OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 46 . SEDIKIT GR


__ADS_3

Ibu hanya tersenyum melihatku," Rian, Pram jangan berantem," ucap ibu sambil melangkah ke depan.


"Memotong tomat, sosis dan menyalakan api, menjerang air hingga mendidih.


Melihat aku sibuk sendiri, Rian datang mendekat sambil tersenyum-senyum menatap sesaat.


"Mau masak apa? tanya Rian. "Pasti bikin mie, aku juga mau Pram kayak kemarin enak."


"Aku bantuin ya?"


Aku masih diam tak menjawab," eh...dosa lo bila di ajak omong gak jawab."


Kini makin mendekat ke sebelah Pram.


"Pram ... aku hitung sampai tiga kalau belum jawab juga beneran tak sun kamu. Seketika aku sedikit menjauh dan menjaga jarak.


"Ish ... kenapa menjauh." Kini sedikit mendekat," satu, dua dan ti ... belum selesai Rian menghitung. "Ih, sana-sana ambil mangkok," ucap Pram sembari mendorong tubuh Rian.


Melihat Pram salah tingkah Rian makin tersenyum lebar sembari menyerahkan dua mangkok. "Terimakasih Pram," ucapnya sembari mengambil garpu. kemudian memakannya dengan lahap dan tanpa bicara.


Kini semangkuk mie telah berpindah ke tempat lain, melihat isinya sudah habis Rian kemudian menuju dapur mencuci mangkuk yang di gunakan.


Setelah itu melangkah mendekat ke meja makan di mana aku duduk," terimakasih sembari mengusik rambut Pram. "Habis makan mie belajar Pram ! jangan ngurusin saiton terus, ingat besok ujian, awas sampai kamu gagal dan gak lulus," ucap Rian sembari berlalu.


Mie Pram masih setengah saat Rian pergi "ngomel terus, kayak aku ini apanya saja, pacar bukan sok ngatur," umpat Pram sembari mengaduk mienya. Kemudian tersenyum sendiri, ada perasaan senang saat Rian terus mengomel atau kadang-kadang dengan usil menggoda, ketika mengingat saja kadang-kadang membuat Pram senyum-senyum sendiri.


Tak lama Pram menyelesaikan makan dan kemudian segera menuju kamar untuk belajar. Entah mendengar ucapan Rian ada sedikit rasa khawatir yang Pram rasakan.


Tak terasa hingga magrib berkutat dengan buku yang Pram baca, merenggangkan tubuhnya sejenak. Kemudian mengambil air wudhu dan menjalankan panggilan dari Allah sejenak dengan khusuk.


Pram terkejut saat ponselnya tiba-tiba berdering. "Rian ... ku ulir tanda hijau. Sesaat kemudian terdengar suara," hei, Pram aku tunggu di teras," ucap Rian dan kemudian mematikan ponselnya.


Segera Pram membereskan mukena dan sajadahnya, bergegas menuju teras. Benar Rian terlihat sudah duduk di teras.

__ADS_1


Melihatku datang kemudian Rian tersenyum.


"Ada apa? tak membalas pertanyaan Pram, tetapi Rian menyerahkan bungkusan kecil," ingat kita impas ini gantinya mie tadi siang."


"Pram aku pulang," pamit Rian setelah menyerahkan bungkusan itu.


Aku masih duduk di teras, tersenyum memandang bungkusan pemberian Rian.


Membuka dengan hati-hati, saat mengetauhi isinya senyum Pram semakin lebar," wah dua bungkus coklat," ucap Pram sembari tersenyum. Saat membalik bungkusnya Pram menemukan secarik kertas dengan tulisan semoga tambah semangat belajarnya, membaca ini seketika wajah Pram menghangat.


Senyum Pram tak kunjung surut dari bibirnya. Bergegas berdiri kemudian menuju kamar, lantas Pram menyimpan coklat pemberian Rian di meja belajar.


Merasa ada semangat baru, secara reflek tangan Pram kini sudah mulai membuka buku dan kembali belajar, sambil sesekali Pram lihat coklat pemberian Rian dan menaruhnya lagi. Ada rasa sayang saat ingin memakannya.


Masih dengan buku saat Pram mendengar pintu depan di buka, sudah jam sembilan ucap Pram sembari melirik jam dinding kok tumben ibu pulang sampai malam, tapi kenapa tak mengucap salam.


Segera Pram menutup bukunya kini langkahnya sudah menuju kamar Ibu, dengan penasaran menengok sebentar ke kamar Ibu.


Masih dengan heran," ternyata kosong," lalu Pram berjalan ke dapur," sepi juga," guman Pram masih dengan rasa heran.


Akhirnya memilih untuk duduk di ruang tamu menunggu hingga Ibu datang.


Dengan sedikit terkantuk dan beberapa kali menguap, akhirnya yang Pram tunggu datang juga.


"Belum tidur Pram? suara Ibu yang tiba-tiba.


