
Setelah memanggil tak jelas Rian berdiri untuk menjawab telfon yang di terima. 'Kenapa harus menjauh pikir Pram.' Aku hanya menatapnya saja sembari membaca buku yang Rian baca tadi.
Setelah beberapa lama Rian kembali duduk di sisi Pram. "Apa ada tugas selama aku sakit?Rupanya pertanyaan Pram sedikit mengejutkan Rian."
"Hem. Ada, tapi semuannya sudah beres," ucap Rian sembari mengambil sesuatu di tasnya. "Oh ya, baca ini untuk materi ujian dan aku juga sudah mengijinkanmu ketika sakit kemarin."
"Terima kasih dan maaf jika aku selalu merepotkan Rian," ucap Pram sembari menunduk.
"Istirahatlah Rian dan sekali lagi terima kasih."
Aku berjalan ke kamar membawa buku dari Rian, menutup pintunya perlahan menaruh buku-buku itu di meja belajar. Bukan untuk aku baca tapi meletakkan begitu saja buku-buku itu di meja.
Lebih memilih duduk di depan jendela membuka tirainya. Malam ini bulan bersinar bulat penuh dan terang, senyum Pram tersimpul saat melihat jajaran bintang berkerlip nampak dan indah. "Hai CRUX kenapa kau muncul sendirian di mana URSA, ORION dan SCORPIO ucap Pram pelan.
Lama menatap langit hingga nampak bayangan berdiri di depan jendela. Sesaat aku sadar siapa yang menghalangi pandangan Pram dan itu membuat Pram sedikit terkejut.
Pram bergegas menutup tirainya dan berjalan ke arah ranjang, merebahkan diri sembari menatap langit-langit kamar, berkali-kali Pram menghembuskan napas kasarnya.
Memilih menghadap ke tembok dan mencoba memejamkan mata.
Mengingat aku baru sembuh dari sakit Pram memilih memejamkan mata dan tidur, hingga tengah malam saat Pram terbangun. Mendengar suara orang berbicara, sedikit menajamkan pendengaran meski terdengar samar samar tapi jelas itu suara Rian. "Jam segini masih di rumah? kenapa dia tidak pulang."
Sejak aku siuman seperti ada hal yang di sembunyikan Rian, tapi Pram juga tak punya hak untuk bertanya. Biar. Mungkin itu yang tepat dan aku juga tak ingin mencari tahu.
Pagi menjelang selepas subuh aku sudah ke dapur karena rasa lapar di perut. Pram mencari mie atau makanan lainnya, tak ada mie, biskuit dan akhirnya aku membuka kulkas untung masih ada lauk kemarin yang masih tersisa. Menyalakan kompor menjerang air membuat teh kemudian menghangatkan lauk.
Sudah membuat tiga gelas teh dan aku langsung sarapan di pagi buta, ibu yang selesai subuhan terkejut saat melihat Pram makan di pagi buta.
"Laper Pram?" tanya ibu. Aku hanya mengangguk dan melanjutkan makan. "Rian Bu?" tanya Pram dengan mulut penuh.
"Rian semalam pamit pulang karena ada perlu katanya."
"Jam berapa Bu?" tanya Pram untuk memastikan.
"Kalau nggak salah tengah malam Pram," ucap ibu lagi.
__ADS_1
Aku hanya diam mendengar perkataan ibu dan menyelesaikan makan. Aku dengan cepat
membersihkan peralatan makan serta menaruh di tempatnya kembali.
Segera ke kamar untuk beberes menyiapkan semuanya. Masih pagi saat aku berangkat karena sengaja ingin naik angkot seperti biasanya.
"Bu. Pram berangkat," pamit Pram sembari cium tangan Ibu. "Loh, kok nggak nunggu Rian Pram?"
"Bu ... Aku juga tak ingin terus tergantung dengan Rian Bu, meski Rian teman Pram. Pram takut nanti Rian bosan Bu."
"Pram berangkat Bu. Assalammualaikum," sembari melangkah keluar.
Sepanjang perjalanan Pram merasa seperti orang yang tak tahu terima kasih dan terkesan menyepelekan Rian. Semua pikiran Pram akhirnya Pram tepis sendiri. 'Ah, sudahlah kita juga belum menikah atau terikat,' pikir Pram.
Aku hanya ingin Rian melihat yang lain. Bukan fokus pada aku saja. Mungkin di sini aku yang bodoh kurang bersyukur mendapatkan seorang seperti Rian.
Lamunan Pram terhenti saat angkot berhenti di depan aku berdiri. Bergegas naik ke dalam angkot duduk dengan tenang hingga kampus.
