OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 51 . GLUNDHUNG , GLUNDHUNG


__ADS_3

Waktu berlalu begitu saja masa ospek yang di lakukan selama seminggu akhirnya selesai juga di tutup dengan bakti sosial di panti.


'Aku tak menyukai tempat panti ini banyak penunggunya,' ucap batinku.


Aku memindai tempat sekitar, sesaat aku langsung bergabung dengan yang lainnya," hai," ucap seseorang yang dari kemarin berusaha mendekat tapi selalu aku tolak.


Karena aku tahu dia tak tulus," Pram ... panggilnya saat dia memberikan sesuatu padaku.


"Apa ini? buat kamu, makanlah."


Dengan sedikit heran aku menerima, tapi sengaja aku tak menyentuhnya kemudian sedikit menjauh darinya," terima kasih," ucap Pram sembari berlalu.


"San ... aku memanggilnya untuk menghindari laki-laki ini.


"Nih ambil," ucap Pram sembari memberikan bungkusan makanan pada Santi dan setelahnya memilih berkumpul dengan yang lainnya. Santi hanya melirik bungkusan itu dan kemudian memasukkan dalam tasnya.


Sudah hampir seminggu ini aku juga belum menemukan teman yang cocok karena sesuatu hal. "Hai, sapa laki-laki ini," kembali berusaha mendekat , aku hanya tersenyum menanggapinya, tapi kembali seperti ada peringatan dari hati Pram untuk menjauh.


Setelah melakukan baksos tak berapa lama acara di akhiri, rasa capek langsung aku rasakan sedikit berjalan menjauh saat tiba tiba ada sekelebat bayangan yang hampir menabrak.


"Untung," ucap Pram dengan masih melihat kanan dan kiri dan saat aku menoleh ke belakang seketika mataku melotot," kau .... "


"Jadi sedari tadi kau mengikuti dari belakang terus maksud kamu apa?"


Mode jutekku sudah keluar," masak mau kenal saja nggak boleh," ucapnya lagi.


"Aku kan sudah tahu namamu, lagian kenapa kau selalu menguntit, masih banyak yang lain kan?"


"Maaf," ucap Pram sembari berlalu, kini aku berjalan mendekati Santi dan langsung menggandeng tangannya.


"Lah ... ucap Santi yang terkejut saat tiba tiba aku menggandengnya. "Gandengan kayak mau nyeberang saja Pram! ledek Santi tiba tiba.


"Hussst .... tuh Nurdin, selalu mengikuti "mendengar ucapan Pram seketika Santi tertawa lebar," hahahaha .... suaranya sampai membuat yang lainnya menoleh.


"Lagian Pram, Nurdin itu cuma mau berteman saja kok kamu tolak," ucap Santi lagi.

__ADS_1


"Berteman saja dan semakin banyak teman juga semakin baik."


Aku tak menjawab omongan Santi, toh Nurdin nanti nya sangat menyebalkan. Berpisah sesuai tujuan masing-masing hingga hampir jam delapan malam, saat aku turun di depan gang.


Tumben sepi pikirku, berjalan dengan tenang


hingga kaki Pram menendang sesuatu di tanah. Lampu jalan yang suram tertutup rimbunnya pohon, sedikit jongkok untuk memastikan apa yang aku tendang," nggak ada apa-apa," kembali berjalan kini aku sengaja memilih berjalan agak minggir toh lampu juga masih remang juga," dug ... kembali kaki Pram menendang sesuatu.


Kembali berjongkok untuk memastikan melihat ke depan ke belakang kanan dan kiri lagian tumben kampung ini sepi sekali tapi tak menemukan apa pun.


Masih berjalan, tinggal dua rumah yang harus aku lewati, kembali kaki Pram menendang sesuatu," dug ... kini aku tak mencari apa yang aku tendang tapi aku langsung melihat ke atas sepertinya benda itu memantul ke atas dan ... ketika aku melihat di dahan pohon," astafirullah," ucap Pram terkejut.


Hanya sepotong kepala yang bergoyang goyang sembari menyeringai, aku menepuk dada sesaat untuk menghilangkan rasa terkejut," usil,"ucap Pram psembari berlalu.


Kini saat kaki Pram melangkah pasti terdengar suara," glundung ... glundhung ... ketika aku berhenti kepala itu ikut berhenti," jangan mengangguku," ucap Pram sembari menatapnya.


"Berhenti mengganggu aku tak suka dengan suara kepalamu," ucap Pram sedikit keras. "Pergilah aku sudah capek," ucap Pram lagi.


Terus berjalan tak menghiraukan si saiton kepala itu. Kembali mengeluarkan bunyi gludhung ... glundhung ... glundhung ... glundhung dan suaranya makin keras.


