OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 64 . ADA APA PRAM


__ADS_3

Tak terasa waktu seminggu ujian telah berlalu dan selama seminggu Pram menghindar dari Rian. Tak ada inisiatif dari Pram dan Rian untuk saling menghubungi. "Egois." mungkin ini yang tepat.


Jadi teringat ucapan Simbah Rian egois, culas, iri dan mungkin ini yang di maksud.


Mengingat pesan ibu lebih dari seminggu aku dan Rian tak saling bertukar kabar dan membiarkan semuanya berjalan saja.


Berjalan menuju ruang tengah saat ponsel Pram berdering. "Ibu," ucap Pram sembari mengulir tanda hijau.


"Assalammualaikum," jawab Pram pelan.


"Pram, pulang Nak. Ada hal yang harus ibu bicarakan."


"Ya Bu, jawab Pram ringan. Besok ya Bu!"


"Sekarang Pram!"


Mendengar Ibu membalas dengan marah.


"Ya. Assalammualaikum," ucap Pram sembari menutup ponsel.


Mendengar ini hati Pram berdesir kencang. "Sekalian Pram bereskan urusan dengan Rian."


Mengemas beberapa yang penting. "Sofia, Sofia," panggil Pram pada sosok ini. Namun Sofia tak muncul, menunggu sesaat sembari Pram mengunci pintu dan pagar juga.


Hanya satu setengah jam perjalanan akhirnya aku sampai juga, berjalan menepi di gang.Terlihat beberapa anak kecil sedang bermain bola dan para ibu-ibu juga sedang duduk merumpi di rumah Mak Siti.


"Loh. Pram baru datang?" ucap tetangga Mak Siti menyapa. "Nggih Bu," jawab Pram pelan sembari meundukkan kepala sebagai tanda hormat.


Tinggal melewati satu rumah, aku melihat Ibu berdiri sembari menoleh ke kanan dan ke kiri seperti menanti seseorang. Melihat aku datang ibu tersenyum. Nampak jelas tergambar raut bahagia di wajah ibu dan sekilas sembari menatap dari jauh.


"Weleh-weleh baru sampai." Kemudian menuntut tangan pram untuk masuk.


Begitu sampai di dalam rumah, Pram segera menuju kamar dan meletakkan tas kemudian kembali keluar.


Melihat ibu duduk termenung di meja makan Pram segera mendekat. "Ada apa Bu kok muram? ibu tak menjawab tapi sekilas menatap padaku.


"Pram ... lama terdiam entah apa yang membuat ibu tak melanjutkan bicaranya.


Aku masih menunggu. "Kok diam Bu!"


"Pram. Apa yang kau sembunyikan dari ibu?" tanya ibu pelan.


"Maksud ibu? Ini tentang Rian dan temanmu Hanifa," ucap ibu lagi.


"Oh ... teman kampus dan satu jurusan Bu," ucap Pram untuk menutupi.

__ADS_1


"Dia kemarin kemari bersama Rian. Apa hubungan kalian baik-baik saja?" tanya ibu lagi.


"Baik Bu, Hanifa itu gadis yang aku bilang mau main ke rumah Bu. Bagaimana cantik nggak Bu?" tanya Pram memancing percakapan.


"Cantik. Tetapi sepertinya Hanifa suka dengan Rian," ucap ibu lagi.


"Huf. Hanya itu yang Pram ucapkan.


"Lantas mau apa Hanifa kemari. Pram juga nggak di rumah, kini aku membuka tudung saji untuk melihat isi dalamnya dan kemudian menutupnya lagi. Tak menjawab apa yang aku tanyakan malah ganti menginterogasi.


"Pram, beberapa kali Mak Sara melihat mereka berboncengan dan."


"Dan apa Bu? Hanifa memeluk Rian dengan erat !" ucap Ibu. "Apa ibu pernah melihatnya sendiri?"


"Pram bukan Mak Sara saja yang melihat nya tapi beberapa tetangga juga bilang."


"Bu. Biarakan saja ucap Pram." Kok begitu Pram. "Rian itu pacarmu dan kau pun juga sudah di jodohkan," ucap ibu lagi.


Aku diam bukan terkejut tapi teringat percakapan antara aku dengan Simbah Rian di sawah.


"Oh, jadi ini yang di maksud dengan jodoh yang di gadang-gadang."


"Pram. Biar Bu, mungkin kami tak berjodoh atau Rian sudah tak suka lagi denganku," ucap Pram datar toh nyatanya hatiku sakit mengatakan ini.


"Bu. Kenapa ibu tak pernah memberi tahu Pram tentang semuanya Bu!"