Masih belum begitu ramai saat aku tiba di kampus berjalan di samping parkiran. Samar samar Pram mendengar suara wanita tengah berbicara dengan setengah berbisik. "Rin yang jelas Rian harus jadi milikku, bagaimanapun caranya Rin dan kau tahu Rin, aku kira dia tak bangun selama tiga hari itu dan dia akan meninggal," ucap dua wanita ini dan sesaat keduanya langsung tertawa.
Satu persatu teman-teman yang lain mulai berdatangan. Pram sengaja menyibukkan diri dengan membaca buku, untuk menghindari tatapan-tatapan mata yang tak suka.
Hingga Dosen akan masuk Rian baru tiba dengan tatapan tak menyenangkan dan terus menatap Pram. Merasa Rian terus menatap dengan tajam, aku memilih menunduk untuk meredam emosinya.
Sengaja Pram memilih duduk di sudut menghindari siapa saja untuk duduk di sisi Pram.
Aku masih terdiam memandang punggung Rian dan memang Rian duduk beberapa baris di depan. Masih menatap Rian, sadar akulah yang telah menyulut emosinya.
Masih menunduk saat Hanifa masuk dengan kasar mengusir Hardan dan memilih duduk di samping Rian.
Entah menurut pandangan Pram sepertinya Rian menghiyakan sesuatu dari percakapan semalam.
Aku menggeram berat. 'Kita lihat sampai di mana ini, kembali hati Pram berkata.'
Beberapa materi yang di sampaikan Dosen tak satu pun masuk dalam pikiran. Andaikan tak mengejar ujian yang kurang sehari mungkin aku di rumah saja, ke sawah berbincang dengan Simbah penjaga sumber air.
__ADS_1
Masih ada satu materi yang di tunda hingga satu jam ke depan, aku langsung berhambur ke tempat yang sudah pasti tak pernah aku kunjungi selama ini. Akhirnya perpustakaan tempat ternyaman tak pernah aku kunjungi.
Sembari berjalan sempat aku lirik Rian masih berbincang dengan Hanifa. Aku hanya berjalan saja tanpa menghiraukan pembicaraan mereka.
Tempat yang sepi dan terasa nyaman, memilih tempat paling pojok, karena Pram melihat sosok sedang menunduk tapi dan menatap buku.
Aku tersenyum saat melihat sosok itu. "Maaf saya bisa ikut duduk di sini ya?" tanya Pram dan dia hanya mengangguk tanda setuju.
"Terima kasih," ucap Pram dan kini sudah membuka buku.
Duduk berdua dengan seorang yang tak kasat mata membuat Pram tersenyum. Kini Pram memilih menutup buku. Begini rasanya memiliki kelebihan, harus melihat sesuatu yang tidak kita ingin liha baik atau buruk.
Hanya napas kasar yang Pram hembuskan. Melihat jam tangan. 'Masih kurang setengah jam, masih lama pikir Pram.'
Sesaat Pram melirik sosok yang ada di sisinya. Mencoba mengajaknya berbincang meski sosok tak kasat mata. "Semester berapa Mbak? tanya Pram. Sosok ini hanya menunjukkan enam jarinya.
Tiba-tiba sosok ini sudah mendongakkan wajahnya. "Astafirullah," ucap Pram pelan. "Kamu yang ada di ruangan kelas di dekat area parkir?" tanya Pram lagi.
Sejenak sosok ini menatap dan langsung menghilang. Aku langsung menundukkan wajah dan beringsut sedikit duduk ke sudut agar tertutup tembok pembatas.
Entah mengapa aku hanya ingin menghindar dari Rian dan memang sengaja menjauhinya.
Masih lama kurang dua puluh menit lagi, aku hanya ingin berjalan-jalan ke seluruh area per pustakaan ini.
Seperti biasa kini sukma Pram sudah keluar dari raga. Aku sedikit tersenyum melihat wajah-wajah penghuni perpustakaan dan wajah-wajah serius mereka.
Setelah Pram menjelajah ruangan seluruh area perpustakaan. Pram langsung kembali ke raganya. "Jangan lakukan itu! Karena di sini ada yang sangat jahat dan usil dia tak menyukai orang yang melebihinya. Suara tiba-tiba yang mengejutkan. "Maksudmu?tanya Pram sambil melirik jam lagi. Kurang lima menit." Tapi karena penasaran Pram akhirnya mengurungkan niatnya kembali ke kelas.
Aku menyukai dan penasaran dengan sosok ini. "Kau belum menjawab pertanyaan aku? tanya Pram lagi."
Sosok ini hanya tersenyum dan menatap lalu dia tersenyum. "Tapi kamu lebih hebat dari dia," ucap sosok ini lagi.
"Maksudmu? tiba-tiba sosok ini menghilang lagi.
"Buah ... Aku bela belain bolos. Malah sosok ini ngajak main petak umpet meninggalkan tempat ini begitu saja," ucap batin Pram.
__ADS_1