OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 118 . KABAR DUKA


__ADS_3

Aku masih saja berdiri di halaman saat mobil bapak sudah tak terlihat "non ayo segera masuk" ajak mbak Ning.


Dengan malas aku melangkahkan kakiku menuju ruang tengah"mbak apa masih ada khataman lagi tanyaku tiba-tiba."


"Nggak non, nanti kalau nenek sudah datang kita akan melakukan pengajian lagi" ucap mbak Ning menjelaskan.


Sementara ku lihat mbak Yas sedang memberi arahan pada beberapa orang untuk mengatur meja dan kursi serta perabot lainnya.


Hatiku terus berdebar aneh "mbak, Kinara ke kamar dulu" ucapku sembari melangkah naik sementara Lintang dan Arion sedang asik bermain.


Sejam, dua jam hingga pertengahan hari hatiku terus berdebar aneh, entah sudah berapa banyak air putih yang ku minum untuk menenangkan hatiku dan juga melakukan shalat, tapi masih saja hatiku terus berdebar.


Hingga suara adzan ashar berkumandang, beberapa saat setelah aku mengambil air wudhu ponselku berdering, berkali-kali dengan bergegas aku meraihnya "bapak" ucapku pelan.


Mengulir tanda hijau dan segera mengaktifkan jawaban.


"ya .... "ini Kinara, pak" ucapku pelan.


"Apa, semua perabot sudah masuk rumah, tanya bapak aneh.


"Ya, sudah dhuhur tadi baru selesai" balas ku lagi.


"Sekarang turun ke bawah dan ponsel ini berikan pada mbak yas atau mbak Ning.


"ya, pak" ucapku sembari sedikit berlari turun ke bawah.


Sedikit lama mencari mereka berdua.


"Mbak ...." teriakku saat melihat mereka di halaman belakang.


Mendengar panggilanku mereka berdua langsung mendekat "ini bapak mau bicara" ucapku sembari menyerahkan ponselku pada mbak Yas.


"Ya, halo .... "ini mbak Yas pak, Jawab nya sedikit pelan.


Kemudian melangkah sedikit menjauh dariku tapi menarik tangan mbak Ning, sesaat kemudian ku lihat dua mbak ini bergantian menjawab telfon dari bapak, hingga sedikit lama dengan menahan air mata mbak Yas menyerahkan kembali ponselnya padaku.


"Non .... non naik ke atas, jaga Lintang dan Arion begitu juga dengan Kinanti, seketika hatiku tercubit sakit "mbak ....ada apa? tanyaku pelan.


"Non, naik saja itu perintah bapak dan jaga mereka, nanti mbak Yas akan naik ke atas jika semua sudah selesai.


Sembari melangkah masuk ku lihat mbak Ning sudah berlari keluar dan beberapa saat tak nampak lagi, sementara mbak Yas dengan sembunyi-sembunyi mengikis air matanya semua terlihat sebelum aku benar-benar masuk dalam kamar Arion, Lintang dan kemudian berkumpul di kamar Kinanti.


Kinanti yang melihatku masuk dengan Lintang dan Arion menatapku dengan heran.


"Kin ...." panggilnya dengan pelan?

__ADS_1


Aku hanya menggeleng tanda tak mengerti dan hanya menjelaskan seperti apa yang ku dengar dari mbak Yas.


Hatiku masih berdebar aneh, kini mulutku terus beristifar begitu juga dengan kinanti, Lintang dan Arion.


Hingga suara ambulan yang datang mengejutkan kami, 'ini sudah hampir magrib, kenapa mbak Yas belum juga naik untuk memberi tahu' ucapku dalam hati .


Suara sirine semakin dekat dan jelas, seketika aku mengajak Kinanti dan dua adikku turun, aku sedikit terkejut melihat keadaan rumah, meja dan kursi kembali di taruh di luar, ku genggam erat tangan kedua adikku, para tetangga sudah berkumpul, ada yang meronce bunga dan masih banyak lagi.


Dalam bingungku aku dan Kinanti saling menatap "Kinanti ada apa ini ? ini seperti saat mak Sunar berpulang" ucapku pelan.


Aku masih memegang erat tangan Arion dan Lintang saat ambulan berhenti tepat di depan rumah , semua warga langsung memberi jalan, membantu bapak turun, seketika itu juga aku membawa dua adikku berlari untuk menghampiri bapak.


Wajah bapak sedikit lebam, tangan dan kakinya penuh perban "Pak ..." panggil ku pelan.


Mbak yas dan mbak Ning langsung membimbing kami masuk, begitu melihat para warga mengangkat dua peti dari ambulan dan membawanya masuk dalam rumah.


Seketika tubuhku lemas bersamaan dengan Kinanti yang pingsan dan dua adikku menangis dengan keras.


Mataku terus mencari sosok yang belum terlihat kedatangannya "mbak ibu mana?" tanyaku, tapi mbak Yas masih sibuk mengurus Arion dan Lintang.


