
Sudah hampir seminggu bapak dan ibu di rawat di rumah sakit, bapak mulai terlihat sehat sementara ibu masih dengan kondisi awalnya tak ada kemajuan sedikit pun.
Keadaan tak baik-baik saja saat ini, di rumah Arion dan Lintang dalam pengawasan mbak Yas dan mbak Ning, sementara aku dan Kinanti harus bolak balik sekolah, rumah dan rumah sakit.
Toko yang di pegang ibu pun sementara harus di tutup dulu karena kondisi ibu yang masih belum sadar juga.
Terasa semua tenaga terkuras dan lelah akhirnya di sini aku paham, ternyata semua yang di lakukan orang tua kami tak semudah yang kami lihat.
pagi ini sudah dua minggu bapak dan ibu di rawat, bapak sudah bisa di katakan sembuh, luka-lukanya sudah mulai mengering dan perban di kakinya juga sudah di lepas, meskipun belum bisa jalan sepenuhnya tapi bapak dengan semangat berjuang untuk sembuh.
Aku, Kinanti, Arion dan Lintang sengaja datang lebih pagi, saat kami datang ku lihat kamar terasa sepi, bapak tak ada di ranjang nya.
Sesaat kami masuk tanpa kami duga, kami melihat bapak menangis sembari mengenggam tangan ibu dengan isakan yang kadang di tahan nya, kami pun tak sengaja mendengar keluh kesah bapak.
"Ya, seakan bapak mengadu pada ibu tentang selama dua minggu ini dan berkali-kali meminta maaf pada ibu."
"Cepat lah bangun kasian anak-anak Pram, kenapa kau lebih suka di sana , meninggalkan aku, bersama anak-anak Pram."
Kata-kata ini yang selalu terngiang di telingaku, dengan tangisnya, bapak seakan menyesali semua kejadian ini.
Suara Arion yang berteriak mengejutkan bapak dengan buru-buru bapak mengikis air matanya dan dengan senyum nya bapak berusaha menyambut kedatangan kami.
Arion dan Lintang langsung berceloteh menceritakan semua yang terjadi di rumah dan dan di sekolah.
Sesaat bapak tersenyum mendengarkan semua cerita adik-adikku, hingga tiba-tiba Lintang berbicara dengan menunduk "pak ...boleh Lintang menagih janji pada bapak!"
"Pasti bapak juga sudah lupa, andaikan bapak ingat, boleh hadiah yang bapak janjikan untukku Lintang minta?"
Bapak terlihat sedikit terkejut "ya " janji yang sudah lama belum terpenuhi.
"Bapak ingat jika Lintang menjadi juara membaca al quran bapak akan memberi hadiah pada Lintang, kan?"
Beberapa saat bapak langsung tersenyum, "bapak masih ingat, hadiah apa yang Lintang minta?"
"Sungguh bisa dan boleh?"kembali Lintang bertanya.
"Boleh asal bapak bisa memenuhinya" ucap bapak meyakinkan.
__ADS_1
"Lintang ingin hadiah nya supaya ibu sehat dan bisa memarahi Lintang pak dan setiap pagi ada yang rame di rumah, sekarang di rumah sepi, Lintang rindu ibu pak ..."setiap malam Lintang sudah berdoa dan meminta pada Allah supaya ibu cepat sembuh" ucapnya sembari terisak dan menyeka ingusnya dengan baju.
Seketika bapak memeluk Lintang dengan erat
"maaf, maaafkan bapak semua ini salah bapak dan mengakibatkan dua nenek kalian .... kata kata bapak terputus saat suara nyaring terdengar.
"kinanti, cepat tekan tombol darurat untuk memanggil dokter" ucap bapak memberi perintah.
Dengan cepat Kinanti menekan tombol itu, tak berapa lama muncul dokter dan perawat datang dengan teliti dokter memeriksa ibu, semuanya terlihat tidak baik-baik saja, saat dokter berbicara dengan bapak, nampak wajah bapak yang bersedih.
Kemudian sang dokter menepuk bahu bapak beberapa kali seakan memberi semangat pada bapak.
Lama bapak terdiam seakan bermain dengan pikirannya sendiri " pak ...." suara Arion dan Lintang membuyarkan lamunan bapak.
"Sebaiknya kalian pulanglah biar bapak yang menjaga ibu" ucap bapak sendu.
"Kinanti pulanglah" ucapku pada Kinanti.
Nampak Kinanti menggeleng begitu juga dengan Arion dam Lintang.
