
Terdengar tawa mas Rian dan Satria hingga ke ruang tengah, aku dan Ida memilih masuk karena, tak ingin menganggu reuni mereka berdua, setelah Ida melihat anaknya, Ida kembali ke ruang tengah, senyum nya terus terkembang.
"Anak kak Pram cantik-cantik, beruntung kakak memiliki dua anak cewek, coba lihat aku, sampai anakku tiga semuanya cowok," ucap Ida sembari tersenyum.
Aku hanya tersenyum menanggapinya, ku tatap lekat wajah Ida. "Kau sedang tak menyembunyikan sesuatu kan?" ucapku perlahan.
"Tumben kalian mampir, memang kau sudah lupa jika punya saudara di sini Ida," ucapku sedikit pelan.
Ida hanya tersenyum mendengar omelanku "Maaf kak, bukannya aku lupa, kakak tahu sendiri kan, sibuknya kita dengan urusan rumah, untung anakku yang paling besar bisa membantu, sedang mas Satria juga sibuk mengurus ladang mbah."
Aku kemudian berdiri menuju ruang tamu, samar-samar terdengar percakapan mas Rian dan Satria begitu aku masuk mereka pun langsung terdiam.
"Mas, bolehkan malam ini aku tidur dengan Ida? seketika mas Rian dan Satria langsung menatapku kemudian tersenyum, sementara Satria langsung tertawa.
"Jangan," ucap mas Rian dan Satria bersamaan.
Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya kemudian kembali ke ruang tengah. Ida hanya tersenyum saja melihatku kecewa.
"Kapan-kapan aku akan menginap lebih lama kak! Lagian mas Satria besok pagi-pagi sekali harus berangkat," ucap Ida lagi.
"Memang kalian itu dari mana dan mau kemana?" tanyaku heran.
Ida hanya menggaruk kepalannya saja, kemudian tersenyum. "Biasa setiap bulan sekali kami akan menghabiskan waktu untuk mencari tempat-tempat yang baik untuk video kami dan sudah beberapa kali kami singgah di tempat ini tapi tempat yang kami cari sudah tidak ada."
" Maksudmu! Kalian .... suaraku sedikit ku pelankan karena, mas Rian dan Satria menoleh ke arahku."
"Sssttttt .... suara kakak jangan keras-keras, ini semua demi anakku yang paling sulung, dia mirip dengan kakak dan selalu penasaran dengan hal-hal seperti itu," jawab Ida dengan suara tak kalah pelan.
" Terus .... jadi! kamu sengaja datang kemari hanya untuk itu dan bukan untuk silahturahim tanyaku lagi."
"Awalnya untuk itu, tapi karena kami tak juga menemukan tempatnya, akhirnya aku mengajak mas Satria untuk mampir kemari," jawab Ida sembari menunduk.
"Kalian ya! kakak nggak kasih ijin, jika kamu dan suamimu mau buat yang aneh-aneh di kampung ini, kau tau sendiri kan Ida! seperti apa kampung ini," ucapku semakin aku pelankan suaraku.
Ida hanya tersenyum saja, aku hanya tak habis pikir tentang semua ini, hingga beberapa saat nampak Satria dan mas Rian masuk.
"Da ... panggil Satria mengejutkan aku dan Ida."
"Sudah malam, istirahat kasihan tuan rumahnya," ucap Satria lagi.
Mas Rian yang di belakang Satria hanya tersenyum, kemudian kami masuk ke kamar kami masing-masing.
Di dalam kamar, ku lihat mas Rian sedikit melamun. "Kenapa mas?" tanyaku ragu.
Sejenak ku lihat mas Rian hanya menggeleng kemudian berbaring. "Pram .... aku merasa kedatangan Satria yang tiba-tiba ini seperti ada sesuatu yang di sembunyikan," ucap mas Rian sembari menatapku.
__ADS_1
"Mas, mas percaya jika aku cerita tentang Satria dan Ida?" tanyaku pelan.
Sesaat mas Rian menatapku kemudian tersenyum. "Memang ada apa Pram? cerita saja," ucap mas Rian lagi.
