OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 122 . KEADAAN SEMAKIN MEMBAIK


__ADS_3

Melihatnya kembali tersenyum membuat hatiku sedikit lega, meskipun bertahap Prameswari sudah mulai mau melakukan kegiatan di rumah meski kadang ku lihat Pram masih sering duduk melamun dan sesekali masih menangis.


Anak-anakku pun tak henti hentinya mencoba mengajak ibunya untuk bercanda atau sekedar mengajaknya mengobrol, untuk menghilangkan kesedihan di hati ibunya.


Namun pagi ini menjadi pagi yang berbeda, aku dan anak-anak sedikit terkejut melihat Pram mulai melakukan kegiatan di pagi hari "Arion, Lintang, cepat ....keburu siang" sembari memeriksa catatan terakhir yang tergeletak di meja, kemudian melihatku sekilas.


"Mas....sudah berapa lama toko di tutup dan para karyawan? terus sawah?"


Sembari terus memeriksa bon di atas meja, kemudian melihat jam.


"Arion, Lintang lihat kakakmu sudah bersiap."


Berhenti sejenak, mas mobilnya? lalu diam sejenak dan menatapku.


"Oh, ya mobilnya .....tak melanjutkan ucapannya.


"Mas ....kenapa tak mencari mobil baru, kasian anak-anak jika harus naik grab, m....nanti kita cari mobil yang baru mas."


"Mbak tolong bereskan meja makannya setelah anak-anak berangkat" ucapnya lagi.


Ku beri isyarat pada anak-anak untuk berangkat


setelah mereka semua telah berpamitan, ku dekati Pram.


"Pram...." panggilku pelan, jangan terlalu kamu porsir tenaga kamu, kamu baru sembuh" ucapku lagi.


"Mas .... kasihan karyawan kalau terlalu lama libur, mas ...."


"Mas .... aku sudah salah dengan sikapku saat ini dan aku juga ingin merubahnya, aku sehat sehat saja mas."


Seakan tak percaya dengan ucapan Prameswari, ku peluk erat tubuhnya.


"Mas....nggak kerja tanya Prameswari, sana berangkat aku juga mau beres-beres toko" ucapnya sembari menata berkasnya.


"Pram .... andaikan mas berhenti kerja dan fokus ngurus toko dan sawah bagaimana?"


Pram, melihatku sejenak kemudian tersenyum "apa mas nanti tidak menyesal, toko juga masih belum perlu penanganan yang serius" ucapnya sembari tersenyum.


Kita lihat setahun ke depan ya, mas!" menurutku mas jangan berhenti dulu" ucapnya lagi.


Kemudian meletakkan berkasnya di meja, kita ke toko mas, terus kita juga perlu kendaraan untuk mas kerja dan anak-anak .


Aku masih terheran dengan sikapnya yang cepat berubah, masih ku tatap tubuh Pram yang menghilang di balik pintu kamar.


Tak lama, terlihat Pram sudah keluar dan berpakaian rapi "mas, ayo ."

__ADS_1


Kini berjalan berdua hingga di halaman dan menunggu grab yang di pesan datang.


Masih mengikuti semua kegiatan Pram, hingga sore menjelang, mengecek toko dan membeli mobil dan satu mobil pick up.


Setelah semua beres, di sini terlihat wajah Pram mulai berubah tadinya yang penuh semangat kini hanya duduk terdiam menatap jendela.


"Pram..." panggilku pelan dan itu membuat Pram sedikit terkejut, menatapku sesaat dan tersenyum.


"Mas, kita tidur di kamar bawah ya?" aku mau tidur di kamar ibu, bolehkan ?! tanyanya lagi.


"Boleh" jawabku cepat.


"Pram, anak-anak sudah menunggu untuk makan malam, sedari tadi mereka menunggu.


Dengan bergegas Pram berdiri "maaf aku kok jadi lupa dengan anak-anak."


Kemudian menarik tanganku untuk ke luar dari kamar, begitu mendekat Pram langsung tersenyum "kenapa belum makan, maaf?" ibu lupa, ucap Pram sembari duduk .


"Arion, Lintang, gimana sekolahnya sembari mengambil nasi untuk anak-anak.


Kemudian menatap Kinara dan kinanti "gimana sekolah kalian?! Kinara dan Kinanti hanya tersenyum saja.


Setelah makan malam anak-anak pun bergegas naik ke kamar tapi tidak untuk Kinara.


Berjalan mendekati ibunya dan membisikkan sesuatu yang membuat mata Prameswari sedikit melotot kemudian tersenyum, kemudian meraih wajah Kinara dan mencium nya.


Aku yang memperhatikan Pram, akhirnya tersenyum juga, ku lihat Kinara tersenyum sembari naik ke atas.


Waktu bergerak dengan cepat kini sudah hampir dua bulan kepergian dua ibu, Pram pun juga sudah mulai aktif seperti biasannya, namun tidak untuk hari ini.


Sepulang dari toko nampak Pram sedikit berbeda, aku yang baru sampai pun jadi sedikit heran.


