
Prameswari tersenyum saat melihat dua anak gadisnya dan dua anak laki-laki remaja berebut masuk dalam rumah. Pandangan Mas Rian masih terus melihat ke empat anak remaja itu. Kini sambil menggeleng dan berdehem.
"Memangnya kalian dari mana?" tanya Mas Rian dengan tersenyum.
Kinara langsung duduk serta menarik Kinanti untuk duduk di sisinya. Sementara Kak Ardan dan Kak Ilham langsung berdiri dengan diam.
"Anu-anu om, kami habis jalan-jalan," ucap kedua laki-laki remaja ini dengan menunduk.
Melihat Ardan dan Ilham tertunduk dalam Mas Rian langsung tersenyum.
"Naik dan istirahatlah!!" ucap Mas Rian sembari masuk kamar. Kinara dan Kinanti juga langsung beranjak untuk naik ke atas dan beristirahat.
Pram langsung menyusul Mas Rian masuk kamar, setelah menutup pintu Pram melihat Mas Rian masih duduk bersandar.
"Kenapa?" tanya Pram sembari mendekat. Tak menjawab pertanyaan Pram, kemudian menatap Pram sembari tersenyum.
"Senang aku, karena Ardan sudah mendapat pelajaran hari ini, semoga itu membuatnya jera."
"Semoga untuk dua hari kedepan Ardan bisa tenang dan diam di rumah," kembali Mas Rian berujar dan kini memilih membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Kenapa Mbak Kuntinya kok ikut Ardan?" tanya Mas Rian sembari menatap langit-langit kamar.
"Sebenarnya, Pram sudah mengajak Kinara lebih dulu untuk melihat rumah lama Simbah."
Sesaat Prameswari tersenyum seperti mengingat sesuatu. "Ini ide Kinara, karena Kinara sebal pada Ardan yang selalu merekam hal-hal yang aneh, akhirnya Kirana meminta ijin untuk mengerjai Ardan.
"Kinara meminta agar Pram mau membantunya untuk membujuk Mbak Kunti menakut-nakuti dan juga beberapa sosok lainnya," ucap Pram sembari melirik Mas Rian.
Seketika mas Rian berbalik dan menatapku. maksudmu? Pram hanya tersenyum saja tak menjawab pertanyaan Mas Rian.
"Pram, ayo cerita, tahu begitu aku ng lgak kasih ijin biar Ardan selalu penasaran dan mengejar cerita darimu," gerutu Mas Rian sembari menarik selimutnya.
"Huam, kini Pram menguap dengan sesekali meregangkan tubuhnya, rasa kantuk yang membuat Pram berkali-kali menguap lagi.
Kami berdua memilih untuk tidur, melepas sejenak rasa lelah di badan kami, hingga suara adzan subuh membangunkan kami.
Seperti pagi biasannya, menyiapkan ini dan itu untuk anak-anak, kali ini Ardan terlihat sedikit tenang dan tak banyak bicara, memakan sarapannya dengan sedikit cepat dan segera kembali naik ke atas. Berbeda pula dengan Ilham, memilih mengantar anak-anak untuk berangkat ke sekolah dan tak berapa lama sudah terlihat kembali lagi.
Melihat Pram duduk di meja makan Ilham berjalan mendekat kemudian duduk sedikit jauh dari tempatku duduk.
"Tante besok saya akan pulang, terima kasih untuk semuanya," ujar Ilham.
Kemudian beranjak pergi, belum juga beberapa langkah Ilham sudah kembali lagi dengan tersenyum.
"Tante bolehkan Ilham menginap di sini lagi, kalau liburan sekolah," ucapnya sembari tersenyum.
" Boleh," jawab Pram sembari membereskan pembukuannya.
Mendengar ucapan Ilham aku hanya menatapnya saja sambil melihatnya berlalu pergi.
__ADS_1
Tak terasa hari ini berlalu begitu saja, sampai hampir malam Pram tak melihat Ardan turun dari atas, hingga saat makan malam Ardan baru terlihat turun, dengan senyumnya Ardan duduk dan ikut bergabung, tak banyak bicara hingga makan malam selesai.