"Apa maumu? hanya bibirnya yang menyeringai kini mengeluarkan bau yang tak sedap," huek .... huek seketika perut Pram serasa di aduk.


"Tolong ... tolong ... tolong ... itu yang keluar dari mulutnya dan menghilang.


Sudah sering aku lewat sini kenapa saiton ini tiba-tiba muncul," buh ... menghambat jalan saja," ucap Pram sembari melanjutkan langkahnya, tiba di rumah suasana sepi tinggal lampu ruang tengah yang menyala pasti ibu sudah tidur pikirku.


Masuk dengan perlahan agar suara yang ku buat tak membangunkan Ibu, mematikan lampu ruang tengah dan langsung menuju kamar.


Rasa capek dan lelah yang ku rasakan makin menjadi, membersihkan diri dan kemudian menarik selimut.


Pagi hari saat bersiap aku lihat ibu juga sudah bersiap ke sawah, tumben Bu bawa masakan banyak," tanya Pram.


"Hari ini panen Pram kasijan yang kerja biar semangat, kamu kapan-kapan juga harus belajar dan bisa ibu pastikan hari minggu hari mu ke sawah," ucap ibu sembari menutup


dua rantang bersusun lima yang terbuat dari almunium.

__ADS_1


"Pulang jam berapa kemarin malam? tanya ibu sembari menatapku," jam delapan bu, jawab Pram. "Lagian tumben kok semalam kampungnya sepi Bu," tanya Pram heran.


"Kamu semalam pasti juga tahu apa penyebabnya, kau tahu Mak Sara yang tinggal di ujung gang? cerita Ibu.


Kini sembari aku menyendok nasi, dua hari yang lalu setelah magrib mau beli sesuatu di rumah mak Siti tiba-tiba di temukan beberapa warga pingsan Pram.


Begitu siuman Mak Sara cerita katanya lihat ndas glundhung dan sempat di tendang nya," ucap ibu setengah berbisik.


Setelah mendengarkan cerita ibu aku diam sejenak," kan ada-ada saja," ucap Pram.


"Sepertinya dia pendatang Bu," ucap Pram lagi.


"Jangan malam-malam Pram pulangnya," ucap Ibu sembari membawa dua rantang.


"Bu ... di bantu siapa? tanya Pram. "Sebentar lagi Mak Sunar datang membantu Pram."


Aku langsung berpamitan juga, meraih tangan ibu untuk salim.


"Pram hati-hati," ucap ibu mengingatkan.


Hampir satu jam perjalanan akhirnya sampai juga menuju kelas, masih ada dua orang yang hadir, masih lima belas menit lagi dan benar setelah aku memilih duduk paling belakang mereka satu persatu berdatangan.


Santi memilih duduk di depan sudah aku duga, tinggal satu bangku kosong di depan saat seorang wanita datang dan duduk di depan, seketika aroma wangi melati menusuk hidung, mencium bau ini seketika aku teringat akan Srikanti, tapi tidak ada pendamping atau sosok yang mengikutinya.


Dosen sudah memasuki kelas saat menit ke lima belas suasana yang sedikit rame langsung hening. Setelah berkenalan dengan dosen jurusan dan menerangkan poin penting dalam satu minggu ke depan dan ingat tak ada yang boleh membolos, ucap Dosen yang aku ingat.


Setelah mencatat poin-poin penting, aku langsung mencatat jadwal kuliah serta materi pelajaran dan memastikan mata kuliah dan KRS yang aku ambil sudah benar.


Aku sedikit tersenyum saat melihat ulang jadwal kuliah ya, setelah satu minggu ini hanya ada empat sesi pertemuan.


Saat konsentarasi penuh, tiba-tiba aroma melati kembali tercium, aku menatap gadis yang ada di bangku depan, ternyata di kuncirnya terselip beberapa melati dan itu tersembunyi di balik rambutnya aku hanya tersenyum saat mengetatauhi.


"Hai ... sapanya saat dia berbalik," kenalkan aku Hanifa, panggil Hani boleh, Ifa juga boleh dan kamu?"


"Oh ... aku Prameswari panggil Pram saja," ucap Pram sembari melepas tangannya. tetapi wanita ini kemudian tersenyum," panggilan namamu kayak cowok saja," ucapnya sembari berbalik. Aku tak menanggapi ocehannya kini aku kembali menulis rencana di semester ini.

__ADS_1


Masih dua mata kuliah, aku sedikit merenggankan badan saat Nurdin dan satu temannya mendekat.


"Hai Pram? sapanya sembari tersenyum.


__ADS_2