OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 94 . DUA HARI MENJELANG HARI H


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat tak terasa kurang dua hari menuju hari H, kesibukan makin terasa terop depan di tambah satu lagi dan terop yang di pasang kini menjadi tiga hampir menutupi rumah tetangga kanan dan kiri, sound sistem juga sudah di pasang sejak kemarin.


Malam ini acara kirim doa, sejak pagi kesibukan sudah terlihat beraneka macam masakan dan kue sengaja di buat sendiri.


Para pekerja yang di sawah pun di tarik ke rumah untuk membantu seperti biasa mak Sunar yang mendapat amanat dari ibu dengan sigapnya melaksanakan tugas yang di berikan mengatur ini dan itu dan mengontrol semuanya.


Kesibukan di dapur, ruang tengah dan di halaman bekakang membuat aku hanya menatap diam dan bingung apa yang mesti aku lakukan.


Benar benar di jadikan ratu oleh ibu tak boleh membantu ini dan itu, hal ini yang membuat ku bosan hanya diam menatap para biodo yang sibuk melakukan pekerjaan.


Sudah sore saat semua berkumpul di ruang tengah menata semua jenis makanan dan kue, aroma masakan dan kue bercampur menjadi satu membuat aroma tersendiri "ya, aroma berkat kenduri.


Setelah shalat magrib sengaja aku keluar dari kamar dengan sedikit terkejut menatap aneka makanan yang begitu banyak berjajar rapi.


"Mak .... panggilku saat melihat sosok yang berdiri memunggungiku.


Tak menyahut masih sibuk dengan kegiatannya mengendus dan membau setiap masakan yang berada di baskom.


"Makan saja mak, kenapa mesti mengendus seperti itu" ucapku sembari meyodorkan piring.


Masih tidak menyahut dan masih mengendus kue-kue yang berada di nampan, seketika aku tersadar akan situasi ini.


"Kenapa kau menganggu acara ini dan merasuki mak Sunar?"


Bukan menjawab ku tapi langsung menoleh ke arahku.


Sosok ini menyeringai dengan wajah pucatnya dengan suara berat dan serak serta berbicara sedikit berbisik menatapku dengan tajam.


"Kamu melupakan tradisimu nduk, endi bagian ku, sandinganku, sesajen ku, ennnddiiiii."


"Jangan salahkan jika aku mencicipi semua masakan ini, ucap sosok ini dengan masih mengendus aroma masakan dan menyeringai.


Aku masih terdiam mendengar semua ini dan tak bisa berbicara apa-apa dan masih dalam bimbang ku dengan apa yang ku lihat dan ku dengar.


"Siapa nama Simbah" tanyaku kemudian. "Nanti akan aku kirim doa dan maaf saya tidak bisa menyiapkan semua permintaan itu, untuk Simbah aku minta, Simbah jangan mengganggu acara ini dan di sini saya yang akan menikah, pergilah dari sini sebelum saya benar benar marah" ucapku seraya duduk bersila merapal mantra.

__ADS_1


Seketika sosok ini menatapku tajam dan menyeringai hingga beberapa detik kemudian keluar dari tubuh mak Sunar.


Dengan seketika itu juga mak Sunar jatuh dan pingsan "gedubrak bug" dan langsung menimpa tubuhku.


Mendengar benda jatuh para biodo yang berada di dapur langsung masuk ke ruang tengah membantu aku dan mak Sunar .


"Aduh Sunar kenapa ini?"Eh, tulungi calon ngantene!" ucap salah satu biodo sembari mengangkat tubuh mak Sunar dan yang lainnya membantuku untuk berdiri.


"Sejak tadi pagi mak Sunar aneh nduk, melotot ke kami dan setiap ada masakan yang baru matang langsung di endusnya setelahnya tersenyum mengerikan" ucap salah satu biodo di dapur.


Ibu yang tengah berada di kamar juga ikut keluar"Ada ada apa Pram ?" dengan wajah cemasnya ibu memeriksa badanku dan kemudian menoleh ke arah mak Sunar.


"Dudukkan dulu dan mak Sunarnya tolong di bantu" ucap ibu sembari melirik jam.


