari menunggu buburnya jadi dan aku mandi dulu, lagian Ibu sudah mengijinkan aku untuk menginap."
Pram tak mendengarkan apa yang Rian ucapkan toh nyatanya tubuh Pram lemas dan setelah meminum teh hangat ini membuat tubuh Pram sedikit berkeringat.
"Pram, selama aku mandi jangan pingsan," ucap Rian sembari mengintip di balik pintu.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum dengan tulus. Masih menatap pintu yang tertutup. Ingatan Pram kembali pada pertemuannya dengan Simbah leluhur Rian. Teringat akan perkataan Simbah Rian perjodohan yang di gadang-gadang, mengusir keturunannya dari dusun ini dan leluhur S yang selalu jadi pihak pemicu masalah.
Mengingat semua ini, kepalaku sedikit berdenyut dan pusing belum lagi perkataan Simbah Rian tentang Hanifa.
Belum selesai batin Pram menyebut nama Hanifa, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Tanpa mengucap salam," hai Pram," sapa Hanifa dengan dua teman lainnya yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar.
Melihat Hanifa yang datang dengan sedikit malas Pram menjawab. "Hai Hanifa," sembari membetulkan duduk Pram.
Melihat Santi mendekat hati Pram sedikit melunak. "Maaf baru bisa jenguk Pram. Sepertinya Hanifa yang setiap hari kemari," ucap Santi.
"Terima kasih," ucap Pram pelan, sesaat meringis bibir Pram masih terasa nyeri untuk bicara.
Tak lama Hanifa dan Ruli sudah ke luar dari kamar, sementara Santi memilih duduk mendekat. "Di depan ada Nurdin dan Handra," ucap Santi lagi.
Berbicara sedikit berbisik. "Kau tahu Pram, begitu tahu kau sakit Rian langsung cabut dari kelas dan secara tak sengaja Hanifa mencuri dengar percakapan Rian dengan seseorang," ucap Santi sembari sesekali menoleh ke pintu.
"Tapi aku senang kau sudah sembuh sekarang Pram, cepet sembuh Pram."
__ADS_1
Sebenarnya aku tak ingin serius mendengarkan cerita Santi tapi secara tak sengaja aku seperti di pacu dengan sesuatu hingga membuat Pram menerawang Santi, ternyata dia berbicara jujur.
Cukup lama Santi berbicara dengan Pram sampai Rian datang untuk memanggil Santi karena Hanifa dan yang lainnya sudah bersiap pulang.
Tak berapa lama Ibu masuk dengan membawa semangkuk bubur dan meletakkan di meja belajar. "Maaf Ibu terlambat buat buburnya Pram, ayo makan dulu," ucap ibu sedikit membantu Pram untuk duduk lebih bersandar. "Mana Rian Bu? tanya Pram dengan suara tergetar. "Masih di depan mengantar teman-teman kamu Pram."
Menyuapkan secara perlahan ke dalam mulut Pram. Pram makan dengan diam dan berusaha memakan buburnya dengan cepat.
Tak lama setelah satu mangkuk bubur habis Ibu menatap Pram sembari tersenyum," pinter mau lagi? Pram langsung menggeleng."
"Bu. Kenapa Rian di ijinkan menginap? Protes Pram dengan meringis.
"Biar Pram, Rian sangat khawatir dengan keadaanmu," ucap ibu sembari berdiri.
"Sudah. Istirahat biar badannya nggak lemes Pram! Atau mau rebahan," tanya ibu.
Pram hanya menggeleng. "Bu. Buka saja tirai dan jendelanya aku ingin melihat luar halaman."
"Tapi ini sudah sore Pram? Sebentar saja Bu," ucap Pram lagi.
Langit sore yang cerah menampak bias warna kuning jingganya, masuk lewat jendela kamar, tersenyum sesaat. "Indah," ucapku pelan.
Secara reflek kini Pram sudah beringsut sedikit mendekat di tepi ranjang saat Rian masuk dan itu membuat Pram sedikit terkejut.
"Eh ... mau kemana?Dengan buru-buru Rian segera menghampiri. "Ayo aku bantu," ucap Rian lagi.
"Jangan kemana-mana tunggu di sini saja," ucap Rian dengan nada perintah. Aku hanya menunjukkan ibu jari saja tanda setuju.