Melihat kedatangan ku, Pram langsung tersenyum "untung mas Rian cepet pulang, memberikan aku segelas air putih.


Kemudian duduk di dekat ku "mas, lalu menyerahkan amplop padaku. "Mas lihat, ini pak Lurah tadi ke toko memberikan ini.


Menerima amplop ya di sodorkan Prameswari


dengan heran aku membukannya kemudian membaca isinya, masih belum paham akan isi suratnya "Pram, bacalah" ucapku sembari menyodorkan amplop itu lagi pada Pram.


Menerima dan membacanya sejenak "apa ini tentang sawah kita?kabarnya kan masih setahun atau dua tahun mas."


Tak melanjutkan ucapannya kini menatap jauh ke depan dan bibirnya terkatup rapat seakan menahan sesuatu.


"Pram ...." panggilku dan itu membuyarkan lamunannya, "mas, andaikan ibu masih hidup pasti ibu yang akan memutuskan semuanya" ucapnya sembari menunduk.

__ADS_1


"Pram, panggilku lagi, tak menyahut tapi hanya menatapku dan mengikis air matanya "semua sudah terjadi mas, kini kita yang harus mengurus semuanya, hanya saja aku menjadi takut kalau keputusan yang kita buat tentang sawah dan kebun yang sudah simbah dan ibu jaga dengan sepenuh jiwa mereka, menjadi salah, karena banyak yang bergantung hidup dari sawah dan kebun itu" ucap Pram panjang lebar.


"Pram, kita jalani sesuai arus ya, kita lalui bersama-sama, kita akan lakukan sesuai rencana yang kita bicarakan waktu itu bersama ibu" ucapku sembari merangkulnya.


Tak ada jawaban hanya hembusan napas Pram yang terasa berat.


Hampir magrib anak-anak juga belum ada yang ke luar dari kamar, nampak mbak Yas dan mbak Ning mulai sibuk memasak untuk makan malam.


Meletakkan amplop yang di pegangnya "kita lihat anak-anak mas, sudah lama aku tak menengok kamar mereka" ucapnya sembari melangkah ke atas dan aku langsung menyusulnya di belakang.


Menghampiri satu persatu kamar mereka dan menyuruhnya untuk turun, hingga langkah Pram terhenti di kamar Kinara, membukanya sedikit untuk mengintip di dalam kamar, Kinara dan Kinanti nampak tengah asik membicarakan sesuatu dan berhenti saat aku dan Pram masuk.


"Eh, bapak ibu sapa mereka bersamaan, kemudian membunyikan sesuatu yang di pegangnya.


"Ayo turun, hampir magrib kita shalat jamaah yuk" ajakku.Tapi berbeda dengan Pram "Kinara, jangan macam-macam" ucapnya sembari keluar.


Mendengar teguran dari sang ibu Kinara dan Kinanti langsung menunduk.


"Bapak tunggu di mushola" ucapku sembari melangkah ke luar.


Masih terdengar perdebatan di antara mereka, hingga Kinanti keluar lebih dulu dan menyusulku sembari sedikit berlari.


"Eh...pelan-pelan" ucapku sembari meraih tangannya "mana Kinara tanyaku?"


"Masih di kamar sebentar lagi menyusul" ucapnya kasar.


Mendengar jawaban Kinanti Prameswari yang berada di ujung tangga langsung menoleh dan berhenti menatap Kinanti tajam.


"Tuh, aku kan yang jadi di salahkan ibu" ucapnya sembari masih bersungut-sungut marah.


Di tangga atas nampak Kinara berjalan menunduk.


Pram hanya menatap tajam pada dua anak gadisnya "setelah shalat magrib Kinara dan Kinanti masuk kamar ibu dan Arion, Lintang tunggu hingga shalat isya dan makan malam baru naik ke atas" ucap Pram yang membuat mereka seketika terkejut.


Benar setelah shalat magrib Pram benar-benar memanggil Kinara dan Kinanti ke kamar, entah apa yang mereka obrol kan hingga Kinanti dan Kinara keluar saat adzan Isya.


Ku tatap ke tiga permpuan ini, terlihat Pram terdiam dan dua anak gadisku nampak sedih.


Setelah shalat isya dan makan malam, Pram langsung menyuruh mereka untuk ke kamar dan mengajakku ke kamar juga, begitu masuk dalam kamar Pram langsung memelukku sembari menangis.


Aku yang masih bingung langsung bertany "ada apa Pram? jangan begini" ucapku lagi.


Hingga berapa lama "ibu mas, ibu...Kinara bilang mereka selalu mendampingiku dan mereka tak akan pergi sebelum aku ikhlas melepas mereka" dengan tangisnya yang makin menjadi.


"Tenang Pram, jangan menangis lagi, kita kirim doa, supaya ibu tenang dan belajar untuk mengiklaskan mereka" ucapku sembari ku tepuk-tepuk punggungnya.

__ADS_1


Kemudian Pram menunjukkan sesuatu padaku


Kinara yang menggambarnya mas" ucapnya sembari tersedu.


__ADS_2