OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 69 . AKHIRNYA


__ADS_3

Setelah kepergian Hanifa dan Rina sekilas aku menatap ibu Rian. Nampak dari wajahnya ternyata memendam rasa tak suka pada Hanifa.


"Tante panggil Pram. Tante Asih tersenyum saat melihatku, aku langsung menghampirinya dan merangkulnya dengan erat. "Eh, ada apa kok tiba-tiba begini? Terima kasih tante dan maafkan Pram sudah membuat tante repot kini aku melepas rangkulan ku," Pram langsung meraih tangannya untuk dicium.


"Pram," ucap Ibu Asih sembari menegakkan tubuh Pram dan mengangkat wajah Pram. "Tante sudah memaafkan, ini semua karena kebodohan anak Tante juga," kemudian mendekatkan bibirnya dan membisikkan sesuatu ke telingaku dan itu sangat membuatku terkejut.


"Benar tante?" tanya Pram terkejut. "Hem, sungguh," jawab Tante kemudian sambil mengajak Pram duduk.


"Oh ya, jangan lupa besok sore bersiap-siap


ibumu tadi pagi sudah menceritakan semuanya. "Anak bandel," ucap tante lagi.


"Pram kau bertemu dengan suhu wigati? tanya tante dengan semangat. "Ya Tante," jawab Pram pelan.


"Setelah ini berhati-hatilah jangan menggunakan sembarangan dan sehari ini kamu sudah mengerjai Hanifa kan?" tanya Tante Asih dengan tatapan menyelidik.


"Hiya Tante," mendengar jawaban Pram bukannya marah tapi malah tertawa. "Anak seperti itu memang harus di beri pelajaran," ucap Tante Asih tiba-tiba.


Kini tante Asih memilih berbicara dengan berbisik. "Pram, dengan sesekali menatap ke dalam. "kau tahu ... secara tiba-tiba Tante Asih menghentikan ucapannya.


"Ayo, aku antar pulang," ucap Rian tiba-tiba.


"Jika kau kelamaan di sini ibu pasti akan cerita macam-macam," sembari menarik tangan Pram keluar.


"Ih ... pamit dulu," ucap Pram sembari melepas tangan Rian.


"Tante Pram pulang ya? Terima kasih untuk semuanya," ucap Pram lagi.


Tante hanya tersenyum menghantarkan aku hingga depan pintu, dari jauh nampak anak anak mulai berdatangan untuk mengaji, hingga beberapa anak sudah sampai lebih dulu.


"Mas ... kapan di bagi mienya lagi," ucap salah satu anak dari mereka.


"Tenang nanti pasti Mas bagi lagi, pandai pandai mengaji dulu," ucap Rian sembari mengusap kepala anak itu.


"Sudah juz berapa?" tanya Rian pada anak itu. "Juz lima," jawab si anak.

__ADS_1


"Ok, hafalkan itu siapa yang hafal nanti Mas bagi mie satu mangkuk dan alat tulis juga tas bagi siapa yang bisa menghafal," ucap Rian memberi harapan.


"Siapa yang mau berlomba untuk menghafal seketika beberapa anak mengangkat tangannya.


"Kamu," tunjuk Rian. "Aku ? namaku Saiful, jawab anak ini dengan menyebut namanya. "Catat siapa saja yang ikut dan tulis juz nya satu bulan lagi kakak yang menguji."


"Seketika semua anak bersorak. "Saiful jangan lupa catatanya titip pada ibu Mas ya?"


"Ayo, kini Rian sudah mengajak Pram untuk pulang.


"Mas ... kakaknya kok beda?" tanya seorang anak sebelum kami benar-benar pergi. Mendengar pertanyaan seperti itu Rian langsung menutup telinga Pram. "Jangan dengarkan," ucap Rian sembari melajukan motornya.


Berhenti di depan halaman rumah Simbah Rum yang masih sama seperti dulu, kini aku melangkah menuju halaman menatap sejenak pohon yang berdiri kokoh dengan daunnya yang rimbun dan buahnya yang nampak mulai bermunculan. 'Kamu indah tapi tak bisa di sentuh,' ucap dalam hati Pram.


Menatap tiga makam di bawahnya, duduk beberapa saat untuk memanjatkan doa dengan tanpa aku sadari Rian sudah ikut duduk di samping Pram. Setelah kata Amin yang Pram ucapkan. "Kenalkan aku pada ayah mu Pram? pinta Rian. Kau sudah mengenalnya," ucap Pram pelan.


"Kenalkan aku sebagai calon suamimu," ucap Rian sembari berbisik.


"Sudah tadi dalam doaku."


"Rian menepilah sedikit atau pulang saja karena aku masih harus menyelesaikan sesuatu," ucap Pram pelan.


Duduk bersila menenangkan hati sejenak secara tiba-tiba mulut Pram kini sudah komat kamit membaca sesuatu, melepas sejenak kalung yang Pram pakai dan kembali merapal mantra dan seperti ada yang menuntun Pram.


