
Ibu yang mendengar teriakan Rian, langsung masuk dalam kamar, tersenyum memandang Pram dengan seksama.
"Anak ibu, apa menginginkan sesuatu? Lalu kembali ke belakang sesaat kemudian sudah datang lagi, sedikit mendekat, minumlah yang hangat dulu Pram," sembari menyodorkan teh hangat ke mulut Pram, menyesap nya sedikit dan lalu menolaknya.
"Aku hanya ingin istirahat, Bu."
"Tidurlah Pram, kau juga Rian."
"Tidurlah di kamar ibu, biar Pram di sini bersama ibu."
Setelah Rian keluar, Bu Nur langsung merebahkan tubuhnya di sisi Pram.
Menatap sejenak anak semata wayangnya sesaat kemudian sudah terdengar dengkuran halus menandakan Pram telah tertidur, bukannya ikut memejamkan mata, tapi bu Nur memilih bangun dan keluar dari kamar.
Melakukan kegiatan di pagi hari, hingga fajar mulai menyapa setiap insan yang masih terlelap.
Semua sudah siap, meja makan sudah penuh dengan makanan kesukaan Pram
sedikit tersenyum kemudian melangkah
bergegas ke kamar Pram, begitu pintu terbuka nampak Pram telah terbangun dan sudah membuka jendela kamarnya.
"Eh, anak ibu sudah bangun." Terlihat Pram hanya menoleh dan kembali menatap keluar jendela. "Aku suka, pagi ini Bu ! Lihat matahari bersinar cerah dan udaranya segar sejuk," ucapnya sembari menatap keluar.
"Jangan di buka semua Pram, dingin !"
"Sarapan yuk, ibu masak makanan kesukaan mu," ucap Ibu kini ibu sudah berjalan mendahului keluar kamar.
"Pram ... kembali Ibu memanggil."
Dengan malas melangkah ke luar kamar menuju meja makan, pandangannya tertuju pada sosok yang tengah berbalut selimut di kursi ruang tengah.
"Kasihan, hanya itu yang terucap sembari mendekat membetulkan selimutnya.
"Sarapan saja dulu Pram, kasihan dari kemarin Mas mu belum juga istirahat," ucap ibu sembari membuka tudung saji.
Mengambil sedikit nasi dan beberapa lauk
menyuapkan dengan pelan, karena mulut Pram terasa pait.
Selesai makan Pram bukannya istirahat di kamar tapi lebih memilih duduk di ruang tengah menunggu Mas Rian tidur.
Aku sedikit meringis menahan sakit di dada yang datang tiba-tiba. "Hufff, kembali ada rasa nyeri yang tiba-tiba muncul."
Sedikit mengatur napas, bukannya serasa ringan tapi dada Pram serasa makin sakit.
Merasa ada sesuatu yang tiba-tiba ingin keluar dari mulutnya dengan cepat Pram bergegas ke dapur.
Benar begitu sampai wastafel. Huek, huek ... kini kembali darah segar ke luar dari mulut Pram.
Mas Rian yang awalnya tertidur pulas langsung terbangun begitu mendengar aku muntah, ibu yang ada di halaman belakang langsung masuk.
__ADS_1
"Pram, kau muntah lagi? Masih sibuk membasuh mulutnya yang berbau anyir karena sisa darah yang ke luar dari mulutnya.
Dengan telaten Mas Rian membantu Pram, memberikan handuk dan mengusap mulutnya.
"Istirahat saja Pram, kita ke dokter ya?"
"Nggak Mas, ini efek dari kejadian kemarin," ucap Pram sembari duduk di kursi ruang tengah menyandarkan tubuhnya dengan lemas."
"Kenapa begini Pram, apa yang harus aku lakukan !"
"Mas, nggak kuliah?" ucap Pram mengalihkan pembicaraan.
"Selesaikan skripsi Mas, ingat tinggal ujian lalu wisuda, aku harap semuanya lancar."
"Pram, kamu juga harus semangat, kau juga harus menyelesaikan skripsi."
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
Melihat mas Rian sedikit menunduk dan mencium tubuhnya lalu menggaruk kepalanya. "Hihihi, baunya asem," ucapnya sembari mendekat.
"Aku akan pulang dulu, mandi dan lihat ibu Pram? Ingat istirahat jangan bandel."
Mendengar ucapan mas Rian aku tersenyum saja. "Laki-laki yang baik' mungkin ini yang di maksud Mbah Wigati.
Aku terus menatap setiap gerakannya, melipat selimut dan melangkah ke belakang berbincang sebentar dengan ibu, kemudian kembali ke ruang tengah. "Mau ke kamar Pram?" tanya Mas Rian sebelum pulang.
