OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 91 . MASIH DENGAN BERKAS


__ADS_3

Perbincangan dengan ibu membuat Pram sadar begitu repotnya menjadi orang tua mengurus ini dan itu, menatap ibu, wanita tangguh single parent membesarkan aku sendiri dengan semua kelakuanku dan dengan sabarnya tak pernah memarahiku atau memukulku.


Tak terasa air mataku turun, seketika aku merangkul ibu dan menangis dalam pelukannya.


"Maafkan Pram Bu, sungguh Pram minta maaf karena kelakuan Pram selama ini, maafkan anakmu ini Bu!"


"Eee, kok nangis, dari dulu ibu selalu memaafkan mu Nak dan maaf jika ibu tak bisa memberikan kebahagian lengkap sebagai orang tua."


Malam ini kami berdua menangis dengan saling berpelukan dan saling memaafkan.


Setelah tangis kami sedikit reda. "Kamu Pram sudah bikin ibu nangis." Sembari mengusap kepalaku. "Anak ibu sudah dewasa belajarlah untuk bijak dan dengan apa yang kamu miliki, ibu berharap kelak jaga setiap ucapan mu, pada suamimu, anak anakmu kelak terutama pada orang tua berusahalah untuk sopan."


"Boleh ibu pesan sesuatu?"


Seketika aku menatap ibu. Melihat aku bingung ibu langsung tertawa. "Ini pesan sederhana Pram, buatkan ibu cucu yang banyak, ibu hanya ingin di masa tua ibu mendengar suara celoteh cucu-cucu ibu yang ramai dan rumah ini tak sepi lagi."


Wajahku langsung memerah. "Bu, nikah juga belum. Hmm, gimana ya?"


Mendengar ucapanku ibu tersenyum. "Untuk yang satu ini ibu tak ingin ada kata menunda apalagi menolak."


"Ihh, ibu bikin aku malu saja" ucap Pram tertunduk.


"Sudah malam ayo tidur," ucap ibu sembari membereskan bukunya. Mau tidur dengan ibu Pram?" mendengar ucapan ibu aku langsung mengangguk setuju.


Pagi menjelang, terbangun saat adzan subuh berkumandang ku lihat ibu sudah bersiap untuk shalat. "Bu, tunggu sebentar!! Tak perlu lama aku menyusul ibu untuk shalat.


Sudah lama rasanya tak melakukan shalat bersama, di akhiri dengan salam lalu mencium punggung tangan ibu.


"Ibu kebelakang Pram dan kamu bantu ibu juga Pram."


"Apa nggak ke sawah Bu, tumben masak nya kok sedikit? Masih Pram, tapi mulai sekarang ibu beri uang makan saja!! Toh habis ini ibu juga sibuk dan sudah ada penggantinya, lagian ibu juga ingin bersantai."


"Ibu di tanya satu jawabnya lengkap kayak paket komplit saja."


Seketika ibu tertawa. "Kau itu Pram, ayo bawa ini ke meja makan," ucap ibu sembari memberikan mangkuk berisi sayur.


Sudah pukul enam saat semuanya beres bergegas mandi dan sarapan. 'Masih satu jam pikirku.' Kini aku kembali masuk ke kamar memeriksa kembali berkas-berkasnya.


Menatanya kembali sesuai urutan semula .


"Ini fotonya, untung nggak ketinggalan," ucap Pram sendiri dan kini memasukkan menjadi satu di mapnya.

__ADS_1


Masih setengah delapan Mas Rian sudah datang dan sudah duduk di ruang tengah seperti membicarakan sesuatu dengan ibu.


Saat aku mendekat ibu menatapku. "Sini Pram." Menyuruhku untuk duduk.


"Masmu sudah ibu beri tahu nanti. Ibu tak melanjutkan ucapannya kini ibu diam sejenak dan menatap sembari meraih tanganku.


"Pram, nanti kalau di tanya di KUA bilang pakai wali hakim ya! Terdengar suara ibu dengan sedikit tercekat.


Aku mengangguk dengan diam, seketika Mas Rian merangkulku dengan erat dan lama baru di lepas, benar ada rasa sesak di hatiku rasa sedih yang datang tiba-tiba.


"Nanti sepulang dari mengurus berkas berkas ini kita ke makam Bapak ya? Tawar Mas Rian padaku.


Aku masih terdiam. 'Ini yang selama ini aku takuktkan'ucap hatiku.


"Pram ... panggil Mas Rian lembut."


Dengan hembusan napas aku berusaha mengatur hatiku dan tersenyum, ibu sudah tak terlihat duduk di depan ku.


