
Panggilan ku serasa menembus udara, ternyata ibu sudah pergi ke sawah dan aku "waduh ... sudah jam tujuh, bergegas mempercepat langkahku menuju keluar gang dan untung ada angkot yang masih ngantri," andaikan hari bukan dosen jurusan
yang mengajar pasti aku akan membolos ."
Dengan sedikit tergesa masuk ke dalam kelas karena sepuluh menit lagi kelas di mulai, memasuki ruang kelas mencari bangku yang kosong," Pram teriak Nurdin, sini masih kosong dengan terpaksa dan tak ada pilihan lainnya , akhirnya memilih duduk juga."
"Kenapa harus berdekatan dengan Nurdin omelku."
Begitu aku duduk Pak Dosen sudah masuk
dan mulai mengajar memperkenalan diri dan kemudian," saya absen dulu sembari berkenalan," ucap Pak Dosen, mengabsen satu persatu nama mahasiswa dan mahasiswinya hingga satu jam kedepan membahas materi kuliah memberi tugas yang harus di selesaikan secara mandiri dengan waktu satu minggu yang mana nantinya akan di bahas pertemuan minggu depan.
Dengan langkah bergegas aku keluar kelas kampus yang besar dan beruntung sekali kelas tak begitu jauh dengan area lapangan dan parkir.
Masih jam sebelas belum terlihat ada angkot yang lewat, menunggu dengan sedikit menepi dan sengaja menunggu di bawah pohon yang rindang karena semakin siang semakin panas.
Saat tiba tiba ada motor yang membunyikan klakson di depan ku tin, tin.
Hanya ku lirik sesaat , bertepatan dengan angkot yang aku tungu akhirnya datang juga, tanpa menghiraukan motor yang berkali-kali membunyikan klakson.
Memilih duduk di depan toh nyatanya di belakang juga penuh.
Menatap jalan raya hilir mudik pengguna motor dan mobil seakan berlomba ingin sampai lebih dulu, aku sedikit tersenyum melihatnya.
Tak lama sampai juga di depan gang memilih berjalan sedikit menepi. berhenti sejenak.
"Andaikan punya motor lantas siapa yang mau ngajari aku, mungkin les privat kali," omel Pram sembari melangkah.
Kembali terdengar suara klakson berbunyi tin, tin ... karena risih," toh aku juga jalan sudah menepi," jawab Pram dengan wajah juteknya dan siap mendamprat. Seketika aku berbalik, laki-laki ini melepas helmnya," loh ... ucap Pram seketika. Aku menunduk," kok jadi malu," cicit Pram lirih. "Hei, Pram," sapanya.
"Rian ... kok balik, kuliahmu terus ... kini sudah menarikku dan memaksa duduk di boncengannya," tinggal dua rumah," jawab Pram. "Biar cepat," kata Rian lagi.
Dua minggu tak bertemu seperti banyak perubahan pada diri Rian semakin manis, bersih, tinggi dan ... "wei kok melamun"
ucap Rian sembari menoleh kearahku.
"Turun nggak? atau mau aku gonceng terus," ucapnya sembari tersenyum, mendengar ucapannya seketika aku turun.
"Kok pulang, lalu kuliahmu biar nanti kalau bolosan gak lekas kelar," ucap Pram sembari masuk halaman. "Lah, di tinggal," terdengar suara Rian dari belakang.
__ADS_1
"Pram ... ucapku langsung mengekor di belakang Pram," nggak bolos sih, ini ada dua hari libur lumayan bisa pulang, ngobati yang kangen," ucap Rian sembari tersenyum.
"Coba kalau gak ada yang kangen, nggak bakalan pulang aku," ucapnya lagi.
Seketika wajah ku merona ini yang dari tadi aku hindari," e ... malah dia ngomong blak blak kan.
"Siapa yang kangen," ucap Pram sembari berjalan ke teras mencoba untuk menyembunyikan malunya.
"Hai Rian, aku sepi, hei Rian aku pingin cerita, hei ... Rian nggak ada teman sepertimu dan bla bla .... hei Rian aku ...."
Seketika mulutku langsung di bekap oleh Pram," kan mesti terus di ucapkan."
Hingga beberapa saat kami sama-sama terdiam, saat tiba-tiba terdengar suara tawa pelan Pram.
"Hehehe ... hiya sih, aku kangen banyak hal yang pingin aku ceritakan," ucap Pram kemudian.
"Terus jam berapa kamu berangkat, kok jam segini sudah datang.
"Lah memang aku kuliah jauh di mana Pram? ucap Rian lagi.
"Hehehe ... hiya," ucap Pram. Kemudian berdiri," mau minum apa? tanya Pram. "Teh saja, tapi aku kangen mie buatan mu Pram, mau kan masak mie untukku?
"Sebentar," ucap Rian dengan sedikit berlari, aku melihat Rian keluar dan memarkir motornya dekat teras.
