OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 54 . HARI PERTAMA KE SAWAH


__ADS_3

Pagi ini masih pukul delapan saat ibu memanggil," Cepat Pram, keburu siang kasihan para pekerja dan kopinya juga keburu dingin nanti."


Keluar dari kamar mengenakan baju lengan panjang serta celana panjang, saat melihat aku ibu hanya menggelengkan kepalanya saja," sudah siap," ucap ibu lagi.


Mengikuti langkah ibu membantu membawa dua rantang andalan, begitu sampai di halaman Mak Sunar juga sudah datang dan langsung meminta satu rantang yang aku bawa.


"Tumben Nduk ikut? ya Mak, biar tahu rasanya di sawah itu gimana? nanti kalau dari kampus aku dapat tugas terjun ke sawah nggak kaget, sambil merubah bawaan aku kini sudah berpindah ke tangan kiri, karena merasa pegal di tangan kanan.


"Pegel Pram? tanya ibu sembari memakaikan topi dari anyaman bambu berbentuk bulat dan atasnya sedikit lancip.


Setelah melewati jembatan dari rakitan bambu, ibu memanggil untuk duduk di pondokan menaruh rantang dan kopi serta beberapa cemilan.


"Monggo seng badhe ngersakaken kopine mumpung taseh anget," ucap ibu dengan lantang, saat aku mulai memindai sekeliling masih sama, banyak yang menunggu dan hampir setiap sudut.


Kini aku melangkah berjalan menuju apa yang aku lihat, aku sedikit terkejut saat melihat ada sesajen.


"Bu, kenapa masih menggunakan ini? tanya Pram heran. "Biar Pram itu tradisi toh tidak menganggu juga mereka hanya berjaga," ucap Ibu lagi.


"Lalu siapa yang melakukan ritualnya, bukan Ibu kan? aku lihat ibu menggeleng.


"Bukan Pram, sudah ada orang yang di tunjuk Simbahmu dan itupun sudah dari dulu dan yang saat ini yang melakukan ritualnya


sudah generasi yang ke lima," mendengar penuturan ibu aku hanya mengangguk


toh nyatanya memang benar.


"Bu ... kini aku sudah menunjuk pohon yang besar, itu pohon beringin Bu? Ibu mengangguk," itu batas sawah kita Pram."


Mendengar penuturan ibu, aku teringat akan penuturan Kakek Leluhur, sesaat aku menatap tajam pada pohon itu.


"Bu, bukannya itu pohon tempat penunggu


sawo? tanya Pram lagi. "Itu dulu sekali pram," ucap Ibu ragu.


Kembali duduk di pondokan menatap ke hamparan sawah, angin pagi bertiup segar sinar matahari masih tidak begitu panas, menatap daun padi yang mulai berwarna semburat hijau bercampur dengan warna kuning dengan embun yang masih menempel di ujung daunnya, memancarkan kilau sinarnya saat di terpa sinar matahari," cantik," aku berguman," seperti intan bercahaya."

__ADS_1


Tak lama burung pipit dan gereja saling berebut hinggap di bulir-bulir padi yang masih nampak kuning ke hijauan, saling terbang rendah dengan suaranya yang ramai.


"Kok senyum-senyum Pram? tanya Ibu menatap. "Duduk di sini membuat hati tenang Bu," jawab aku pelan. "Tak berapa lama terdengar suara grompyang ...


grompyang ... hus, hus, hus ... suara para pekerja mengusir burung-burung yang hinggap di pohon padi.


"Kaleng-kaleng itu untuk menghalau burung Pram supaya tak memakan bulir-bulir padi," ucap ibu menjelaskan.


Secara reflek kini aku menatap lurus kedepan, menatap sosok yang berbeda dari yang lainnya. Dia hanya duduk menatap para pekerja, merasa aku perhatikan sosok itu tiba tiba berdiri dan hormat.


"Itu yang menjaga sawah dan kebun ini Pram dan jika di dunia kita dia adalah mandornya


dan jika kamu melihat di setiap sudut itu adalah pagarnya," ucap Simbah Leluhur yang datang secara tiba tiba.


Aku hanya tersenyum setelah mendengar semuanya aku melihat ada pekerja yang bolak balik ke arah pondok tapi di urungkan.


Kini aku berdiri sembari membawa dua ceret besar yang berisi kopi dan satu berisi teh.


"Monggo pak, yen badhe ngunjuk," sembari aku meletakkan di sisi beserta gelasnya juga.


'Mungkin sungkan,' pikir aku," pak mangke nek ibu madosi sanjang mawon kulo dateng kebon kacang panjang," ucap aku seraya berjalan ke arah kebun kacang panjang.


Matahari sudah agak tinggi saat aku sampai di kebun kacang panjang, beruntung aku memakai topi bundar ini.


"E ... Nak Pram," ucap Mak Sara.


"Boleh Pram bantuin Mak? monggo Nak," jawab Mak Sara sembari tangannya sibuk memetik kacang panjang.


Tangan aku kini sudah mulai memetik satu persatu kacang panjang sesuai arahan Mak Sara.