Tak lama Ibu masuk, tiba-tiba Rian juga ikut masuk. "Eh ... keluar dulu, Pram ada perlu sama ibu."
Melihat Rian masih berdiri di depan pintu.
"Bu. Suruh Rian keluar," ucap Pram lagi.
Melihat kode dari ibu Rian langsung keluar kamar dengan wajah malu.
"Dasar, umpat Pram. Hust nggak boleh begitu Pram, andaikan nggak ada Rian mungkin ibu sudah pingsan."
Mendengar Ibunya bicara Pram langsung menatap dengan heran. "Memang ada apa Bu? tanya Pram bingung. "Hem ... anak ibu ini ternyata belum mengerti juga."
Sesaat kemudian Ibu mengambil napas panjangnya dan mulai bercerita. "Begitu Ibu pulang dari apotik, Ibu melihat kamu tidur .Tetapi hampir sampai sore kamu belum bangun juga dan Ibu segera menelfon Rian."
Tiba-tiba Ibu berhenti tak melanjutkan ceritanya. "Mau apa? tanya Ibu saat melihat Pram gelisah sudah tiga hari," sembari Pram mencium baju dan ketiaknya berulang-ulang.
__ADS_1
Pram mau mandi Bu, aku takut Rian nanti muntah mencium bau tubuhnya.
Seketika ibu tertawa tergelak mendengar ucapan Pram hingga keluar air mata di sudut matanya.
Setelah puas tertawa ibu menuntun Pram ke kamar mandi, mulut Pram yang kering dan sedikit pecah makin terasa perih.
"Sudah ibu keluar saja, jangan di tinggal soalnya Rian main selonong saja, aku takut Bu."
"Ya, sudah sudah," ucap ibu lagi.
Hampir setengah jam mandi dengan air hangat serasa ringan tubuh Pram, setelah berganti baju aku keluar dari kamar mandi, benar Rian sudah berbincang dengan ibu di kamar. "Eh ... kok di sini?"
Segera Rian menyerahkan sesuatu padaku dan keluar lagi. "Apa itu Pram? tanya ibu. "Madu Bu, lihat bibir Pram pecah-pecah," ucapku sembari memonyongkan bibir Pram.
Ibu melihatnya sekilas dan menuju kearah jendela menutup jendela serta tirainya.
Setelah ibu keluar aku mematut diri di cermin dan menyisir rambut serta memoles bibir Pram dengan madu. "Ish ... sedikit nyeri," batinku.
Berjalan ke ruang tengah Pram melihat Rian sedang membaca, Pram memilih duduk di dekat Rian. "Baca apa kok serius? tanya Pram.
Rian hanya melirikku sejenak kemudian menutup bukunya, kini tersenyum sembari melihat Pram. "Sudah wangi," ucapnya sembari berdiri.
Kemudian mengambil bubur yang di meja
"ini. Ibu pesan di suruh ngabisin sembari menyerahkan semangkuk bubur pada Pram."
"Habiskan biar cepat sehat. sembari mengusap kepala Pram. Harus habis, itu pesan Ibu."
"Memang harus sehat sebab dua hari lagi ujian," kini sudah duduk di sisi Pram sembari menatap Pram. "Lalu ibu kemana? sembari menyuap satu sendok bubur ke mulut Pram.
"Ibu ngaji pram dan kamu baru sembuh jadi ibu nggak tega ninggal kamu sendirian," ucap Rian lagi.
Melihat mangkuk bubur sudah kosong aku segera berdiri untuk meletakkan di dapur, Rian hanya melihat dan masih mengawasi setiap gerakan Pram.
setelah aku kembali duduk. "Jangan di porsir Pram." Di perlakukan seperti ini serasa hatiku melambung tinggi dan serasa Rian betul betul menyukaiku.
"Pram," panggil Rian secara tiba tiba.
"Hem," jawab Pram sekenanya.
"Pram. Hem jawab Pram sembari melirik Rian. "Pram panggilnya lagi."
Seketika Pram menoleh. "Ya, jawab Pram dengan heran.
__ADS_1
"Hem ... tapi Rian mengurungkan ucapannya
saat terdengar ponselnya berdering.