"Pak ....bolehkan kami menginap di sini, kami rindu ibu pak!" ucap kami bersama-sama.
Mendapati hal seperti ini kami langsung berjalan menuju ibu berbaring Arion langsung memeluk lengan ibu, Lintang langsung merebahkan kepalanya di sisi tubuh ibu sementara aku dan Kinanti duduk di sisi ibu.
Sesaat tanganku meraih tangan ibu dengan cepat aku langsung berada di dunia lain, di mana kejadian itu terjadi.
Sesaat aku berjingkat saat mobil bapak beradu dengan bis, mobil bapak terpelanting dan membuat dua nenek duduk terhimpit badan mobil dan dari belakang ada mobil yang mendorong mobil bapak hingga merangsek ke sisi jembatan.
Ibu yang duduk di belakang berusaha membantu dua nenek, tapi naas kaki ibu juga terjepit badan mobil.
Sebelum pingsannya nampak wajah ibu penuh penyesalan karena tak mampu meraih dan menolong nenek.
Aku masih melihat sukma ibu belum bisa keluar dari tragedi ini, seakan ibu tertahan di sana dengan penyesalannya.
Sejenak air mataku menitik dan mengenai tangan ibu, sesaat sukma ibu menoleh ke arahku 'bu .... kembalilah kami anak-anakmu memerlukan ibu, kami rindu' ucapku dalam hati.
Setelah melihatku kini ibu melihat ke arah dua nenek, kembali berulang seakaan ibu memastikan sesuatu.
__ADS_1
Kembali ku panggil nama ibu, namun semuanya seakan berulang seperti itu.
Ada rasa sakit di hatiku, kini aku tak tahu harus berbuat seperti apa, hanya kembali aku berpasrah dalam hati ku.
Setelah aku merasa benar-benar pasrah akan keadaan ini, tiba-tiba angin berhembus dingin
nampak olehku, laki-laki bersorban mendekatiku dan hanya sekali menyentuh keningku, sukmaku telah ikut bersamanya 'bantu ibumu' hanya ini yang aku dengar.
Mengarahkan dan membuka jalan untukku hingga aku bisa merengkuh tangan ibu, hanya dengan menyentuh keningku dan kening ibu, semua jalan yang tadi terbuka kini tertutup secara cepat, secepat kami melangkah.
Aku sudah kembali dalam ragaku, sementara ibu masih dalam bimbingan laki-laki bersorban itu.
Hingga bersamaan dengan adzan dhuhur sukma ibu di kembalikan hanya dengan menyentuh kening ibu.
Belum ada reaksi dari alat yang sering berbunyi ini, hingga beberapa saat suara nyaring dan panjang berbunyi dan dengan cepat berubah bunyi menjadi satu-satu dengan suara pelan.
Aku masih memegang tangan ibu saat demua terjadi, Kinanti langsung menekan tombol darurat, sementara bapak dengan tertatih berusaha berjalan mendekat.
"Kinara bawa adik-adikmu menepi" ucap bapak.
Dokter kembali masuk dan beberapa perawat kembali memeriksa dengan teiliti, sesaat kemudian tersenyum pada bapak.
"Selamat, isteri bapak sudah melewati masa kritisnya dan kami akan terus memantaunya" ucap sang dokter sebelum berlalu pergi.
Senyum bapak seketika terkembang mendengar kabar bahagia ini, raut kesedihan sedikit menghilang, aku dan yang lainnya langsung melakukan sujud syukur atas berita ini.
Dengan tersenyum aku mengucapkan terima kasih pada sosok bersorban yang masih berdiri di sisi ibu.
Ku lihat hanya senyumnya yang terlihat dan pergi.
Ibu masih juga belum tersadar meski sudah melewati masa kritisnya.
Nampak wajah bahagia dari Arion dan Lintang aku dan Kinanti langsung berpelukan hingga akhirnya kami bersama-sama memeluk bapak.
Terlihat bapak menangis dalam pelukan kami
"Bu .... lihatlah anak-anak mu mereka sangat dan sangat merindukan mu bangunlah, lihat Lintang rindu dengan omelan mu tadi dia mengadu padaku, Arion juga rindu dengan kopi mu, Kinara dan Kinanti juga sangat merindukan mu begitu juga dengan ku, aku tak ingin ada penyesalan di hatiku" ucap bapak masih dengan tangisnya.
__ADS_1
Memang belum terjadi reaksi apapun dari ibu paling tidak bapak sudah mengeluarkan semua keluh kesahnya dan tak ingin menyesal lagi karena tak dapat menyelamatkan ibu.