OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 31 . JANGAN PLIN PLAN PRAM


__ADS_3

Melihatku bersih kukuh ingin kembali ke kampung ibu menatap heran.


"Apa ibu nggak salah dengar Pram! tanya ibu.


Aku hanya menggeleng untuk meyakinkan.


"Kamu tahu Simbah kan juga melarang," ucap ibu heran.


"Bu, percaya sama Pram ini kesempatan Pram, Bu Pram mohon."


Ibu hanya menggeleng mendengar ucapanku dan langsung kebelakang.


Kini aku yang sudah bisa berjalan dengan pelan menyusul ibu.


"Bu .... panggil Pram."


Melihat ibu duduk dengan ponselnya aku tersenyum jadi ini yang membuat ibu kerasan di belakang.


Seketika ibu mendongak dan tersenyum lalu berdiri mengambil sesuatu dan menyerahkan padaku.


"Ini kalungnya dan ini hpmu Pram, pikirkan lagi keinginannmu," ucap ibu lagi sembari memasang kalung di leherku.


"Bu .... panggil Pram lagi."


Ibu menatap dengan geram, Ibu akan menyetujui dengan satu syarat ibu akan menunggui kamu selama ujian gimana?"


"Nggak masalah," ucap Pram asal.


Setelah mendengar ucapan Ibu, kini aku berpindah duduk di teras belakang.


Mengulir hp yang di berikan ibu, saat menyalakannya aku sedikit mengerutkan kening. Ibu hebat ternyata batunya sudah di cas penuh, Pram kemudian tersenyum mendapati ini.


Karena tak ada yang perlu di lihat, aku memilih mematikan ponsel dan berjalan perlahan menuju kamar.


Merebahkan tubuh, pikiran Pram tiba-tiba teringat akan Simbah, sudah hampir dua minggu Simbah tak datang kemari. Ada rasa was-was juga sedangkan Rian dia juga tak datang. Mencoba kembali apa yang lama tak aku lakukan.


"Ayo sukma kita jalan-jalan, aku terbaring di kasur ku letakkan tanganku di sisi kanan dan kiri mengatur napas dengan setenang mungkin dan sebebas mungkin."


Rasa dingin dan tenang mulai datang, sepi dan fokus sukma Pram kini sudah keluar dengan sendirinya. Pram berjalan mengitari rumah tak ada yang aneh kini, Pram penasaran dengan pohon yang di tunjuk bocil Sofia.


Tak jauh hanya sedikit menyeberang, benar yang di katakan Sofia ternyata pohon itu rame dengan sosok seperti Sofia.


Saat Pram melintas, Pram melihat sosok-sosok ini menepi, sang pelindung langsung berdiri dan berada di sisi Pram sebagai tameng.


Mataku kini memindai sekitar pohon besar ini, tak menemukan Sofia. "Kemana bocil itu pergi pikir Pram."


Tiba-tiba sang pelindung berbisik.


"Pulang, ibu sedang menuju kamarmu bisik pelindung."


Seketika sukma Pram melesat dan kembali masuk dalam raga. Mengatur napas sejenak dan kemudian Pram duduk di sandaran ranjang.


"Sofia kemana dia? Kenapa aku jadi kepikiran.


"Pram, siap-siap habis ini kita berangkat karena banyak hal yang harus di urus."


Seketika aku tersenyum. "Besok ya Bu !"


"Pram, ibu nggak suka kalau kamu plin plan gini. Berangkat atau tidak sama sekali, ibu sudah menuruti semuanya. Atau ibu yang buat keputusan,"ucap ibu tegas.


"Ya. Bu. Maaf," ucap Pram sembari beringsut turun dan bersiap.


Menyiapkan baju seadanya dan buku yang di bawa Rian serta barang baru yang Pram punya ponsel Pram.

__ADS_1


Masih pukul tiga sore. "Andaikan melakukan perjalan satu jam setengah pasti sudah sampai," guman Pram pelan.


Setelah semua siap Pram menutup pintu kamar. Duduk di ruang tengah, memindai seluruh ruangan tak nampak bocil. "


"Sofia ... "


"Sofia ... panggil Pram, tak berapa lama sosok Sofia sudah muncul.


"Dari mana?" tanya Pram.


Sofia hanya menunjuk tempat di ujung taman.


"Ngapain?"


"Jangan nakal, Mbak mau pulang, kamu boleh tinggal di taman depan. Jagain rumah Mbak ya?Jangan macam-macam aku mengawasimu."


"Entah, kini mulutku sudah merapal sesuatu."


Tak berapa lama, muncul sosok pendamping Pram dan kini sudah berdiri di samping Pram.


" Pergilah aku akan menjaga rumahmu," ucap sosok pendamping teman masa kecilku.


"Biar Sofia aku awasi."


"Terima kasih", ucap Pram sebelum mengakhiri percakapan rahasia ini. Tak berapa lama ibu sudah keluar dengan membawa tasnya.


"Siap Pram?" tanya ibu.


