OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 137. AKU HARUS IKHLAS


__ADS_3

Genap satu bulan setelah Pram berbicara dengan Pak Man. Masih pagi, Mas Rian sudah bersiap nampak raut gelisah tercetak di wajah Mas Rian dengan sesekali melihat jam tangannya. "Pram buruan," lagi-lagi Mas Rian mengingatkan untuk bergegas.


Hampir pukul delapan pagi akhirnya Pram dan Mas Rian berangkat juga, tak lama kami pun tiba di tempat yang kami sepakati bersama beberapa warga yang sawahnya terkena dampak pembuatan jalan yang baru.


Setelah melalui negosiasi yang alot akhirnya pihak terkait menyetujui semua usulan warga.


Berhari-hari kami harus pulang balik mengurus semuanya, memang benar, akhirnya sawah kami terkena dampak pembuatan jalan baru, tapi yang membuat Pram bersyukur ternyata tidak dari separo dari sawah kami, mungkin hanya seperempat dari sawah kami yang terkena.


Pram dan Mas Rian akhirnya bisa bernapas lega, setelah menandatangani surat-surat yang di saksikan oleh notaris dan beberapa praktisi hukum yang terkait, akhirnya secara sah, seperempat dari sawah kami akan menjadi jalan raya baru. Seakan tak rela melepas begitu saja apa yang Simbah dan Ibu perjuangkan dengan segenap hati, harus pergi begitu saja.


Setelah menemani para pekerja yang mengukur sawah kami, Pram memilih untuk tinggal sejenak. Masih menatap beberapa pekerja di sawah. "Nduk, kita panen saja, yang terkena pembuatan jalan raya," ucap Pak Man mengejutkan.


"Tapi, pak itu masih sebulan lagi waktu panennya, kasihan yang beli nanti," ucap Pram sembari menatap jauh ke depan.


"Tapi, Nduk? akan lebih di sayangkan kalau terbuang begitu saja. "Sini ... ajak Pak Man. "Lihat, beruntungnya di sini hanya tanaman umbi-umbian dan jagung, meskipun kita panen lebih awal sebulan nggak masalah Nduk," ucap Pak Man lagi.


"Pram tahu Pak," ucap Pram sedikit tersekat.


"Nanti kita bicarakan dengan Mas Rian Pak."


Kini hanya napas berat Pram yang terdengar semakin berat. Pak Man hanya menatap sembari tersenyum.


"Bapak tahu memang berat, tapi ... semua sudah di atur Nduk, berusahalah untuk ikhlas Nduk!!"


"Ayo sudah sore, pulang Nduk! besok masih ada hari untuk melihat sawah ini." Seloroh Pak Man sembari tersenyum. Pram melangkah dengan berat, benar kata Pak Man bukan salah Pram atau hal yang lainnya, benar jika semua sudah menjadi waktunya untuk berubah sesuai dengan perkembangan jaman.


Tak terasa langkah Pram sampai juga di rumah, setelah mengucap salam, kini Pram memilih untuk duduk sejenak di ruang makan.


"Sepi ... kemana anak-anak dan juga dua Mbak," ucap Pram sembari melangkah ke dapur.


Sesaat Pram merasa kepalanya tiba-tiba pening. Memilih menjerang air dan membuat kopi untuk menghilangkan rasa pening di kepalanya. Duduk dengan santai di dapur menyesapnya perlahan, aroma hangat dan khas membuat Pram sedikit tenang hingga sampai pada tegukan terakhir masih Pram nikmati dengan tenang. Masih sepi, melihat jam di dinding, kini Pram merengutkan dahinya. "Kemana mereka?" ucap Pram pelan.


"Mbak yas ... panggil Pram tak sabar."

__ADS_1


"Mbak Ning ... kini Pram melihat ke kamar mereka.


Tak menunggu lebih lama lagi akhirnya Pram memilih naik ke atas, melihat satu persatu kamar anak-anak, Kinanti, Arion, Lintang, kini Pram menuju kamar Kinara yang sedikit membuka pintunya.


"Kemana mereka? kembali ucap Pram lirih. Memilih untuk turun kembali, belum juga Pram mencapai tangga ketiga, kini terdengar suara anak-anak yang ramai di ruang tengah.


Pram sedikit heran dengan yang Pram lihat.


"Ada apa dengan ku?" ucap Pram, sembari mencubit tangannya.


"Anak-anak apa mereka tak melihat atau ... "


Bergegas Pram turun. "Arion, Lintang, Kinanti dan Kinara, ada apa ini? Apa ada yang salah? kembali Pram bertanya."


"Kenapa? Dengan mereka. Mbak Yas ... panggil Pram."


