OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 22 . PERJALANAN


__ADS_3

Setelah melihat sosok laki-laki itu memotong kayu secara reflek tubuh Pram sudah berpindah tempat. Kini Pram berdiri di sebuah rumah dengan bangunan baru.


Rumah besar dengan bangunan yang semuanya terbuat dari kayu. Namun, belum memiliki pintu. Saat ini sudah ada dua rumah di sisi kanan kirinya dengan bangunan sederhana dan lebih kecil.


Tiga dari laki-laki ini kemudian membuka lahan untuk menanam sesuatu, membakar rumput yang sudah di bersihkan dan mulai mencangkul.


Begitu juga dengan laki-laki yang mempunyai rumah besar itu.


'Siapa mereka,' tanya Pram dalam hati.


Tiba-tiba terdengar suara berbisik di telinga Pram.


"Dia adalah kakek generasi pertama


bisikan dari telinga Pram. Laki-laki itu adalah kakek diatas kakek buyutmu dan mereka menyebutmu canggah."


"Dialah yang membuka desa yang kamu tempati itu."


Secara tiba-tiba suara itu berhenti.


Pram masih belum bisa beralih dari tempat itu karena tubuh dan kakinya tak bisa di gerakkan dan sepertinya Pram harus menyaksikannya.


Dengan di bantu dua orang laki-laki lainnya mereka bekerja sama membangun rumah besar itu dan juga bercocok tanam.


Seperti HP android yang bisa di scrool kemana saja, kini sukma Pram sudah berpindah tempat lagi. Menampakkan perkampungan yang mulai ramai banyak pendatang yang juga ikut tinggal di situ.


Melihat rumah besar semakin bagus dengan adanya daun pintu dan berbeda dengan rumah-rumah lainnya.


Pram melihat berdiri sosok wanita cantik di depan rumah besar itu yang memiliki halaman depan dan belakang yang luas.


"Cantik. Pasti ini istri dari laki laki itu," ucap Pram pelan.


"Benar itu adalah Nenek mu di generasi pertama," jawab suara ini lagi.


Masih berdiri di sini, saat ini hampir malam tak ada penerangan langit dan mulai gelap, melihat Nenek menyalakan obor sebagai penerangan yang di taruh di tengah-tengah halaman, nampak cahaya kecilnya yang terlihat sesekali di tiup angin dan di dalam rumah nampak lampu ublik berbahan minyak goreng dan kapas.


Masih di sini, melihat Kakek Pram di generasi pertama tengah melakukan ritual. Entah, apa itu. Hanya aroma dupa yang sudah menusuk hidung Pram, tiba-tiba di depan kakek generasi pertama sudah berdiri empat ekor harimau putih tinggi dan besar, kini simbah sudah mengelus elus ke empat kepala harimau itu.


"Matur nuwun," ucapnya.


"Harimau untuk apa?" tanya Pram pelan.


"Harimau itu adalah pengawal kakek generasi pertama dan Harimau itu juga yang akan menjaga desa ini," jawab suara itu lagi.


Setelah mengelus ke empat harimau itu, kini mereka sudah berlari pergi ke empat penjuru desa dan duduk di atas galian yang dulunya di buat Kakek generasi pertama.

__ADS_1


"Hm ... harimau yang patuh," ucap Pram pelan.


"Itu adalah harimau yang akan terus setia sampai generasi berikutnya dan dia akan patuh pada tuannya, seperti itulah perjanjiannya," jelas suara ini lagi.


Menjadi orang pertama yang membuka desa ini secara tak langsung Kakek generasi pertama merupakan orang yang sangat di segani dan di hormati. Namun semua nampak wajar dan biasa saja. Tetapi warga sekitar menganggap Kakek generasi pertama orang yang di tuakan di tambah ilmu yang di milikinya.


Hanya hembusan napas yang Pram keluarkan setelah melihat kenyataan ini.


Kini Pram sudah di tarik lagi menuju tempat


yang lain lagi. Kini Pram sudah berdiri di sebuah rumah yang masih sama.


Namun kini Pram melihat Nenek tengah menggendong seorang bayi di halaman rumah, masih berupa tanah tanpa memakai sandal hanya bertelanjang kaki, baju kebaya dengan jarik serta rambut yang gelung.


Kini, di sisi kiri kanan rumah Kakek sudah ada kebun kecil serta ada beberapa pohon


yang di tanam di depan halaman.


Sedikit berjalan maju ke dalam rumah, rumah ini berbentuk panjang dengan beberapa kamar.


Menurut Pram tak ada yang perlu di khawatirkan tapi apa tugas Pram di sini hingga Pram harus menyelesaikannya.