Melihat ini muncul ide jahat ku dan kini aku sudah senyum-senyum sembari menatapnya.
"Pasti punya niat jahat," ucap Rian sembari menyusul langkahku.
Setelah sampai di dapur aku melihat isi kulkas mengeluarkan telur, sosis, tomat dan cabe mau di tambah pentol atau sayur tanyaku kita bikin tiga ya?
"Terserah Pram, yang penting makan mie buatan mu. Berkutat berdua di dapur hingga sampai mie siap di santap.
Hingga beberapa menit kemudian," Biuh, banyak sekali ini, terus siapa yang menghabiskan? tanpa aku jawab langsung aku menunjuk ke Rian.
Sudah ashar saat ibu pulang, melihat aku dan Rian masih meletakkan mangkoknya begitu saja ibu tersenyum.
"Lah kapan datangnya? kan baru masuk kuliah Rian, tak menjawab tapi tersenyum.
"Ada yang kangen tante! jadi Rian sempatkan untuk pulang tante?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Rian ibu langsung masuk ke dalam, dari gelagatnya pasti ibu yang menambah tulisan aku kangen.
"Ayo katanya mau cerita atau kita jalan-jalan Pram? ajak Rian. "Malas," itu yang aku dengar dari bibir Pram sembari duduk berselonjor kaki. "Ya, sudah kalau gitu cerita saja."
Tanpa aku minta dua kali Pram menceritakan semua yang terjadi di kampus dan di kampung dengan antusias, sesekali aku menanggapi dengan tersenyum dan tertawa menatap wajahnya, masih Pram yang dulu yang masih suka ceplas ceplos dan srudak sruduk.
Beberapa kali menguap karena efek kekenyangan, menyadari itu Pram langsung berhenti," pulang sana, ngantuk gitu!"
"Kenyang Pram, besok pagi aku juga harus balik ucap Rian. "Hm ... ya nggak apa-apa, hati hati, besok aku juga sibuk harus bantu ibu di sawah."
"Terima kasih ya, sudah mau mendengarkan cerita aku," ucap Pram sembari memandangku lekat.
"Kalau kangen telfon saja Pram, tapi ingat selepas isya," ucap Rian. "Aku pingin segera lulus siapa tahu orang yang suka kangen sama aku, langsung bisa aku lamar," ucap Rian tiba-tiba.
Dengan terkejut Pram menatap," kamu jangan bercanda Rian."
"Aku nggak pernah bercanda dengan omongan aku dan hati aku, sesaat aku lihat wajahnya makin merona dan langsung terdiam."
"Kenapa? tanya Rian. "Ah ... makin ngaco," ucap Pram lagi. "Kalau kamu diam berarti kamu nggak suka sama aku, paling sudah kecantol sama teman sekelas, siapa ya? essst, siapa ya? oh ... si-si Nurdin, nah Nurdin itu.
"Amit, amit ... Rian kamu belum tahu orangnya sih! sembari mengetuk ngetukkan tangannya di lantai. "La, terus ," tanya Rian. Kini Pram menatap aku dan kemudian mengangguk. Seketika aku tertawa," hahaha ... tak sia-sia aku pulang, tante ... aku di terima yes, yes," terdengar suara heboh Rian.
"Ibu yang mendengar teriakan Rian langsung keluar," ada apa ini? tanya Ibu heran. "Tante aku di terima dengan calon jodohku," ucap Rian sembari tersenyum bahagia. Mendengar ini sang ibu langsung tersenyum dan berucap syukur," Alhamdulillah."
Di tengah-tengah kebahagiaan Rian tiba-tiba Pram berbicara.
"Nggak semudah itu syaratnya harus lulus kuliah dulu," ucapnya sembari masuk dalam rumah karena wajahnya benar-benar malu dan merah.
Aku mendekat ke ibunya Pram," terima kasih Tante bantuannya, akhirnya Pram menerima perjodohan ini dengan keinginan nya sendiri," ucap Rian lirih sembari aku mencium tangannya dan berpamitan pulang.
Sepanjang jalan pulang ke rumah wajah Rian terus tersenyum," akhirnya tak sia-sia juga aku pulang."
Sengaja membiarkan Pram menenangkan perasaannya dulu, setelah aku menembaknya secara dadakan nggak romantis memang tapi hasilnya yang membuat aku bahagia.
Berita cepat tersebar ibu yang di rumah juga sudah mengetauhi, tersenyum bahagia mendengar kabar ini.
Merangkulku dengan erat," jaga baik-baik hubungan kalian, karena secara tak langsung kalian berhubungan jarak jauh, jaga kepercayaan dan saling jujur dan ingat jangan pernah memicu dengan hal-hal yang nggak penting, di sini ibu bisa mengawasi Pram secara nggak langsung tapi yang ibu khawatirkan kamu Rian, kamu laki-laki ibu takut kamu nantinya yang tergoda," ucap ibu sembari mengelus pundak aku.
"Segera istirahat," ucap ibu lagi.
__ADS_1