OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 29 . HANTU BOCIL


__ADS_3

Tepukan tangan ibu di bahumengejutkan Pram.


"Ibu? Kebiasaan melamun mandi gih sudah sore, pakai air anget Pram."


Ibu mendorong ke kamar dan langsung membawa ke kamar mandi.


"Ibu tunggu di depan kamar Pram."


"Pram tak ingin lama-lama lagian hawanya juga sedikit dingin."


Setelah mendengar ucapan Pram, Ibu langsung bergegas keluar. Berdiri sedikit menepi. Mendengar Pram memanggil ibu langsung masuk dan langsung mematikan shower nya.


Membantu beberes, mengajak berdiri sebentar untuk mengelap kursi roda yang basah kena air.


Mendudukkan lagi dan mendorong ke kamar, Ibu berhenti sejenak kemudian mengunci kursi rodanya dan berusaha mengajak Pram berdiri.


"Sambil belajar ya Nduk! Ayo, kini sudah membantu berdiri, lalu menggeser kursi rodanya.


Merangkul tubuh Pram.


"Ayo pelan angkat kakinya."


Menunggu dengan sabar hingga Pram bisa melakukannya dengan sedikit bergetar, toh akhirnya bisa juga, hingga sampai di tepi ranjang ibu mendudukkan tubuh Pram.


"Mundur sedikit Nduk."


Lalu ibu menaikkan kaki Pram satu-satu.


"Sudah pinter," ucap ibu.


"Nanti makannya ibu bawa ke kamar saja Nduk," ucap ibu. Kemudian menarik sesuatu.


"Ini alat bantunya tapi jangan keburu di pakai Pram."


Pram tak menjawab atau mengangguk, tapi tatapannya kini tertuju pada wajah ibu, nampak lelah dan sedikit kurus. Kini Pram sangat menyesal atas kejadian ini, bukan hanya pada Ibu, tapi pada Simbah juga.


Tiba-tiba hati Pram bergetar saat mengingat Simbah.


"Jadi kangen," guman Pram pelan.


Air matanya kini sudah turun dengan sendirinya mengingat semua ini.


Mengikis air matanya karena Pram takut ketauhan ibu, mengatur napasnya setenang mungkin menghembuskan dengan pelan. Pandangan Pram masih melihat jalan raya saat adzan berkumandang, Pram tersenyum saat melihat sosok anak kecil mengintip di jendel kamar.


"Seperti pencuri," ucap Pram.


Anak kecil ini kini sudah berdiri di sisi Pram.


"Pergi. usir Pram saat bertepatan ibu masuk."


"Siapa Pram, yang kamu suruh pergi," tanya Ibu heran.


"Cicak Bu, takut eeknya jatuh ke kepala Pram."


"Jangan bohong! Enggak Ibu," jawab Pram memang bohong.


"Jangan tutup tirainya Bu, supaya Pram nggak bosen, biar begitu saja," ucap Pram sembari menatap keluar.


"Ooo, hiya ini," ibu memberiku bola kecil pada Pram.


"Kepal-kepal Pram, biar tangannya nggak kaku, bergantian seperti ini, pesan pak Dokter tadi," ucap ibu sembari keluar.


Setelah ibu keluar, bocil ini masih saja berputar-putar di kamar.


"Sudah pergi! Pram nggak suka sama kamu," usir Pram lagi.


"Tapi aku suka," jawab sosok sambil jungkir balik.

__ADS_1


"Kenapa kamu suka di sini?" tanya Pram pelan.


Melihat sosok ini tertawa pelan. "Ada mbak di sini dan aku suka," jawab sosok ini


"Memang rumahmu mana? Tuh, kini menunjuk pohon yang di ujung jalan.


"ya, sana pulang," usir Pram lagi.


Melihat sosok ini menggeleng. "Kenapa ? Takut?"


Hanya anggukan kecil yang Pram lihat.


"Sama siapa ?" tanya Pram lagi.


"Ada yang jahat ?" Tak menjawab tapi sosok ini , seperti memastikan sesuatu, kemudian melihat Pram. Sesaat kemudian tersenyum dan menjawab.


"Semua yang di sini takut sama Mbak, apalagi sama Nenek-Nenek yang pernah kemari," si jahat juga takut," jawab sosok ini lagi.


"Kamu pasti bohong! jawab Pram.


"Sungguh Mbak aku nggak bohong."


"Sudah. Pulang. Pram nggak suka sama kamu," ucap Pram sembari tangannya mengepal-ngepal bola kecil secara bergantian.


"Meskipun Mbak nggak suka, aku akan tetep ngikutin Mbak,"ucap sosok ini sembari menunduk.


"Aku suka lihat yang di tubuh Mbak, dia lihat aku, tapi mereka marah."


"Mangkanya pergi paling tidak di depan jendela gih," ucap Pram lagi.


"Oh ya, awas kalau kamu ganggu ibu aku."


Bocil itu hanya mengangguk dan melesat keluar jendela. Tak berapa lama, ibu masuk dengan membawa makanan di piring beserta lauknya.


"Bu ... tolong mulai hari ini makanannya di tutup rapat ya!! Sembari menyuapi Pram, ibu tersenyum.