"Mak, selain menanam kacang panjang juga menanam apa Mak? bukannya menjawab pertanyaan aku, Mak Sara malah berbicara yang lain," mangkanya sering ke sawah Nak di sebelah tanaman kacang, ada kentang di sebelah nya cabe besar dan kecil sampai mendekati batu besar itu," sembari menunjuk ke arah yang di maksud. "Di sana pohon jagung dan kacang tanah."


"Kalau Nak Pram berjalan sedikit ke barat di sana khusus untuk brokoli dan kubis Nak."


Aku mendengarkan dengan seksama secara tiba-tiba dengan menahan takut," Mak ... Mak, hiiiii ... Mak Sara," panggil Pram keras.

__ADS_1


Mak Sara yang aku panggil sedikit keras langsung datang," kenapa Nak Pram kok teriak? "hiiiiii ... sembari aku menghentakkan sendal, melihat tingkah Pram, Mak Sara langsung tertawa tergelak," ayo Mak, bantuin buang cacing nya," sembari aku goyang-goyangkan kaki, tapi cacing nya terasa makin lengket dan tak mau turun juga.


Dengan sedikit merunduk Mak Sara mengambilnya dengan tangan dan menunjukkan padaku," hiiii ... ucap Pram sembari bergidik.


Setelah mengambil cacing itu dan membuangnya," mangkanya Nak kalau ke sawah pakai sepatu seperti ini," sembari menunjukkan sepatu plastik yang di pakai dan tingginya hampir selutut. "Lah ... kenapa ibu nggak ngingetin Mak," ucap Pram pelan.


"Ya, mungkin juragan pikir anak nya cuma mau duduk ngawasi," eh ... malah," tak melanjutkan ucapannya, kemudian menutup mulutnya karena merasa ke ceplosan.


Sudah hampir dhuhur, saat para pekerja mulai naik untuk istirahat begitu juga dengan aku dan Mak Sara," ayo Nak, cuci tangan dulu," ajak Mak Sara sembari berjalan.


Mak Sara mengajak berjalan sedikit ke belakang kebun kacang tanah, nampak batu besar yang Mak Sara di ceritakan.


Ternyata di balik batu ini ada sumber mata air, tempatnya teduh karena banyaknya tanaman pohon bambu dan tertutup dengan rimbun pohon bambu jadi tidak panas meskipun siang hari. Sumber mata air yang membentuk kubangan meski tak begitu dalam. Airnya jernih bahkan ikan wader dan kotes yang bersembunyi di balik batu pun terlihat.


"Mak jangan sampai di daerah situ, di sini saja." ucap Pram lagi dan tolong beritahu yang lainnya juga. Karena nampak ada seorang wanita dengan memakai baju kebaya bertudung kain yang di sampirkan berselempang di kepalanya sembari membawa tongkat tengah mengawasi aku dan Mak Sara.


Mungkin ini adalah wilayahnya seketika aku uluk salam tanda permisi. Aku dan mak Sara langsung mencuci tangan dan kaki, kemudian membasuh wajah, masih dalam pengawasan wanita bertudung.


Saat aku membasuh wajah airnya terasa segar dan dingin, sekilas nampak di sudut batu segerombol udang kali berenang di antara lumut yang menempel di batu.


Ternyata ada keindahan tersendiri yang tersembunyi ucap batinku," ayo Nak," ajak Mak Sara.


Berjalan sedikit mendekat ke arah pondokan sudah aku melihat beberapa pekerja sudah memulai makan," Pram sini," ajak ibu sembari menyerahkan nasi dan lauknya yang sudah di pincuk dengan daun pisang. Terasa menyenangkan makan bersama meski hanya dengan lauk seadanya dengan di pincuk daun pisang.


Beberapa pekerja memang sudah terlihat setengah baya dan hanya ada satu dua yang muda dan itu pun rata-rata sudah menikah.


"Sesudah makan nanti, semuanya bisa pulang dan untuk menginggatkan saja nanti sebelum pulang, tolong jaringnya di pasang nggih? Pak Man tolong nggih? ucap ibu sopan.


"Nggih Nur, tumben Pram ikut Nur? tanya Pak Man. "Nggih Pak, kersane belajar, nggih ngapunten kalian di ajari kersane saget," ucap ibu lagi.


Aku melihat dari komunikasi ini Ibu sangat menghargai para pekerjannya dan tak memandang remeh pada mereka. Benar setelah selesai makan semuanya bergegas bersih-bersih begitu juga dengan aku dan ibu," Nur ... kacangnya," ucap Mak sara.


"Oh ... terima kasih Mak, biar besok di bawa ke pasar," ucap Ibu lagi.


Aku sedikit termenung ternyata seribet ini mengurus sawah dan ladang.

__ADS_1


"Apa Ibu nanti yang akan membawa ke pasar tanya Pram lagi," terkadang mereka yang datang kemari Pram."


"Hemm ... hanya itu yang keluar dari mulut aku. "Kok hem," sahut ibu.


__ADS_2