OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 49 . PERJODOHAN RAHASIA


__ADS_3

Setelah kejadian ini aku dan ibu semakin dekat, toh nyatanya hanya ada aku dan ibu saat ini.


Waktu cepat berlalu pengumuman ujian pun sudah di sampaikan, persiapan masuk universitas pun sudah aku rencanakan. Rian sedikit merajuk saat aku membatalkan kuliah di kota. Di samping Ibu yang sendirian, lagi pula nilai Pram pun tak begitu mendukung, bisa di terima di kampus sekitar wilayah pun sangat beruntung, itu juga bantuan dari Rian.


Sesuai amanat Simbah aku pun mengambil jurusan pertanian agar ilmu yang nanti aku pelajari bisa aku terapkan di sawah Simbah dan juga di ladangnya.


Hubungan Pram dengan Rian seperti biasa mengambang tak ada kepastian masih stay di tempat tanpa ada yang ingin untuk memulai lebih dulu.


Rumah Simbah masih sama dan tentang pohon sawo aku hanya mencoba untuk meredamnya, memberi warning pada siapa saja agar tak mengambil buahnya ataupun memungutnya jika jatuh, serasa benar-benar pohon keramat.


Kesibukan mempersiapkan masuk kuliah pun banyak menyita waktu, begitu juga dengan Rian.


Hari ini sehari penuh Rian main kerumah


"Pram," besok aku akan berangkat, baik-baik tolong tengok Ibu," awas," kalau kamu aneh-aneh dan yang pasti jika aku nelpon harus segera di angkat," ucapnya sebelum benar-benar keluar dari ruang tamu.


"Banyak sekali pesannya," ucap Pram sembari mengekor di belakang Rian. Entah mengapa hati Pram sedikit berbunga mendengar pesan yang di sampaikan Rian.


"Loh kok diam," ucap Rian. "Lah, apa memang aku wajib berjanji," ucap Pram pelan.


Setelah sedikit menjauh kini Rian berbalik lagi "hati-hati," ucapnya sembari mengusik kepala Pram.


Aku tahu, hati ini juga sedang baik-baik saja, ada sesuatu yang tak rela melepas kepergian Rian, menatap punggung Rian yang makin menjauh.


"Pram ... panggilan Ibu mengejutkan aku.


"Ya Bu, kini aku segera masuk dan menutup pintu," kenapa? nggak ada, apa-apa Bu," jawab Pram tak semangat.


"Pram ke kamar dulu Bu," sembari Pram melangkahkan kaki, masuk kamar langsung merebahkan diri di kasur, mengingat kepergian Rian, kembali ada perasaan tak rela untuk meihat Rian pergi.


Berbeda dengan Prameswari yang sibuk dengan perasaannya, berbeda pula dengan Rian laki-laki yang beranjak dewasa ini juga sedang sibuk menata hatinya. Berpisah dengan Prameswari merupakan hal yang terberat di rasakan baginya.


Kini lamunannya teringat saat wanita tua yang nampak arogan itu mendatangi rumahnya, Simbah Prameswari.


Masih pagi saat itu dengan sedikit tergesa mendantangi Ibu, menatap Ibu dalam kemudian tersenyum sembari merangkul Ibu dengan erat.


"Kau keturunan M? tanyanya kemudian, melihat ibu tersenyum dan mengangguk Simbah kembali merangkul dengan erat," nggih, Mbah kulo Asih.


( Ya, Mbah saya Asih)


Tanpa kami persilahkan duduk Simbah ini kemudian duduk dengan menaikkan satu kakinya, melihat ini, Ibu langsung memberi isyarat pada Rian untuk diam.


"Apa yang membawamu kemari? tanya Simbah tanpa basa basi.


"Ada amanat leluhur yang harus saya sampaikan, "Mbah!"


"Hem, maksudmu."

__ADS_1


"Hehehehe Asih kok jadi malu Mbah," ucap Ibu kini sembari sedikit mendekat dan berbicara pelan. Menjodohkan anak Asih dan cucu Simbah satu-satunya," ucap Ibu saat itu.


Mendengar ini Simbah langsung tertawa lebar," Hahahaha ... apa mau anakmu itu dengan cucuku yang petakilan dan petrak itu, lihatlah dia kapan-kapan," ucap Simbah.


"Kamu nggak salah omong Asih? lagian mereka juga masih ingusan, kenapa kamu sudah menjodohkan mereka."


"Hem ... siapa nama anakmu ini Asih?


Simbah menatap kearahku sejenak. "Rian Simbah," jawab Ibu pelan.