Benar seperti dugaan Pram, hantu bocil itu sudah mengendus-enduskan hidungnya.


Pram langsung mendelik melihatnya dan bocil itu langsung diam. Setelah makan ibu langsung ke luar kamar. "Jangan begadang Pram," ucap ibu.


Sudah pukul delapan bocil itu masih saja berlalu lalang di depan kamar.


Pam sedikit tersenyum mengingat kata katanya. "Kenapa kau bisa jadi arwah," tanya Pram tiba-tiba, seketika bocil berhenti langsung menatap Pram.


"Menunggu seseorang tanya Pram, si bocil menggeleng."


"Lalu ?"


Tidak mengatakan apa-apa tapi menangis


"Mbak kan tahu jadi aku nggak perlu jawab."


"Mau di bantu?" tanya Pram. Sesaat Pram melihat hantu bocil ini menggeleng.


"Kau tak mau tenang?Atau kau memang jahat," tanya Pram lagi.


Bocil makin menangis. "Ya, sudah kalau nggak mau cerita ya sudah, Pram ngantuk."


Kini aku sudah merosotkan tubuh dan tiba tiba bocil itu bicara. "Aku tak tahu siapa yang aku tuju dan aku tunggu, tak ada cahaya yang menuntunku."


Seketika hatiku berdesir. "Nanti, jika cahaya itu muncul sedikit saja Mbak mau membantuku!"


Pram masih terkejut dengan pembicaraan ini.


Ini hal baru buat Pram. Apa seperti ini, mereka bingung akan kemana dan menuju kemana.


"Siapa namamu? Si bocil langsung menggeleng."

__ADS_1


"Mau Pram beri nama?"


"M ... mungkin Sekar, Rima atau Tiwi, Pram melihat bocil ini menggeleng, Pram berhenti sejenak. Bagaimana dengan sofia, mau?" tanya Pram. Bocil ini langsung tersenyum dan mengangguk.


Mulai sekarang Pran memanggilmu Sofia kini sosok bocil ini makin tersenyum lebar.


"Ya, sudah Mbak kirim doa ya ... biar cahaya adik bisa ketemu."


Berdoa dalam hati mengirim surah Al fateha sembari menyebut namanya, semoga kau lekas di berikan jalan," ucap Pram setelah kata amin yang diucapkan.


Melihat sosok ini sudah duduk tenang di bawah lampu teras, di taman kecil yang sengaja di pasang di tengah. Akhirnya mata Pram terlelap juga, entah siapa yang menyelimuti dan menutup tirainya.


Pram terbangun saat ibu mengoyang tubuh pram.


"Pram ... sudah pagi Nduk bangun gih, harus siap-siap, mau terapi kan!"


"Mata Pram kok nggak bisa di buka ya Bu , masih ngantuk," ucap Pram sembari menggeliat.


"Pasti semalam tidurnya malam," ucap ibu sembari melipat selimut.


"Sini ibu usap wajahnya dengan air."


Melihat ibu sudah masuk membawa wash lap basah .


Wah ... manjur benar cara ibu membangun kan aku, ibu tersenyum setelah melihatku


cengar cengir kedinginan.


"Ayo ibu bantu mandi, ibu sudah telfon terapisnya datang jam sepuluh pagi ."


Seperti biasa ibu sudah siaga hingga Pram selesai dari kamar mandi. setelah keluar dari kamar mandi, Ibu memindai wajah Pram.


"Ternyata ampuh Pram obat nya. Coba lihat," ucap ibu sembari memberikan kaca.


"Luka-luka di wajahmu bersih," ucap ibu sembari tersenyum.


"We ... manjur juga obat ini," ucap ibu lagi.


"Pantesan harganya mahal," ucap ibu keceplosan.


"Nggak apa-apa asal itu untuk anak ibu yang cantik ini," ucap ibu sembari menyisir rambut.


" Sudah jangan sedih," ucap ibu lagi.


Aku hanya menghembuskan napas panjang.


"Bagimana Pram tangannya masih kaku," tanya ibu lagi.


"Sudah nggak Bu, kini tangan Pram ringan nggak kaku."


"Alhamdulillah .... ucap ibu kemudian.


"Ayo, kini ibu sudah menurunkan kaki satu satu, meraih kursi roda dan mendudukkan Pram, kemudian mendorongnya ke depan .


"Duduk di sini Pram, biar tahu kalau terapisnya datang, ibu mau kebelakang sebentar."


Melihat ibu sudah melangkah ke belakang. Masih pukul sembilan pagi, masih satu jam lagi, kini tangan Pram sudah bisa sedikit di gerakkan.


Pram menoleh ke taman depan sejenak, tak nampak bocil. "Sofia ... panggil Pram pelan."


"Sofia .... sekali lagi memanggil tetapi tak nampak juga kelebatnya."


Pram sedikit termenung mengingat percakapannya dengan Sofia.


"Hm ... menarik napas dalam-dalam kasihan," ucapku pelan.


'Siapa juga yang tega membuangnya di tempat ini dan beruntung masih punya tempat untuk tinggal dan tempat untuk menunggu,' batin Pram berucap.

__ADS_1


__ADS_2