OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 59 . HANIFA RASA SRIKANTI


__ADS_3

Setelah percakapan semalam akhirnya Pram menyadari kecemasan Rian padaku dan


aku merasa tersanjung dengan semua sikap Rian.


Hari cepat berlalu meski bisa di katakan aku calon jodohnya tetapi aku dan Rian berusaha bersikap senormal mungkin di kampus datang bersama dan pergi pun bersama.


Makin lama Rian makin paham siapa Hanifa tapi benar Srikanti belum menunjukkan wujudnya hanya saja sikap Hanifa mirip Srikanti dan kalung yang aku pakai pun belum juga menunjukkan reaksinya.


Hingga suatu malam kakek leluhur mengingatkan akan sesuatu yang berkaitan dengan diriku, akupun juga hanya menyatakan sanggup tetapi bagaimana aku mengatakan pada Ibu.


Entah, tak ada hujan dan tak ada angin tiba tiba Hanifa mengajak beberapa teman untuk main ke rumah, aku tak tahu apa maksud Hanifa.


Aku tak menolak siapa saja yang datang tapi untuk Hanifa aku langsung menaruh curiga penuh.


Akhirnya aku menyetujui juga Hanifa untuk ke rumah, seperti mempunyai maksud tertentu, Sekilas Hanifa tersenyum aneh, melihat Hanifa tersenyum, sejenak aku teringat akan Srikanti. Rian yang melihat keresahanku datang mendekat.


"Kenapa? kau takut Pram? mana Pram ku yang dulu berani, tangguh dan kuat," ucap Rian menenangkan aku.


"Ya, benar aku terlalu santai dan menyepelekan," ucap Pram pada Rian.


"Sebenarnya banyak hal yang belum selesai dengan rumah Simbah Rian."


"Dengan adanya kamu di sisiku, aku jadi ingat akan tugasku, tapi memang selama ini semuanya masih wajar-wajar saja Rian."


"Dan kau tahu," belum selesai aku berbicara melanjutkan ceritaku. "Hai pram," sapa Hanifa sembari mengerlingkan matanya pada Rian.


Rian yang mendapat kerlingan dari Hanifa langsung menatap tanpa berkedip. Melihat ini seketika aku berdecak geram.


"Ih ... nikmati saja biar aku colok juga matanya," ucapku sembari berlalu. Melihat aku pergi, Rian langsung mengejar," Pram nggak usah cemburu, jika kamu mau besok kita nikah," seketika ucapan Rian menghentikan langkahku.


Aku menatap Rian lekat," jangan ngomong aneh-aneh," ujar Pram pelan. "Sungguh, bener aku nggak bohong," ucap Rian sembari berjalan di sisiku.


Tiba-tiba Pram menarik tanganku agar menepi," kau tahu sejak kau kuliah di sini itu mbak-mbak yang di pos jaga selalu melihatmu loh," ujar Pram tiba-tiba. "Aku tahu mangkannya aku nggak pernah ngeliat di sisi situ."


"Lagian kenapa juga kamu ngingetin Pram? ucap Rian sembari tersenyum. "Ternyata bukan aku yang manusia saja yang suka kamu, tapi golongan lelembut juga suka sama kamu," ledekku pada Rian.


"Kamu, biar aku aduin kamu ke Simbah leluhur kamu Pram." Kemudian Rian mendekat dan berbicara sedikit, tapi ucapannya membuat aku langsung terdiam.


"Jangan ngaco Rian, ayo pulang," ajakku dengan sedikit menarik tangannya.


"Sebentar," ucap Prameswari saat dekat parkiran. "Jaga aku," sebentar kini aku sudah duduk di bangku parkiran.


Tak lama kemudian kini sukma ku sudah berdiri di depan sebuah kelas," ini kelas apa? pikirku saat sekelebat bayangan ini seperti berlari menghindari dariku.

__ADS_1


Aku kembali ke ragaku, saat aku merasa ada sesuatu yang tak beres dengan suasana kelas itu.


"Ada apa," tanya Rian.


"M ... di depan itu kelas jurusan apa Rian? tanya Pram heran.


"Kenapa? ada bayangan yang berusaha menjauh dan menghindar dariku," ucapku lagi.


"Apa ini penting? yang aku tanya hanya menggeleng saja.


"Kalau begitu tak perlu di kejar Pram."


"Ayo pulang," ajakku setelah Pram sedikit tenang.


Dalam perjalanan pulang aku masih memikirkan semuanya tentang Hanifa ya seperti ada yang membuatku penasaran dengan sosok itu.


Sesampainya di rumah, aku langsung ke kamarku menguncinya sudah lama aku tak berkomunikasi dengan Kakek leluhur.


