OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 114 . LINTANG


__ADS_3

Pagi ini semua sudah kembali pada kondisi sebelumnya Kinara dan Kinanti nampak menuruni tangga dengan saling tersenyum


Aku dan mas Rian saling menatap dan kemudian tersenyum, ada rasa heran di hatiku sejak kapan mereka berbaikan, tapi semua ku tepis begitu saja, biar mereka yang tahu sejak kapan mereka berbaikan.


"E .... cantiknya ibu" sapaku pada mereka.


Sarapan pagi seperti biasanya" bu .... panggil Lintang dengan tersenyum "nanti datang ya ke sekolah, surat edarannya sudah Lintang taruh di meja dari kemarin, tapi ibu sepertinya belum membaca dengan bergegas aku menuju meja yang di maksud membacanya sejenak kemudian meletakkannya kembali.


"Arion nanti pulang di jemput sama mbak Yas atau mbak Ning ya!"awas kalau mangkir ke mana-mana" ucapku sembari memasukkan bekalnya.


"Pak, bu dan kakak, doa kan Lintang berhasil ya? ini adikmu mau ikut lomba baca al quran dan ibu harus mengantarnya" ucapku pada yang lainnya.


"We .... adik keren" ucap Kinanti dan Kinara bersamaan dan dua nenek kemudian berdiri mengecup kening Lintang bergantin "sukses ya nak."


"Wah .... nanti kalau bisa jadi juara bapak akan beri hadiah" ucap mas Rian menyemangati dan


yang menjadi pusat pembicaraan hanya senyum-senyum saja.


Pagi ini ruang makan sangat rame, anak-anak sudah berangkat dengan bapak mereka tinggal aku dan Lintang.


Menyiapkan semua keperluan Lintang "gak boleh grogi loh nak, semangat " ucapku sebelum berangkat, hingga tiba di sekolah sudah nampak beberapa bapak atau ibu yang datang untuk mengantar anaknya ikut lomba seperti halnya diriku.


Hingga menunggu beberapa menit akhirnya kami berangkat juga, menuju tempat lomba, aku sedikit tersenyum saat mobil berhenti di tempat yang sangat aku kenal, 'ini kan kampus ku dulu? aku sedikit tersenyum, ini serasa reuni saja, pikirku.'


Sudah banyak yang berubah, hingga kami di arahkan menuju tempat lomba.


Banyak murid berdatangan mewakili sekolah masing-masing dan para panitia juga sudah menyiapkan semuannya, untuk sementara kami di pisah, Lintang di ajak menuju tempat di mana peserta lomba berkumpul dan kami para orang tua di persilahkan duduk di aula besar.


Acara demi acara terlewati, satu persatu peserta sudah mulai menunjukkan kebolehannya, begitu juga dengan Lintang ku


yang nampak awal wajahnya tegang kini mulai nampak tenang, mengawali membaca setiap surat dengan tenang dan kemudian menjawab semua pertanyaan juri dengan lancar dan gamblang, aku terus tersenyum untuk menyemangatinya.


Hingga acara berakhir semua berjalan lancar, sesuai dengan pengarahan tadi pagi, selesai acara kami pun harus berkumpul kembali sesuai tempat yang kami sepakati.


Kemudian kami berkumpul kembali, mendengarkan sejenak pengumuman dari panitia lomba dan pengumuman hasil lomba akan di terima pihak sekolah dua hari mendatang.


Nampak wajah lelah dari Lintang, tapi dia tetap tersenyum di sepanjang perjalanan pulang.


Tak terasa langkah kami tiba di rumah


nampak Arion sedang duduk di teras, seperti menunggu sesuatu, melihat kedatangan kami Arion langsung lari ber hambur menyongsong kedatangan kami.


"Bu, kak Lintang keren, sambil terus memegang tangan kakaknya dan mengajaknya jalan lebih dulu.


Sudah hampir ashar saat kami tiba, begitu memasuki rumah aku sedikit terkejut melihat suasana rumah ini "kakak kalian kemana Arion? tanyaku pada Arion.


"Hm, sepertinya tadi di atas bu" jawab Arion lagi.


"Bu, hari ini aku gak ngaji dulu ya? tanya Lintang.


"Boleh" jawabku cepat.


"Arion .... ayo kita tidur, capek" ucap Lintang sembari menarik tangan Arion.


