OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 130. ABAH


__ADS_3

Hampir lima belas menit kami menunggu, akhirnya Abah keluar dari kamarnya, senyumnya terkembang saat melihat Bapak. "Alhamdulillah," itu yang aku dengar.


Bapak langsung memeluk dan meraih tangannya untuk di cium, tak lama bapak menarik Arion dan Lintang untuk mendekat sembari mengenalkan mereka pada Abah.


Sesaat Abah menatap kami, Ibu, aku dan Kinanti. Senyum Abah semakin tersungging lebar, ku lihat ibu hanya menangkupkan dua tangannya untuk memberi hormat dan kemudian meminta kami melakukan hal yang sama.


"Abah sangat bangga padamu Den, Aden mengajak seluruh keluarga untuk mengunjungi Abah, suruh mereka istirahat dan Abah masih ingin berbincang denganmu."


Tanpa banyak bicara Ibu langsung mengajak kami untuk keluar dan menuju rumah di mana tempat kami menginap, sepanjang jalan suasana nampak remang karena sudah hampir malam. "Bu, sepertinya kita tak lewat sini?" tanyaku tiba-tiba.


Mendengar ini ibu langsung menghentikan langkahnya kemudian melihat sekitar, beberapa saat ibu terdiam dan mundur beberapa langkah dan kemudian sedikit menunduk memberi hormat, ku lihat ibu mulutnya komat kamit seperti berbicara dengan seseorang dan sesaat kemudian tersenyum.


"Ayo, sengaja ibu datang kemari, Ibu ingin mengenalkan kalian pada kakek Buyut kalian dan ijin untuk menginap di sini, karena ini tempat baru untuk kalian."


Nampak Arion dan Lintang berjalan dengan sedikit takut, hingga ada beberapa anak pondok yang lewat, melihat kami sesaat kemudian mereka tersenyum. "Maaf, jalan menuju rumah anda bukan ini, mari kami antar."


Ibu hanya tersenyum dan mengikuti mereka hingga tak lama. "Terima kasih atas bantuan kalian," ucap ibu lagi.


Sebenarnya jarak yang kami lalui tak cukup jauh, jika rumah Abah sedikit ke belakang berbeda dengan rumah yang akan kami tinggali nanti, sedikit ke tengah dan dekat dengan masjid.


Begitu tiba di depan rumah, ibu memberi isyarat pada kami untuk mengucap salam, nampak Mbak Yas dan Mbak Ning membuka pintu hampir bersamaan.


Ibu hanya tersenyum melihatnya, tak segera menuju kamar aku dan Kinanti masih memilih duduk di kursi ruang tamu. "Kinara ingat, ini tempat baru jaga sikapmu," ucap Ibu sembari mengajak Arion dan Lintang masuk dalam kamar.


Mendengar ini Kinanti langsung masuk kamar yang sudah di siapkan, aku masih memindai setiap sudut ruangan ini terlihat olehku sosok yang selalu mengikuti Kinanti, senyumku terkembang saat mengetauhi bahwa sang penjaga Kinanti berasal dari tempat ini.


'Rumah masa kecil bapak, rumah yang sudah melalui beberapa kali renovasi' kembali hatiku berucap.


"Belum tidur Kinara?" tanya ibu mengejutkan aku. "Belum Bu, tunggu Bapak pulang," ucapku lagi.


Ibu kemudian duduk di sampingku. "Tidur saja, bapakmu akan sangat larut nanti baru kembali, cepat istirahat karena nanti pukul tiga kita shalat tahajud sama-sama dengan anak-anak pondok, jadi selama seminggu kita disini, kita akan seperti ini dan Ibu harap biasakan itu dan beri contoh pada adik-adikmu," ucap ibu sembari masuk kamar sambil sesekali menguap.


Ku lihat jam dinding sudah jam sepuluh malam, meskipun ini pondok suasananya sungguh tenang, memilih melangkah masuk dalam kamar, ku lihat Kinanti sudah terlelap.


Memilih berbaring di sisinya dan tak lama terlelap juga. Hingga samar-samar terdengar bunyi suara sirine, ku lirik sesaat jam di dinding pukul tiga pagi, teringat akan pesan ibu dengan segera aku terbangun dan membangunkan Kinanti, benar tak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang berjalan sedikit tergesa menuju satu tempat secara beramai-ramai.


