OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 47 . BANTU AKU


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat ujian sekolah sudah selesai libur panjang, sampai menunggu waktu kelulusan. Sesuai ijin Ibu akhirnya aku berangkat juga ke kota.


Tak perlu waktu lama hanya satu jam setengah akhirnya aku tiba di rumah ini .


Memandang sejenak di sekitar masih nampak rapi dan terawat tak ada yang berubah pikir Pram, membuka pintu pagar dan menutup lagi.


Ada rasa kangen pada sosok Sofia gadis kecil yang jadi teman saat aku sakit kemarin kini Pram memindai area halaman,' kemana Sofia pikir Pram,' membuka pintu lalu dengan segera meletakkan tas di kursi.


Berkeliling keseluruh ruangan, Pram sedikit terkejut saat melihat sekelebat bayangan bukan Sofia juga bukan pelindung Pram.


Sudah hampir sore saat Pram melihat mereka datang. Melihat Pram sejenak dan tersenyum


dan tiba-tiba mereka sudah di sisi Pram berdiri.


Namun, ada yang membuat Pram sedikit bertanya ini tentang teman kecil Pram,nyang Simbah bilang pelindung, ada sirat sedih di wajahnya .


"Ada apa? Sosok ini hanya menggeleng .


Pandangan Pram kini beralih ke Sofia," dari mana? Sofia hanya menunjuk ke seberang jalan. "Kenapa kok ke situ lagi? tak menjawab pertayaan Pram, kini dia memandang sosok di sebelahnya lama seperti meyakinkan sesuatu dan langsung menggeleng. "Aku akan di sini selama seminggu, apa yang membersihkan rumah ini baik? tanyaku pada dua sosok ini dan dua sosok ini hanya mengangguk kemudian ke duannya berlalu .


Kini Pram melangkah menuju kamar membuka tirainya," sendiri ucap Pram pelan.


Hanya mengeluarkan hal yang perlu saja.


Saat Pram melihat ada sosok yang memandang ke arah rumah ini dan itu terlihat jelas dari jendela kamar, kemudian menghilang.


Sepertinya bukan sosok yang pernah di ceritakan Sofia, sebisa mungkin Pram mencoba untuk menekan rasa penasarannya.


"Sofia, Sofia ... panggil Pram lirih namun yang di panggil tak muncul. Masih duduk menatap ke luar jendela, pohon besar di seberang jalan ternyata sudah di potong dan meninggalkan tonggak kayu yang besar.


Sudah magrib, Pram bergegas shalat dan sesudah itu menuju dapur, membawa serta teh dan yang lainnya yang Pram bawa tadi. "Membuat teh hangat enak mungkin," ucap Pram sembari menyalakan kompor.


Sedikit terkejut saat tiba-tiba ada angin dingin yang menerpa tubuh bagian belakang tubuh Pram, sesaat tangannya juga meremang .


'Sofia ... panggil Pram dalam hati,' tak mendapat jawaban. Kaki Pram kini melangkah menuju ruang tamu setelah mematikan kompornya.


"Kemana mereka? akhirnya dengan terpaksa aku melakukannya, mengatur napas sesaat , sukmaku kini sudah berjalan menuju seberang jalan," masih sama seperti dulu," ucap Pram pelan.

__ADS_1


Kini langkah Pram sedikit masuk ke dalam, karena ada sesuatu yang menarik Pram datang ke mari, ada sinar kekuningan di belakang jalan ini.


Sekilas hanya nampak tiga bayangan," Sofia," panggil Pram, benar ternyata Sofia dan pendamping Pram. "Kenapa kemari? tanya Pram. "Kan sudah di beri tempat di rumah? ucap Pram. Sesaat Sofia menatap pram dengan lekat. Karena tak mendapat jawabsn dari Sofia.


Pandangan Pram beralih pada sosok yang memunggunginya, seperti pernah mengerti dengan sosok ini .


"Sofia dan teman masa kecil Pram berbalik dan juga sosok itu, seketika aku terkejut ternyata," Si ... Si ... Simbah ... ucap Pram hingga mundur beberapa langkah. Diam menatap Pram dan tanpa bicara .


"Simbah ... kenapa begini? teman masa kecil Pram makin menunduk," bantu aku ucap Simbah.


Aku sedikit terhenyak," Mbah? ucap Pram tersekat, seperti mimpi air mata Pram tak terasa menitik," bantu aku," ucap Simbah lagi.


Belum juga Pram menjawab Simbah sudah tak nampak dan menghilang.


Seakan tersadar dari apa yang ku lihat," Sofia ayo, bukan di sini tempatmu dan kau juga," ucap Pram lagi. Ada sedikit emosi di hati, badan Pram tergetar pertanda Pram sudah kembali ke raganya.


Melihat mereka sudah berdiri di depan Pram.


