
Tubuh Pram kembali terpental untuk kedua kalinya dan kembali jatuh terduduk di hadapan sosok ini.
Sedikit terbatuk dan memuntahkan darah segar dari mulut Pram, sedikit mengusap darah yang keluar dari mulut Pram dengan punggung tangannya.
"Kau. Gadis ingusan mau menandingiku."
Masih dengan posisiku, berusaha membaca mantra dan memanggil bala bantuan seketika tubuh Pram serasa kembali bertenaga.
"Jangan menganggu duniaku. Duniaku dan duniamu berbeda, semua yang terjadi bukanlah urusan ku, semua adalah karena sifat manusia," ucap Pram lantang.
"Kau jangan melupakan semua janji yang di buat dan kau, kini sosok ini semakin mendekat. Apa maumu. Sesuai dengan janji kau adalah ratu kami."
Kembali berjalan mendekat. "Dengan Keberanianmu datang ke istanaku, itu membuktikan kau menyetujui perjanjian ini."
"Jangan pernah bermimpi. Kini aku sedikit mundur mengambil pisisi dalam hitungan ke tiga aku harus bisa merobohkan sosok ini sembari aku menghitung. "Satu, dua dan kini aku telah menyerangnya dan langsung kena dadanya."
"Huahahahaha terdengar tawa yang semakin kencang. Aku tak akan bisa mati meski beratus ratus kali kau menyerangku."
"Lihatlah kini sosok ini telah berubah menjadi sosok yang lain lagi dan tersenyum puas."
Aku masih terdiam menatap sosok ini, benar dia tak bisa mati ataupun sirna, kini aku memasrahkan semuanya kepada yang lebih tinggi namun dadaku kembali sakit dan terbatuk lagi, kembali darah segar ke luar dari mulutku.
"Benang ini, ya, kini benang ini semakin kencang, bukan membaca mantra tapi kini aku berusaha untuk berdzikir dan membaca ayat-ayat suci al quran.
Nampak sosok-sosok ini berlarian ke sana kemari semakin aku fokuskan untuk membacanya.
Serasa udara semakin memanas hingga suara besar kembali terdengar mendengus kesal dan berkali-kali menyerang ku.
Bukan mantra yang Pram baca kini Pram menghalau dengan membaca ayat-ayat suci dengan sedikit lantang. Kembali terdengar teriakan-teriakan yang memekakkan telinga.
Sosok di depan ku mulai sedikit goyah dan tiba-tiba tersungkur, semakin khusyuk aku membacanya. "Hentikan. teriaknya."
"Hentikan. Hentikan, aku akan melepasmu dan membatalkan semua perjanjian ini," ucapnya sembari tersungkur.
Semakin aku keraskan suaraku. "Tolong hentikan. Hentikan, aku mengaku kalah hentikan."
"Aku, aku akan pindah dari sini, ini janji ku."
Sejenak aku menghentikan bacaanku untuk melihat kejujurannya dan benar saat ini sosok ini sudah kembali menyerangku, kembali darah segar ke luar dari mulutku.
"Hah. umpat Pram, sekali curang kau akan terus melakukan seperti ini," ucap Pram lantang. Hanya tawanya saja yang terdengar menggelegar dan keras.
__ADS_1
Tak aku sia-siakan kesempatan ini, dalam sekejap aku membaca mantra penyegel dengan sisa tenaga yang Pram miliki aku berdiri menghentakkan kaki tiga kali dan secara tiba-tiba sosok ini telah terkurung dalam segelku dan kemudian aku mengikatnya dengan mantra.
Sukma Pram kini serasa lemas dan tenaganya pun telah hilang, benang ini pun kembali kencang.
"Mas Rian, panggil Pram pelan. Hingga suara nyaring membangunkan dan mendorong Pram ke asal suara. "Pulang tempat mu bukan di sini rumahmu bukan di sini."
Tak ada jawaban dari mulut Pram tapi samar aku melihat ini sosok yang menghindar dan bersembunyi saat aku melihatnya tadi.
"Pulang, kembali sosok ini berteriak."
Menyeret sukma Pram menuju cahaya putih dan setelahnya aku tak ingat apapun.
"Ya, sudah tiga hari Pram berada di rumah sakit ini, wajahnya masih pucat Rian memandang lekat wajahnya yang sedikit kurus yang tidur di depannya.
Rian flashback on
Dadaku berdetak dengan cepat saat dia memujiku tampan , bahkan baru sekali ini aku mendengarnya.
