OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 99 . SEMUANYA BERJALAN DENGAN BAIK


__ADS_3

Mas Rian keluar dari kamar saat pukul satu siang, karena aku merengek kesakitan saat berjalan, "ya, sudah mas ambilin ya?!"


Aku hanya mengangguk pasrah, cukup lama mas Rian keluar dan kembali dengan nampan berisi makanan, kue dan minuman.


Ku tatap sejenak wajahnya, nampak merah


"Kok lama mas?"


"Ada ibu Pram!!"


Kemudian duduk di sampingku dan meletakkan nampan nya "mas sudah makan? hanya anggukan yang ku terima.


"Itu kenapa wajahnya kok merah?! sembari ku suapkan satu sendok makan nasi dan lauknya.


"Biasa mak Sunar, asal ngomong aku jadi malu.


"Pram .... "ternyata yang di beri ke kita itu bukan jamu anti masuk angin" terdengar suara mas Rian sedikit pelan.


"Lantas ....."


"Jamu kuat" ucap mas Rian lagi.


Seketika aku tersedak mendengar ucapan mas Rian.


"Maaf ya" sembari mencium keningku.


"Sudah gak apa-apa, mas itu kan sudah menjadi hak mas Rian dan lagian aku juga suka.


Mendengar ucapan ku mas Rian tersenyum sembari terus mencium ku "ih....gak sekarang aku takut nanti di atas kasur terus , lagian masih sakit mas!!"


"Terus Pram, lihat ini !"


"Ih ....gak mas, lagian rasanya gak nyaman dan kini aku menarik mas Rian sedikit mendekat dan membisikkan sesuatu ke telingannya dan setelahnya mas Rian tertawa terkekeh.


Terdengar pintu di ketuk, saat mas Rian membuka pintu kamar, terlihat mak Sunar membawa sesuatu di ember "Nak Pram ini dari ibunya nak Rian sembari meletakkan di bawah, nampak airnya mengepul dan wangi.


"Ini harus segera nak sebelum airnya dingin, mau mak bantu?"


"Biar aku sendiri mak dan terima kasih" ucap mas Rian sembari menutup pintu kamar.


Setelahnya aku langsung ke kamar mandi menyiapkan ini untuk Pram berendam.


"Pram sudah siap, cepat sebelum dingin."


Dengan pelan Pram beringsut dari ranjang dan turun, berjalan perlahan menuju kamar mandi.


Melihat jalan Pram, aku jadi kasihan akhirnya dengan cepat aku menggendongnya menuju kamar mandi.


"Mas keluar saja ya, jangan ganggu dulu nanti kalau selesai pram panggil."

__ADS_1


Saat ini aku benar benar menurut meninggalkan nya sendiri di kamar mandi.


Sepuluh menit, lima belas menit hingga setengah jam Pram belum keluar dari kamar mandi dengan penasaran aku mengintipnya.


Aku langsung merangsek masuk ke dalam kamar mandi, saat mengetauhi Pram tertidur di bath tub.


Segera mengambil handuk, membungkus tubuh Pram dengan cepat, aku baringkan di ranjang "Pram .... sembari ku goyang tubuhnya.


"Pram .... kembali aku memanggilnya hingga beberapa menit kemudian, terlihat matanya terbuka.


Sesaat menatapku "maaf aku ketiduran."


"Jangan ulangi lagi Pram " kini mas Rian sudah merangkulku dan mendekapku erat.


"Berrrrr .... dingin mas, tolong bajuku."


Mengambil baju di lemari dan membantu memakai kan.


"Mas mana cd dan bra ku" tanyaku dengan sedikit heran .


"Sudah gak pakai itu" ucapnya sembari tersenyum.


"Ah...aku gak nyaman mas, kalau begini mas yang suka" ucapku sembari turun dan berjalan menuju lemari.


Masih belum sadar dengan gerakku, tapi mas Rian langsung berjalan mendekatiku.


"Sudah sembuh Pram? sembari meletakkan barang yang ku ambil, kembali ke dalam lemari.


Kembali membara di siang hari dengan hembusan napas yang memburu dan ******* ******* yang ku keluarkan.


Dan benar sehari ini aku tak keluar kamar, karena sibuk dengan pelajaran yang di berikan mas Rian.


Dengan keringat yang meleleh kami mengakhiri pelajaran ini, terkulai lemas dan tertidur dengan lelapnya hingga terdengar adzan isya aku baru terbangun.


Melihat gerakanku mas Rian mendekat "mandi Pram, air rendamannya sudah mas siapkan"


Sembari menatapku dengan senyum, menuju kamar mandi nampak mas Rian menungguku hingga aku selesai dan membantu ku untuk ini dan itu setelah shalat isya, aku keluar dari kamar untuk makan malam.


