
"Maaf," ucap ibu sembari duduk di hadapan mereka. "Tolong bantu saya untuk hajatan kendurinya simbah."
Menyerahkan sejumlah uang kepada salah seorang dari mereka," tolong untuk hari ini sampai tujuh harinya Simbah, datang untuk bantu-bantu saya dan ini tolong saya di bantu belanja dulu, untuk kue dan nasi serta kardus nya sekalian," ucap Ibu lagi.
Nampak mereka semangat sekali dan mulai mengatur sendiri siapa yang belanja dan siapa yang membantu di sini.
" Oh, ya Bu, tolong semua bahan-bahannya di belanjakan sampai tujuh hari nggih."
"Tiga orang yang di tugasi belanja pun mengangguk mengerti," Pram mandi gih, setelah itu minta tolong, pada Mak Sunar untuk memanggil para pekerja yang di sawah, biar ibunya bantu-bantu di sini."
"Oh, ya nanti tolong ... belum selesai ibu bicara. "Mbak, masak di depan saja ya? tanya salah satu ibu-ibu. Aku dan ibu saling memandang faham dengan ketakukan mereka," hiya monggo di atur saja," ucap ibu.
Suasana sangat rame, tapi kesibukan fokus di halaman depan, mereka tak berani sama sekali ke dapur belakang, jika memerlukan sesuatu mereka menarik aku atau ibu untuk menemani. Sudah hampir magrib, saat mereka mengatur nasi dan kue untuk kenduri.
Tiba tiba satu dari mereka langsung berdiri mendekat," Nduk bude duduk sini ya," serunya pelan. "Nggeh Budhe ," jawab Pram ringan karena Pram tahu Mbak kunti sedang duduk di samping ibu ini tadi.
Aku hanya meihat dan mengusir toh, setan ya tetep setan bolak balik merasa ada banyak orang jadi Mbak kunti ini kepo banget.
Kenduri di lakukan selepas magrib para tetangga mulai berdatangan, ada yang berbisik-bisik, ada yang ngomong terang terangan mengatakan bahwa rumah ini singup dan angker, aku tak menampik itu toh nyatanya memang benar adanya.
Bacaan tahlil dan yasin telah di mulai rumah yang hampir tak pernah diisi dengan doa kini mulai di lakukan, aku menerawang jauh ke depan saat duduk bersama ibu-ibu di halaman.
Tak ada suara berisik daun sawo tapi dengan tiba-tiba di rimbunya daun sawo nampak sepasang mata besar dan merah menatap rumah ini dengan melotot.
Pram berusaha menahan napas sejenak, berusaha tenang agar para ibu-ibu tak lari dan meninggalkan semuanya. Ibu yang mengerti dari gerakan ku, juga berusaha bersikap sewajarnya.
Hingga kenduri selesai tak ada yang menyadari akan hal ini, aku sedikit merasa lega, masih menemani ibu-ibu beberes tak berapa lama satu persatu mereka pulang.
"Mbenjang kulo rantos nggih, kulo rantos saestu," ucap ibu memastikan meminta pertolongan mereka.
Seperti inilah kesibukan hingga tujuh hari Simbah. Pram pun juga sudah mulai masuk sekolah menginggat Pram sudah kelas tiga paling tidak lulus dulu dan untuk nilai itu bisa nanti pikir Pram meremehkan.
"Pram ... setelah tujuh hari Simbah sebaiknya kita pulang Pram," ucap ibu sembari membereskan surat-surat yang ada di lemari Simbah. "Nanti kita bisa bersih-bersih di sini pas hari minggu gimana?"
"Aku menurut saja," ucap Pram pelan, sembari menatap keluar.
__ADS_1
Hari ini hari terakhir kenduri Simbah seperti biasa semua sudah di tangani oleh ibu-ibu
di kampung.
"Jangan melamun," ucap Rian. "kapan ke rumah? tanyanya tanpa jeda ."
"Sudah sana masuk tahlilan dulu," ucap Pram dengan sedikit mengusirnya. "nggak hari ini spesial, aku mau duduk di sini saja nemenin kamu, mesti kamu ngelamun terus."
"Entalah Rian, sejak kepergian Simbah sebenarnya aku makin nggak tenang."