"Mas, ternyata mereka datang kemari bukan untuk silahturahmi, tapi mereka itu mencari tempat-tempat misteri untuk mereka rekam dan itu demi si sulung, yang katanya sih, mirip denganku suka hal-hal yang mistis," ucapku pada mas Rian.
Setengah tak percaya mas Rian mendengarkan ceritaku, kemudian mas Rian hanya tersenyum saja. "Sudah aku duga," ucap mas Rian lagi.
"Mas, aku tadi sudah bilang sama Ida, kalau aku nggak kasih ijin untuk mengekspos kampung kita, biar saja dia tanggung sendiri akibatnya jika bandel," ucapku sembari menarik selimutku.
Berkali-kali menguap akhirnya aku tertidur juga, hingga subuh datang, malam yang terasa nyaman buatku.
Samar samar terdengar suara ribut, masih pagi pikirku, seketika aku bangun dan keluar kamar, kini terdengar jelas suara ramai di ruang tengah, aku masih berdiri menatap mereka, tiga di tambah empat anak, sesaat senyum ku merekah, tak bisa kebayang jika anakku sebanyak ini.
Langkahku kini mendekat ke meja makan, mbak Yas seperti paham akan kondisi ini, nampak hidangan yang cukup banyak di meja, namun di balik semua ini kini nampak Kinara seperti tidak suka, meskipun tersenyum tapi matanya sangat tidak bersahabat, begitu melihatku menuju ruang makan Kinara langsung menghampiri ku. "Apa yang bisa Kinara bantu?" tanyanya dengan pelan.
"Panggil saja mereka untuk sarapan, Kinara!" ucap ibu sembari menyesap kopinya.
"Pak, di minta ibu untuk sarapan, sekalian mereka semua," panggil Kinara terdengar cukup keras.
Tak lama mereka pun sudah memenuhi ruang makan, namun Kinara memilih untuk menghindar dan duduk di belakang bersama mbak Yas dan mbak Ning.
Melihat ini aku sedikit tersenyum, ada tabrakan energi yang membuat Kinara harus menghindar dan sedikit mengalah.
Sementara Ida masih sibuk dengan si kecil, hingga tak lama kemudian mengajak anak-anak mereka untuk berpamitan.
Kinara masih menatap tajam pada mereka dan menunjukkan rasa tak sukanya, setelah mereka masuk dalam mobil.
"Kenapa ibu membiarkan mereka, mereka itu sudah mengusik sesuatu di kampung kita," ucap Kinara sembari memandang mobil itu pergi.
"Semalam Zubaid melihat anaknya om itu, keluar sembari mengendap-endap dan seperti membuat video sesuatu, aku merasa ini akan jadi masalah baru bu dan jika itu sampai terjadi Kinara harap ibu jangan membantu, karena anak tante itu sudah lancang," ucap Kinara penuh emosi.
Mendengar ini aku dan mas Rian saling menatap. "Mereka tamu nak dan juga teman ibu dan bapak," ucapku meredam Kinara.
Dengan berlalu ke dalam, Kinara menjawab "Kinara harap mereka tak kembali karena ini sangat tak nyaman jika mereka ada di sini."
"Aku juga tahu, jika anak om, itu juga penasaran dengan rumah ini, untung semalam Zubaid mengingatkan aku," ucap Kinara sembari duduk di kursi.
Mendengar Kinara marah, aku dan mas Rian diam sejenak, membiarkan Kinara mengeluarkan semua isi hatinya, hingga beberapa menit kemudian, nampak mas Rian mendekati anak gadisnya sembari tersenyum.
"Sudah marah nya? lain kali sampaikan yang sopan tidak perlu dengan emosi, mereka tamu nak? Kita wajib menjamunya meski kita tidak suka, karena kita harus memberikan kesan baik untuk tamu, toh mereka tidak tiap hari datang dan bagaimana jika suatu saat Kita di perlakukan seperti itu, sekarang Kinara paham!!"
Kinara hanya diam dan menatap bapaknya sesaat kemudian Kinara terlihat mengangguk.
"Ternyata anak bapak, pintar dan cantik," ucap mas Rian sembari mengusap kepalanya.
__ADS_1
Sudah pukul delapan pagi.