"Mana Ibu Mas? Sedikit mendekat dan berbisik. "Di kamar, temui dulu Pram!! Hati ibu saat ini sama dengan hatimu, lembutlah saat berucap."


Benar nampak ibu berdiri di jendela kamar menatap halaman belakang. "Bu," panggilku lembut sesuai pesan Mas Rian.


Seketika ibu berbalik menatapku. "Sekali lagi maafkan ibu atas ke kurangan ini."


"Pram, berangkat Bu!" meraih tangan nya dan menciumnya, ada senyum di wajah ibu berbalut dengan kesedihan.


Ke luar dari kamar ku lihat Mas Rian dan seketika aku sadar akan kondisi yang sama sama-sama tak memiliki Bapak.


Seketika aku memeluknya. "Maaf atas keegoisanku Mas," ucap Pram pelan.


Entalah pagi ini serasa semuanya menjadi melo. "Jadi berangkat nggak Pram? Suara Mas Rian mengejutkan dan seketika aku lepas pelukannku. Sembari tersenyum. "Ayo Mas keburu siang," ucap Pram sembari mengambil tas punggungnya dan sedikit malu. Keluar dari rumah dengan hati tenang, karena sosok Mas Rian telah mengajarkan aku akan ke ikhlasan.


Melajukan sepedanya dengan tenang menuju kantor Kelurahan, begitu sampai bergegas memakirkan sepedanya. "Masih pukul sembilan Mas tapi kok sudah ramai," ucap Pram sembari berjalan di sisinya.


"Nggak apa Pram, santai saja " jawabnya sembari menggandeng tanganku.


Antri selama satu jam, akhirnya giliran kami yang di layani setelah bertanya ini dan itu dan mengisi berkas dan di tanda tangani kami di sarankan langsung ke kantor KUA.


Sudah pukul sebelas saat kami tiba di kantor KUA, aku dan mas Rian kembali tersenyum.


"Ngatri lagi Pram, apa ini bulan yang cocok untuk menikah ya? Kok ngantri begini? Ucap Mas Rian saat melihat beberapa orang sudah duduk berderet.

__ADS_1


Aku masih dengan senyum dan menunduk karena suara Mas Rian membuat orang yang duduk di sebelahku langsung menoleh.


Setelah menyerahkan berkas-berkas akhirnya selesai juga. "Tinggal kembali seminggu lagi Pram," ucap Mas Rian.


Karena untuk urusan berkas yang lainnya mas sudah pasrahkan semuanya pada pengurus KUA termasuk izin untuk wali hakim, terang Mas Rian.


"Pulang dan kita langsung ke makam Bapak baru besok kita ziarah ke makam Bapak Mas


nampak wajah Mas Rian sedikit berubah setelah mengatakan ini.


"Jauh kah Mas?" tanya Pram. "Hem, anggap saja kita sembari jalan-jalan," jawab Mas Rian sembari tersenyum.


Setelah di rasa semua sudah siap mas Rian melajukan motornya dengan tenang.


Hampir ashar saat kami tiba di makam Bapak, bersih begitu juga dengan puing-puing rumah ini. Melangkahkan kaki memasuki halaman dan langsung menuju makam, duduk berdua bersama mas Rian dengan tenang kemudian membaca surat alfateha dan surat yasin bergantian begitu juga dengan dua makam lainnya.


Berhenti sejenak mengucap dalam hati. 'Memohon ijin akan di laksanakan pernikahanku dengan mas Rian kemudian aku menutupnya dengan kata amin.'


Menatap sejenak rumah simbah yang kini tinggal berupa lahan kosong yang luas


'Semoga niatku dapat terlaksana,' ucap hatiku.


"Ayo Mas, pulang rasanya cuuuaaapeek Mas."


"Kenapa ngomong capeknya pake di panjangin Pram!"


"Rasa capeknya seperti itu Mas, jadi ngomongnya juga mesti panjang."


"Kamu ya! Kini Mas Rian kembali mencubit pipiku dua-duanya."


"Ihh, ini kok jadi hobi, lihat pipiku jadinya turun bisa-bisa cantikku hilang," ucap Pram asal.


"Mana ada cantiknya hilang, makin kesini makin cantik dan tambah ehem."


"Ish, nggak tau malu ngerayu aku di depan makam Bapak sama Simbah dan Budhe."


"Ayo pulang Mas, kok senyum-senyum terus."


"Beneran Pram kamu tambah ehem."


"Masa," ucap Pram sembari mendahului langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2