"Tante, Om terima kasih, sudah menerima Ardan di sini dan maaf, jika selama di sini Ardan merepotkan Tante dan Om," ucapnya dengan tersenyum.
Kemudian melihat Kinara dan Kinanti bergantian. "Kinara terima kasih, aku akan menginap lagi jika liburan mendatang dan ingat janjimu," ucap Ardan lagi.
Pram yang mendengar ini langsung melihatnya dengan heran, menatap Kinara sejenak kemudian berpindah pada Kinanti.
Dua anak gadis Pram hanya tersenyum dan mengangguk tanda semuannya baik-baik saja.
Memilih untuk masuk ke kamar masing-masing, entah apa yang mereka lakukan di atas hanya sesekali terdengar suara tawa kedua anak gadis Pram, kemudian kembali sepi lagi.
Masih pagi kulihat Ardan dan Ilham turun dengan membawa tas punggung mereka masing-masing, pagi ini setelah sarapan mereka benar-benar berpamitan untuk pulang
nampak wajah Lintang dan Arion tak rela melepas kepergian Ardan dan Ilham, masih bergelayut dengan nakal di tangan mereka berdua.
"Lintang, kakak tunggu kedatanganmu di pondok belajar yang rajin semoga kakak bisa menginap di sini lagi," ujarnya sembari mengusap kepala Lintang.
Dengan di antar mas Rian menuju halte bis mereka pun berangkat, sedangkan Lintang masih terlihat enggan untuk segera masuk.
" Lintang ... panggil Pram dan itu membuat Lintang sedikit terkejut dan langsung berlari masuk ke dalam dan naik ke atas.
Bersamaan dengan dua kakaknya Lintang telah kembali turun dengan membawa tasnya.
"Ayo kak, kita berangkat," ucapnya sembari salim pada Pram.
Setelah mencarinya beberapa saat belum juga menemukannya. "Mbak Yas suara Prameswari memanggil. Tak lama Mbak Yas sudah datang mendekat dengan membawa sapu.
"Hiya, Bu ... jawab Mbak Yas dengan tenang.
"Mbak Yas tahu selembar kertas yang saya taruh di meja Mbak?" tanya Prameswari lagi.
"Oh, kertas itu," jawab Mbak Yas dengan langkah sedikit maju menuju lemari yang ada di depan ruang makan.
Kemudian mengambil sesuatu di atas beberapa tumpukan kertas.
"Ini Bu, saya kemarin menemukannya jatuh di lantai," ujar Mbak Yas sembari menyerahkan kertas yang di simpannya tadi.
Senyum Prameswari seketika merekah
menerima kertas itu dan langsung melihatnya sekilas dan membacanya, namun tak berapa lama kini Prameswari menyimpannya bersama kertas-kertas yang lainnya .
Tatapannya terlihat sendu tetapi beberapa saat kemudian sudah terlihat tenang kembali
"Harus di relakan," terdengar mulutnya berguman dengan pelan.
Kemudian berdiri menuju halaman belakang mencari Mbak Yas, mengetauhi Mbak Yas sedang sibuk di halaman belakang Prameswari sedikit tersenyum. "Mbak Yas," panggilnya dengan menoel bahunnya.
"Ibu ... bikin kaget," ucap Mbak Yas sembari menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Mbak saya mau pergi dulu, ke toko lalu ke sawah dan mungkin nanti mau mampir ke Mushola sebentar."
Setelah mengatakan itu Prameswari langsung bersiap-siap untuk pergi, mungkin hari ini akan sedikit sibuk, karena toko yang di kelolanya terus merambat naik dan sesuai dengan angan-angannya. Langkahnya sepanjang jalan di kampung membuat hatinya sedikit tenang menyapa para ibu-ibu yang sedang menjemur atau bahkan merumpi tapi semua seperti normal-normal saja di matanya. Menyapa para tetangga dan tersenyum pada mereka seakan membuat kenikmatan sendiri untuknya.
