OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 89 . LAMARAN


__ADS_3

Setelah kemarahan ibu, besoknya aku benar benar membereskan urusan kuliah, menyerahkan semua syarat untuk wisuda. Mas Rian yang sehari ini menemani kemanapun aku pergi hanya tersenyum - senyum saja.


"Punya Mas Rian sudah beres?" tanyaku sembari memasukkan arsip yang Pram bawa.


"kamunya lelet Pram, sebelum ke nikah Ida punyaku sudah beres, tapi aku senang akhirnya kamu berhasil menyelesaikan dengan kemampuan mu sendiri meskipun sedikit banyak aku ikut membantumu."


"Hiya-hiya, terima kasih Masku, sembari aku cubit pipinya."


"Eh .... kamu, mulai berani ya? Ish, hanya itu saja, ucapan Pram sembari membenarkan tas punggungnya.


"Sudah pulang saja, ajakku ke Mas Rian."


Waktu terlewat begitu cepat, ini hari lamaran yang sudah di rencanakan masih pagi rumah sudah ramai nampak para tetangga sibuk membantu di rumah, ruang tamu sudah di sulap lebih luas dan indah.


Selepas shalat dhuhur, pihak MUA juga sudah datang dengan segala perlengkapannya terlihat ibu yang sibuk memberi arahan pada para tetangga.


'Duh. Kenapa harus seribet ini, belum lagi nanti pas nikahnya hati Pram berguman .'


"Pram, cepat masuk kamar biar di rias Mbaknya !"


Begitu memasuki kamar Pram melihat sang MUA sudah menyiapkan segala sesuatunya.


Dengan cekatan Mbak MUA sudah menyulap wajah ku mesti riasan natural dan sederhana tak urung juga aku tersenyum menatap wajahku sendiri di depan cermin.


Ada sedikit rasa bangga saat Mbak MUA mengatakan. "Mbaknya sudah cantik dari sananya meskipun di rias sederhana pun juga sudah terlihat cantik," ucapnya memuji.


Pandangan Pram kini beralih ke arah belakang Mbak MUA, sosok yang selalu berdiri di belakang nya dan tersenyum padaku.


Tatapan Pram seketika menajam memandang sosok itu. 'Kenapa pula kau itu secara terang terangan menampakkan wujud mu padaku' batin Pram berbicara.


"Maaf ya Mbak? Secara tiba-tiba sang MUA meminta maaf karena sadar akan tatapanku dan aku hanya tersenyum saja menanggapinya.


Suasana rumah makin rame saat jam tiga sore, tetangga yang di undang untuk menyaksikan acara lamaran pun sudah datang.


Tak lama rombongan Mas Rian pun sudah datang, membawa tetangga kanan dan kiri yang di ajak dan beberapa orang yang di tuakan.


Acara berlangsung begitu hikmat setahap demi setahap terlampaui menyerahkan hantaran yang begitu banyak semua terbungkus rapi dan indah.


Setelah menyerahkan hantaran akhirnya membahas juga tanggal pernikahan yang akan di langsungkan, hingga di ambil kesepakatan satu bulan dari sekarang akan di langsungkan pernikahan.


Jujur mendengar ini aku sedikit terkejut mendengarnya.


Mas Rian yang duduk di seberangku hanya senyum senyum saja wajahnya nampak bahagia begitu juga dengan ibuku dan bu Asih.


Acara yang di tutup dengan jamuan membuat suasana makin rame ledekan para tetangga yang di tujukan padaku dan mas Rian membuat satu dan lainnya tertawa.

__ADS_1


Mendekati magrib acara baru selesai, semua di sibukkan dengan urusan bersih bersih sementara aku lebih memilih masuk dalam kamar membersihkan wajahku dan berganti pakaian.


Ke luar dari kamar membantu membereskan ini dan itu hingga nampak mas Rian membantu tetangga memasukkan kursi dan meja. "Loh, kok belum pulang Mas?" tanya Pram heran.


Yang Pram tanya tak menjawab malah senyum-senyum dan melirik ke arahku.


Setelah semua beres Mas Rian menarik pram menuju ruang tamu. "Terima kasih Pram, sudah menerima lamaran ini dan tak menundanya lagi, kata Mas Rian sembari duduk di ruang tamu."


"Mas," panggil Pram pelan.


Yang aku panggil langsung melihat ke arahku.


