OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 43 . AKHIRNYA BISA KETEMU JUGA


__ADS_3

Akhirnya dengan terpaksa ibu-ibu setuju untuk menginap dengan memanfaatkan situasi ini ibu akhirnya meminta tolong untuk mengemas sembako yang tersisa, kemudian manggilku ke kamar.


"Pram tolong kau hitung berapa tadi yang bantu-bantu," ucap ibu.


"Apa ada yang sudah pulang?" tanya ibu lagi.


"Pram tanya Mak Sunar saja Bu," ucap Pram sembari melangkah ke depan, Pram memanggil Mak Sunar.


Setelah Pram keluar dari kamar ibu. "Kenapa budhe-budhe belum ada yang tidur?" tanya Pram dengan heran.


Mereka tak menjawab hanya saling memandang. "Sudah istirahat besok pasti akan sibuk lagi," ucap salah satu Budhe.


"Pram tungguin Budhe," ucap Pram sembari duduk di sisi mereka.


Saat salah satu dari mereka merebahkan diri tiba-tiba terbangun dan duduk lagi.


"Kok rasanya ih ... "ucapnya sembari berdiri duduk di dekat Pram, membuat yang lainnya beringsut mendekat juga.


"Budhe ... ada apa?" tanya Pram.


Budhe ini kemudian membisikkan sesuatu di telinga Pram. Seakan tak percaya mendengarnya.


"Masak," sembari Pram longokkan kepala ke bawah ranjang. "Nggak ada apa-apa Budhe," ucap Pram meyakinkan mereka.


"Kalau begitu biar Pram saja yang tidur dekat situ," ucap Pram sembari merebahkan diri menghadap kolong ranjang. Kemudian di susul yang lainnya memilih tidur memunggungi.


Tapi begitu Mak Sunar keluar dari kamar Ibu


"Nduk ... Nduk," panggilnya pelan.


Pram yang masih tidur-tidur ayam segera bangun.


"Hussssst ... tiba-tiba terdengar suara orang menyuruh untuk diam. Mak Sunar sudah membalikkan tubuhnya menghadap tembok.


"Hussssst ... huusssst ... kemudian terdengar di telinga seperti orang meniup."


"Huuuufff ... huuuuufff ... seketika aku melihat sekeliling ruangan tak ada apa-apa tapi suara ini. Belum sempat aku mencari lagi tiba-tiba Mak Sunar berteriak kencang.


"Jabang bayi ... Nur!" teriak Mak Sunar dan itu seketika membuat Mak Sunar terjatuh lemas.


Ibu-ibu yang sudah tenang kini kembali takut dan menutup wajah mereka. "Aku bali," ucap mereka bersamaan dan berhambur keluar rumah tanpa berpamitan.


Ibu yang di kamar terkejut mendengar teriakan para ibu-ibu.


"Pram ada apa?" tanya Ibu kaget.


"Setannya usil Bu, dari tadi goda ibu-ibu terus," ucap Pram sembari menggoyang tubuh Mak Sunar.


"Terus Mak Sunar kenapa?" Di goda Mbak kunti lagian kenapa kunti itu berdiri di depan Mak Sunar.


Ibu hanya mengambil napas panjang dan duduk di sisi Pram sembari membalur sesuatu di hidung Mak sunar.


"Sebaiknya gimana Pram?"


"Entalah Bu, Pram juga bingung."


Tak lama kemudian Mak Sunar sudah bangun "Jabang bayi, Nur ... aku bali moh-moh mane aku, aduh ... piye iki sambil berjalan keluar."


"Pram ... aku dan ibu saling memandang," terus sembakonya, terus uang mereka. Tak menjawab Ibu tapi aku menguap.


"Huam ... ngantuk Bu, sudah pukul tiga pagi besok saja di pikirkan."


"Jangan-jangan besok pagi tambah heboh Bu di kampung ini gara-gara kejadian ini."


Tak lama Pram pun tertidur, hingga pukul tujuh pagi baru Ibu membangunkan.

__ADS_1


Ibu sudah menata sembako dan membawa tas nya.


Tinggal di rumah simbah ini serasa adu nyali Bu, sudah habis ini Pram pulang saja biar tenang," ucap Pram masih dengan kantuknya.


"Pram ini nanti tolong di antar ke rumah ibunya Rian, ibu nganter ini dulu."


"Bu ... saya di tunggu paling tidak untuk gosok gigi sama cuci muka," omel Pram.


"Sudah cepetan Pram, nanti kalau kamu ketemu ibu yang bantu kemarin ibu tunggu di rumah Bu RT," ucap ibu lagi.


Tak lama aku sudah keluar. "Lah kok di rumah Bu RT," protes Pram.


