
Betul kata Rian tiba-tiba hujan lebat, aku dan Rian langsung berteduh di depan ruko yang tak jauh dari gang rumah.
Aku memindai sekeliling bangunan sejak kapan ada bangunan ini Rian?"
"Masak kamu lupa Pram, kan di sini memang ada ruko," jawab Rian.
Aku sedikit memaksa ingatanku.
"Aneh!"
Tapi aku mencoba untuk tak menghiraukan tempat ini, hujan makin lebat di barengi suara guntur.
"Untung aku kamu temani Rian, jadi aku gak sendirian. Terima kasih ya," ucap Pram sembari sedikit masuk ke dalam.
"Pram keluar jangan di situ," panggil Rian.
Seketika aku melangkah keluar, kini berdiri berjajar dengan Rian.
"Jangan khawatir aku tahu kalo ada yang duduk di pinggir sana tapi aku tak berani menunjuk."
Rian menatapku dalam.
"Pram .... makin kesini aku kok jadi semakin khawatir denganmu apa kamu terbebani?"
Aku hanya menggeleng. 'Toh nyatanya nyawaku kini jadi taruhan.ucap batinku.'
"Sudahlah Rian, ini sudah jadi takdirku,
Sekarang yang aku perkukan adalah teman yang seperti kamu, itu sudah cukup untukku."
Tatapanku jauh kedepan. "Rian jika suatu saat nanti aku memerlukan bantuanmu, apa kamu siap membantu?" tanya Pram pelan.
"Aku belum bisa berjanji Pram, tapi aku akan berusaha untuk itu."
"Mainlah ke rumah bertemulah dengan ibu siapa tahu ibuku bisa memberimu jalan keluar."
"Apa yang kau lihat di diriku tidak seperti yang kamu fikirkan Pram, aku tahu kamu adalah murni titisan dan ilmu mu lebih tinggi dari aku."
"Apa ibumu pernah melihatku?" tanya Pram.
"Tidak tapi ibu selalu bilang tidak mudah menjadi seperti dirimu Pram dan ibu bilang kalau banyak hal yang harus di korbankan dan di perjuangkan."
"Aku nggak paham Rian, Simbahku tak pernah menjelaskan secara detail padaku dan memang aku tak pernah bertukar pikiran dengan orang lain, kau tahu kan maksudku."
"Mainlah kerumah, jangan sungkan," ucap Rian lagi.
"Aku kok jadi penasaran dengan ibumu, Rian."
"Kau saja yang pura-pura nggak tahu."
Hujan makin lebat kini di sertai angin, aku diam sesaat. "Rian jangan kemana-mana tetap di sampingku, ada yang ingin menyapaku melalui angin ini."
Aku masih berdiri dan diam. "Jangan aneh aneh Pram. Ssstttt ... sebentar," ucap Pram.
Benar di tengah hujan dan angin yang datang tiba-tiba ada sosok ya berdiri di depan halaman ruko.
Melihat sosok ini tersenyum lalu tunduk hormat. "Kenapa kau membuat keributan?" tanya Pram pelan.
Sosok ini menunduk lagi. "Aku hanya ingin menyapa saja," ucap sosok ini.
Pram melihat dari atas hingga bawah. 'Benar sosok yang berbeda batin Pram.'
"Hm ... ucap Pram sembari kembali ke raganya.
Mendadak angin mulai mereda tapi hujan masih deras. "Rian kau lihat sosok itu?" bisik Pram."
__ADS_1
Rian hanya mengangguk menghiyakan
"Jangan di lihat terus Pram, aku takut dia akan mengikuti kita, jangan di lihat bisik Rian lagi."
"Kau harus bisa mengontrol rasa penasaranmu Pram, jangan sering-sering keluar hanya demi meyakinkan. Biar, mereka penasaran simpan energimu untuk yang lebih penting."
Seketika aku terdiam. "Inilah yang aku suka darimu Rian, kamu seperti air tenang tidak seperti ku."
"Eee, yang Pram puji kini senyum senyum."
"Jangan senyum terus ayo pulang hujannya sudah reda ."
"Eee, sudah reda ya?" tanya Rian. Tak menghiraukan pertanyaannya kini aku melangkah lebih dulu dan meninggalkannya.
"Pram ... tunggu."
Hingga sesampainya di tikungan kami berpisah.
"Rian terima kasih," ucap Pram lagi.
Sudah hampir sore saat Pram tiba di rumah
"Assalammualaikum," ucap Pram sembari membuka pintu.
'Di mana ibu?Aku berjalan menyusuri setiap ruangan tapi ibu tak ku temukan di mana pun mungkin ibu ke rumah Simbah pikirku.'
