OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 106 . SEMUA ADA WAKTUNYA


__ADS_3

Hampir pukul tiga malam aku baru menyelesaikan semuanya, sesaat sukmaku telah kembali dalam ragaku, serasa berat lama tak melakukan hal seperti ini.


Setelah semuanya kembali normal aku menoleh ke arah Kinara, dia masih tertidur dengan lelapnya, sesaat ku tatap wajahnya dan kuusap perlahan, senyumku terkembang melihat wajahnya yang mirip mas Rian.


Aku sedikit terkejut saat pintu kamar sedikit terbuka, melihat siapa yang masuk, aku sedikit tersenyum, mas Rian sudah bangun kini duduk di sisiku menatap lekat gadis kecilnya dan berpindah menatap padaku.


Dengan duduk berselonjor aku tersenyum menatapnya lagi "mas, apa yang harus kita lakukan untuk Kinara, usianya masih terlalu kecil untuk aku ajari, tapi .... aku memutus


begitu saja ucapanku."


Melihatku gamang dengan ucapan ku mas Rian kini duduk makin mendekat, merangkulku sesaat kemudiam menatap jauh kedepan.


"Pram, kita arahkan pelan-pelan, ajari saja bagaimana menghalau rasa takutnya dan biarkan dia belajar sesuai dengan usianya jangan kau masukkan ilmu apapun darimu pada tubuh Kinara."


Menjeda sejenak ucapannya dan kembali menatapku.


"Sungguh aku lebih takut menghadapi Kinara karena sesuatu hal nantinya, sungguh Pram aku sangat takut" ucap mas Rian dengan berbisik.


"Kinara tak sepertimu Pram!"


Sesaat kami terdiam dan saling menatap


"Mas, aku juga berfikiran sama seperti mas" ucapku lagi.


"Semalam aku telah membereskan makhluk itu mas, ada orang yang dengan sengaja membuangnya di situ" ucapku lagi.


"Mas Rian menatapku dengan heran, kamu melakukan nya lagi Pram? Hanya hembusan napasku yang terdengar kasar.


"Demi Kinara dan anak anakku, aku rela melakukannya lagi mas, aku tak sanggup bila melihatnya seperti kemarin malam."


Kembali kami terdiam dan sibuk dengan pikiran kami, samar-samar mulai terdengar adzan subuh, aku dan mas Rian bergegas berdiri dan keluar dari kamar.


Pagi ini seperti pagi pagi biasanya, melakukan kesibukan sana sini dan semua berakhir saat anak anak dan mas Rian berangkat.


Duduk di meja makan, rasa kantuk yang ku tahan dari semalaman membuatku beberapa kali menguap, hingga mbak Ning menawarkan secangkir kopi hitam.


Aroma kopi sesaat mengepul membuat hidungku menghirupnya dalam-dalam, aroma khas yang secara ampuh dan mujarab membuat mataku terbuka, kemudian aku menyesapnya hangat-hangat.


"Terima kasih mbak Ning" ucapku sembari melanjutkan minum kopiku.


Sembari sesekali aku melihat jam, masih kurang sepuluh menit untuk menjemput Arion


menghabiskan satu tegukan terakhir dan meletakkan di dapur "mbak saya jemput Arion dulu" pamitku pada mbak Ning.


Tiba di sekolah Arion, suasana masih sepi hanya ada beberapa ibu yang sudah datang menjemput.


Kira-kira sepuluh menit kemudian nampak anak anak ke luar kelas dan dengan gesitnya Arion


berlari menuju ke arahku, senyum nya terkembang sembari melompat kegirangan.


Berjalan pulang dengan bergandengan tangan

__ADS_1


hingga tiba di rumah, Arion langsung masuk dan merebahkan diri di sofa.


Aku melihatnya dengan heran "kenapa hem!!"


gerah ya? tanyaku sembari membantu melepas kaus kakinya dan melepas seragamnya.


Kini tinggal kaos dalaman dan celana pendeknya "wuh .... lega bu, adem" ucapnya sembari berguling guling di sofa.


"Arion, ibu ke belakang dulu, menaruh seragam dan kaus kakinya, diam di situ" ucap ku mengingatkan.


Baru pukul sebelas Kinara dan Kinanti juga sudah pulang, kini tinggal Lintang yang belum datang, hingga pukul dua belas siang tak kunjung tiba.


"Kinanti, adikmu Lintang kok belum pulang? tanyaku pada mereka.


"Masih ada les bu!Aku dan Kinar pulang cepat karena persiapan ujian" ucapnya bersamaan.


Aku menghentikan kegiatan ku sejenak, 'tak terasa mereka sudah kelas enam dan tahun depan sudah kelas tujuh, sementara Lintang beranjak menuju kelas tiga dan si kecil Arion menuju kelas B, serasa semua cepat berlalu.'


"Assalammualaikum" suara Lintang membuyarkan lamunanku.


" Waalaikum salam " , ucap kami serentak nampak wajah Lelah Lintang.


Dengan wajahnya yang merah terbakar teriknya siang hari dan terlihat bibirnya sedikit cemberut


meletakkan begitu saja tas punggungnya dan sesaat menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah berkumpul bersama dua kakaknya dan si kecil Arion.