"Carilah, kenapa dedemit itu bisa menganggu kehidupan kalian," ucap suara di telinga Pram.


"Tapi kemana Pram mencarinya?"


"Siapa laki-laki muda itu?" tanya Pram bingung.


"Dia adalah generasi kedua dari leluhurmu."


Pram masih belum bisa beranjak dari tempat itu tak ada yang istimewa sepertinya Kakek di generasi kedua ini patuh.


'Tetapi kenapa Kekek pertama hanya memiliki satu anak?' Kembali batin Pram bertanya.


Masih dengan rutinitas yang sama hingga lahir anak laki-laki dari Kakek generasi kedua.


Berarti ini Kakek generasi ketiga yang Pram sebut Kakek Buyut. Pram ingin beranjak pergi tapi seperti ada sesuatu yang memaksa Pram untuk diam di sini lagi.


Mulai ada perubahan dari anak Kakek kedua yang di sebut Buyut oleh Pram, ternyata kakek Buyut adalah pemuda yang sedikit usil dengan ilmu yang di milikinya dia mulai coba-coba dengan ilmu baru dan ngelmu ke orang lain. Serasa kurang ilmu warisan yang di miliki dan ingin menjadi orang yang lebih terpandang dari sebelumnya.


Ngelmu kemanapun tanpa di sadari apa yang di lakukan telah melanggar aturan-aturan di desa ini.


Hingga akhirnya sukma Pram di geret maju beberapa tahun ke depan, kini Pram melihat Kakek Buyut telah beranjak dewasa.


Dengan ilmu yang baru di dapatnya ia mencoba untuk mempraktekkan. Namun, sayang itu membuat dinding pertahanan desa goyah sehingga membuka sedikit jalan portal makhluk astral.

__ADS_1


Kakek di generasi kedua sangat murka dengan ilmu yang di miliki Kakek mencoba untuk membenahi. Namun, itu semua tak sepadan membuat Kakek terluka parah.


Muncul pertayaan di benak Pram. "Kenapa Kakek Buyut melakukan itu dan kenapa pula tidak mau membantu?" tanya Pram lagi.


"Semua karena Kakek Buyutmu mencintai seorang wanita berilmu hitam," jawab suara yang berbisik di telinga Pram.


"Lalu apa hubungannya dengan Pram!"


" Lihatlah dan cari kelemahannya."


Benar kata pembisik tak berapa lama Kakek generasi kedua meninggal beberapa saat setelah kejadian itu.


Dan setelahnya Kakek Buyut menikah dengan wanita yang sangat cantik .


Setelah menikah kini bangunan rumah lama yang sudah di tempati dua generasi di rombak total, makin di perbesar dengan menambah tiga kamar dan tiga lainnya sedikit ke belakang dan satu kamar khusus menjorok kebelakang.


"Aku masih bingung," ucap Pram pelan.


"Lihat saja kenapa rumah di rombak total," ucap sang pembisik.


Benar kata sang pembisik, rumah ini di bongkar total karena, wanita cantik ini ingin melakukan ritual khusus yang dilakukan di kamar yang menjorok kebelakang.


"Apa hanya ini yang kau lihat?vKembali sang pembisik mengatakan sesuatu.


"Lihatlah dengan cermat ."


Ada apa dengan pohon di depan rumah itu?" tanya Pram lagi.


"Itu adalah penghuni baru milik Nenek Buyut," kembali suara ini menjawab.


"Maksudnya!" tanya Pram lagi.


"Lihatlah dengan cermat," ucap sang pembisik.


Seperti menonton film, ternyata Nenek Buyut melakukan perjanjian dengan penghuni baru itu demi mendapatkan kecantikannya dan untuk itu Nenek Buyut harus melakukan ritual di kamar khusus itu.


"Mereka harus melakukan hubungan itu?" tanya Pram ragu.


"ya, itu syaratnya mereka harus bergumul layaknya suami istri," jawab suara itu lagi.


"Jadi ... Kakek generasi ke tiga anaknya penghuni pohon depan rumah? Kembali Pram bertanya.


"Bukan lihatlah."


Pram menyaksikan bahwa Nenek Buyut melakukan itu setelah melahirkan anaknya.

__ADS_1


"Apa maksudnya dari semua ini?" tanya Pram lagi.


"Lihatlah!! Sebenarnya dia raja dedemit dan sangat menyukai Nenek Buyut, semenjak rumah itu di bongkar total itu berarti melepaskan semua rapalan mantra yang di buat oleh Kakek dari generasi pertama."


__ADS_2