
Perjalanan begitu melelahkan dua jam
belum lagi masuk ke dalam kampung melewati jalan masih tanah dengan rimbunya pohon bambu dan kadang melewati jalan yang terjal.
Sampai di tanah yang sedikit lapang dan berdiri rumah yang besar dan kokoh ada pohon rindang di kanan dan kirinya, terdapat sangkar burung yang berdiri di samping rumah.
"Dra, betul ini kan rumah Pak Lurahnya tanya Nurdin."
Seketika kami keluar dari mobil pandangan Pram kini sudah memindai ke segala arah, langsung Pram menundukkan pandangan saat teringat pesan ibu mas Rian.
"Assalammualaikum," ucap kami bersamaan.
Tak lama keluar laki-laki paruh baya menyambut kami. "Eee, sudah datang."
"Mari-mari silahkan masuk, sambut laki-laki paruh baya ini," sembari membuka pintu rumah besar ini.
"Silakan duduk, Pak Lurah masih keliling," ucap laki-laki ini. "Beliau berpesan agar anda sekalian untuk menunggu sejenak.
Sudah hampir satu jam, akhirnya yang di tunggu datang juga, laki-laki paruh baya tinggi dengan peci di kepalanya.
Tersenyum ramah saat melihat kami. "Kenalkan saya Pak Martoyo dengan suara besar dan ngebas. Silahkan duduk," ucapnya lagi.
"Hm, adik-adik ini yang dari kota xxx dan ingin PKL di sini? Betul Pak," jawab Nurdin yang kami tunjuk sebagai ketua tim, kemudian mengeluarkan surat yang kami bawa dari kampus dan menyerahkan pada Pak Martoyo.
Membuka surat itu dan melihat kami satu persatu, Nurdin langsung berdiri menyusul dengan lainnya, perkenalkan saya Nurdin Hardan, Santi, Prameswari, Kaila dan Satria kini sembari menjabat kami masing-masing.
"Senang berkenalan dengan adik-adik semoga kerasan hingga satu bulan ke depan," ucap Pak Lurah sembari meletakkan surat dari kami.
"Untuk hari ini kalian bisa menginap di sini dulu karena sudah sore, besok biar Paijo yang mengantar kalian ke rumah warga yang lokasinya lebih dekat dengan tempat penelitian adik-adik."
"Jo, orang yang bernama Paijo langsung datang dengan tergopoh. Sekarang antar mereka ke kamar masing-masing dan jangan lupa besok antar mereka ke tempat yang sudah di sediakan warga, pastikan semuanya aman dan baik."
Laki laki yang bernama Paijo ini menunduk mendengarkan dengan seksama sembari sesekali kepalanya manggut manggut tanda mengerti.
"Mari, Mbak, Mas ikuti saya," ucap Paijo sembari berjalan mendahului kami.
Rumah besar tak begitu banyak perabot, terdapat banyak kamar. San, Kaila kita sekamar saja ya! Pinta Pram pada ke duanya.
Santi dan Kaila saling menatap sesaat kemudian mengangguk tanda setuju.
Begitu juga dengan Hardan, Nurdin dan Satria mereka juga memilih tidur satu kamar mendengar permintaan kami, Pak Paijo kemudian tersenyum ramah. "Terserah Mbak dan Masnya toh rumah ini juga jarang di tempati paling-paling jika ada tamu dari luar saja."
__ADS_1
"Karena pak Lurah lebih suka tinggal di rumah istrinya yang tak jauh dari rumah ini."
"Jadi nanti kita sendiri pak!" tanya Nurdin cepat.
"Hehehe, jangan khawatir selama Mbak dan Masnya di sini saya akan menemani," ucap pak Paijo.
"Oh ya Mbak, Mas kalau sudah selepas isya jangan keluar-keluar, karena kadang-kadang lampunya sering padam.
"Deg, sesaat hati Pram berdesir mendengar ini."
Pram menatap lima teman yang lainnya, sesaat kemudian aku mengambil ponsel Pram memeriksa jaringan nya.
Aku menggeleng tanda tak yakin, kota ini masih dari bagian kota besar kenapa semuanya seperti tertinggal. "Nurdin kita gak salah alamat kan? Sembari menunjukkan ponsel, serta merta mereka juga mengeluarkan ponselnya, ada raut kebingungan di antara kami tapi berusaha untuk tetap tenang.
Ada apa Mbak, Mas suara Paijo mengagetkan kami
"Oh itu, harus sedikit naik ke gunung atau ke luar desa baru bisa," ucap Paijo menjelaskan.
"Maaf Pak kami akan istirahat," ucap Pram memutus percakapan ini, karena tak ingin menambah rasa khawatir kami.
Pak Paijo langsung berjalan keluar dari area kamar kami, begitu masuk kamar. "San coba lihat surat dari kampus, kenapa kita di kirim untuk PKL ke desa ini, menarik kertasnya membacanya berulang kali desa xxx.