Aku masih duduk di meja makan melepas penat ku sejenak, menuju dapur menjerang air untuk membuat kopi, kemudian menengok isi kulkas "hm....sepertinya sudah lama sekali aku tak membuat makanan ini.


Setelah berkutat sedikit lama, akhirnya mie yang ku buat pun jadi.


Saat ingin memindahkan mie nya ke meja makan "lho, sejak kapan kalian turun, katanya Lintang capek, kok turun lagi."

__ADS_1


Begitu mie sampai di meja anak-anak langsung mendekat "hm .... baunya ini yang membuat kami turun dengan serta merta mereka mengambil mangkuk dan garpu.


Satu persatu mereka mengambil "kenapa ibu gak pernah bikin mie seperti ini" tanya Kinanti dengan mulut penuhnya.


Ketiga yang lainnya hanya diam menikmati dengan tenangnya dan sesekali meminum kuahnya


"Bu .... besok bikin lagi yang seperti ini ya? pinta Kinara dan Lintang berbarengan.


" Hiya tapi ibu harus membeli mienya dulu, karena stok mienya habis."


Dari dalam kamar ibuku terlihat keluar "nek ayo makan, ibu membuat makanan enak" ucap Arion penuh semangat.


"Memang masak apa ibu mu nak!" tanya ibu sembari mendekat.


"Mie nek, tapi ada telurnya, pentolnya, sosisnya, sayuran dan tomat nek, kuahnya enak sekali" kembali Arion cerita.


Kemudian sang nenek tersenyum "makanlah itu kesukaan bapak kamu, itu dulu.....sekali."


"Dan bapak kalian paling suka kalau ada cabenya, hingga wajah bapak kalian berkeringat dan wajahnya merah jika makan mie buatan ibu mu ini" kembali ibu tersenyum seperti mengingat masa dulu.


"Ibu mau? tanyaku menawarkan semangkuk mie pada ibu."


"Gak Pram, dari dulu ibu juga gak suka."


Anak-anak diam dan mendengarkan percakapan kami sembari menghabiskan mie nya.


Melihat anak-anakku makan dengan lahap aku jadi lupa dengan laparku dan sedikit tersenyum saat mereka berebut telor dan isian yang lainnya.


Seakan hatiku menghangat, seperti mengingat kenangan lama dengan mas Rian.


"Kenyangnya" ucap Arion sembari turun dari kursi dan melangkah ke ruang tengah.


Kinanti dan Kinara langsung dengan sigap membereskan meja dan sisa makan mereka dan dua adiknya.


"Bu, besok ajari aku bikinnya ya? kayaknya pedes itu enak " ucap kinanti dan Kinara bersamaan.


"Hiya, besok ibu ajari bikinnya " ucapku sembari mengelap meja.


"Bu, libur ya ngajinya? tanya mereka bersamaan "eh .... memang ada acara apa kok libur mengaji" ucap mas Rian dari ruang tamu.


"Bapak ... teriak Arion menyambut kedatangan mas Rian.


kemudian samar-samar terdengar Arion bercerita dengan polosnya.


"Mana mienya, masih adakah? "wah .... sudah lama sekali gak makan mie seperti ini " ucap mas Rian menuju meja makan.


"Wah ....sudah habis pak ! lagian bapak terlambat datangnya" ucap yang lain bersamaan.


Seketika mas Rian tersenyum kecut, mendengar ucapan dari anak-anaknya.


"Kata ibu stok mienya habis jadi harus beli dulu" kembali Arion berbicara.


Mas Rian langsung berdiri " Ayo siapa yang mau ikut bapak ke Mall, kita borong mienya sekalian beli bahan yang lainnya.


Seketika ke empat anaknya langsung berdiri sementara aku dan ibu hanya melihat terkejut dan bu Asih yang baru datang pun ikut berhenti melihat ulah mas Rian dan anak-anaknya.


"Bu, ganti baju gih, nek, ayo " ajak mas Rian bersemangat.


Melihat semangat bapaknya kini ke empat anak nya langsung ber lari ke atas untuk berganti baju.

__ADS_1


"Sudah, nenek di rumah saja, pergi saja dengan anak-anak Rian" ucap dua nenek hampir bersamaan.


Tak menunggu lama, kami pun akhirnya berangkat juga menuju Mall, Mall yang terletak sedikit jauh dari rumah kami.