Menyetujui keinginannya dan menuruti semua perkataanya, jantungku kembali berdetak tak beraturan saat Pram mengikat benang pada tubuhku seketika aku sadar bahwa dia benar-benar membutuhkan pertolongan ku, untuk menjaga hidupnya dan percaya sepenuhnya padaku.
Berkali-kali benang yang di ikat kan pada tubuh ku kencang berkali kali pula aku berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya hingga tiba tiba Pram muntah darah untuk pertama kali dan saat itu juga aku langsung memeluknya dengan erat dan tak ingin melepas sedikit pun sambil terus ku sebut namanya agar dia tetap tersadar.
Hingga Mira yang tiba-tiba siuman dari pingsannya, membuat Rian sedikit tersenyum namun hingga hari kelima Pram belum juga tersadar dan kembali muntah darah.
Badanya semakin lemas dan pucat, hingga hari ke enam Pram terkulai lemah dengan darah segar yang kembali ke luar dari mulutnya.
Badanya bergetar hebat tanda sukma nya kembali masuk dalam tubuhnya.
Sadar akan yang terjadi seketika aku meminta tolong untuk memanggil ambulan dan membawanya ke rumah sakit terdekat .
Flashback end
Tak ada niatan di hatiku untuk meninggalkan Pram sedikit pun sampai kini, aku dan ibu bergantian untuk berjaga, ada rasa perih di hatiku melihatnya kembali sakit.
"Makanlah dulu semua akan baik baik saja Rian," ucap ibu sembari memegang tanganku.
Aku hanya menggeleng. "Jika kamu sakit siapa yang akan melindunginya dan jangan sampai jika Pram terbangun melihat keadaan mu yang tak baik-baik saja."
Betul ucapan ibu, meraih piring yang di sodorkan ibu dan mencoba memakannya sedikit sembari sesekali menatap Pram.
Dengan sedikit kasar meletakkan piringku saat aku melihat Pram mengerakkan tangannya.
__ADS_1
"Pram," ucap Rian sembari melangkah mendekat dengan segera menekan tombol darurat.
Ibu yang melihat dari jauh kini ikut mendekat. "Alhamdulillah," ucap mereka bersamaan, aku melihat Pram sedikit mengerjapkan matanya dan berharap akulah orang yang di lihatnya untuk pertama kali.
"Mas Rian," ucapnya pelan.
Senyum ku langsung terkembang saat mendengar panggilannya, meraih tangannya sembari menatap wajahnya.
"Maaf, apa bisa saya memeriksanya," ucap sang perawat yang tiba-tiba sudah berdiri di depanku.
Sedikit menggeser tubuh sembari terus menatapnya. "Semuanya baik dan tolong di jaga agar tak terjadi seperti ini lagi," ucap sang perawat.
"Baik sus," ucap Rian sembari tersenyum."
Kembali duduk di dekatnya, ke dua ibu kini tersenyum bahagia. "Aku haus dan lapar," ucap Pram tiba-tiba.
"Minum dulu ya, habis itu baru makan."
Kini terlihat ada senyum di wajahnya. "Terima kasih mas sudah menjaga ikatanku dengan benar."
"Makanlah, kini sembari ku sendokkan bubur dalam mulutnya dan yang ibu pesan barusan."
"Besok aku ingin pulang masih ada yang harus aku selesaikan," ucap Pram tiba-tiba.
"Pram, kamu baru siuman," ucap Rian cemas.
"Itu karena aku lelah Mas," ucap Pram sembari makan.
"Pram, kini dua ibu sudah ikut menegur."
"Mas, Bu ... ini harus segera di tuntaskan sebelum dia kembali berulah," ucap Pram kini berusaha untuk duduk.
"Pram, menurutlah sedikit, biar kondisimu sehat betul," ucap dua ibu bersamaan.
"Bu ... nanti yang melakukan ini bukan aku tapi Simbah Winasrih.
"Makanlah, kita bahas itu nanti," ucap Rian sembari menyuapkan kembali buburnya.
"Bagaimana Mira Mas? Apa dia pulang dengan selamat ?" tanya Pram lagi.
"Ih, bandel mereka semua sudah pulang dan penelitian mereka juga sudah selesai, apa lagi yang mau di tanyakan," ucap Mas Rian sedikit jengkel. Kemudian Mas Rian hanya menggeleng kan kepalannya. "Pram, tidurlah dan istirahat Pram !"
__ADS_1
"Biar ibu juga istirahat di rumah," ucap Mas Rian.