"Kita istirahat saja, besok pagi kita lihat bagaimana dan ingat kita harus saling menjaga dan mengingatkan," ucap Pram lagi.
Suasana sangat sepi hanya terdengar suara hewan malam yang mengerik dan suara katak yang saling bersahutan," Kai ini kan bukan musim penghujan," ucap Santi tiba-tiba.
"Husssstttt, jangan bicara yang bukan-bukan di sini," ucap Pram sembari memberi kode untuk diam. Ayo istirahat saja dan tutup telinga kalian supaya tak mendengar apapun," ucap Pram lagi.
Berbaring bertiga berbagi tempat tidur masih terjaga hingga terdengar suara air gemericik kadang keras dan kadang pelan kemudian sepi kembali.
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi detak jam dinding, tek, tek, tek, memecah sepi aku hanya duduk bersandar di ranjang
melihat Santi dan Kaila sudah tertidur pulas.
Sudah tengah malam. Benar-benar mata Pram tak mau terpejam, mencoba untuk berdzikir berharap kantuk Pram segera datang.
Tak berapa lama samar-samar aku dengar suara sesuatu ,Klinting, krincing, krincing, kricing terdengar suara ini berjalan memutari rumah dari suaranya yang terdengar samar kini semakin keras, krincing, krincing, krincing, krincing hingga tiga kali putaran.
"Huf ... ," aku berusaha mengatur napasku dan berusaha untuk tenang dan mengontrol tubuh Pram.
'Apa ini? tahan, tahan, jangan terpancing,' ucap hati Pram.
__ADS_1
Berusaha memejamkan mata dan merebahkan tubuh Pram, mencoba untuk tidak terpancing, masih menatap langit langit kamar saat ayam jago mulai terdengar berkokok dan mata Pram mulai terpejam dengan lelapnya.
"Pram, bangun sudah pagi," ucap Kaila sembari menggoyang tubuhPram dengan sedikit menguap kurenggangkan tubuh Pram dan langsung berdiri untuk mandi serta bersiap.
Benar, mereka telah bersiap-siap dan hanya menunggu Pram. "Maaf," ucap Pram pada semuanya.
"Pram, barang - barang mu sudah siap kan tanya Handra, kalian periksa sekali lagi karena jika ada yang tertinggal akan jauh mengambilnya, tolong ganti sepatu kalian dengan sepatu yang nyaman di pakai karena nanti jalannya sedikit jauh, mobil ku saja aku tinggal di sini.
"Ayo periksa lagi di kamar juga," ucap Handra sekali lagi, bergegas masuk dan memeriksa semuanya, tak ada yang tertinggal," ucap Pram lagi sembari mengganti sepatu Pram.
"Beres, siap," ucap Pram dan yang lainnya.
"Dra, kenapa Pak Dosen menaruh kita di sini lihat jauh sekali," ucap Kaila. Kita lakukan ini secepat mungkin dan sebaik mungkin, ingat ini tempat yang jauh, jangan mengulang apa yang nanti kita kerjakan ingat semangat, fokus dan kerja cerdas, saling membantu," ucapnya lagi.
Tak berapa lama pak Paijo sudah nampak dan begitu juga dengan pak Lurah.
Menghantar kami hingga di batas desa kemudian perjalanan kami lanjutkan dengan pak Paijo," hati - hati dan semangat," ucap pak Lurah.
"Pak lalu bagaimana warga memasarkan panennya apa ada jalan alternatif tanya Nurdin tiba-tiba. "Ya ada, nggak tau kenapa pak Lurah menyuruh Mas dan Mbaknya pakai jalan ini.
"Apa Mbak dan Mas ini kuliah di kampus xxx tanya pak Paijo. "Betul pak," jawab Santi.
"Kok O pak," hem, sudah kerjakan saja," ucap pak Paijo.
"Indah," ucapku pelan, sepanjang perjalanan nampak rumah penduduk yang mulai tertata rapi dan sudah ada yang di bangun secara permanen dan ada pula yang masih di bedeng separo tembok dan separo masih bambu.
"Pak selain bertani apa lagi yang menjadi mata pencaharian mereka.
Jalanan mulai sedikit menanjak, tapi semua terbayar lunas dan sebanding dengan rasa capek kami, berdiri di kaki bukit dengan berbagai macam tanaman, warna hijau tumbuhan yang mendominasi membuat mata kami sedikit teduh.
"Mbak, mas silahkan, saya antar ke rumah warga dulu, biar bisa istirahat.
"Oh ya, mbak nya menginap di rumah mbah Lasmi sedang mas nya menginap di rumah pak Tojo.
"Mari ... ajak pak Paijo," mas mobil mas akan di antar ke sini jika penelitiannya sudah rampung," ucap pak Paijo.
Sesaat kemudian nampak motor sudah menanti pak Paijo," saya pulang mbak, mas," ucapku sembari tersenyum dan menggeleng.
"Ada apa Jo?! siapa lagi kalau bukan kerjaan anak pak Lurah," sukses," ucap pak Paijo
samar ku dengar.
__ADS_1