"Apa yang bisa Pram bantu dan apa hubungannya dengan Simbah? tanya Pram bingung. "Maaf ... saat Pram sadar dengan ucapnya, kemudian berbicara sedikit pelan "Siapa sebenarnya dirimu? tanya Pram lagi.


Kemudian menatap dan tersenyum," Budhe, aku Budhe mu," ucap sosok ini sembari menunjuk dirinya .


Pikiran Pram seketika tak bekerja," Ibu, Budhe apa ini? ucap Pram bingung, kemudian diam beberapa saat.


"Apa yang bisa saya bantu? tanya Pram lagi. "Aku Lastri, Lastri. "Ya, Budhe Lastri," ucapnya.


Sofia menatapku kemudian mendekat pada Pram dan membisikkan sesuatu," ya," ucap Sofia saat aku memastikan.


"Maaf Budhe Lastri," panggil Pram. Karena ingin menghargai namanya," apa yang bisa Pram bantu? ucap pram lagi.


"Pulanglah kemudian datanglah ke rumah Simbahmu kau pasti akan tahu, aku akan menunjukkan padamu," ucap sosok Budhe Lastri sembari tersenyum.


"Senang aku bisa menjagamu," ucap sosok Budhe Lastri.


Aku mengangguk," terima kasih ucap Pram.


Berat rasa di hati Pram," Simbah apa lagi ini? ucap Pram lirih.

__ADS_1


Sudah malam saat aku, Sofia dan Budhe Lastri mengakhiri cerita, kepala Pramserasa berdenyut.


Apa lagi yang Simbah sembunyikan, kamar belakang, kamar pribadi Simbah? apa ini juga termasuk dalam perjanjian itu."


Pram mengurungkan merebahkan tubuh ke ranjang, kini Pram duduk bersila, sesaat Pram sudah melihat Budhe Lastri berdiri di depan pintu kamar Ibu.


"Budhe," panggil Pram pelan. Merasa pram memanggil, seketika Budhe Lastri tersenyum dan mendekat. :Bantuan apa yang budhe inginkan, apa Simbah sudah setuju? tanya Pram dan melihat Budhe mengangguk.


Bisa aku tahu kenapa Budhe begini ? seketika Budhe sedikit menjauh. "Jika Budhe tak cerita bagaimana aku membantu? kembali aku bertanya. "Ibu, Ibu, ibu ucapnya pelan. "Ada apa? apa ini berhubungan dengan Simbah? ucap Pram dan melihat Budhe mengangguk.


Sesaat Budhe menatap dalam kemudian tersenyum, kemudian mengenggam tangan Pram, Budhe kini menampakkan cerita masa lalu.


Aku hanya melihat gadis kecil berumur lima tahun wajahnya hampir mirip dengan ibu dan pohon sawo itu memang sudah ada .


Di teras nampak Simbah duduk dengan tersenyum memandang sosok ini," Lastri masuk," ucap Simbah saat mendekati adzan magrib dan dengan senyum cerianya memasuki rumah.


Tapi aku tak melihat sosok Ibu, gadis kecil ini yang mengaku Budhe ini tiba-tiba menunjukkan sesuatu di kamar belakang. Nampak sosok kecil seumuran sedang duduk di sana bukan, bukan Budhe ku tapi ... "


"Itu," ucapnya pelan. Masih aku melihat dan sedikit memastikan.


Kemudian nampak dua anak kecil ini tengah berebut sesuatu, entah apa tapi yang pasti satu di antara mereka telah tersungkur di atas tanah dengan bersimbah darah, hanya tangis yang terdengar di ruangan itu, ternyata gadis kecil itu sudah menusukkan sesuatu di tubuh Budhe, darah sudah mengalir dan terus membasahi badanya.


Ada rasa sesak di dada Pram saat ini, melihat dari bentuk bendannya itu kan? itu cundik yang Simbah berikan pada Pram.


Apa maksudnya ini? seketika Budhe tertunduk. "Aku yang memintanya, aku yang ingin agar aku bisa terus dekat dengan ibu, adik dan bisa menjagamu.


"Tugasku sudah selesai kini ada yang lebih bisa menjaga mu, nanti waktunya akan tiba.


"Aku bisa pergi kan? apa kamu ikhlas melepas dan membantuku? tanya sosok Budhe. Aku hanya ingin bersama Ibu saat ini, dada Pram semakin sesak tangis yang Pram coba tahan tak urung turun juga.


Dengan terisak," terima kasih Budhe, Pram ikhlas melepas Budhe, tapi kenapa Budhe bisa di makam kan di kamar belakang?


Seketika Budhe menatap tajam dan kembali mengajak untuk melihat lagi.


Saat itu Simbah tak ada di rumah aku hanya melihat mereka berdua, tiba-tiba ada wanita masuk yang seumuran dengan Simbah muda


terlihat bingung dan langsung merengkuh anak itu.

__ADS_1


Lalu mengangkatnya dan mengajaknya pergi. "Jadi? yang melihat? Budhe kemudian mengangguk.


__ADS_2