OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 76 . MINGGU KETIGA


__ADS_3

Ada rindu yang terpendam, dua insan berbeda tempat mencoba bersabar dengan keadaan, menahan onak di dada rasa memburu dan mungkin cemburu yang tak mereka sadari yang terlewat begitu saja.


Masih pagi Rian sudah terbangun suara burung berkicau di atap membuatnya tersenyum, berjalan menuju dapur.


Di lihatnya sudah tersedia teh dan makanan lainnya. Buih, bisa gemuk aku kalau begini setiap hari," ucapnya sembari menyesap tehnya.


Menuju arah belakang rumah berharap, bertemu ibu calon mertua masih pagi kemana ibu?" ucap Rian sembari menuju kamar, membuka laporan-laporan yang di buatnya meneliti sekali lagi dan menyimpannya lagi dengan rapi.


Mematut diri di depan kaca sesaat, kemudian menuju ruang tengah untuk menyesap tehnya lagi.


"Rian, Rian ... teriak Mak Sunar sedikit tergopoh.


Mendengar teriakan ini langsung di urungkannya untuk meminum tehnya, sedikit tergesa berjalan menghampiri.


"Mak. Ada apa? Bantu Bu Nur, cepat !temanmu, ada yang pingsan di bawah pohon sawo. "Ayo, ajak Mak Sunar sembari berjalan mendahului.


Menutup pintu asal dan bergegas menyusul Mak Sunar dengan berlari, Rian akhirnya sampai juga di rumah Simbah, mengatur sejenak napasnya. Dengan sedikit heran Rian melihat banyak warga berkumpul tapi tak ada yang berani menolong, menyibak kerumunan


sedikit terkejut dengan apa yang Rian lihat.


"Kenapa ini? Han, Rin. Kenapa Mira, apa yang terjadi?"


Sedikit mendekat, Toni ayo bantu angkat naikkan ke teras dan kamu John panggil ibuku, cepat ! dengan sedikit berteriak.


Ibu Nur yang ada di samping Rian seketika mendekat. "Rian, apa yang di khawatirkan Pram, akhirnya terjadi sembari menatap Rian lekat."


Pandangan Rian kini tertuju pada Hanifa.


"Rina dan Toni, jangan kemana-mana kalian masih punya hutang penjelasan padaku dan duduk di sini," ucap Rian sedikit keras.


Tak lama nampak ibu datang tergopoh-gopoh, kemudian menatap Hanifa.


"Rian dan yang lainnya tolong bantu membaca doa, bagi warga yang ingin membantu silahkan ikut berdoa," ucap ibu Rian.


Memulai membaca doa dengan khusyuk, tak ada reaksi, ibu berhenti sejenak dan menatap Hanifa dan Rina.


"Ibu tak akan bertanya tapi jelaskan kenapa begini ! ibu tunggu dan keselamatan teman kalian tergantung kejujuran kalian."


"Han, Rin?" tanya Ibu Asih pada mereka. Tak menjawab nampak mereka menunduk takut.


Sembari menatap Hanifa dan kini tangan Rian sudah berpindah pada hidung Mira. "Masih bernapas dan kini berpindah ke urat nadinya.


"Cerita," tanya Rian lagi."


"Tono, John kalian tahu? Mereka hanya memberikan gelengan kepala dan menandakan mereka tak tahu.


"Rin. Kamu tidak kasihan dengan teman mu?" tanya Rian sekali lagi.

__ADS_1


Dengan sedikit terbata Rina mulai dengan ceritanya.


Rina flashback on


Maaf, sebenarnya sudah hampir seminggu ini kami datang kemari, melihat lihat rumah ini dan bertanya pada warga yang kebetulan lewat.


Sebenarnya aku sangat takut dan tak berani setelah mendengar cerita warga tentang rumah ini dan pohon ini, menatap sesaat ke arah Hanifa.


Sebenarnya sejak awal Mira tak ingin ikut, tapi karena Hanifa selalu memaksa dan mengacamnya akhirnya Mira ikut juga.


Karena Hanifa penasaran dengan pohon ini dan tentang warna merah darah pada pohon itu, awalnya kami hanya memfotonya dan


semalam kami kemari karena ingin mengambil sedikit untuk kami teliti, tetapi, Rina berhenti sesaat. Tetapi belum sempat kami mencukilnya Hanifa menemukan satu buah sawo jatuh dan memaksa Mira untuk memakannya.


"Tetapi saat Mira masih makan satu gigitan, Rina kembali berhenti sejenak. Tiba-tiba kami


mendengar tawa keras dan menggema, seketika tubuhku lemas dan aku tak tahu apa yang terjadi, saat aku terbangun sudah banyak orang dan Mira hingga kini tak kunjung siuman.


Flashback end


Setelah bercerita Rina duduk sedikit merunduk meraih ke dua kakinya, tangisnya akhirnya turun juga.