Pram hanya mengangguk dan langsung berdiri. "Ingat jangan macam-macam Pram


fokus dengan tujuanmu."


Berjalan keluar beriringan, ibu menyerahkan gembok pagar rumah, sementara ibu sudah mengunci pintu rumah.


Berdiri sejenak menunggu taxi yang ibu pesan. Tak berapa lama berdiri, ada mobil berhenti di depan kami. Meyakinkan sejenak, apa kami yang memesan.


Kemudian ibu membuka pintu dan mengajakku untuk masuk.


"Hati-hati Nduk," ucap ibu.


Awal perjalanan terasa hening, sesaat aku mulai bertanya pada ibu.


"Bu, Simbah kok nggak kerumah ya? Hati Pram rasanya sedikit nggak enak."


Ibu yang mendengar pertanyaan ku hanya melihat sekilas kemudian kembali menatap ke depan.


"Berprasangkalah yang baik Pram? Biar nanti menjadi hal yang positif."


Hanya itu yang ke luar dari bibir ibu.


Perjalanan memang cukup jauh, benar dugaanku satu jam setengah ketika kami tiba di depan gang rumah kami.


Karena untuk masuk sangat tak memungkinkan karena jalan yang tidak begitu lebar.


Aku mengekor ibu memasuki gang rumah,


para tetangga yang melihat kedatangan kami langsung menyapa dan berbagi kabar.


"Alhamdulillah," itulah yang kira-kira mereka ucapkan saat melihatku sudah sehat dan bisa berjalan.Banyak doa selamat yang aku terima.


Saat hampir mendekati rumah ada hawa aneh yang menyelimuti.


"Pram. Hati hati," ucap pelindungku.

__ADS_1


Kini aku sudah berdiri di depan rumah, masih sama tak ada yang berubah tapi kini aku melihat kearah pohon jambu.


"Bu ... panggil Pram, saat melihat ke arah pohon jambu."


Ibu mengangguk dan tersenyum. "Ibu yang menyuruh memotongnya Pram."


"Ibu tak ingin ada yang jatuh lagi. Nanti biar ibu buat taman anggrek saja toh di sini kan belum ada yang nanam."


Pram tersenyum. "Ibu kini sudah canggih sejak pegang ponsel," ucap Pram sambil memeluk.


"Ayo keburu magrib," ucap ibu mengajak Pram masuk ke halaman.


"Tunggu Bu," ucap Pram seraya menarik ibu.


"Aduh kan mulai lagi," ucap ibu.


"Ayo Bu," ajak Pram, kini ganti Pram yang mengajak ibu masuk.


Masih sama, tak ada perubahan rumahnya juga rapi dan bersih hanya pohon jambunya saja yang berkurang.


"Pram kenapa menarik ibu," sembari memasukkan kunci ke lubang nya.


"Nggak ada apa-apa Bu, lihat sebentar lagi Simbah kan datang," ucap Pram asal.


"Kamu itu, sok tahu Pram," ucap ibu. Aku tak menjawab hanya senyum ku yang terlihat.


Begitu pintu terbuka kami langsung mengucap salam "Assalammualaikum."


Secara bersamaan pula kami menjawab salam kami. Masuk ke dalam rumah yang hampir tiga bulan kami tinggalkan rumah ini, merindukan kamar, bantal dan gulingku.


"Bu, Pram ke kamar dulu," ucapku sembari berlalu.


Sesaat aku berhenti sejenak, sedikit ragu membukannya.


"Sudah buka saja bisik nya."


Begitu pintu kamar terbuka, aku sedikit tersenyum. "Masih sama seperti yang aku tinggalkan."


Setelah membersihkan sebentar kini aku sudah mulai merebahkan tubuh di ranjang


mulai merencanakan sesuatu untuk esok. Mengambil buku yang di berikan Rian. Mulai membaca ulang, lembar demi lembar, sedikit tersenyum sembari menatap buku ini ternyata benar-benar aku sudah paham isinya.


Masih di kamar meletakkan buku yang ku baca begitu saja, mendekat ke arah kaca


aku mematut diriku di depan kaca, rambutku mulai panjang tetapi tetap untuk yang di potong karena terjatuh masih belum sama rata panjangnya.


"Ah, biar saja," ucap Pram pelan, masih tertutup dengan rambut atasnya pikirku."


"Semoga esok aku bisa mengikuti pelajaran dengan maksimal," ucap Pram pelan.


Masih mematut diri di depan kaca, saat suara ibu terdengar memanggil.


"Pram ... "


Dengan malas melangkahkan kaki untuk mendekat.


"Pram sini, makan dulu Nduk terus istirahat , sudah salat belum?" tanya ibu bertubi.


Memang sudah hampir pukul delapan malam, "Pram nggak makan Bu, tapi mau minum susunya saja," ucapku sembari meminumnya hingga habis setelah itu mencuci gelasnya.


Kini kakiku sudah melangkah ke ruang tamu ingin duduk sejenak dengan tenang.


Melakukan kegiatan yang lama aku rindukan duduk menatap langit malam melalui jendela ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2