"Tentang rumah ini? aku mengangguk.
"Apa yang membuatmu risau Pram, semua sudah di atur ingat masih ada yang maha melindungi pasrahkan semuanya Pram, pasti nanti akan ada jalannya."
"Datanglah ke ibu Pram, aku sudah memintamu berkali-kali tapi kau ... "
"Hust ... suara bapak-bapak yang duduk di dekat pintu, saat mendengar percakapan kami.
Seketika aku dan Rian terdiam, kembali mengikuti bacaan yasin dan tahlil, tapi masih sama tatapan Pram masih tertuju pada pohon depan rumah ini, pikiran Pram serasa kalut dan tak menemukan cara.
Aku hanya menghembuskan napas kasar bersamaan dengan kata amin.
Saat tiba-tiba seorang ibu-ibu tertawa kencang dengan suara yang tak biasa.
"Mulai pikir Pram," aku masih menatap nya
tawanya makin keras dan besar.
Ibu-ibu yang lain langsung duduk merapat di satu sudut, meninggalkan ibu yang tertawa tadi.
"Pram ... kini tangan ibu sudah mencekal lengan ," tenang Bu kita tunggu saja," ucap Pram sembari menunggu ibu-ibu yang lain tenang.
Benar dugaan Pram, tak berapa lama tawa ibu ini berhenti," hey ... kowe balikno opo seng muk jupuk," seketika semua saling memandang.
"Siapa lagi pikir Pram," aku kini memposisikan diriku duduk bersila, hingga beberapa saat kemudian. "Wonten ingkang mbeto buntelan dateng pojokan dipan," tanya Pram tetapi mereka tetap diam.
__ADS_1
( Ada yang membawa bungkusan yang di ujung rannjang )
"Ngapunten niki seng gadah barang meniko mboten nrami," nyuwun barange di pun balek aken dateng panggenane ."
( maaf , ini yang punya barang minta barangnya minta di kembalikan ke tempat asalnya )
Aku sedikit tersenyum mengetauhi yang sebenarnya, tak berapa lama kemudian ada ibu-ibu yang berdiri dan menaruh kembali benda itu ke tempatnya lagi.
"Maafkan saya," ucap ibu ini malu dan tertunduk. "Nggak apa-apa Mbakyu," ucap ibu meredam amarah ibu-ibu yang lainnya.
Wanita yang berteriak tadi seketika lemas setelah bungkusan itu di kembalikan. Ibu segera membantu menyadarkan karena ibu itu pingsan. Sudah malam hujan masih belum reda.
"Sebaiknya menginap di sini saja Bu, hujan juga semakin deras," ucap Pram. "Mak Sunar bantu saya ya?" ayo Nduk," ucapnya sembari berdiri, mengajak Mak Sunar ke belakang untuk mengambil beberapa karpet.
Tak berani menanyakan ini dan itu hanya pandangannya saja yang sesekali melirik kesana kemari.
Saat melewati kamar Simbah tiba-tiba Mak Sunar memegang tangan Pram erat," kenapa Mak?"
"Nduk peteng tenan iki, opo maneh kamar sisiku iki."
"O ... itu kamar Simbah Mak," ucap Pram pelan.
"Biyuh-biyuh juragan Rum kok wani manggon omah semene gedene ijen sisan," ucap Mak Sunar.
( Aduh aduh juragan Rum kok berani tinggal di rumah segini besarnya sendiri lagi )
" Ayo Mak," sembari ku berikan satu karpet ke Mak Sunar. Secara tiba-tiba Mak Sunar menjatuhkan bawaanya dan terduduk di lantai.
"Ada apa Mak," tanya Pram heran. "Aduh siapa yang lewat tadi Nduk, aku kok kaget."
"Siapa Mak," tanya Pram pura-pura tidak tahu.
"Mboh Nduk, opo aku seng ketok ketok en," ucapnya sembari mengambil karpet itu lagi.
( Gak tahu nduk mungkin saya yang terbayang bayang )
__ADS_1
"Pelan-pelan Mak," ucap Pram mengingatkan."
Masih seperti ini rumah Simbah, semakin lama hujan semakin deras seakan tak mengijinkan para biodo kenduri Simbah untuk pulang.