"Dingin," ucap Lintang yang tiba-tiba ada di belakangku, sudah memakai baju lengkap untuk ke masjid begitu juga dengan Bapak,


sementara Arion masih terlelap di kamar.


Setelah melakukan shalat tahajud, akhirnya kami pun sengaja menunggu hingga sholat subuh selesai, baru kami beranjak kembali ke rumah, tapi berbeda dengan Bapak, Bapak masih bertahan berbicara dengan Abah.


Sembari kaki kami melangkah keluar dari masjid nampak anak-anak pondokan mulai bersiap untuk sekolah, masih di area yang sama, ternyata gedung bertingkat yang berjajar rapi itu adalah sekolahnya. Di kantin anak-anak juga mulai antri untuk mengambil sarapan di mana mereka di bagi menjadi tiga kelompok usia SMP dan SMA masih dengan tatapanku, saat tiba-tiba Lintang bergelayut di tanganku.


"Jadi seperti ini. Ya Kak! mondok itu?" ucap lintang pelan. Aku langsung menatapnya," gimana suka tinggal di sini?" tanyaku memastikan.


Nampak sedikit ragu di wajahnya kemudian tersenyum. "Ini keren kak, aku suka," jawabnya sembari tersenyum.

__ADS_1


"Assalammualaikum," ucap kami bersaman, saat langkah kami memasuki rumah yang cukup besar ini.


Terdengar jawaban salam dari daerah dapur, terlihat Mbak Yas sedang memasak dan Mbak Ning bersama Arion.


Ibu langsung menuju dapur, seperti kegiatan biasa di rumah, ibu langsung menyiapkan sarapan pagi dan yang lainnya, tak berapa lama terdengar Bapak mengucap salam kemudian langsung menuju kamar.


Setelahnya terlihat Bapak keluar lagi dengan berganti pakaian lebih rapi. "Lintang sarapan dulu, setelah itu ikut Bapak, kita jalan-jalan ke pondok," ucap Bapak sembari duduk dan menyesap kopinya.


"Pak, aku boleh ikut?" tanyaku pelan.


"Bu, ajak Kinara dan Kinanti sekalian Arion juga, sebenarnya ... Bapak memutus begitu saja ucapannya.


"Kinara, ini khusus pondok cowok kalau pondokan untuk ceweknya ada di gang sebelah," ucap ibu sembari menyesap kopinya.


"Pak, apa sebaiknya anak-anak kita ajak berziarah dulu, supaya mereka mengenal leluhurnya," ucapku untuk meyakinkan Mas Rian.


"Aduh, aku kok juga bisa lupa? Mungkin hari ini kita ke makam dulu ziarah," ucap mas Rian kemudian.


Seleasai sarapan bapak dan ibu mengajak kami untuk Ziarah. "Makam yang indah," ucapku setelah aku tiba di makam.


Mendengar ini bapak tersenyum sesaat kemudian menatapku. "Ucap salam Kinara, Kinanti," sembari Bapak duduk, menyusul ibu kemudian aku dan Kinanti di sisi ibu.


Membaca doa dengan khusuk hingga beberapa saat Bapak mengakhiri doannya.


Aku masih terdiam setelah mengucapkan kata amin. "Anak-anak mendekatlah," panggil Bapak sembari mendekat ke makam yang paling ujung.


"Ini! Makam kakek-kakek kalian, di sebelah ini makam pendiri pondokan, ini makam Buyut kalian dan ini makam Kakek kalian" ucap Bapak lagi.


Tempat yang luas dengan fasilitas yang lengkap. "Pak, apa mereka akan di sini terus dan nggak pulang?" tanyaku pelan.


"Ada waktu berkunjung bagi orang tua Nak, biasanya seminggu sekali atau ada yang sebulan sekali karena rumah mereka yang jauh, mereka juga akan pulang Nak, biasanya sebelum lebaran atau liburan sekolah, mereka itu sama dengan sekolah-sekolah yang lain, tapi disini di tekankan pada segi ilmu agamanya Nak! Sekarang paham kan? Jelas bapak pada kami."


Tak terasa sudah enam hari kami di pondok, hari ini waktu kami untuk berkemas, karena esok pagi kami juga harus tiba di rumah.


Masih sore hari Bapak dan Lintang sudah ada di rumah pondok, setelah sepagi tadi Bapak dan Lintang sibuk di pondok. "Gimana Lintang seminggu di pondok, apa masih ingin mondok?" tanya Bapak tiba-tiba.