Melihat meja makan sudah tersedia makanan aku langsung duduk mengambil piring dan mengambil sayur serta nasi.
Di tengah suapanku ibu datang sembari mengucap salam. "Dari mana Bu?"
Dari rumah Simbah Pram. "Kenapa dengan simbah Bu?" tanya Pram.
"Simbah baik-baik saja Pram."
Ibu hanya diam saja tak menyahut.
"Bu ... panggil Pram."
Tapi ibu masih tetap tak menghiraukan pertanyaanku memilih masuk kedalam kamar.
Melihat Ibu masuk kamar, aku kembali meneruskan makan, tinggal dua suapan saat ibu keluar dari kamar dan kini sudah duduk di depanku.
"Pram ... panggil ibu."
Kini aku melihat Ibu. "Ya ... jawabku.
"Simbah pesan jangan ke rumah simbah dulu," ucap Ibu pelan.
Karena ibu tak meneruskan ucapannya saat terdengar suara pintu di ketuk.
Ibu berdiri dan melangkah ke ruang tamu.
Entah siapa yang datang, hanya terdengar suara samar-samar seorang perempuan tak berapa lama terdengar ibu menutup pintu.
Masih ingat pesan Rian untuk mengontrol rasa penasaranku, mencuci piring yang ku gunakan dan beranjak ke kamar.
Bergegas mandi dan setelahnya aku mengambil buku pelajaran karena kurang tiga minggu lagi aku ujian.
Mencoba fokus belajar dan mengerjakan soal soal dengan teliti, beberapa kali menguap sudah pukul lima sore, Pram menutup buku yang di bacanya.
Berbaring di kamar dengan mendengarkan musik di ponsel, lagu yang mendayu dan sedang hits membuat mata ini langsung terpejam.
Aku terbangun saat hari sudah gelap, sudah pukul tujuh tumben ibu tak membangunkan.
'Aneh. Pikir Pram.'
__ADS_1
Aku duduk sebentar di sisi ranjang, sesaat kemudian aku keluar berjalan ke kamar ibu
membuka pintunya.
"Lah ibu pergi lagi."
Merasa heran, aku kemudian ke ruang tamu.
"Sepi. hanya itu yang Pram ucapkan.
Duduk di tempat faforitku memandang langit yang gelap hanya di terangi bintang, aku tersenyum saat melihat rembulan bersinar bulat utuh dan terang.
Nampak dari dalam ada seseorang melintas
ke dalam.
"Ibu. Dari mana? guman Pram sendiri."
Aku menunggunya hingga ibu masuk dan menutup pintu.
"Ibu dari mana?" tanya Pram.
Seketika ibu terkejut. "Pram kamu mengagetkan ibu saja."
"Bu, perasaan Pram hari ini ibu aneh, apa ada yang ibu sembunyikan dari Pram?"
"Apa ini tentang Simbah? Bu, benar kan !"
"Pram. Bukan ibu ingin merahasiakan dari Pram, tak ada rahasia dan memang ibu ragu jika cerita."
"Sudah ibu mau ke kamar dulu, besok ada yang akan ibu urus Pram," ucap Ibu sembari masuk kamar.
"Apa Simbah sakit Bu," tanya Pram penasaran.
"Simbah sehat Pram," jawab Ibu lagi.
"Lalu .... "
"Nanti kamu akan tahu Pram. Kontrol rasa penasaranmu Pram," ucap ibu sambil masuk ke dalam kamar.
Aku sedikit terusik, sudah dua kali aku di ingatkan akan kata kontrol rasa penasaranmu, masih duduk di depan jendela ruang tamu, kini bintang sudah membentuk layang-layang.
'Indah,' batin Pram.
"Pram, jangan melamun nggak baik," ucap ibu dari dalam kamar.
"Lekas tidur Pram."
"Bu, Pram barusan bangun tidur, malah di suruh tidur lagi."
"Ya sudah, tutup tirainya pram!"
Aku langsung menutup tirainya dan kembali ke kamar, aku hanya rebahan di ranjang mencoba untuk tidur kembali.
Meraih guling kesayangan, memejamkan mataku dengan paksa. Terbangun kembali saat jam menunjukkan pukul tiga pagi.
Badanku serasa tak nyaman, aku keluar dari kamar.
"Sepi ... "
Hanya ada suara tokek yang tiba-tiba terdengar dan itu sangat mengejutkanku dengan lampu yang tak begitu terang. Aku berjalan menuju dapur mengambil gelas menuang airnya, sesaat mataku melirik kesamping.
"Hm ... ucap Pram.
Kini aku tak lagi melirik, tetapi aku langsung menoleh. Benar ada sosok yang berdiri mengintip di balik tembok. Kini dia kembali mengintip tetapi tepatnya menyeringai.
__ADS_1