
Mas Rian yang masih terkejut aku peluk, kini lebih terkejut lagi dengan suara yang tiba-tiba terdengar, aku segera melepas pelukan ku.
Aku tersenyum malu saat tahu siapa yang datang. "Untung masih aku sendiri yang datang," ucap Nurdin sembari nyelonong masuk dan duduk di antara aku dan Mas Rian.
"Eh ... jangan duduk di sini, ayo ke ruang tamu," ucap Mas Rian sembari menarik tangan Nurdin.
Saat tiba di ruang tamu nampak Hardan dan Satria ikut masuk tak lama kemudian menyusul Sinta, dan Kaila.
"Mana Pram," tanya ke dua gadis ini serentak, belum juga langkah mereka menuju tempat yang di maksud, nampak Pram berdiri di ruang tamu sembari tersenyum.
"Aduh, kangen Pram, teriak Sinta dan langsung merangkul begitu juga dengan Kai.
Nampak, Mas Rian tengah berbincang dengan Nurdin, Hardan dan Satria dengan serius, entah apa yang tengah mereka bicarakan.
Tapi pandangan Pram teralihkan dengan bisikan Kai. Sungguh!! Seakan tak percaya dengan apa yang aku dengar kemudian aku tersenyum menanggapinya.
Perbincangan panjang lebar membahas ini dan itu, hingga saat kembali dada ku terasa sesak kembali, seketika aku berdiri dan berlari ke arah wastafel, kembali memuntahkan darah dari mulutku.
Melihatku seperti ini Mas Rian sudah ada di dekatku dan kembali membantuku. "Pram," ucapnya sembari menatapku lekat. "Apa separah ini? Kemudian menuntunku untuk kembali duduk.
Teman-teman yang datang ikut terkejut melihat keadaan ku yang tak baik-baik saja.
"Ke kamar ya?" tanya Mas Rian. "Pram , kembali Mas Rian memanggil. Aku hanya menggeleng. "Aku bosan di kamar Mas, biarkan aku duduk di sini saja," kini Pram berbicara dengan badan lemasnya.
Teman-teman yang datang menatap dengan cemas. "Apa ini, akibat dari kejadian tempo hari Pram?" tanya Satria tiba-tiba. Aku hanya mengangguk saja.
Tak berapa lama Satria ke luar, melihat Mas Rian masih menatap dan terus memegang tanganku. "Pram, cerita apa yang bisa kami bantu," ucap mereka bersamaan.
Beberapa menit kemudian Satria sudah masuk kembali dengan ponsel menyala lalu menyerahkan padaku, begitu ponsel aku terima nampak wajah Mbah Lasmi dan Ida.
"Bocah tambeng," hanya itu yang keluar dari mulut Mbah Lasmi dan masih terus menatapku. "Sore mbah?" sapa Pram sembari tersenyum.
"Da ... sapa Pram kembali, tetapi kini Ida mengisyaratkan aku untuk diam."
Masih memegang ponsel saat kembali dada ku bergejolak , kini tak mampu aku tahan dan rasanya sudah penuh di mulutku.
__ADS_1
Dengan meletakkan ponsel ke sembarang tempat aku langsung membekap mulutku agar sesuatu yang ingin keluar dari mulutku dapat aku tahan sesaat, tapi aku terlambat darah segar kembali ke luar dari mulut ku
kembali Mas Rian aku buat bingung, mencari wadah untuk menampung nya.
Sementara teman-teman yang lain langsung menepi mencari pel dan yang lainnya.
Satria yang sedari tadi masih sibuk dengan ponselnya langsung berhambur ke luar dan melajukan mobilnya.
Semuanya panik, masih dengan Mas Rian yang terus menemaniku hingga muntahan terakhir.
Badan Pram kini benar-benar terasa lemas, Mas Rian langsung membaringkan tubuhku di kursi, tak ada kata-kata yang ke luar dari mereka, semua diam menatapku.
Ibu yang baru datang pun terkejut melihat keadaanku. "Pram, kita ke rumah sakit ya?"
"Bu, aku tak mau, meskipun ibu membawa ku ke rumah sakit manapun hasilnya pun pasti tetap sama," ucap Pram lemas. "Tapi Pram ... "
"Aku hanya ingin tidur sebentar saja Bu."