"Pak .... ibu mana? tanyaku sembari menangis dan berlari ke arah ambulan.


Bapak hanya menatapku dengan sedih, hingga aku mencari dua kali dalam mobil ambulan ini, aku tak menemukan ibu.


Tangisku pun pecah seketika, tubuhku langsung merosot lunglai di sisi mobil ambulan


Kini yang ku rasakan sepi dan gelap, entah apa yang terjadi pada diriku.


Hingga suara suara berbisik membangunkan aku memanggil namaku berulang kali.


Sedikit mengerjapkan mataku, samar-samar beberapa ibu duduk di dekatku dan mbak Yas yang sibuk membalur sesuatu di tubuhku.


Setelah aku sadar sepenuhnya kembali tangisku pecah, masih mencari sosok ibuku.


Dengan sabar mbak Yas memelukku "sabar non, ibu saat ini sedang di rumah sakit dan bapak kalian juga ada di sana karena bapak kalian juga memerlukan perawatan.


"Dan ..." mbak Yas tak melanjutkan ucapan nya.


"Dan apa mbak? mana Kinanti dan dua adikku? mana mbak?"


"Mbak Yas kembali memelukku, sambil berbisik "nenek Asih dan nenek Nur .... "mereka sudah berpulang Kinara dan setelah pemakaman dua nenek kalian, bapak juga harus kembali ke rumah sakit untuk mendapat perawatan" ucap mbak Yas.


"Kinanti, Lintang dan Arion sudah lebih dulu berangkat, jika non sudah siap, mbak Yas akan mengantar non ke rumah sakit untuk lihat ibu" ucap mbak Yas lagi.


Aku tak tahu harus berbuat apa saat ini, tubuhku kembali lemas dengan cepat mbak Yas memberiku minum.

__ADS_1


"Kalau non belum kuat, besok saja kita rumah sakit" karena pesan bapak seperti itu, non."


"Mbak .... tolong antar aku, ke rumah sakit" ucapku pelan.


Dengan perlahan mbak Yas memapahku mendudukkan aku sebelum mengunci semua pintu nya.


Dengan memesan mobil on line akhirnya kami tiba juga di rumah sakit.


Menuju arah Paviliun hingga beberapa blok yang kami lewati akhirnya aku melihat Lintang dan Arion terduduk lesu di teras paviliun.


Tak ada yang indah sepanjang jalan menuju paviliun ini, banyak sosok-sosok yang penasaran dengan kehadiran ku.


Melihat aku datang Arion langsung tersenyum begitu juga dengan Lintang, langsung memelukku erat dengan tangisnya.


"Kak Kinara ....."


"Ibu, bapak" ucap mereka hampir bersamaan."


Saat ini aku tak bisa mengatakan apa-apa, mencoba mengatur nafas ku dengan tenang, saat ini aku harus kuat hanya ini yang terpikir olehku.


Dengan menggandeng dua tangan adikku, aku memasuki ruangan kamar paviliun yang hanya terisi oleh bapak dan ibu.


Langkahku terhenti sesaat melihat kondisi bapak yang penuh luka dan kini sedang tertidur sementara ibu .... tiba-tiba air mataku jatuh dengan sendirinya.


Berusaha tenang untuk tidak menangis ada alat alat yang di pasang di tubuh ibu "kenapa bisa jadi begini?" ucapku tak percaya.


Kinanti yang melihat kedatanganku langsung menghampiri dan memelukku dengan erat, tanpa ada suara akhirnya kami pun menangis bersama.


Mendengar suara ribut ku bapak langsung terbangun, terlihat mata bapak yang membiru legam dan sembab karena banyak menangis.


Aku langsung berhambur lari memeluk bapak, tangisku pecah, melihat sosok yang tangguh kini terkulai lemas penuh luka.


"Pak ....kenapa bisa begini?" bapak hanya menatapku dengan sedih, seperti banyak penyesalan di hatinya.


Pelukanku terhenti saat Arion dan Lintang merengek padaku "mbak ....kinara, mbak kinanti aku lapar" ucapnya polos.


Mbak Ning dan mbak Yas menatapku dengan bingung, sesaat bapak seperti berusaha meraih sesuatu di atas meja dan sedikit menunjuk, "itu dompet bapak bawa adik kalian dan mbak untuk makan" sembari menatap ku


sedih.


"Aku tak ingin, meninggalkan bapak dan ibu, biarkan mbak Ning dan mbak Yas yang membawa mereka makan.


"Mbak ajak Arion dan Lintang untuk makan sekalian mbak nya juga, tolong bungkus saja untuk kami berdua mbak" sembari aku menyerahkan beberapa lembar uang pada mbak Yas.


Serasa tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini, aku dan Kinanti masih menatap sendu ke arah ibu dan bapak kami.

__ADS_1


Ku pandang lekat wajah kedua orang tuaku seakan aku di sadarkan oleh firasat dalam mimpiku, berarti ini arti dari mimpiku.


__ADS_2