OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 116 . UNDANGAN UNTUK KINARA


__ADS_3

Pagi ini semua nampak lelah , terutama untuk Kinara dan Kinanti , berjalan menuju meja makan sembari sesekali menguap .


" Eh....cantiknya ibu , tumben masih ngantuk ? tak menjawab ucapanku kini menyandarkan kepalanya di meja makan sembari menunggu sarapan siap .


"Bu nanti siang , bikin mie yang kemarin ya ? ajari aku biar bikin sendiri " , ucap Kinara .


"Hm....boleh, tapi tunggu kalian pulang sekolah dulu, coba siapa saja yang mau bikin


nanti siang ? tanyaku lagi .


"Aku mau" ucap Kinanti dengan malas.


"Bu, Lintang di tunggu loh nanti, karena Lintang harus lihat pengumuman dulu bu , yang waktu itu lomba baca al Quran" ucap Lintang dengan serius.


"Oke, nanti ibu tunggu dan semoga berhasil Lintang" ucapku dengan meletakkan roti , susu hangat dan misis.


"Nah, Arion kok diam, berarti nanti gak ikut buat mie" yang ku tanya masih dalam mode cemberut.


"Arion ....kembali ku panggil "hiya aku mau tapi nanti aku mau yang banyak pentol dan sosinya" ucap Arion dengan cemberut.


Mas Rian yang baru turun pun, langsung menghampiri meja makan, menatap satu persatu anaknya. "E...anak bapak kok cemberut" sembari menoel noel pipi Arion.


Yang di goda malah ngambek "Ah....bapak."


semua sudah siap di meja makan, sembari menunggu anak-anak sarapan, aku juga menyesap kopiku dan sesekali mencelup roti dalam kopiku.


Ternyata sedari tadi Arion melihat ku, tanpa aku minta Arion langsung turun dan mendekat


"Arion juga mau bu" kini duduk di pangkuanku mengikuti caraku menikmati kopiku.


"Hm....ternyata ini enak dan mantul, kak Lintang kalau mau coba sini !sebelum aku habiskan" tawar Arion pada Lintang.


Seketika mas Rian tertawa melihat kelakuan Arion "coba lihat bu, cucumu kelakuannya mirip sekali dengan Pram, Arion, lihat makanmu juga belum habis" ucap mas Rian mengingatkan.


"M....ini lebih enak pak, aku sudah kenyang" ucapnya sembari turun dari pangkuanku.


Ternyata semudah itu membuat Arion tersenyum benar kata mas Rian Arion mirip sekali denganku wajah milik mas Rian tapi karakternya mirip dengan ku.


Semua telah bersiap dan berangkat, tinggal aku beserta dua ibu dan dua mbak di rumah.


"Mbak saya mau istirahat sebentar, nanti kalau mbaknya sudah selesai buruan istirahat keburu anak-anak datang, maaf ya mbak pasti semalam mbak gak bisa tidur" ucapku sembari naik keatas.


Memasuki kamarku dan langsung merebahkan diri di ranjang. Dengan cepat aku terlelap, entah hingga hampir dhuhur aku terbangun.


Suara Arion sudah terdengar di ruang tengah dengan mbak Yas.


Entah apa yang mereka, tonton hanya terdengar suara Arion tertawa sesekali.


Bergegas mandi dan shalat dhuhur, mengingat sebentar lagi anak-anak datang dan berjanji akan membuatkan mereka mie.


Setelah selesai, aku turun sudah nampak Lintang duduk di sebelah Arion dengan memegang sesuatu.


Melihatku turun Arion dan Lintang langsung tersenyum, Lintang langsung datang menghampiriku dan menyerahkan amplop yang di bawanya sembari tersenyum bahagia.


Dengan penasaran aku membuka amplop itu seketika aku cium anakku "selamat ya nak akhirnya kau menjadi juaranya" kini ku cium seluruh wajahnya.

__ADS_1


"Nanti kasih tunjuk sama bapak dan simpan baik-baik ini nak, karena surat ini syarat untuk mengambil tropy dan hadiah nya, biar bapak yang ngantar nanti" ucapku panjang lebar.


Yang ku ajak bicara hanya mengangguk saja dan lari ke atas, sesaat kemudian sudah kembali lagi ke bawah.


"Mbak siang ini, masak secukupnya saja, anak anak mau bikin mie, tapi biar saya dan anak anak yang kerjakan nanti" ucapku sembari mengeluarkan bahan bahannya.