Masih dengan kesibukan ku menyiapkan meja untuk makan siang, tak lama terlihat dua ibuku dan mak Sunar juga mulai datang ke meja makan.


"Mak .... nanti kita bikin pistol-pistol lan dari pelepah pisang ya? ajari aku mak" ucapnya sembari terus bergerak di kakinya.


Dua ibuku terus tersenyum melihat tingkah Arion.


Karena Arion masih saja, bermain di kaki Sunar akhirnya mak Sunar meraih Arion dan menggendongnya.


Seketika tawa Arion tergelak, saat mak Sunar menggelitik tubuh Arion.


Aku melihatnya dengan tersenyum "turunkan mak, tubuh Arion sudah besar mak!"


"Biar Pram, mumpung masih mau ku gendong dan mungkin besok-besok aku gak bisa menggendong Arion lagi" ucap mak Sunar sembari menurunkan Arion di kursi meja makan.


"Ih .... emak ngomong apa? ucapku sembari meletakkan tempe dan tahu goreng.


"Mak .... tolong mbak Yas dan mbak Ning di panggil sekalian buat makan" pintaku pada mak Sunar.


"Kinanti, Kinara, Lintang, ayo .... ajakku pada mereka.


"Nampak dua nenek juga sudah menempati posisinya masing-masing.


Makan siang tanpa ada keramaian semua sibuk dengan makanan mereka, saat ini Kinara makan dengan cepat dan segera keluar ke halaman.


Kinanti yang melihat ulah kembarannya hanya menggeleng "bu ... Kinara, pasti menemui Zubaid" ucap Kinanti sembari memasukkan satu suap terakhirnya.

__ADS_1


Dengan menggeser kursi yang ku duduki dan melangkah ke ruang tamu, mengintipnya dari jendela ruang tamu, menyingkap tirainya sedikit "benar kata Kinanti ."


Sesaat kemudian nampak Kinara mendorong sosok itu untuk segera pergi sembari sesekali menoleh ke pintu.


Aku sedikit heran kenapa sosok ini tak mau


menampakkan wujudnya padaku?


Dan sesaat kemudian ku lihat Kinara sudah melambaikan tangannya, tanda sosok itu pergi.


Aku memilih kembali ke meja makan dan menyelesaikan makan ku yang tertunda.


Ibu,mertuaku dan mak Sunar masih belum beranjak dari meja makan dan menatapku.


"Apa yang membuatmu berat Pram? tanya ibu pelan karena anak anak masih belum naik ke atas.


"Entalah bu, ada perasaan tak nyaman melihat Kinara seperti itu, aku sedikit takut bu."


Ketiga orang tua yang aku hormati ini hanya menatapku lekat dan hanya hembusan napas mereka yang teratur menandakan mereka sudah paham dengan kondisiku.


"Pram .... mungkin kondisi saat Kinara menerima anugrah ini berbeda dengan dirimu dulu yang penuh tantangan, saat ini arahkan saja dan ingatkan saja untuk menjaga shalatnya dan mengaji, karena itu yang akan membuatnya tenang, menurut ibu sebaiknya kau pantau saja Kinara, arahkan dan luruskan tegur jika dia mulai ke luar dari jalur."


"Biarkan Kinara berkembang sesuai usiannya dan satu hal Pram, buat Kinara nyaman dengan kondisinya dan jangan pernah menghindar saat dia berusaha bercerita, ibu tahu Kinara tak sama seperti mu dulu."


"Mangkannya ibumu dulu lebih banyak melihatmu, menjagannya dan tak banyak bertanya padamu, karena ibu mu juga tahu berat menerima anugrah seperti itu, Pram."


"Dan membiarkan simbah mu yang menyelesaikan semuannya."


"Tapi ibu harap jangan mengajari Kinara jika belum waktunya Pram, biar bersama waktu semuanya akan terbuka dengan sendirinya."


Masih diam mendengarkan ucapan ibu dan menelaah setiap ucapannya.


Ada rasa tenang sesaat di hatiku benar kata ibu


"Terima kasih bu" ucapku pelan.


"Ibu akan istirahat sebentar, karena kami akan ada pengajian selepas ashar nanti" ucap ibu sembari berdiri dan melangkah masuk kamar masing-masing.


Anak-anak mulai naik ke atas, beda dengan Arion masih terus membuntuti mak Sunar karena belum mendapatkan apa yang di maunya.


"Aden .... tidur dulu, hari minggu kita ke sawah cari pelepah pisang yang banyak untuk pistol pistol lan, mau kan?"


Berhenti sejenak mengikuti mak Sunar dan menatapnya "janji mak" sembari mengulurkan jari kelingking nya.


"Ayo, mak kita buat janji, seperti ini."


Ku lihat tangan Arion sibuk mengajari mak Sunar membuat janji dengan menautkan jari kelikingnya dengan jari kelingking mak Sunar.


Sesaat kemudian mereka sama sama tertawa


"Emak sudah janji gak boleh bohong lho" ucap Arion sembari naik ke atas.

__ADS_1


Mak Sunar tak menjawab ucapan Arion tapi hanya menatapnya saja hingga sosok Arion menghilang dan semua tak lepas dari pandangan ku.


__ADS_2