"Kalian pasti sudah terlambat ke sekolah, oke, sekarang kalian bersiap-siap untuk membawa perlengkapan kalian untuk menginap di pondok."
"Mbak Yas dan mbak Ning kalian bersiap juga, nanti setelah semua beres kita berangkat, Arion dan Lintang minta bantuan kakak untuk beberes," ucap bapak sambil masuk dalam kamar di susul dengan ibu.
Aku sedikit terkejut mendengar ucapan bapak tapi tak urung hatiku berbunga juga, Kinanti, Arion dan Lintang sudah naik lebih dulu, kini aku memilih untuk berbicara dengan Zubaid dan memintanya untuk menjaga rumah hingga kami datang.
Setelah membantu Arion kini aku bersiap untuk diriku sendiri, sembari tersenyum aku, memasukkan semua perlengkapan yang ku bawa sembari memeriksanya ulang
Ada rasa penasaran yang menyelimuti hatiku,
senyumku sesaat terkembang, mungkin ini perjalanan yang cukup jauh, perjalanan ysng pertama kali aku lakukan debgan keluargaku.
Hingga ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. "Non Kinara sudah siap? Suara mbak Yas, terdengar di depan pintu kamarku.
"Sudah mbak, ayo!! jawabku sembari meraih tas punggungku dan keluar dari kamar."
Menuruni anak tangga sudah terlihat bapak, ibu dan yang lainnya sudah bersiap. Mbak Yas kemudian mengunci semua pintu dan langsung ikut bergabung masuk dalam mobil.
Terlihat wajah bahagia dari saudara-saudara ku. Setelah bapak mengecek semuannya akhirnya kami berangkat juga.
Hampir pukul sepuluh saat kami berangkat, perjalanan yang cukup panjang dan lama kami beberapa kali berhenti untuk sekedar shalat atau untuk makan, nampak Lintang tak henti tersenyum.
Hingga hampir magrib kami tiba, bapal menyarankan kami untuk shalat dulu, sebelum memasuki area pondok, setelah shalat magrib bapak baru mengajak kami masuk, setelah melewati pintu samping akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang cukup besar.
Sesaat bapak dan ibu tersenyum, sementara ada beberapa anak santri yang membantu kami dan seorang laki-laki paruh baya yang memanggil bapak Aden Rian.
Aku dan Kinanti langsung saling menatap tapi dari perbincangan yang ku lihat antara bapak dan laki-laki itu membuat ku yakin ternyata bapak cukup terkenal di pondok ini.
Hingga terdengar suara seorang laki-laki ada di belakang kami. "Aden .... kenapa tak memberi kabar jika mau datang, beruntung rumahnya setiap hari di bersihkan," ucap laki-laki ini sembari tersenyum.
Bapak langsung tersenyum dan memeluk laki-laki ini. "Maaf jika kedatangan kami mendadak, tapi ini kejutan buat Abah, supaya Abah kenal dengan cucu-cucu Abah," jawaban yang ku dengar dari bapak.
Nampak laki-laki ini menunduk. "Temuilah Abah, sekalian ajak anak dan isterimu untuk menengok, sudah hampir satu minggu Abah terbaring sakit," ucap laki-laki ini.
Tanpa di minta dua kali bapak langsung membawa kami untuk menemui Abah dengan panduan laki-laki ini, akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang cukup sederhana yang berada sedikit ke belakang pondok.
"Kok, sepi?" tanya bapak pada laki-laki ini. "Mana isteri dan anak Abah?" tanya Bapak. Laki-laki ini tak menjawab pertanyaan bapak hanya menunduk sembari membuka pintu rumah. "Temui Abah mungkin dengan kedatangan kalian bisa menjadi obat baginya."
"Assalammualaikum, Abah" ucap laki-laki ini sembari masuk.
"Abah, ada tamu dari jauh, tamu yang abah tunggu-tunggu," ucap laki-laki ini yang ku dengar samar-samar.
Setelahnya tak ada percakapan lagi yang ku dengar hanya melihat laki-laki ini keluar sembari tersenyum. "Abah masih akan menyelesaikan shalat dua rakaatnya dulu, Aden. Silahkan duduk, saya tinggal sebentar."
__ADS_1