"Pram ... hijabmu" sembari menyerahkan hijabku dengan tersenyum aku meraihnya dan memakainya, sejenak mematut diriku di kaca


aku sedikit terkejut melihat bibirku.


"Ih .... kok jadi gini mas, sembari meraba dan memonyongkan bibirkum


"Ayo Pram, sudah di tunggu ibu, malam ini kita istirahat karena besok kita ke kampus"


ucap mas Rian lagi.


Waktu berlalu begitu cepat, setelah wisuda kini aku dan mas Rian menjalani kehidupan rumah tangga dengan tenang, berusaha membuka usaha baru dan mas Rian di samping bekerja juga ikut ikut terjun membantu mengawasi di sawah.

__ADS_1


Ibu kini juga mulai mengurangi kegiatan di sawah lambat laun secara perlahan semua urusan di sawah di beban kan pada ku dan mas Rian.


Ibu lebih memilih mengisi kekosongan waktunya dengan mengaji.


Belum genap setahun pernikahan ku ibu sudah mulai membangun mushola nya, sesuai dengan rencana awal tak mengubah letak makam yang di sampingnya.


Meskipun dalam tahap pembangunan mushola ada hal-hal yang sulit di nalarkan, namun semua bisa teratasi dengan mudah.


Pembangunan mushola cukup memakan waktu hampir satu tahun hingga semuanya beres dan rapi.


Setelah melalui diskusi antara aku, ibu, mas Rian dan bu Asih, akhirnya mushola itu di beri nama AN NUR, awalnya ibu menolak tapi akhirnya ibu menyetujui juga.


Mushola yang cukup besar, masih ada lahan di kanan dan kiri mushola ini dengan halaman depan yang masih luas.


Setelah semua di nyatakan bersih dan siap pakai, akhirnya kami meresmikan pembukaan mushola ini dengan mengundang seluruh warga dan anak anak mengaji.


Dan kelebihan yang aku miliki pun, tak begitu aku lebih-lebihkan atau pun memamerkan pada orang lain dan aku pun sengaja ingin membuangnya perlahan dan satu persatu.


Namun keinginan ku itu harus aku pendam dalam-dalam saat aku di nyatakan hamil setelah sakit hampir satu minggu.


Mendengar kabar gembira ini dua ibu ku tersenyum bahagia, sujud syukur langsung di panjatkan, begitu juga dengan mas Rian wajah sumringahnya tak ujung surut dari bibirnya.


Kehamilan yang tak kusadari ini sudah menginjak usia tiga bulan sikap over protec mulai aku terima dari dua ibu dan mas Rian.


Setelah mengetauhi aku hamil, kini mas Rian juga sudah mulai belajar mengatur sesi jenguk menjenguk, kini lebih banyak untuk melakukan puasa senin kamis, aku tersenyum ternyata mas Rian mampu mengontrol egonya demi sang buah hati yang memang sedikit lama datangnya dan menginginkan yang terbaik untukku.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan tak terasa kehamilan ku hampir mendekati hari persalinan, tinggal satu minggu saat kontrol terakhir yang kami lakukan.


Dengan hati-hati mas Rian menuntunku naik ke mobil saat perutku kembali sakit dan kini sudah semakin sering.


Ke dua ibu dengan siaga berada di sisiku memberikan semangat dan selalu membisikkan doa-doa keselamatan di sepanjang jalan menuju rumah sakit.


Memasuki halaman Rumah Sakit, perut ku semakin mulas dan sakit.


Mas Rian yang sejak awal sudah menelefon Dokter langganan kami, akhirnya dengan cepat di tangani, begitu memasuki ruang persalinan tak membutuhkan waktu lama, karena sudah pembukaan lengkap dan siap untuk melahirkan.


Hanya berselang sepuluh menit terdengar suara tangisan bayi di ruang persalinan, tak lama kembali terdengar suara tangisan bayi.


Dua ibu langsung berpelukan "apa kita mendapatkan cucu kembar Asih?"


Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka seorang perawat meminta perlengkapan bayi "selamat ya bu, sekaligus dapat dua, dua bayi cewek yang cantik" ucap sang suster sembari menerima perlengkapan bayi.


Seketika dua ibu berpelukan, bu Asih dan bu Nur langsung menghubungi seseorang yang di percaya untuk menyiapkan ini dan itu.


sementara bu Asih menghubungi sesorang untuk memberi perlengkapan untuk aqiqoh.


Ke hebohan mereka terhenti saat melihat anak dan anak mantunya keluar dari ruang bersalin


dengan membawa dua bungkus ari-ari.

__ADS_1


"Ibu sudah menghubungi mak Sunar untuk membantumu dan ibu yang akan menenami Prameswari, "pulang lah dan segera kembali" ucap ibu memastikan.


Hingga semua urusan di rumah sakit selesai aku urus, pram dan dua bayinya di perbolehkan pulang, karena kondisi pram dan dua bayinya yang sehat.


__ADS_2