"Apa dia setuju Asih? aku nggak habis pikir dengan si M itu," ucap simbah tanpa basa basi. "Biarkan mereka berteman dulu, nanti toh mereka sendiri yang akan memutuskan."


"Kamu menerima nya Le? tanya Simbah dengan kembali tertawa terkekeh.


"Menurutmu seperti apa perjodohan itu?"


"Biarkan saya dekat sebagai teman Prameswari dan biarkan Prameswari menyukai saya karena hatinya sendiri. Bukan menerima saya karena perjodohan ini. Saya minta tolong jangan sampai Prameswari tahu," ucap Rian saat itu.


"Kenapa kau yakin sekali Pram akan menerimamu," ucap Simbah lagi.


Aku hanya tersenyum, tak bisa menjawabnya.


"Gayae anakmu Asih, koyok bocah gede ae."


Setelah mengatakan itu Simbah menatapku


" Weleh weleh kae si M, wes njauk persetujuan Simbah. Biyuh biyuh," ucap Simbah kemudian.


"Ya ... sudah-sudah, Simbah merestui tapi jika belum berjodoh jangan marah," ucap Simbah lagi.


Aku tersenyum mengingat semua itu dan lamunan buyar saat ibu menepuk bahu Rian.


"Lah kok ngelamun apa sudah di persiapkan semuanya," ucap Ibu lagi.


"Sudah Bu," aku menjawabnya sembari menunduk.


"E ... mana semangatmu kok sudah lemes


pasti ini tentang Pram! Ibu kemudian tersenyum. "Jangan khawatir ada Ibu Rian,


Ibu siap deh jadi mata-mata kamu.


"Ah ... ibu, yang jadi pikiran Rian habis ini dia kuliah, menemukan banyak teman, tentu Rian khawatir juga Bu!"


"Ibu yakin Prameswari orang yang baik bukan wanita gampangan, nyatanya selama ini hanya denganmu saja dekatnya.


"Pernah dia mengundang teman pria lain ke rumahnya? nggak kan."

__ADS_1


"Bu ... serahkan amanat keluarga kita pada Prameswari, entalah saat ini aku sedikit khawatir karena tak bisa mengawasinya dari deka."


Ibu menatapku lekat," apa kau benar-benar menyukai gadis tomboy itu? dan sebegitu khawatir, padanya!"


"Ibu sudah tahu kenapa mesti tanya lagi."


"Kalau begitu ungkapkan perasaanmu Nak!"


"Sudah jangan khawatir nanti ibu dan ibunya Pram yang mengatur di sini dan tugasmu memantau dari jauh Rian.


" Sekarang tidur besok kan mau berangkat," ucap ibu lagi.


Sedikit lega setelah menceritakan semuanya


"Ya, ternyata aku benar-benar menyukai gadis tomboy ini, walau memang sedikit ada perubahan sikapnya sejak kejadian itu."


"Prameswari, tunggulah. Aku akan benar benar membuatmu merindukan aku," ucap Rian sebelum benar-benar terlelap.


Masih subuh aku sudah terbangun dan bersiap-siap," walah-walah kok sudah bersiap katanya berangkat jam delapan Rian? tanya Ibu heran.


"Nanti kalo siangan sedikit, takut Pram kemari jadi berat hati Rian untuk pergi."


"Halah Rian, mau kuliah atau Ibu nikahkan saja," ucap ibu sembari menaruh beberapa kue di tas.


"Hati-hati nanti di kota, gadisnya cantik-cantik, takutnya nanti lupa sama Prameswari," ucap ibu sembari melirukku.


"Ibu ini, berarti ibu mendoakan aku mendapat jodoh gadis kota dan ... bebas dengan amanat Eyang Kakung, seketika ibu mendelik dan menyentil dahiku.


"Aduh sakit Bu."


"Lagian Rian juga cuma bergurau, tapi jika nanti memungkinkan apa salahnya," ucap Rian sembari mengangkat tas dan berlalu ke depan.


"Rian," panggil ibu awas jika sampai kau lakukan itu.


Aku langsung tertawa mendengar ke khawatiran ibu.


"Hahahaha ... ampun Bu," Rian cuma bercanda. "Hahahaha ... ampun, ampun, nggak lagi-lagi.


Karena ibu kini sudah menggelitik Rian dengan amarahnya.


Sudah pukul delapan pagi, berpamitan pada ibu sejenak kemudian berlalu dengan menjinjing tas.


"Rian berangkat Bu," nitip calon jodoh aku sembari mencium tangannya."


"Hati hati jangan aneh-aneh Rian, kini ibu memeluk dengan erat sesaat kemudian melepas pelukannya, menghantarkan hingga ke luar halaman.


Aku berbalik sesaat, melihat ibu menatapku sembari tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2