"Apa Pram?"


"M ... itu, sembari ku mainkan ujung ujung jariku.


"Itu apa? Jangan bikin penasaran Pram!"


"Sudah, nggak jadi," ucap Pram lagi.


"Mesti kan, sudah ngomong saja Pram !"


Melihat aku kikuk dan membatalkan ucapanku Mas Rian kini duduk lebih mendekat dan merangkul bahu ku.


"Hiii, kan ! mesti pake ngancam-ngancam."


"Makanya mulai sekarang harus belajar bicara terbuka dan jujur, mungkin setelah ini Mas akan sedikit repot Pram dan mungkin dua minggu sebelum hari H kita, Mas nggak bisa ke sini.


"kamu tahu kan tadi ibu kita bicara apa! sedikit menggeser duduk nya.


"Hesss ... kenapa juga ada acara di pingit segala," ucap Mas Rian berat.


"Itu yang mau aku omongkan Mas, Mas gimana kalau acara resepsinya nanti kita bikin sederhana saja."


Nampak Mas Rian diam sesaat. "Tapi semua sudah di rencanakan Pram, aku sendiri juga baru tahu kemarin saat ibu akan melamar ."


"Ibu, mesti nggak cerita apa-apa sama aku dan nggak ngomong apa-apa," ucap Pram sembari menggerutu.


"Pulang Mas, sudah jam sembilan," ucap Pram sembari berdiri.


"Masih betah Pram, pingin liat kamu terus," ucapnya sembari menatapku dan tak ujung beranjak berdiri.


"Hehe , nggak usah begitu amat Mas." Kini aku mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuatnya tertawa dan menggaruk kepalanya.


"Sudah sekarang pulang, aku sudah ngantuk

__ADS_1


nanti aku telfon Mas" ucap Pram sembari kembali mendorong tubuhnya pelan.


"Pram ... panggil Mas Rian sembari bibirnya manyun-manyun.


"Ih ... nggak tau malu, sana pulang Mas!"


"Sekali saja," ucapnya sembari tersenyum.


"Nggak mau, nanti saja kalau sudah sah," jawab Pram sembari tersenyum.


Akhirnya dengan wajah cemberut Mas Rian pulang juga, begitu sampai di tengah halaman. "Mas ... panggil Pram, kini aku yang ganti menggodanya."


"Hum ... ah, cup, cup, cup."


Dengan segera aku menutup pintunya, karena aku melihat Mas Rian menghentikan langkahnya dan berbalik, aku bergegas masuk dalam kamar dan mengunci pintunya.


Saat mataku hampir terlelap ada notif dari Mas Rian, aku langsung tersenyum lebar membaca nya. "Hem, awas ! tinggal menghitung hari saja Pram, akan aku bikin bengkak bibirmu itu, dengan emot marah.


Aku tak menjawab, membiarkan begitubsaja ponselku bercentang centung ria, toh mataku sekarang benar-benar telah terlelap.


Mendengar adzan subuh aku terbangun duduk sejenak, melihat ponselku menyala karena notif yang masuk seketika tubuhku bergidik membacanya dan tersenyum.


"Dasar .... ucap Pram sembari melempar ponselku ke kasur."


"Ih ... kenapa juga kemarin malam aku menggodanya!"


Setelah shalat subuh aku bergegas ke dapur membantu ibu, melihat ibu masuk ke kamar dan keluar lagi membawa map dan menyerahkan padaku.


"Pram, ini surat-surat untuk mengajukan pernikahanmu di KUA nanti urus saja dengan Masmu."


Menerimanya dan menyimpannya di kamar.


"Bu, gimana kalau pernikahanku di buat sederhana saja ! Kini tanganku sudah mencuci sayur.


"Kau ngawur Pram! semua sudah di atur dengan Bu Asih dan Ibu, nggak usah protes" ucap ibu lagi.


"Hiya Bu, aku tahu ! Tapi semua hanya membuang buang uang, Bu!"


"Sudah, cepat siap-siap Pram, sebentar lagi Masmu datang."


Benar ucapan ibu di depan terdengar suara sepeda berhenti mendengar itu aku langsung masuk ke kamar, tiba -tiba badan ku bergidik


mengingat notif yang di kirimkan Mas Rian.


Semoga hari ini mas Rian sudah lupa. "Bodoh kau Pram !" ucap Pram sembari masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2