Duduk bersila lalu menyebut namanya tiga kali, seketika sosok Kakek leluhur sudah nampak, seperti mengetauhi maksudku Kakek langsung mengajakku untuk berwisata di alam lain.


"Diamlah dan lihat apa yang akan aku tunjukkan padamu," ucap kakek leluhur hanya dengan mengibaskan tangannya kakek sudah menunjukkan siapa Hanifa sebenarnya, gadis ini adalah keturunan dari Srikanti dan neneknya adalah yang menusuk Budhe Lastri.


Melihat ini aku sangat terkejut," lalu maksudnya apa Kakek? tanyaku heran. Kakek hanya tersenyum," dia mencoba untuk menyatukan dirinya dengan Srikanti dan akan berusaha merebut sesuatu yang kau miliki. Kakek hanya menunjukkan dadanya," sesuatu yang kau sayangi," ujar kakek lagi.


"Maksud Kakek, tentang pohon itu? aku lihat kakek mengangguk dan tersenyum," jangan khawatir akan ada yang selalu di sisimu dan


aku leluhurmu akan selalu membantumu.


"Apa yang harus Pram lakukan jika itu terjadi dan di luar kendali pram, mantra di pintu satu satunya cara Pram, tapi kini waktunya belum tepat."


"Kakek, jangan biarkan sampai ada korban lagi," ucap Pram pelan. "Tetapi ini sudah takdir Pram segera lakukan seperti yang kakek minta agar keturunan kakek selamat."


"Satu lagi Kek,kenapa keturunan S selalu mengusik Kakek Leluhur? seketika Kakek leluhur tersenyum. Semua berasal dari ini Pram," sembari menunjuk dadanya kembali cinta?


"ya, karena dulu aku menolak perjodohan anaknya dengan anakku."


"Sudah kini kau yang harus menyelesaikan semuanya Kakek yakin dan percaya padamu."


"Kembali lah," ucap simbah mengakhiri percakapan kami.


Mengingat percakapan Pram dan kakek membuat hati Pram kembali resah, kini tanpa sadar mulutku menyebut nama Hanifa, gadis ini betul-betul rasa Srikanti.


Berarti dia berusaha merebut Rian dariku ternyata dendam lama kini terulang kembali.

__ADS_1


Aku hembuskan napas dengan berat.


Semoga hati Rian tetap untukku dan teguh dengan cinta hanya padaku," ah ... rumit," ucap Pram sembari berdiri.


Melangkah keluar kamar, ibu sedikit terkejut menatapku," baru bangun Pram?"


Aku hanya mengangguk saja, mengambil air putih dan meminumnya sekali teguk dan mengambil lagi," Pram pelan-pelan kalau minum," ucap ibu lagi.


Setelah puas minum aku duduk di depan ibu


memilih membantunya mengupas kacang tanah," ada apa? kok lungset wajahnya."


"Beberapa hari lagi ada teman-teman yang mau ke rumah Bu, tapi aku nggak suka dengan orangnya, selalu main mata dengan Rian. Begitu Rian juga ngeliatin," ucapku secara tiba-tiba.


Mendengar ucapanku ibu tertawa," hahaha


baru tahu kalau anak ibu bisa cemburu."


"Aku bukan cemburu Bu, tapi lihat sendiri anaknya kalau main kesini pasti ibu nanti juga jengkel."


"Jadi Pram minta kalau mereka ke rumah, ibu di rumah, Pram jangan di tinggal."


Mendengar ucapan pram sang Ibu sedikit mengerutkan keningnya," kan ada Rian? jawab Ibu. "Nggak boleh, Rian nggak boleh ketemu dengan dia," ucap Rian spontan. Mendengar kata-kata Pram, Ibunya langsung protes," ng?gak sopan," ucap ibu.


"Sebenci apa kita pada orang itu, jika sudah menjadi tamu kita, harus kita hormati pram!"


Kemudian Ibu tersenyum," Pram ibu kok jadi pingin menguji Rian, sebesar apa cintanya padamu?


"Jangan aneh-aneh Bu, ini bukan yang seperti ibu pikirkan, tadi saja di kampus Rian mau mengajak aku nikah," ucap Pram keceplosan .


" Ups ... kini Pram sudah menutup mulutnya.


Ibu, kembali tertawa mendengar ucapanku


,"ternyata banyak yang ibu tidak tahu dari anak gadis ibu."


"Kan ibu mesti."Janji kalau anak yang aku maksud datang kerumah pasti ibu akan di rumah dan pasti ibu akan ingat seseorang," ucapku meyakinkan ibu.


"Bu janji, jangan kemana-kemana Bu."


"Bu ... panggilku karena ibu kini sudah melangkah ke dapur dan tersenyum mendengar semua ucapanku.


"Bu ... teriakku lagi dan ingin memastikan."

__ADS_1


__ADS_2