Tanpa banyak bicara Mas Rian langsung membopongku masuk kamar dan merebahkan aku, masih ku dengar tangis ibu samar samar dari kamar. "Mas ... panggil ku dengan lemah. "Tolong lihat bagaimana kondisi pohon sawo, kenapa tubuhku serasa ikut tak bernyawa."
"Pram. Selalu, selalu seperti ini ucapan mu,
ucap mas Rian penuh emosi.
"Mas ... maaf, aku juga tidak tahu kalau efeknya akan seperti ini," ucapku pelan.
Ibu kembali masuk, membawa minuman dan beberapa makanan. "Bu, jangan membuatku seperti orang sakit, aku hanya lelah saja, bawa saja makanannya di meja makan."
Nurdin dan yang lainnya ikut masuk ke kamar untuk melihat keadaanku. "Ish ... kalian, pulang sana! aku baik-baik saja."
Nampak mereka bingung dan saling pandang. "Pram," panggil mereka serempak. Hingga beberapa saat mereka mendapat isyarat dari Rian dan mereka pun melangkah untuk berpamitan.
"Pram, kami tunggu kehadiranmu nanti dan kita sama-sama berdiri memakai baju toga, ingat itu dan berjanjilah pada kami."
Tak mendapat jawaban hanya ibu jarinya saja yang di ajungkan tanda oke, setelah berpamitan pada Pram dan ibunya serta Rian mereka pun pulang.
__ADS_1
Setelah mengantar mereka aku dan ibu Nur masuk ke dalam kamar Pram, hampir bersaman nampak Pram tertidur dengan wajah pucatnya.
Sudah dua hari Pram dalam kondisi yang sama teringat akan ucapan Pram tentang pohon sawo, aku bergegas melangkahkan kaki ku menuju rumah Simbah.
Begitu tiba di sana aku sedikit terkejut, benar kata Pram, pohon ini mulai tidak baik daunnya mulai nampak menguning di sana sini, buah sawo yang masih kecil-kecil satu persatu mulai berjatuhan dan memenuhi halaman, makam yang di bawahnya mulai kotor dengan banyaknya daun rontok.
Tiba-tiba pandanganku teralihkan pada rumah Simbah, belum genap seminggu rumah ini juga mulai rusak, atapnya mulai ada yang roboh, pintu yang tadi terlihat kokoh kini sudah mulai lapuk dan salah satu tepinya mulai lepas.
Langkahku terhenti saat melihat tanda merah yang di buat Pram mulai berlubang, lubang yang dengan cepat melebar dan kering.
"Apa ini dan apakah ini ada hubungannya dengan kondisi Pram?"
Setelah puas berada di rumah Simbah aku kembali bergegas ke rumah Pram.
Memasuki kamar Pram, aku melihatnya dia tertidur dengan pulas.
Dan kini langkah Rian menuju dapur. "Bu,
panggilku, terlihat ibu tengah duduk termenung menatap dengan lamunannya."
"Bu, panggilan Rian yang kedua mengejutkan ibu. "Eeeh, Rian, ada apa?"
"Jangan melamun Bu. Oh ya, Rian pulang dulu, nanti Rian kembali Bu dan saat ini Pram masih tidur," ucap Rian seperti menerangkan.
Bergegas keluar karena ada hal yang ingin aku bicarakan dengan ibu, belum kaki ku melangkah keluar nampak Satria turun dengan gadis muda dan seorang nenek kemudian menyusul Hanifa dengan seorang laki-laki yang seumuran dengan ibu Nur dan ibu ku.
Dan menyusul seorang laki-laki paruh baya dan ini adalah laki-laki yang waktu itu.
Aku urungkan niatku untuk pulang dan kembali masuk dan memanggil ibu Nur.
Melihat siapa yang datang ibu Nur sedikit terkejut dan seperti mengingat sesuatu.
Memasuki teras rumah satu persatu mereka memberi salam dan berjabat tangan dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
Sesaat ibu Nur menyeretku ke belakang dan berbisik padaku agar memanggil ibu Asih.
__ADS_1
Membantu ibu meyiapkan cemilan dan minuman seadanya. "Mas Rian ... terdengar teriakan dari kamar yang sangat keras dan dengan segera aku masuk.
"Pram ... panggilku dengan keras juga."