"Tumben sampai malam Bu? tanya Pram sembari menguap . "Ke rumah Simbah dulu Pram ada yang ketinggalan," jawab Ibu.


"Sendiri Bu? tanya Pram. Tak menjawab, Pram melihat ibunya hanya tersenyum. Tidur saja biar Ibu yang mengunci pintunya nanti.


Mendengar kata nanti dari Ibu kantuk Pram jadi menghilang," apa Ibu nggak tidur, sudah malam Bu," ucap Pram kini melangkah menutup tirai jendela dan mengunci pintu depan.


Melihat apa yang Pram lakukan, nampak wajah Ibu sedikit tidak suka, tetapi membiarkan apa yang Pram lakukan. Aku melihat Ibu sejenak tiba-tiba ada rasa penasaran di hati Pram,' dari rumah Simbah tetapi Ibu tak membawa apapun,' ucap batinku. Masih dengan rasa penasaran Pram sembari Pram berjalan menuju kamar.

__ADS_1


Entah lah seperti sedang menunggu sesuatu


hampir jam sebelas malam Ibu keluar dari kamar terdengar dari pintu yang terbuka dan tertutup pelan kemudian tak terdengar suara lagi. Karena tak terdengar pintu depan terbuka Pram kembali melanjutkan tidur hingga pagi. Saat aku terbangun terdengar suara adzan.


Sibuk dengan persiapan sekolah hingga tak menyadari jika ibu belum keluar dari kamar. Hingga aku akan berangkat sekolah, menengok ke kamar ibu, sesaat dahi Pram sedikit berkerut. "Kemana ibu?"


Melihat jam sejenak, sudah jam enam lewat, seketika aku menjadi panik," aduh ... Ibu kemana lagi," ucap Pram bergegas mengunci pintu dan menyimpannya di tempat biasa.


Sedikit tegang hari pertama ujian, Rian yang duduk di samping Pram menatap sejenak sembari menyenggol siku Pram," bisa," ucapnya pelan. Aku mengangguk tanda mengiyakan.


Sudah siang saat ujian berakhir, berjalan sendiri pulang sekolah, entah Rian kemana karena tak terlihat di mana-mana.


Menyusuri jalanan hingga langkah Pram terhenti di depan Ruko. Ruko kosong tempat Pram berteduh dengan Rian dulu. Menatapnya sejenak ruko ini. Kini Pram seperti di tarik oleh sesuatu untuk mendekat. Pram yang ingin tahu dan penasaran dengan sesuatu yang menarik Pram ke tempat ini.


Sedikit mendekat dan lebih dekat lagi, tak ada apa-apa, hingga tiba-tiba ada suara seperti sesuatu terjatuh," bruugh ... gedebug ... hingga berulang-ulang. Mendengar ini aku masih terdiam cukup lama sedikit menekan rasa penasaran Pram hingga suara itu berhenti secara tiba-tiba.


Pram sedikit mundur beberapa langkah, ruko kosong ini aneh," ucap Pram, saat kemudian pandangannya tertuju pada jendela kaca bagian atas ruko.


Kembali Pram mundur, sesaat kemudian Pram tersenyum," cek ... lah kenapa juga menarik kesini? omel Pram sembari melanjutkan langkahnya, ternyata ada dua makhluk yang ingin Pram sapa.


"Kenapa juga setiap hari aku harus berhubungan dengan hal-hal ini," ucap Pram lirih. Berjalan dengan santai hingga tak terasa kaki Pram sudah berada di halaman rumah.


Berhenti sejenak menatap arah pintu dengan heran," tumben pintu rumah terbuka jam segini? ucap Pram lagi.


Melanjutkan langkahnya kini Pram masuk sembari mengucap salam, kemudian terdengar jawaban dari Ibu," tumben di rumah Bu? tanya Pram sembari menatap Ibunya. Melihat mata ibunya sedikit sembab seperti habis menangis. Pram hanya menatap Ibu tapi takut saat ingin bertanya," Bu , nanti setelah ujian, Pram pingin main ke rumah yang di kota," ucap Pram pelan.


"Bolehkan? tanya Pram. Untuk mengalihkan perhatian ibu," boleh kan? tanya Pram lagi.


Kini ibu tersenyum," boleh Pram, tapi jangan lama-lama ya! Ibu di sini sendiri Pram, nggak ada temennya.


Aku sedikit terkejut mendengar ucapan ibu


"Janji Pram," nggak lama Bu, mungkin seminggu saja, lagian juga sudah lama rumahnya di tinggal nggak di bersihkan lagi."

__ADS_1


Tiba-tiba ibu memukul bahu Pram," siapa bilang! setiap minggu Ibu menyuruh orang bersih-bersih Pram! ucap Ibu sedikit marah.


Aku hanya menggaruk kepalaku dan tersenyum," Pram ke kamar dulu Bu," ucap Pram sembari berlalu ke kamar. Mengganti baju kemudian merebahkan diri di ranjang terlelap dengan sendirinya hingga terbangun saat sore menjelang.


__ADS_2