"Kau lancang Hanifa, kau tak pernah memperhatikan semua peringatan di sini."


"Tono, John, tolong panggil ambulan biar ada penanganan dari tim medis."


"Jika terjadi sesuatu pada Mira kau mau nyawamu sebagai gantinya tanya Rian dengan kesal."


"Kedua ibu yang di landa bingung menatap Rian lekat, panggil Pram, panggil Pram, Rian," ucap ibu sembari mengonyang tubuhku.


Mendapat desakan dari ibu akhirnya aku mendekati Hanifa.


"Hanifa kau pasti tahu di mana Pram PKL hubungi dia, aku nggak perlu tahu bagaimana caranya hari ini juga Pram harus pulang."


"Dan jika kau masih menundanya bisa aku pastikan nyawamu juga bisa melayang."


Dengan tergesa Hanifa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


Sesaat kemudian, mendengar percakapan mereka sejenak dan aku langsung menarik ponselnya, tanpa basa basi aku langsung menjelaskan semuanya. "Jika bapak mempersulit atau mencegah Pram untuk pulang bisa saya pastikan nyawa anak bapak yang melayang dan menutupnya secara sepihak."


Tak lama terdengar suara sirine mobil ambulan memasuki gang yang sedikit sempit ini.


Nampak tim medis turun dengan sigap, memeriksa kondisi Mira, kemudian menatap kami. Mbaknya baik-baik saja tak ada yang perlu di khawatirkan, denyut nadi normal detak jantung juga normal.


"Tetapi biarkan dia istirahat karena masih syok akan sesuatu."


Dahi Rian sejetika berkerut mendengar pernyataan tim medis, setelah menghantar mereka aku kembali masuk dan melihat jam, meghembuskan napas dengan kasar. "Tiga puluh enam jam lagi, setelahnya aku tak bisa mengatakan apa apa."

__ADS_1


"Melihat ke dua ibu tak putus-putus membaca doa dan mencoba berusaha yang terbaik.


"Mak, pulang tolong buatkan ibu makanan dan minum , kasihan," ucap Rian.


Sejam, dua jam hingga magrib menjelang masih belum ada perubahan. "Pulang Bu, mandi dan istirahat dan kau Tono ambil tikar dan selimut untuk Mira. Mak, bawa ke dua ibuku pulang."


Menatap Hanifa menunduk tanpa ada reaksi. "Puas sekarang tanya Rian sedikit pelan.


Kini memilih duduk di teras sesaat melihat Pak Man mendekat.


"Maaf nak ini, bukan tandingan Bapak, bapak hanya ingin menjaga kalian sesuai pesan Nur."


Sudah pukul tiga dini hari belum juga ada perubahan bahkan kabar dari Pram.


Mencoba sedikit berusaha, melafal doa kembali Rian rapalkan.


"Mir, bergeraklah beri tanda aku, tak bisa aku bayangkan bagaimana orang tuamu nanti."


Subuh mulai berkumandang saat nampak sosok wanita masuk di halaman, mendongak sesaat kemudian tersenyum.


"Mas Rian, terdengar suara memanggil namaku.


Hanifa dan Rina langsung terbangun dan aku masih dengan terkejutku.


Nampak di belakang Hardan dan yang lainnya. "Pak Jo, teriak Hanifa dengan sedikit tercekat.


Memegang bahuku sejenakn. "Mas bantu aku ya ! mandi dan berwudhu lah dulu, laksanakan kewajiban shalat subuh."


Aku mandi dan akan shalat dulu, tolong untuk yang lainnya untuk membantu dengan doa.


Menatap pohon sawo sejenak dan tersenyum akhirnya, firasat dan ucapan simbah Winarsih terbukti dan ini akan lebih sulit dari sebelumnya.


"Pram ... panggil Mas Rian mengejutkan aku.


"Tono, John tolong bawa masuk saja mereka ke dalam kasihan," ucap Pram sembari menatap Hanifa dan Rina. Mandilah dan bersuci aku butuh bantuan kalian juga."


"Nurdin, Sinta, Kaila dan Hardan pulanglah kalian pasti capek."


"Pak Jo, istirahat lah di rumah," ucap Pram lagi."


Lama terdiam kembali menatap pohon ini.


"Istirahatlah dan bersih-bersih Mas, setelah ini jangan ada yang menganggu atau pun memanggil hingga magrib menjelang nanti.


Sekarang aku hanya ingin ada yang bergantian menunggu Mira sembari membaca ayat-ayat suci Al quran.


Berjalan menuju rumah ber iringan dengan laki-laki yang tiga minggu ini telah membuatku rindu yang berkepanjangan.

__ADS_1


"Pram ... Panggil Rian."


"Istirahat saja Mas, karena malam nanti akan menjadi malam yang panjang dan sulit," ucap Pram pelan. "Mas, apapun yang terjadi nanti Mas ikhlas kan?" tanya Pram sembari menatap dengan wajah lelahnya.


__ADS_2