OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 28 . KONTROL


__ADS_3

Pagi ini Pram melihat ibu mondar mandir, itu terlihat dari pintu kamar, sedikit menaikkan tubuh dengan tumpuan tangan.


Tidak terasa sakit meski agak kaku, semalam ibu juga membalur lagi tangan dan kaki Pram.


Perlahan-lahan mencoba sedikit menggeser kaki. "Bu ... panggil Pram saat melihat Ibu melintas lagi."


Mendengar panggilan dari Pram, Ibu bergegas masuk.


"Sudah bangun Pram?"


"Pingin ke belakang Bu! jawab Pram. Melihat Pram sedikit meringis.


Kemudian ibu masuk dan membantu berdiri. "Pelan-pelan , nggak keburu kan?" tanya Ibu.


Tak menjawab pertanyaan Ibu Pram hanya menggeleng. Mengantar masuk dan mendudukkan Pram di kloset duduk.


"Ibu tunggu di depan pintu Pram!"


Tak lama berselang dan semua hajat sudah tuntas, kembalu Pram memanggil.


"Bu ... panggil Pram."


Seketika ibu masuk dan membantu duduk kembali di kursi roda.


"Pram ingin mandi sekalian Bu, lihat balurannya," ucap Pram pelan.


Sesaat Ibu melihat sembari tersenyum.


"Bagimana? Enteng kan tangan dan kakinya?"


"Hiya Bu, nggak sakit cuma sedikit kaku," jawab Pram cepat.


"Habis mandi kita ke rumah sakit !! Kontrol lalu kita minta rujukan Dokter untuk terapi di rumah Pram, sesuai keinginanmu."


Pram melihat ibu sesaat.


:Hiya Bu," jawab Pram lagi.


Tak butuh waktu lama, Ibu sudah membantu memakai baju dan yang lainnya. Kini Pram sudah ada di kursi roda.


Mendorong ke ruang tengah.


"Pingin lihat-lihat rumah nggak Pram?" tanya Ibu."


Belum juga menjawab, Ibu mendorong ke dapur, ke kamar ibu dan ke teras belakang dan kembali ke ruang tengah.


"Bagimana bagus kan? Meskipun kecil tapi tertata rapi kan Pram!! tanya Ibu."


Pram mengangguk untuk menghiyakan.


"Sarapan dulu, baru kita berangkat," ucap ibu lagi.


Sudah pukul sembilan saat Pram dan ibunya berangkat, menunggu taxi sebentar dan kemudian berangkat.


Tak banyak yang Pram bicarakan dengan ibu


hanya terkadang, menoleh ke kanan dan ke kiri melihat bangunan-bangunan yang cukup tinggi.


"Bu, kenapa nggak beli hp saja," ucap Pram tiba-tiba. Mendengar ucapan Pram terlihat Ibu termenung beberapa saat.


"Ibu kok nggak kepikiran sampe sana Pram! Hiya nanti setelah pulang ibu akan beli."


Mobil sudah berhenti di parkiran rumah sakit, udara mulai panas dan rame, tukang parkir mulai berteriak untuk mengatur mobil yang datang dan pergi. Banyak orang yang berlalu lalang datang dan pergi, entah itu karyawan atau pengunjung mungkin juga pasien.


Ibu mengeluarkan kertas yang di terima dari Dokter membacanya sesaat dan kemudian menyimpannya lagi.

__ADS_1


"Kita harus ke ruang Ortopedi dulu Pram, setelah itu kita akan ke ruangan terapi," ucap ibu sembari mendorong kursi roda.


Hari sudah semakin siang, ibu berhenti mendorong saat tiba di depan ruang Ortopedi, langsung meletakkan kertas yang di bawanya.


"Kita antri dulu, sabar ya? ucap Ibu.


"Ini. ucap Ibu sembari menyerahkan air mineral dan kemudian duduk di sisi Pram."


Satu persatu pasien sudah mulai berdatangan. Mereka sama, cuma sudah ada yang memakai tongkat, kruk dan ada yang seperti Pram masih duduk di kursi roda dan ada yang masih di gips kakinya.


Pram sesaat meringis saat melihat itu. Tak berapa lama terlihat suster sudah memasuki ruangan dan mengambil kertas itu, lalu membaliknya dan mulai menata.


"Prameswari," panggilnya. Begitu nama Pram di panggil ibu langsung bergegas mendorong dan berhenti, ini tempat yang sama saat datang pertama kali hanya ada bed, meja dan kursi, alat-alat lainnya yang tak faham kegunaannya.


Begitu masuk ke dalam ruangan Dokter yang melihat langsung tersenyum lalu berdiri.


"Gadis hebat," ucap Dokter sembari memeriksa kepala Pram, kini berpindah ke tangan melakukan gerakan-gerakan ringan kemudian tersenyum.


"Bagaimana dengan kakinya masih sakit?" tanya Dokter.


"Tidak Dok hanya kaku," jawab Pram.


Mendengar jawaban dari Pram Dokter


lalu memeriksa ulang kaki Pram. Setelah beberapa saat memeriksa dan meminta Pram melakukan gerakan-gerakan yang Dokter minta.


"Hm ... semuanya bagus nggak ada yang perlu di khawatirkan."