Senyumnya sedikit terkembang saat melihat beberapa rumah mulai nampak di renovasi dan ada beberapa perubahan sana sini sesuai perkembangan jaman. Langkahnya terhenti saat tiba di sebuah bangunan menatap bangunan Ruko itu dengan tersenyum.
Ruko yang tak jauh dari kampungnya dan dekat dengan jalur sekolah, akhirnya Prameswari membeli juga ruko yang dulu di jadikan tempatnya berteduh di kala hujan dan menambah dua di sisi kanan dan kirinya.
Kini sudah ada beberapa pekerja dari sawah
yang sudah Prameswari tarik untuk bekerja di toko.
Memasuki area toko nampak kesibukan yang terlihat, kembali senyumnya terkembang.
"Semoga ibu senang dengan keputusan yang Pram dan Mas Rian ambil," ucapnya pelan sembari masuk dalam ruangan khusus untuk dirinya di toko.
Hampir dhuhur Prameswari memutuskan untuk pulang, kini langkahnya tertuju pada jalan area persawahan, langkahnya terhenti saat terdengar teriakan seorang anak kecil memanggilnya.
"Bu ... tunggu," terdengar suara yang sangat di kenalnya memanggil.
Senyumnya terkembang begitu saja saat anak laki-laki kecil itu menghampirinya
"Arion ..."
Seketika Arion langsung meraih tangan ibunya. "Arion ikut, ibu mau ke sawah kan?" tanyanya lagi.
"Mbak tolong bawa tas Arion pulang, biar Arion sama saya saja."
Tak perlu menunggu waktu lama, Mbak Yas langsung mengangguk dan begitu juga denganku.
"Arion jangan aneh-aneh nanti di sawah," ucap Pram untuk mengingatkan Arion.
Melewati jembatan penghubung antara kampung dan sawah yang kini sudah di permanen, bukan terbuat dari bambu lagi, tapi sudah di cor dengan menambah lebarnya dan membangun tempat jalanya air dengan di semen. Senyum Pram terkembang begitu saja.
"Ayo nak," ajak Pram pada Arion."
Masih mempertahankan gubuk di tengah sawah untuk tempat berteduh, terlihat Pak Man duduk di gubuk, usianya bukan muda lagi tapi semangatnya sangatlah patut di tiru, meskipun kini hanya duduk dan mengawasinya saja.
Arion langsung berlari menghampiri. "Mbah Man ... "teriaknya kencang, membuat Mbah Man dan para pekerja lainnya langsung menoleh. Melihat kedatangan mereka tersenyum. Duduk berdua dengan pak Man memandang hamparan sawah yang luas, hatiku sedikit tersenyum kecut saat mengingat suatu saat akan kehilangan separoh dari sawah ini, percakapan-percakapan ringan yang Pram lakukan dengan pak Man. Akhirnya membuat Pram sedikit tenang dan mungkin memang benar Pram harus rela melepas sawah ini jika suatu saat memang harus terjual.
Matahari mulai tinggi dan berada benar-benar aberada di puncaknya dan teriknya panas yang seakan-akan berada di atas kepala.
Langkah Pram kini menuju ke arah Mushola, Arion langsung mengekor di belakang Pram, menghampiri makam yang berjajar rapi di samping Mushola, kini bukan hanya ada makam Simbah, Bapak, Budhe Lastri saja.
Pram menatap dua makam yang terlihat mulai kusam catnya, dua makam yang membuat hatiku selalu menyesal.
"Dua ibu juga di makam kan di sini Bu Asih dan Bu Nur."
Setelah membaca doa kini Pram hanya shalat sebentar di Mushola ini, ada beberapa warga yang mau menjadi pengurus Mushola ini, kini bukan aura negatif yang terlihat, meskipun tak seratus persen berubah, secara lambat laun semua berubah dengan perlahan, hingga menuju shalat ashar aku masih duduk di Mushola ini. Setelah shalat ashar akhirnya Pram memutuskan untuk pulang.
__ADS_1