
Untung hari ini, hari minggu setelah perjalanan yang aku lakukan kemarin membuatku bangun kesiangan setelah mandi dan yang lainnya aku turun ke bawah, suasana nampak rame ada beberapa tetangga terdekat datang ke rumah.
Ibu melihatku sekilas, sementara Kinanti sedang sibuk di meja makan.
Sesaat Kinanti melihatku dan langsung memanggilku "Kinara sini, bantuin" ucap Kinanti sembari tangannya mrngerjakan sesuatu.
Begitu aku mendekat "Ada apa kok banyak orang" tanyaku pada Kinanti.
"Nanti sore ada Qataman" ucap Kinanti menjelaskan.
Tanpa di minta dua kali, aku langsung membantu Kinanti dan duduk di sebelahnya.
Sembari tangan kami bergerak "semalam kamu dari mana? tanya Kinanti menyelidik.
"Tumben kamu pingin tahu" ucapku sembari tanganku mengepal ngepal adonan kue.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum cerita ke Kinanti.
Sembari berbisik "Kinanti, kau tahu, sosok yang kita lihat di Mall, nenek jelek itu?"
Kini suaranya semakin pelan "nenek tua itu ternyata suruhan ratu ular, yang sering aku ceritakan padamu, kalau aku sering mimpi ratu ular itu."
Kinanti hanya mengangguk tanda dia mengerti
"Kinara, Kinanti cepat selesaikan itu dan jangan cerita yang aneh-aneh" ucap ibu sembari melihat kami berdua.
Tak lama datang beberapa orang untuk memasang sound sistem tak lama kemudian orang-orang ini juga mengeluarkan kursi meja dan segera menggelar karpet.
Tinggal sedikit adonan yang ku kepal-kepal tadi dan sebagian sudah di ambil mbak Ning.
"Kinara" panggil Kinanti serius dan berbisik "semalam aku dan ibu mengetuk pintu kamarmu, berkali-kali tapi kau tak juga membuka pintu, ibu sangat marah dan beruntung hari ini ibu sibuk" ucap Kinanti memberi tahu.
Tak terasa kue yang ku kepal-kepal dengan Kinanti sudah selesai.
Kini ibu memberi kami kardus-kardus kue dan nasi yang harus aku lipat.
Masih berkutat di ruang tengah, seketika aku berdiri menuju dapur, melihat beberapa aneka makanan sudah matang.
"Mbak aku ambil ini ya? boleh?! jawab mbak Ning dan mbak Yas bersamaan.
Hari semakin sore ku lihat semuannya makin sibuk, terlihat bapak yan mondar mandir dan ibu yang memberi arahan pada semua orang.
__ADS_1
Pukul tiga mereka sudah pada datang, satu persatu mereka masuk dan duduk di tempat yang di sediakan.
Bacaaan ayat-ayat suci al quran mulai berkumandang, ada beberapa tetangga mulai datang membantu dan memang baru sekali ini di rumah ada acara, menjelang dua hari keberangkatan nenek menuju tanah suci.
Karena semua sudah di tangani oleh para ahlinya, akhirnya aku dan Kinanti hanya mengikuti saja hingga acara selesai.
Di saat para undangan sudah pulang kini tinggal beberapa orang yang tinggal untuk melakukan khataman.
Setelah isya, ibu memintaku untuk kembali ke kamar dengan senang hati aku langsung naik ke atas "capek" ucapku sembari melempar kerudungku asal.
Segera menuju meja belajar untuk menggambar, mengambil alat tulis dan kertas ku.
Menggambar dengan tenang, tapi secara tiba tiba ada kabut yang datang, perlahan namun pasti kabut itu sudah menutup seluruh ruangan kamarku, tanganku yang memegang pensil semakin ku genggam erat "ada apa ini?" ucapku pelan.
Seperti di ajak berjalan-jalan, kabut putih ini menggiring ku menuju suatu tempat tempat, yang serba hijau,tumbuhan subur membentang sesaat aku seperti tersihir oleh keadaan ini 'di mana ini dan apa ini?' kembali hatiku bertanya.
Tak ada siapapun semuanya sepi hanya ada desiran angin lembut dan sejuk yang menerpa wajahku, langkahku pun secara perlahan menuju suatu tempat, terdapat bangunan indah.
Di sini mulai nampak orang berlalu lalang mengunakan baju serba baru semua, putih dan bersih, meskipun ada sebagaian yang memakai warna lainnya tapi semuanya terlihat baru dan bersih.
Pandanganku kini tertuju dua orang perempuan yang terlihat sedikit muda, tapi wajahnya seperti aku kenal.
Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju gedung besar itu, lama....aku menatap dua perempuan itu.
Tak ada sahutan dari keduannya, mereka terus berjalan dengan napas ter engah-engah aku akhirnya mampu menyusul dan meraih tangan nenek, namun tanpa banyak bicara nenek mendorong ku begitu saja dan menghempas tanganku dengan kuat.
Masih dengan bingungku, dua nenek ini hanya tersenyum menatapku hingga keduannya menghilang dalam bangunan besar itu.
Aku masih berteriak keras memanggil nenek, tapi secara perlahan kabut tipis ini mulai menghilang dan pemandangan yang ku lihat pun mulai memudar dan ikut menghilang.