"Tentang perjodohan ini contohnya dan boleh Pram bertanya dan apa harapan Pram. Pram harap ibu menjawabnya dengan jujur."


"Bu. Apa yang terjadi dengan Rian dan Hanifa saat aku sakit dan sejak itu Rian seakan menyembunyikan sesuatu pada Pram Bu."


"Dan yang membuat Pram sedih Rian sudah tak pernah menghubungi lagi dan satu hal Bu Pram sudah tahu semuanya."


"Bu sebenarnya. Jujur niat awal Pram juga ingin menguji kesetiaan Rian Bu dan jujur Bu, Pram kecewa dengan semua ini."


"Biarkan semuanya berjalan seperti apa adanya Bu. Pram tak akan menegur Rian Bu," ucap Pram lagi.


"Pram. Kini aku sudah memeluk ibu. Pram masih ingin menyiapkan hati Pram Bu dan pasti Pram akan mengambil keputusan.


"Bu. Andaikan Pram memutuskan perjodohan ini?"


Ibu semakin mendekap aku erat, kini tak sepatah kata pun yang keluar dari bibir Ibu hanya tangannya saja yang mengusap punggung Pram dengan lembut.


"Pram. Sebenarnya waktu kamu sakit Rian dan Hanifa selalu bersama-sama hanya itu yang Ibu tahu."


Aku melepas pelukan ibu. "Terima kasih Bu

__ADS_1


besok aku akan berbicara serius dengan Rian dan jika memang harus membatalkan perjodohan ini jalan yang terbaik aku akan melakukannya Bu."


"Apa ibu ikhlas jika aku melakukan itu?"


"Semua terserah padamu Pram. Tapi beri keputusan yang baik dan tak menyakiti siapapun."


Setelah mengeluarkan semua yang Pram pendam selama ini, serasa lega dan sedikit plong di hati Pram.


"Tapi Pram. Setiap malam Rian selalu kemari," ucap ibu lagi. "Bu. Biarkan waktu yang menentukan," ucap Pram sembari melangkah


ke kamar.


Begitu masuk kamar, terdengar suara ribut ribut di depan. Merasa penasaran akhirnya Pram membuka tirai jendela, mengetauhi apa yang menjadi sumber keributan Pram sedikit tersenyum melihat anak-anak bermain sepak bola.


Jadi teringat masa kecil Pram saat bermain sepak bola dengan anak laki-laki di kampung dan salah satunya Rian. "Ash. Kenapa dia lagi," ucap Pram pelan.


Masih menatap keluar jendela hingga sore menjelang saat anak-anak mulai bubar dan pulang ke rumah masing-masing.


Kembali duduk di sisi ranjang mengambil ponsel. Mengulirnya sejenak benar Rian telah lupa dengan kembali mematikan ponsel.


Melihat jam di dinding masih pukul tiga sore


melempar begitu saja ke kasur dan kembali keluar kamar.


Melihat ibu sudah bersiap. Mau ke mana Bu sudah sore," ucap Pram.


"Ke sawah Pram tadi panen belum selesai. Aku ikut Bu," ucap Pram.


Berjalan beriringan dengan ibu sesekali aku tertawa kecil mendengar ibu bicara.


Setelah tiba di sawah aku langsung menuju batu besar. Kini aku sudah duduk di batu ini lagi. Sengaja duduk di atas batu memandang ikan yang berenang, aku sedikit tersenyum melihatnya hingga ada suara yang menyapa. "Kenapa kau kemari Pram?" Suara yan mengejutkan. Seketika Pram menoleh dan melihat ke sumber suara. "Simbah," sapa Pram.


"Aku tahu kau kemari karena Rian kan. Dan kau bersedih akan itu kan?" tanya Simbah. Aku hanya mengangguk saja untuk menanggapi pertanyaan Simbah.


"Ada apa?" tanya Simbah. Aku ingin memutuskan perjodohan ini Mbah," ucap Pram pelan."


"Apa kau tak salah bicara Pram?" Aku tak menjawab kini pandangan Pram beralih ke ikan yang berenang.


"Mbah terima kasih, saya kemari hanya meminta ijin saja dan saya berharap Simbah masih mau menolong Pram suatu saat nanti," ucap Pram sembari berdiri.


"Pram. Selanjutnya hanya menatap dan tersenyum. Panggil saja nama Simbah Winarsih pasti Simbah datang untuk menolong Pram."


"Terima kasih Mbah." Aku sedikit menunduk dan langsung beranjak melangkah pergi dari tempat itu.


"Pram. Pram. Terdengar suara ibu memanggil dari kejauhan dengan sedikit berlari aku menghampiri Ibu.

__ADS_1


__ADS_2