Lintang yang di tanya secara tiba-tiba oleh Bapak langsung tersenyum. "Masilah, sekarang Lintang tambah yakin dan malah nanti setiap libur sekolah Lintang ingin pergi ke sini, boleh kan pak?" tanya Lintang sembari tersenyum.


Ibu dan Bapak langsung saling menatap seakan tak percaya dengan keinginan Lintang.


Dengan membereskan sisa bawaaan kami Ibu masih belum menjawab pertanyaan Lintang.


"Boleh kan?" tanya Lintang lagi.


Sembari tersenyum Bapak kemudian mendekat dan mengusap kepala Lintang.


"Kita lihat untuk dua tahun ke depan, apa Lintang bersungguh-sungguh dan masih ingin mondok, jika memang Lintang sudah benar-benar yakin Bapak setuju dan tak keberatan," jawab Bapak sambil menyusul ibu masuk kamar.

__ADS_1


Tak terasa hari berjalan dengan cepat, setelah makan malam Ibu meminta Mbak Yas dan Mbak Ning membereskan semua peralatan dapur dan menyimpannya lagi dengan rapi.


Sudah ada dua koper yang siap kami bawa dan beberapa tas punggung kami masing-masing.


"Cepat istirahat, karena. besok kita akan berangkat pagi." Kembali ibu mengingatkan kami.


Memasuki kamar masing-masing saat terdengar suara ketukan pintu dengan sedikit keras dan berulang-ulang.


Dengan tergesa terdengar Mbak Ning membuka pintu hingga beberapa saat kemudian kembali suara pintu di ketuk nampaknya dari kamar ibu dan terdengar pintu kembali di tutup.


Samar-samar terdengar suara Bapak berbicara dengan Ibu dengan nada sedikit pelan, kemudian terdengar pintu di tutup lagi.


Aku yang masih tidur-tidur ayam sedikit penasaran dengan apa yang terjadi barusan.


Memilih untuk turun dari ranjang dan menuju ke luar kamar, begitu pintu kamar aku buka, aku sedikit terkejut melihat Ibu masih duduk di kursi ruang tamu dengan gelisah.


"Bu ... panggilku pelan dan itu membuat ibu berjingkit karena terkejut.


"Ada apa?" tanyaku penasaran."


Ibu masih terdiam dan tak menjawab hingga beberapa saat kemudian.


"Abah kembali sakit, Bapak di minta untuk menemani Abah saat ini."


Setelah mendengar ucapan ibu, aku memilih untuk diam dan menemani ibu duduk di ruang tamu.


Satu jam, dua jam hingga selepas subuh Bapak baru pulang, ada guratan kesedihan dan capek nampak jelas dari wajah Bapak.


Melihat aku dan ibu sejenak. "Abah sudah baik kan meskipun belum sehat betul, Bapak sudah menyuruh anak-anak pondok untuk


mengawasi."


"Bapak akan tidur dulu, mungkin untuk satu jam kedepan dan kepulangan kita undur waktunya."


Tak berbicara lagi tapi mengajak ibu masuk kamar. Tak lama akupun memilih untuk tidur di kursi ruang tamu.


"Kak, bangun," suara Arion saat aku ingin memejamkan mataku.


Masih dengan kantukku dan sesekali aku menguap, akhirnya aku memilih untuk bangun dan duduk sejenak.


"Ayo bersiap, kita akan pulang dan di tunggu oleh sopir," ucap Lintang yang tiba-tiba.


Tak bertanya apapun akhirnya akupun bergegas untuk bersiap, terlihat ibu, Kinanti dan yang lainnya sudah melakukan persiapan.


"Bapak tak ikut pulang Bu?" tanyaku saat kami akan berangkat.


"Bapak kalian masih ada urusan di pondok, Abah sakit, kalian juga harus sekolah besok, kita pulang dulu, nanti jika Abah sudah sehat, Bapak akan pulang," jawab Ibu panjang lebar dengan wajah muram.

__ADS_1


"Ayo buruan naik, Mbak semuanya sudah di bawa kan?! Tanya ibu lagi.


Hanya anggukan kepala Mbak yas dan Mbak Ning yang ku lihat dan setelahnya kami semua naik dan perjalanan pulang di mulai.


__ADS_2