Tepat pukul dua Kinara dan Kinanti baru datang dengan bergegas mereka berganti pakaian dan turun ke bawah, tanpa aku minta mereka langsung turun ke dapur membantu ini dan itu sambil sesekali mengamati ku sementara dua jagoanku memilih menyiapkan mangkuk dan sendok serta gelasnya.


Suara tawa anak-anak rupanya membangunkan sang nenek, hanya tersenyum saja melihat keramaian di dapur dan memilih duduk di ruang tengah.


Semuanya sudah siap, makan siang juga sudah tersedia sedikit terlambat tapi menurutku bukan masalah yang penting mereka mau.


Saat keramaian di meja makan terjadi, mas Rian juga nampak sudah datang, senyumnya langsung terkembang "harumnya hingga teras" ucap mas Rian.


Duduk di antara anak-anak "bu ....punyaku tambahin cabe ya? lima biji" ucap Rian.


Dengan segera aku mengambil cabe merebusnya sebentar dan melumatkannya dan memasukkan dalam mangkuk mas Rian.


Anak-anak langsung menatap bapaknya sementara dua nenek hanya memandangnya sembari tersenyum.


Dengan wajah berkeringat karena kepedasan membuat anak-anak penasaran, Kinara langsung datang mendekat dan menyendok kuah mie mas Rian.


"Bu, ini sih enak banget" ucapnya sembari kembali menyendok kuahnya.


Wajah Kinara langsung memerah karena pedasnya.


"Kinara" panggi ku "jangan makan itu punya bapak pedas sekali, sssttt nanti perutmu sakit" ucapku sembari menyuruhnya duduk di tempatnya kembali.


Makan siang menjelang sore ini, berakhir dengan ludesnya mie dan masakan mbak yas dan mbak Ning.


Semua tak luput dari penglihatanku sementara Arion sudah tertidur di sofa ruang tengah.


Aku tersenyum melihat Arion aku hanya duduk saja di samping nya sembari menunggunya tidur, entah aku sendiri akhirnya tertidur juga di sisi Arion.


Terbangun saat mas Rian membangunkan aku dengan mengusap usap pipiku, begitu melihatku terbangun "pindah ke atas Pram, malu di lihat mbak nya" ucap mas Rian dengan sedikit menggerutu.


"Aku kok ya ketiduran mas, lah maksudku cuma mau nemenin Arion" ucapku sedikit malu.


"Tungguin Arion mas, aku tak mandi dulu, kok gerah banget."


Tak berapa lama aku mandi, mas Rian sudah naik dan masuk ke kamar, terdengar pintu kamar di kunci.


Di dalam kamar mandi aku segera keluar, benar mas Rian sudah menutup semua tirai jendela nya, aku hanya menelan ludahku saja 'alamat ini pikiran mesum ku mulai menari nari'


"Masih sore mas, habis ini juga magrib" ucapku lagi, seperti tak mendengar kata-kataku mas Rian langsung saja melancarkan aksinya di sore hari.


Suara adzan magrib menghentikan semua serangan mas Rian dengan tergesa menuju kamar mandi "kan....jadinya aku mandi lagi" yang ku ajak bicara hanya tersenyum saja.


"Buruan Pram, nanti anak-anak ke lamaan nunggu di mushola" ucap mas Rian sembari melangkah ke luar.


Sengaja aku tak shalat di mushola, memilih shalat di kamar hingga mas Rian kembali masuk saat aku melipat sajadah dan mukenaku.


"Pram...kado apa yang cocok untuk Lintang dan aku juga sudah berjanji" ucap mas Rian sembari menatapku.


"Tanya Lintang saja mas maunya kado apa?"

__ADS_1


Kini aku langsung naik ke ranjang, hanya ingin bermalas-malasan saja sembari menunggu shalat isya dan makan malam.


Setelah shalat isya, aku bergegas turun, membantu mbak Yas dan mbak Ning menyiapkan makan malam.


Semuanya sudah berkumpul kini tinggal Kinara yang belum turun.


"Kinanti, Kinara mana? Kinanti langsung menoleh, "m....katanya mau nyelesaikan gambarnya bu, nanti juga turun" jawab Kinanti memastikan.


Setelah makan malam, mereka bergegas naik begitu juga dengan ku, hingga hampir jam delapan malam Kinara juga belum turun.


Melangkah ke kamar Kinara tapi langkahku terhenti saat mas Rian menarikku "biar dia butuh waktu untuk dirinya Pram, pantau saja dari jauh" ucap mas Rian sembari menutup pintu.