Mungkin lima belas menit perjalanan akhirnya kami sampai juga, setelah memarkir mobil, kami pun bergegas masuk dalam Mall.


Begitu masuk dalam Mall Kinara langsung berbisik pada Kinanti dan sesaat kemudian menatap Kinara dengan heran.


Hanya anggukan saja yang ku lihat dari Kinara, kemudian menggenggam erat tangan Kinanti.


Tapi kembali Kinara berbisik. kemudian Kinanti menggeleng tanda tidak mau, semua masih dalam pengawasan ku.


Aku sedikit bernapas kasar, memang di tempat ini sangat banyak makhluk astralnya.


"Lintang, Arion sini, panggilku agar lebih mendekat, begitu juga dengan dua gadis kembarku yang tak mau jauh dengan bapaknya.


"Ayo ...kalian boleh membeli sesuatu barang tapi ingat, harus sesuai dengan kebutuhan kalian, "oh ya Pram, belikan juga untuk ibu-ibu kita.


Hingga hampir isya, kami berkeliling hingga tujuan akhir kami menuju ke swalayan.


Membeli semua bahan yang di perlukan, setelah semuanya selesai kami pun segera pulang, berjalan menuju area parkir, ku lihat Kinara masih juga belum melepas pegangan tangan Kinanti, hingga tas yang di pegang Kinara terjatuh dan saat Kinara mengambil tasnya, tiba-tiba Kinanti jatuh pingsan.


Mas Rian yang melihat itu, langsung meletakkan begitu saja troli yang di dorongnya.


Dengan spontan aku menarik Arion dan Lintang untuk sedikit mendekat "Pram....panggil mas Rian, sementara Kinara sudah duduk di samping Kinanti dengan tertunduk.


Mencari sesuatu dalam tas ku, kemudian aku sedikit tersenyum saat menemukan minyak kayu putih dan segera mengoleskan pada hidung Kinanti.


Mas Rian berkali kali membisikkan sesuatu di telinga Kinanti, hampir sepuluh menit akhirnya Kinanti tersadar.


Dengan sedikit bingung Kinanti menatap kami


sesaat kemudian "Maaf " ucap Kinara tiba-tiba, lalu memeluk Kinanti erat.


"Bu ...ibu lihat gadis yang berdiri di lift memakai baju pink itu? yang sedari tadi jalan di belakang ku, dia ingin ikut denganku tapi aku menolak dan akhirnya dia berusaha ingin masuk ke Kinanti, makannya sedari tadi Kinanti sudah ku beri tahu, tapi dia terus menolak.


Dan akhirnya aku terus memegang tangan Kinanti, cerita Kirana lagi.


"Hm...sudah, sudah, dia hanya iseng Kinara ingin menggodamu, ibu sudah bereskan tadi"


Mas Rian masih memegang tubuh Kinanti yang terlihat sedikit lemas, terlihat wajah cemas mas Rian.


Setelah semua membaik "Kinara dampingi Kinanti dalam mobil dan Arion, Lintang masuk


sementara aku sibuk memasukkan belanjaan di bagasi.


Setelah semua beres, kami pun bergegas pulang, tiba di rumah sudah malam sekali, hampir jam sembilan malam.


Terlihat lampu masih menyala mungkin mbak Ning dan mbak Yas masih belum tidur.


Benar begitu mobil berhenti, pintu ruang tamu langsung terbuka, nampak mbak Yas dan mbak Ning keluar dengan cekatan membantu kami membawa barang masuk.


Lintang dan Arion sudah masuk lebih dulu, sementara Kinara dan Kinanti masih di teras saat tiba-tiba Kinanti kembali pingsan, mas Rian langsung mengangkat tubuh Kinanti membawanya masuk dan merebahkan di sofa, tak lama Kinanti kembali siuman.


Tapi kini, wajahnya nampak aneh dan kemudian tersenyum menakutkan.


"Mas .... ucapku pelan, Kinanti ketempelan dan ini bukan sosok gadis yang pertama tadi."


"Tapi .... sesaat aku terdiam untuk melihat dan aku sedikit terkejut, secara tiba-tiba Kinara sudah berteriak marah dan baru kali ini ku lihat Kinara benar-benar marah.

__ADS_1


__ADS_2