Setelah rapal mantra selesai Pram ucap kini Pram berdiri sedikit mendekat ke arah pohon sawo. Angin yang tadinya bertiup sedikit tenang kini mulai meniup daun-daun sawo dengan sedikit kencang mengeluarkan suara berisik beradu dengan suara angin menimbulkan suara gesekan yang menyakitkan telinga.


Namun tak menggoyahkan niat Pram untuk mengembalikan kalung ini, semakin mendekat semakin Pram rasakan ada sesuatu yang mendorong tubuh Pram, hingga dua kali mencoba tapi masih gagal.


Kembali Pram merapal mantra dengan menghentakkan kaki tiga kali ke tanah semua suara ribut perlahan surut menghilang dan kembali sepi.


Langkah Pram kini semakin dekat. "Dari sini kamu datang dan kembalilah ke asalmu," ucap Pram sembari menancapkan tusuk konde itu. Perlahan namun pasti benda itu menghilang ke dalam pohon itu.


Setelah semuanya masuk dalam pohon itu kini keluar cairan merah yang mengalir dan lama-lama cairan itu mengeras dan seperti membeku, lama Pram berdiri menatap pohon ini hingga suara teriakan Rian mengejutkan. "Awas ... itu yang Pram dengar.


Seketika aku menoleh bukan sesuatu yang melukai Pram. Tapi kini sosok menyedihkan muncul tertawa melihat Pram dengan menyeringai.

__ADS_1


"Apalagi yang kau cari pergilah," ucap Pram tenang. Kembalilah ke asalmu dan masih bertahan di sini apa yang kau harapkan."


"Lihatlah ada yang menantimu tidakkah kau kasihan? Biyungmu sudah menunggumu sekian lama hanya demi untukmu Sri!! Tak ada lagi yang menunggumu selain Biyungmu buang sakit hatimu."


Lama Srikanti menatap Pram. "Bantulah aku," ucapnya kemudian dan pelan. "Aku tidak berjanji tapi akan ku hantar dengan doa," ucap Pram pelan juga.


"Srikanti, nama Biyungmu?" tanya Pram lagi. "Sama dengan namamu," Srikanti sembari tersenyum.


"Jangan mencoba membohongiku ternyata kau belum sepenuhnya ikhlas untuk pulang dengan sedikit mantra yang Pram. Pram mencoba untuk berkomunikasi dengan Biyung Srikanti. Seketika aku mundur beberapa langkah, ternyata benar Srikanti mencoba untuk menipu Pram.


Dengan sedikit mendekat ke Rian aku mencoba kembali membaca doa. "Rian, bantu aku ikut mendoakan," pinta Pram sembari membisikkan nama Biyung Srikanti pada Rian.


Dengan khidmad dan ikhlas aku dan Rian membaca doa menyerahkan semuanya pada yang kuasa, tak lama terlihat sang Biyung sudah menggapai tangan Srikanti dengan senyum nya. Terima kasih," itu yang Pram dengar.


Semuanya berakhir saat matahari mulai redup sinarnya yang kuning kemerah-merahan memberikan suasana cerah di sore hari, memandang sejenak keindahan yang tercipta. Ayo pulang Mas Rian," ucap Pram sembari menarik tangan Rian. Akan gelap di sini kalau malam," ucap Pram dengan lelah.


Pria yang di samping Pram langsung terbengong mendengar panggilan dari Pram. "Sudah mulai sekarang, Pram akan memanggil terus seperti itu," ucap Pram lagi.


Malah berhenti diam di tempat. "Ayolah Mas, ini juga amanat," sembari Pram menyeret, Pram sudah capek," ucap Pram lagi.


Berjalan mengikuti Pram. "Hem, kau baik-baik saja?" tanya Rian bingung sembari memegang dahi Pram. Tak menjawab pertanyaan Rian. "Ayo pulang nanti aku cerita."


Melajukan motornya dengan tenang hingga di belokan. "Eee, kok ke rumah Mas, Pram pingin pulang, mandi terus istirahat."


"Aku pingin mandi dulu terus antar kamu Pram. "Ihh, keburu magrib," ucap Pram lagi.


Tanpa lagi berdebat langsung berbelok ke arah rumah Rian, tepat saat adzan magrib kami tiba di rumah Tante Asih, nampak ibu melihat kedatangan kami dengan bingung.


"Dari mana? begitu melihat Pram masuk bersamaan dengan Rian lalu mengamati dari atas sampai bawah.


"Mandilah," tak lama aku melihat Rian keluar lagi setelah berbisik dengan ibu dan ibu hanya mengangguk.


Selesai aku mandi nampak ibu sudah berdiri sembari memberikan baju pada Pram. "Ini?


Mas mu tadi yang ngambil di rumah," ucap ibu tenang.

__ADS_1


"Ahh, kenapa ibu biarkan! ucap Pram dengan cemberut. "Ayo lekas semua sudah menunggu," ucap ibu lagi. "Ah ibu," ucap Pram sembari masuk kamar mandi.


"Pram, cepat mandinya keburu maghrib habis, cepat!!"


__ADS_2