"Terapi ya, Bu?" ucap Dokter. Mendengar ini Ibu kemudian mengangguk dan duduk di depan Dokter.


"Begini Dok, Pram mau terapi di rumah, bisakan Dok?" tanya Ibu. Dokter melihat sejenak dan tersenyum.


"Tentu bisa Bu."


Masih duduk di depan Dokter Pram menjawab.


"Kasihan Ibu Dok," jawab Pram sedikit pelan.


Menuliskan sesuatu lagi di kertas, kemudian melihat ke Ibu lagi.


"Anak ibu memerlukan alat bantu untuk aktifitasnya, guna membantunya berjalan, alat ini bisa di beli di toko alat-alat kesehatan," ucap Dokter.


Menyerakhan selembar kertas yang sudah di tandatangani. "Ini terapis yang bisa ibu hubungi dan ini alamat toko nya."


"Oh ya Bu, tolong di pantau jangan sampai terulang lagi Bu," ucap Dokter.


Ibu hanya mengangguk. "Terimakasih Dok atas saran nya, saya permisi," ucap ibu sembari berdiri dan mendorong keluar.


Tak berapa lama Suster memanggil nama pasien selanjutnya, itu samar-samar yang Pram dengar. Pram dan ibu akhirnya pergi juga mencari hp dan mencari alat bantu untuk berjalan, benda kotak yang terbuat dari besi ringan, berkaki empat yang tengahnya terbuka. Setelah hampir seharian berkeliling dengan ibu.


"Pulang Bu," ajak Pram saat melihat ibu mulai terlihat lelah, Ibu melihat sesaat dan kembali mendorong.


Ada rasa sesak di dada saat ibu mendorong. Perjalanan ke rumah cukup memakan waktu ternyata, tempat ini sedikit jauh ke tengah kota. Tak terasa akhirnya sampai juga di rumah.


"Sebentar Pram," ucap ibu sembari menyiapkan kursi roda. Membuka pagar perlahan kemudian mendorong masuk dan menutupnya lagi. Melihat ini hati Pram kembali sesak.


"Bu ... maaf," ucap Pram, saat ibu mulai mendorong masuk ke dalam rumah.


"Ibu ikhlas Pram, yang penting kamu sehat dan bisa pulih seperti semula," ucap ibu lagi.


"Oh, ya ini hpnya tolong di aktifkan Pram !"


"Ibu perlu untuk telfon terapisnya," ucap Ibu sembari menyerahkan dua boks hp.


"Kok, dua Bu," tanya Pram heran.

__ADS_1


"Ya satunya buat kamu," ucap Ibu.


"Terimakasih Bu," jawab Pram.


"Mau ke kamar Pram?"


"Nggak Bu, Pram pingin di sini dulu cari angin."


Ibu hanya mengangguk dan masuk ke kamar.


Tak berapa lama melihat ibu sudah keluar dari kamar.


"Bu, ini hpnya gimana?"


"Eeee, hiya ibu lupa Nduk, lalu menuju ke arah Pram.


"Ibu yang buka nanti Pram yang kasih tau caranya.


Belum selesai Pram bicara terdengar pagar di buka dan di tutup lagi.


"Siapa Bu?" tanya Pram yang kini sudah menoleh ke arah luar.


"Nggak ada siapa-siapa Bu, ucap Pram lagi.


"Aneh .... "


Kini ibu beranjak ingin membuka pintu.


"Bu, jangan di buka nanti kalau tamu pasti ngetuk pintu," ucap Pram lagi.


Kemudian Pram melanjutkan apa yang tertunda tadi. Setelah semuanya terbuka.


"Begini Pram?" tanya ibu.


"Ya. Bu. Benar begitu terus di masukkan dan


terakhir di tutup Bu," ucap Pram memberi tahu dan beberapa saat melihat ibu sudah melakukan seperti apa yang Pram minta.


"Lalu cas dulu Bu, biar penuh baru nanti kita masukkan nomornya."


Masih di ruang tamu. "Sepi ya Bu, beda dengan di kampung, jadi kangen sama Rian, Ndari dan yang lainnya," ucap Pram pelan, sembari menatap ke arah jalan.


"Mungkin temenmu ujian Pram," ucap ibu sembari mendekat.


"Sekolah di sini berarti mengulang Pram?" ucap ibu menatap Pram.


"Bagaimana?" tanya ibu.


"Nggak apa Bu," jawab Pram pelan.


"Sabar ... ucap Ibu sembari mengusap bahuku."


"Ibu tahu kamu berat, tapi mau gimana lagi? Terdengar suara ibu pelan.


Tak mendengar perkataan Ibu, kini aku bertanya hal yang lainnya.


"Bu ... kalung dari Simbah mana? Aku ingin memakainnya."


Seketika ibu melotot. "Kok itu lagi Pram?" jawab Ibu sedikit marah.


"Kata Simbah nggak apa jika Pram ingin memakainya. Ibu juga pernah bilang nggak apa-apa."


"Tunggu setelah terapi ini dan kamu benar- benar sehat," ucap ibu tak mau di bantah.


Pram tersenyum mendengar nya, sudah pukul lima sore, Pram masih di ruang tamu melihat jalan sedikit sepi, hanya sesekali terdengar suara motor lewat dengan suaranya yang menderu.

__ADS_1


__ADS_2