"Hm ... "bawa dulu mak Sunar di kamar karena sebentar lagi yang hajatan juga datang" perintah ibu kepada beberapa biodo.


Setelah membantuku berdiri dan mendudukkan aku di ruang tengah para biodo kembali ke dapur.


Benar perkataan ibu tak berapa lama nampak para undangan tahlil sudah datang pak Man yang sedari tadi sudah nampak di depan dan di tugaskan menerima tamu hajatan mempersilahkan mereka untuk duduk dan menempati kursi yang telah di sediakan.


Dengan khidmat acara di mulai membaca surat yasin dan tahlil serta mengirim doa untuk para leluhur, tahap demi tahap acara di lalui hingga acara terakhir


Sudah pukul sembilan malam saat


acara kenduri selesai ibu memanggilku ke kamarnya, melihat aku masuk ibu langsung tersenyum menatapku "sini" ucap ibu sembari menarik tanganku untuk duduk di sebelahnya.


"Istirahat Pram, besok akan semakin sibuk dan ibu harap kamu juga jaga kondisi tubuhmu Pram."


"Bu .... "boleh Pram tidur dengan ibu untuk malam ini?" seketika ibu tertawa mendengar permintaan ku.


"Sini" kini ibu sudah membaringkan tubuhnya dengan segera aku menyusul di sampingnya.


Setelah sama sama terbaring ku lihat ibu tiba tiba tersenyum.


"Kok senyum-senyum, bu?!"

__ADS_1


Tak menjawab tapi langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku sembari menatapku.


"Ini senyum bahagia, karena ibu sudah bisa membuatmu seperti ini, menjadi gadis cantik dan dua hari lagi akan menikah."


"Ibu jadi teringat saat waktu menikah dulu Pram, simbahmu Rum melakukan hajatan besar besaran menggelar wayang tiga hari tiga malam dan ibu sampai pusing mendengarnya, belum lagi hajatan yang di langsungkan selama empat hari."


Dengan semangat dan tersenyum ibu menceritakan semua nya hingga tak terasa mataku lambat laun mulai mengantuk seperti mendengarkan dongeng sebelum tidur.


Sesekali menguap dan itu membuat ibu menghentikan ceritanya "tidurlah, persiapkan untuk esok hari Pram."


Hingga subuh baru aku terbangun suara gaduh kembali terdengar, suara ibu ibu di belakang dan para sinoman di depan .


Setelah mandi dan beberes masih termenung menatap ke luar jendela, tak terasa besok akan menjadi hari yang sangat sakral buatku melepas masa lajang ku dan berganti status menjadi seorang istri.


"Mas Rian" seketika ku sebut namanya sudah hampir seminggu tak bertemu berkirim kabar atau sekedar menelfon "Huf...." mungkin ini makna dari di pingit, hingga di pertemukan nanti di pernikahan sama-sama saling merindukan.


"Pram ... suara ibu memanggil dengan sedikit keras "kok melamun, ini mbak MUA nya sudah datang mau nyobain baju kebayanya nya dan warnanya tetep pilih yang hitam kan?"


tanya ibu lagi.


"Ayo mbak monggo" kembali ibu mempersilahkan dan berlalu pergi ke dapur.


Sang MUA menatapku sejenak dan tersenyum


"Untuk manten lakinya sudah ada temen mbak yang nangani dan pilihan bajunya juga sama dengan mbaknya hitam" katanya nurut saja dengan pilihan mbaknya" ucap sang MUA lagi.


Sembari menyisir rambutku dan terus tersenyum "Mbaknya cantik, besok kalau di rias pasti manglingi."


"Ini alisnya mau di kerik atau di rapikan saja mbak?" tanya sang MUA sembari melihat alisku.


"Jangan di kerik mbak rapikan saja " ucapku lagi.


Dengan cekatan sang MUA sudah mengerjakan ini dan itu, mengepas baju dan sebagainya.


"Hijabnya pakai yang model begini kan mbak?" tanya sang MUA sembari menunjukkan model dan warna hijabnya.

__ADS_1


"Ya, hanya itu jawaban ku pelan.


__ADS_2