Sesaat aku terkejut dengan apa yang aku alami, tanganku yang memegang pensil ini terus bergerak tapi bukan gambaran yang ku hasilkan, hanya sebuah coretan coretan yang tak jelas.
"Nek .... "panggil ku cemas dengan apa yang aku lihat.
Suara pengajian pun sudah tak terdengar lagi, masih pukul sepuluh malam, perlahan aku keluar dari kamar, kemudian turun ke bawah keadaan masih sama seperti yang aku tinggalkan, karpet masih tergelar, air kemasan juga masih ada di karpet dan berjajar rapi.
Perlahan aku melangkah menuju kamar nenek Asih membukanya perlahan, ku lihat nenek tertidur, kini aku berganti menuju kamar nenek Nur, membuka pintu kamarnya pelan-pelan dan mengintipnya, nenek juga tertidur, setelah menutup kamar nenek Nur kini langkahku menuju ruang tengah, duduk terpekur sendiri sembari terus mengingat apa yang baru aku alami 'akan ada apa ini !' ucap hatiku.
Hingga beberapa saat aku duduk di ruang tengah, hingga sudah tengah malam.
Kembali aku melangkah ke atas mataku yang tiba-tiba terasa berat, membuatku langsung merebahkan diriku di ranjang begitu saja.
__ADS_1
Hingga adzan subuh terdengar aku baru membuka mataku, setelah shalat subuh aku langsung turun ke bawah, melihat ke kamar nenek Asih dan nenek Nur, perasaan ku sedikit lega saat melihat ke dua nenek ku ke luar dari mushola rumah.
"Tumben sudah turun sapa nenek Nur" aku tak menjawab tapi aku mengikuti langkah dua nenekku ini.
"Nek, apa nanti masih ada pengajian lagi?dua nenekku langsung mengangguk.
"Kinara, ini pengajian terakhir untuk nenek sebelum nenek berangkat esok pagi, pesan nenek jaga adik-adikmu dan rukun dengan mereka, doakan nenek berangkat dan pulang dengan selamat ya!"
Ucapan nenek seketika membuatku merinding.
"Kenapa nenek bilang seperti itu" ucapku sembari merangkul dua nenekku secara bersamaan.
Lantas apa arti dari mimpiku ini 'ah ....jangan sampai hal itu terjadi' ucap hatiku.
Tak berapa lama dapur mulai terlihat ramai seperti kemarin, karena ini hari senin jadi mau tidak mau aku harus berangkat untuk ke sekolah.
Nampak para tetangga datang membantu, pagi ini acara khataman di mulai dari pagi hingga setelah bakda isya, itu yang ku dengar dari ibu saat sarapan tadi.
Sepanjang hari hatiku terus berdebar, entah karena apa, bertambah berdebar saat mengingat mimpiku semalam.
Sepulang sekolah aku bergegas, duduk di kursi
'Zubaid' panggilku dengan tenang, Zubaid yang ku panggil langsung menampakkan diri, duduk berlama-lama di halaman dan memang ada kursi ruang tamu yang di taruh di sana.
Percakapan rahasia yang ku lakukan dengan Zubaid pun hanya membuatku semakin bingung 'ikhlaskan yang harus terjadi Kinara dan semua sudah menjadi takdir dari Allah' kata-kata Zubaid ini masih terngiang di telingaku sepanjang malam.
Hingga pagi ini, saat dua nenek ku sudah bersiap, keluar dengan masing-masing koper di sampingnya.
"Bu .... andaikan nenek Asih dan nenek Nur membatalkan keberangkatan ini" ucapku tiba tiba tanpa aku sadari.
"Gak bisa Kinara, ini sudah satu tahun lalu ibu mendaftarkan nenek kalian, ini kesempatan yang sangat baik Kinara" ucap ibu pelan.
Terlihat wajah bahagia dari dua nenekku, setelah meminta maaf pada se isi rumah dan para tetangga terdekat, bapak yang sedari tadi tengah sibuk membantu akhirnya mengantar dua nenekku menuju tempat keberangkatan pertama yang nantinya akan berkumpul dengan kelompok kloter jamaah lainnya sesuai dengan keberangkatan wilayah masing-masing.
Banyak pesan yang di tinggalkan untuk kami, sengaja ibu tak mengijinkan kami ikut hanya bapak dan ibu yang mengantar dua nenek ku.
Sungguh ada rasa berat di hatiku melepas dua nenekku pergi "Pak ...panggilku sebelum bapak benar-benar melajukan mobilnya.
"Aku ingin nenek tak berangkat, apa bisa di batalkan?tanyaku tiba-tiba.
Bapak hanya tersenyum dan mengusik kepala ku "tak bisa sayang, doakan yang terbaik untuk nenek ya?" ucap bapak meneduhkan hatiku.
__ADS_1
Ku tatap mobil yang melaju pelan, nampak lambaian ke dua tangan nenek ku dengan senyum yang tersungging di bibir mereka, melepas keberangkatan mereka semakin jauh ada sesuatu yang ikut pergi menjauh dan menghilang bersama menghilangnya mobil bapak dari pandangan ku.