OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 63 . TANIA PENGHUNI PERPUS


__ADS_3

Merasa di tinggal begitu saja dengan sosok ini. Pram menggerutu sendiri. "Ini jika percaya dengan saiton," sembari membereskan buku dan memasukkan dalam tas.


"Jangan keluar dulu," ucap sosok ini tiba-tiba.


Mencegah Pram untuk keluar. "Kenapa?" tanya Pram. "Si jahil dan Si usil ada di depan perpustakaan, di sini saja dulu," ucap sosok ini lagi.


"Tapi mau cerita pinta Pram pelan, aku melihat sosok ini mengangguk.


Aku kembali duduk dengan diam saat tiba-tiba sosok ini memegang tangan aku dan secara tiba-tiba sudah terlihat jelas kejadian yang menimpa gadis ini. "Jadi?"


"Ya. Dia yang menjebakku!" Kenapa kamu masih di sini? Aku hanya ingin mengingatkan siapa saja agar tak terulang kejadian seperti ini lagi."


"Apa sudah lama kejadiannya? Sosok ini hanya mengangguk. Tiga tahun yang lalu."


Aku mengangguk tanda mengerti. "Mau kenalan? Aku mengangguk."


"Aku Tania," jawabnya pelan terlihat jelas kesedihan di matanya. "Aku Pram," jawab Pram pelan.


"Apa yang membuat Mbak bertahan di sini?" tanyaku lagi. "Adikku," jawabnya singkat lalu memberi tanda pada Pram untuk diam dan kemudian Tania menghilang.


Tapi kini yang nampak terlihat seorang laki laki yang sedang menatap ke arah aku duduk, kemudian berlalu pergi.


Setelah laki-laki ini pergi tak lama Tania muncul kembali. "Kenapa dengan adik Mbak?" tany Pram lagi. Namun,Tania hanya terdiam seperti sedang berfikir.


"Adikku ingin kuliah di sini tahun depan."


"Apa yang Mbak khawatirkan dari adik Mbak. Laki laki tadi?" tanya Pram dan itu membuat sosok ini mengangguk.


"Bukannya dia alumni sini? Kembali Pram bertanya. Laki-laki itu masih penasaran dengan aku." kemudian tak melanjutkan bicaranya dan menghilang lagi.


Aku melihat jam lagi. "Pulanglah jika kau ingin tahu lebih banyak, temui aku di sini besok." Setelahnya sosok ini kembali menghilang.


Pram kembali masukkan buku dan berjalan keluar Perpustakaan dengan bergegas. Keluar menuju pintu gerbang menunggu angkot, tak berapa lama sudah datang angkot yang di tunggu sudah datang. Memilih duduk di depan, saat tak sengaja Pram melihat Rian berboncengan dengan Hanifa. "Deg. Seketika hati Pram berdesir."

__ADS_1


Timbul pertanyaan-pertanyaan yang membuat Pram semakin ragu. "Kenapa? Apa yang terjadi selama aku sakit. Atau ada sesuatu yang terjadi antara Rian dan Hanifa dan pembicaraan Hanifa tadi pagi?"


Masih dengan berbagai pertanyaan di hati, Pram memilih untuk turun dari angkot. Berganti angkot menuju rumah di kota.


Dalam perjalanan Pram mengulir ponselnya memberi kabar pada Ibu bahwa aku menginap rumah di kota. Meminta Ibu untuk tidak memberitahukan pada Rian. Aku hanya ingin sedikit bernapas dan menghindar dari Rian untuk sementara waktu.


Ada satu hal yang membuat Pram ingin menghindar. Ada sedikit rasa tak sukaakan sikap Rian. Kenapa Rian terkesan menutupi sesuatu dariku, sesaat dada Pram serasa sesak.


Perjalanan tak memakan waktu yang lama hampir satu jam akhirnya aku tiba di rumah.


Sedikit tersenyum saat aku tiba, melihat rumah yang terawat dengan baik begitu aku membuka pagarnya aku melihat Sofia sedang termenung di halaman. "Sofia," panggil Pram pelan.


Nampak Sofia tersenyum melihat aku datang dan langsung bergelayut di kaki. "Jangan begini bagaimana aku jalan!"


Setelah mendengar ucapan dari Pram, Sofia bergeser sedikit menjauh, mengambil kunci di tempat biasa aku menyimpan nya.


Memasuki rumah dan kembali mengunci pagar dan pintu rumah, toh aku tahu seperti apa Rian jika nekat.


"Ya. jawab Pram dengan suara serak.


"Pram masih ngantuk Bu." Lalu mematikan ponselnya lagi. Kembali melanjutkan tidur hingga terbangun pagi hari.


Serasa Pram mendapatkan energi baru. Mengingat hari ini ada kelas aku langsung mandi, masih subuh dan memang aku harus bersiap karena kelas di mulai pukul delapan pagi.