Namun di dalam kamar Kinara tak seperti yang mereka bayangkan, ke khawatiran Pram teryata beralasan.


Saat ini Kinara dengan diam-diam tengah melakukan perjalanan dengan di dampingi dua Harimau putih Kinara berjalan menuju tempat undangan yang di terimanya secara gaib.


Berjalan ber iringan, suasananya seperti suasana dan keadaan sekitar rumah ini tapi ada energi berbeda di sini, sosok-sosok ini saling menatap heran padaku dan melihatku dengan tak suka, dua Harimau yag di sebelah kanan dan kiriku menatap siaga.


Hingga aku tiba di sebuah istana yang indah, dua Harimau ini semakin meningkatkan kewaspadaanya.


Langkah Kinara terhenti saat ada dua dayang cantik keluar dari pintu gapura, tak ada percakapan antara kami hanya gerak tubuhnya yang mengisyaratkan semua nya.


Kembali dua dayang ini meninggalkan aku di tengah sebuah aula besar dengan pilar-pilar terbuat dari emas dan singgasana yang indah.


Aku tak tahu tempat apa ini, tapi yang jelas ini seperti istana yang megah.


Muncul banyak sekali dayang-dayang dengan pakaian yang sama, cantik dan seketika aku sedikit terkejut 'jangan takut aku ada di belakangmu, Kinara jangan sekalipun kau memberi hormat meski kau tahu siapa dia.'


Suara yang berbisik ini langsung melesat masuk dalam tubuh ku 'biarkan aku yang berkomunikasi melalui mu Kinara' ucap sosok ini.


Benar aku tahu siapa sosok yang kini sedang menatapku dan aku pernah menggambarnya dan aku bertemu dengannya lewat mimpi.


Wanita cantik ini tersenyum dan menatapku tajam 'Ternyata kau, aku hanya ingin mengenal penerusmu, kenapa kau selalu mengikutinya, dulu aku belum bisa mengundang ibu anak ini karena, dia lebih menolak dulu dari semua ajakan ku lewat mimpi mimpinya dan Rum .....itu selalu menghalangiku, tapi kini aku senang karena gadis cantik ini mau menerima undangan ku' kini sosok ini tersenyum mengerikan.


'Karena kau telah mengusik kembaran gadis ini, apa untungnya kau mengusiknya, gadis ini hanya penerus pilihan ku saja, bahkan dia tak seperti ibunya' ucap Kinara yang tengah di rasuki oleh sang leluhur.


"Kau ....selalu menutupi kemampuannya, karena aku tahu gadis ini akan melampui batasan ibunya dan dia akan lebih dari ibunya karena sifat dan karekternya sangat mendukung sekali' ucap wanita cantik ini.


"Dan kau tahu, sosok yang aku kirim di Mall waktu itu dan merasuki kembarannya itu adalah utusanku dan saat ini dia tengah terluka meskipun dia terlihat biasa saja' lalu sosok wanita cantik ini, secara cepat menunjukkan sosok yang menganggu Kinara dan Kinanti.


Saat ini Kinara hanya tersenyum dingin 'aku, tak pernah menyalahi aturan kalian, kalian yang mengangguku lebih dulu, sekarang apa maksudmu mengundang ku ke dunia mu yang tak ada gunanya ini, kau hanya membuang waktuku saja.'


"Hei kau wanita ular, kau hanya menganggu waktuku saja' ucap Kinara mengingatkan.


Tanpa banyak bicara lagi, Kinara langsung membuat pusaran angin yang cukup besar dan membuat beberapa dayang terhuyung dan jatuh.


'Katakan apa mau mu jika kau secara diam diam berusaha menganggu keluargaku, di masa kini dan masa masa yang akan datang, aku sendiri yang akan menyelesaikannya' dengan tenang kini Kinara diam hanya menunduk kemudian menghentak kan kakinya tiga kali ke tanah 'ini adalah tanda dariku jika kau menganggu atau berbuat curang pada keluargaku, jangan salahkan jika apa yang aku tanam di sini akan merusak istanamu ini' ucap Kinara memastikan.


'Dan jangan pernah memanggilku ataupun mengangguku' ucap Kinara dengan mata melototnya.


'Ayo loreng kita pulang, tak ada gunanya kita berlama-lama di sini' kini dengan cepat aku sudah kembali ke kamarku.


Dengan sedikit mengatur napasku, aku kembali tenang.


Sudah tengah malam, sembari menguap Kinara membaringkan tubuhnya dan terlelap.

__ADS_1


__ADS_2