"Nggak Mas, aku masih ingin duduk di sini."
"Ya sudah, Mas pulang dulu," kini tangannya sudah mengusap kepalaku.
Sesaat aku teringat akan kejadian sebelum kami di antar pulang dengan Pak Paijo.
Prameswari flass back
Saat itu sudah tengah hari saat pak Paijo berjalan di ladang dengan sedikit tergopoh menghampiri kami, laki-laki paruh baya dengan napas ngos-ngosan, terlihat mengatur napasnya sejenak dan kembali berteriak memanggil namaku.
"Nak, Pram," teriaknya kencang hingga kami dan warga yang di ladang langsung mendongak menatap dengan heran.
"Aduh. Nak Pram, cepat bersiap di panggil
juragan, masih dengan napasnya yang tersengal."
"Sebentar Pak, tinggal satu," jawab Pram sembari berdiri."
"Nurdin, Hardan, Satria dan Santi. Panggil Pak Jo. Kalian juga bersiaplah."
Dengan heran kami membereskan semuanya Mbah Lasmi yang sedari tadi menatap di kejauhan sedikit mendekat.
"Ada apa Jo, kelihatannya ada sesuatu yang penting?"
"Nggak tau Mbah, ini hanya perintah Juragan."
__ADS_1
Setelah semuanya beres Pak Paijo langsung meminta kami untuk berkemas dengan segera Mbah Lasmi yang berjalan sedikit jauh di belakang kami bersama Pak Paijo seperti sedang membicarakan sesuatu terlihat dari wajah Mbah Lasmi yang kadang mengangguk dan mengkerutkan dahinya .
Begitu kami tiba di rumah Mbah Lasmi.
Ida yang berada di dalam rumah terkejut melihat kedatangan kami. "Ada apa Mbak?
Kok tiba-tiba beberes."
"Mana Kaila, San? tanya Pram. Sepertinya dia tadi tidak ikut ke ladang, sakit perut katanya."
Benar juga, terlihat Kaila keluar dari dapur
"Cepatlah beberes Kai," ucap Pram memberitahu."
Sudah pukul tiga sore saat kami sudah bersiap berpamitan pada Mbah Lasmi dan dengan berat hati melepaskan kepergian kami.
Pak Paijo mengikut kami di belakang dan membawa mobil sendiri, tiba di kediaman Pak Murtoyo menjelaskan apa yang terjadi.
Begitu mengetauhi siapa aku dan asal usul ku kemudian memeluk ku dengan erat. "Maaf kan anak Bapak. Hanya itu yang terucap kemudian menyuruh kami bergegas.
"Jo, antar mereka hingga selamat dan bawa pulang anak nakal itu," ucap Pak Martoyo sembari menatap ke luar.
Perjalanan tak baik-baik saja, keberangkatan yang tergesa-gesa membuat perjalanan pulang terhambat, air radiator habis, ban mobil kempes dan macet yang di akibatkan kecelakaan mobil dan bus.
Seakan menghalangi kami untuk tiba di rumah dengan cepat, perasaan Pram sedikit lega saat sampai di gang kampung.
Jalan yang sedikit sempit kami paksakan juga mobil untuk masuk gang hingga pukul tiga dini hari kami tiba di rumah simbah.
Flass back end
"Siang-siang kok ngelamun," suara ini mengejutkan ku.
Menatapnya sejenak kemudian tersenyum
"Ternyata mas Rian," ucap Pram lagi.
"Jangan suka melamun Pram! nggak baik, kamu juga baru sembuh," ucapnya sembari duduk di dekat ku.
"Pram, teman-teman tadi menelfon katanya mau jenguk kamu, bolehkan?"
Aku terdiam mendengar ucapan Mas Rian
"Pram," panggil Mas Rian.
"Tentu boleh, toh mereka teman-teman Pram juga."
"Aku jadi ingin tahu kabar Mira Mas, apa dia sehat?"
"Sudah jangan mikir yang aneh-aneh Pram."
Kini sudah melangkah ke kamar dan tak lama ke luar lagi. "Pram, sudah Mas mintakan foto kopian laporan mu ke Nurdin supaya kamu segera mengerjakan skripsi juga."
__ADS_1
"Terima kasih Mas," sembari Pram memeluk tubuh Rian dengan erat. 'Rasanya sangat beruntung aku bertemu laki-laki yang sabar dan hebat sepertinya' ucap hati Pram.
"Ehem, ehem, mendengar suara dehemam ini seketika aku melepas pelukanku.