Saat Pram melihat Mbak Yas lewat di depan Pram.


Semakin bingung dengan apa yang terjadi. "Kenapa? Seperti bayangan, mereka tak bisa mendengar dan melihat Pram."


Kembali Pram terpental dan menembus ruang kosong. "Arghh ... ada apa ini?" ucap Pram putus asa.


Kembali Pram berusaha mencari jalan keluar seakan Pram terbentur dengan sesuatu.


Pram bisa melihat anak-anak dan yang lainnya. Tetapi Pram tak bisa memanggil dan menyentuh mereka. Seketika tubuh Pram lemas. Sejak kapan Pram bisa masuk ke sini dan ada apa dengan rumah ini?"


Berusaha untuk tenang, kini Pram berjalan mengitari rumah ini, sudah hampir magrib.


Nampak kepanikan anak-anak juga Mas Rian, hanya samar-samar suara yang Pram dengar. Masih berusaha untuk keluar dari sekat ini, memilih duduk tenang, memfokuskan seluruh energi serta mengatur napas, sesaat terasa sepi, hening dan sunyi.


Hanya suara hembusan napas yang pelan dan teratur, cukup lama tetapi kini Pram merasa ada hembusan napas menerpa wajahnya pelan namun terasa dinging.


Perlahan Pram membuka mata, nampak wajah Zubaid berdiri di depan Pram.

__ADS_1


"Tolong," ucap Pram pelan.


Cukup lama Zubaid berusaha menolong, tetapi tetap semuanya seakan tak berarti.


Kini Pram melihat dari mana datangnya hembusan angin dingin yang menerpa wajahnya lagi. Akhirnya Pram kembali memfokuskan semua pikiran dan hatinya pada satu titik, di sekat ini seakan semua kemampuan Pram hilang seketika dan tak berguna di sini.


Akhirnya setelah semua jalan dan usaha yang Pram lakukan buntu. Akhirnya Pram pasrah dan ikhlas dengan apa yang terjadi nanti. Hingga Pram melihat Kinara sedikit terisak, mendekat di mana Pram duduk terjebak. Berdiri sesaat bersama Loreng dan Zubaid. Tangisnya makin keras saat dia tak bisa membantu Pram.


Tak berapa lama Mas Rian sudah datang dari luar bersama Pak Man. Pram bisa melihat semuanya. "Tapi ... Pak Man hanya tersenyum menatap tempat di mana Kinara berdiri."


"Belajar untuk ikhlas Nduk, kau terjebak dengan hatimu hingga kau membuat sekat sendiri di hatimu dan menutup semua yang kau lihat," ucap Pak Man sembari membaca sesuatu.


"Aneh."


Kenapa Pram bisa mendengar suara Pak Man meski samar-samar.


"Lepaskan semua dan ikhlaskan apa yang terjadi semua sudah menjadi garisnya Nduk, cepat sebelum semuannya tertutup."


Setelah mendengar ucapan Pak Man kini Pram berusaha menata hatinya kembali, mengurutkan semua kejadian dari pagi hingga Pram pulang ke rumah.


"Tak ada yang salah, semua pada tempatnya," ucap Pram pelan.


Akhirnya Pram tersadar mendengar ucapan Pak Man, perlahan Pram mengambil napas dalam-dalam menghembuskan serta membuang semua kesal di hatinya beberapa saat tadi. Marah akan kejadian dari pagi hingga pulang ke rumah. Kini Pram berusaha menerima bahwa semuanya harus terjadi secara perlahan kini ada hawa hangat yang menyentuh tangan Pram, hingga tiba-tiba seluruh tubuhnya kini sudah merasakan hawa hangat ini.


Membuka mata, nampak Kinara berdiri di depan, Mas Rian menatap dengan panik sementara yang lainnya sudah berdiri di belakang Pram.


Pak Man seketika tersenyum, wajah tuanya seakan tahu ada gundah di hati yang Pram tutupi.


"Nduk, buka hatimu, sekat yang menutup tubuhmu adalah dari hatimu, sehingga energi di tubuhmu ikut tertutup beruntung kau masih mempunyai mereka dan Bapak senang, karena mereka kau bisa sedikit membuka cela di sekat ini."


"Berdirilah terlalu lama kau duduk di situ," ucap Pak Man sembari berdiri sedikit menjauh.


"Pram, ini bukan tentang apapun, ini semua berasal dari hatimu Nduk, hatimu yang menentukan semuannya."

__ADS_1


"Ikhlaskan saja, toh sawah itu juga tak semuannya terjual kan? Kembali Pak Man berucap sembari menepuk bahu Pram.


__ADS_2