"Sofia," panggil Pram. Melihat Sofia sedang duduk di ruang tengah. "Kakak pulang dulu nanti balik lagi,"ucap Pram pelan.


Kembali mengunci pintu dan pagar, setelah taksi yang Pram pesan datang, Pram langsung naik. Masih pukul tujuh saat aku tiba di kampus, menyempatkan diri membeli beberapa cemilan dan sarapan. Memilih menunggu hingga jam masuk, tepatnya sepuluh menit sebelum kelas di mulai.


Rian yang melihat Pram datang terlambat kembali menatap dengan amarah, tapi semua langsung teralihkan dengan panggilan Hanifa.


Materi pelajaran semua berjalan lancar sesuai janji Pram dengan Tania aku memilih duduk kembali ke perpustakaan. Hingga hampir satu jam lamanya aku menunggu tapi yang aku tunggu tak datang juga, beranjak berdiri memilih untuk pulang.


Mengingat esok akan ujian. Akhirnya aku memilih untuk pulang ke rumah ibu meski dengan berat memasuki rumah dan menyiapkan semuanya untuk esok.

__ADS_1


Melihat aku datang ibu tersenyum. Sebelum ibu bertanya aku langsung memberinya banyak pesan yang membuat Ibu sedikit bingung dan heran akhirnya Ibu menuruti saja permintaan aku.


Begitu masuk kamar aku langsung mengunci pintu kamar. "Rasanya kok aku yang bersalah," ucap hati Pram.


Bukan belajar tapi aku hanya rebahan di ranjang mengingat semua yang terjadi.


"Ah ... dengan emosi Pram melempar bantal ke sembarang tempat. "Kenapa aku yang sakit?" ucap Pram pelan. Tak terasa air mata Pram turun dengan sendirinya yang semakin lama semakin membuat dada Pram terasa sesak. Setelah semua kekesalan Pram terlampiaskan dengan menangis. Perlahan Pram mencoba mengatur napas kembali.


Setelah sedikit merasa lega kini aku hanya duduk saja, memandang ke luar jendela dan tak berani membuka tirainya. Karena aku tahu ada sosok bayangan yang berdiri di sana.


Aku masih memandang keluar saat sosok bayangan itu beranjak pergi dari jendela kamar. Sudah pukul satu malam, tapi mata Pram belum terpejam. Membuka tirai jendela kamar. Membuka jendela membiarkan angin malam masuk ke kamar, memilih duduk di bingkai jendela menatap langit malam, hanya gelap tak ada rembulan dan bintang tapi aku senang menatapnya tenang, inilah yang Pram rasakan.


Hingga subuh datang Pram baru beranjak dari duduknya, memilih langsung mandi dan shalat.


Melangkah ke dapur membuat minum dan meneguknya hingga habis.


Ibu melihat dengan heran saat ibu keluar dari kamarnya. Menatap sesaat dan meminta Pram untuk duduk. "Ada apa Pram, matamu bengkak, kau habis menangis?" tanya ibu pelan. Aku menggeleng," aku tertidur tengkurap Bu," jawab Pram berbohong.


"Pram, ceritalah jika kau perlu teman untuk bicara ibu siap mendengar Nak."


Lagi-lagi Pram menggeleng, untuk menutupi hatinya. "Pram mau siap-siap Bu dan untuk nanti Pram pulang ke rumah kota saja Bu selama ujian boleh kan?" pinta Pram pada Ibu. Melihat mata sembab Pram akhirnya dengan tersenyum ibu menghiyakan.


Setelah bersiap masih pagi aku sudah berangkat, setibanya aku menuju perpustakaan tempat favorit faforit Pram ke dua. Duduk sedikit ke ujung bukanya untuk belajar tapi Pram langsung merebahkan kepalanya di meja sembari memejamkan mata.


Aku terbangun saat seseorang menepuk bahuku dengan lembut. "Hai Pram ujian bangunlah," ucap suara ini pelan.


Seketika aku terbangun melihat sosok yang ada di depanku. "Tania? Bangunlah jangan turuti hatimu ingat kau harus menyelesaikan ujian ini," ucap Tania.


"Bergegaslah. Seketika aku melihat jam masih kurang lima menit ucap Pram."


Dengan sedikit tergesa memasuki ruang kelas saat ujian sudah di mulai, melihat kedatangan Pram sedikit terlambat Pak Dosen hanya menggeleng-gelengkan kepala sembari memberiku lembar soal dan kertas jawaban.


Aku tak memperdulikan perhatian semua yang hadir memilih bangku kosong dan mengerjakan dengan cepat dan berlalu keluar dari kelas karena hari ini hanya ada satu ujian akhirnya aku memilih pulang ke rumah kota sesuai ijin Pram pada ibu.

__ADS_1


__ADS_2