"Kamu ... ini mana mau mereka kembali ke sini Pram?" ucap ibu mengingatkan.


"Eee, kamu nggak sekolah Pram?" tanya ibu.


"Telat Bu," ucap Pram enteng.


Setelah mengunci pintu Pram dan Ibu berjalan beriringan, menggontong sembako untuk di bagi ke ibu-ibu yang membantu.


"Pram capek, panggil Mak Sunar gih, Ibu tunggu di sini kalau bisa, Mak Sunar suruh ajak teman Pram."


Pram bergegas untuk ke rumah Mak Sunar saat tiba-tiba ibu memanggil. "Pram .... ih kau itu, ini punya ibu Rian bawa juga," ucap ibu sembari mengulurkan kantong kresek berisi sembako dan amplop.


Mungkin nasib sedang baik Mak Sunar yang di tunggu-tunggu sudah muncul di tikungan bersama dua ibu-ibu.


Berbicara sejenak, awalnya menolak tapi mengetauhi ibu menunggu tak jauh dari sini akhirnya Mak Sunar tersenyum dan menuju ke tempat ibu dengan dua ibu-ibu lainnya.


Langkah Pram terhenti saat memasuki rumah yang tak begitu besar tapi sejuk dan adem


lama terdiam di halaman rumah ini, kaki Pram terasa berat untuk melangkah , entah apa penyebabnya.


"Pram ... aku terkejut saat suara itu menepuk


"Pram masih terdiam."


"Hei ... kini dia sudah berdiri di depan sembari melambaikan tangannya.


"Hei ... "ucapnya lagi. Aku masih diam belum menjawab karena aku masih terpaku pada sosok yang berdiri di depan pintu, sosok putih yang bercahaya.


'Ini bukan seperti milik Pram, tapi ... ucap batin Pram.'


Tanpa banyak bicara lagi Rian langsung menyeretku ke teras dan anehnya sosok itu membungkuk hormat.


"Aneh ... kata-kata ini terucap begitu saja dari mulut Pram."


"Apa yang aneh Pram?" tanya Rian.


Seketika Pram sadar saat berpapasan dengan sosok itu.


"Eee, hiya Pram sampek lupa, ini mau ngasih ini ke ibumu," ucap Pram sembari, menyerahkan bungkusan kresek itu.


"Enak saja, sana berikan sendiri," sembari menarik Pram masuk ruang tamu.


"Tunggu disini, duduk, duduk," ucapnya sembari mengunci pintu.


"Loh kok di kunci?" Nanti kamu kabur," ucap Rian sembari masuk ke dalam.


Melihat aku bingung Rian tersenyum lebar.


Tak lama Rian sudah datang dengan ibunya


"Eeee, ada tamu rupanya." Pram elangkah maju untuk salim.


"Ayo duduk, tumben Pram, mimpi apa semalem ,"ucap ibu Rian menggoda.

__ADS_1


"Maaf ini, sembari menyerahkan bungkusan yang Pram bawa. Dari ibu, tante," ucap Pram pelan.


"Hahaha ... Bu, sejak kapan ganti nama," ucap Rian.


"Terima kasih Pram, sampaikan pada ibu ya," ucap Ibu Rian. Seketika aku berdiri.


"Eee, mau kemana duduk dulu, tante bikin minum dulu," ucap ibu Rian lagi.


Mendengar kata-kata ini Rian lalu tersenyum.


"Tante aku juga mau," ucap Rian yang menggoda dan kemudian mendapat jeweran dari Ibunya.


"Nggak sopan," kembali suara ibu Rian berucap dengan sedikit marah.


Melihat jam, kemudian aku melihat Rian.


"Kamu nggak sekolah Rian?" tanya Pram. Kini Rian tambah ganti bertanya.


"Lah kamu?"


"Aku ... sesaat tersenyum sembari menggaruk kepala."


"Hehehehe ... Pram langsung tertawa.


"Aku kesiangan Rian."


"Besok nggak usah masuk, libur persiapan ujian Pram," kini mendekat sembari mengacak acak rambut Pram.


"Tukang bolos awas kalau kamu Nggak lulus," ucap Rian Kemudian duduk lagi.


Mendengar ucapan Rian aku seperti mendapat peringatan.


"Kamu mesti deh mendoakan aku yang jelek-jelek," ucap Pram, sembari cemberut.


"Rian ... mesti goda Pram," ucap Ibunya sembari membawa masuk cemilan dan teh.


"Ayo ini di makan Pram."


Sesaat kemudian Ibu Rian tersenyum menatap Pram. "Gimana ada yang menjadi beban dan mau di ceritakan?"


Pram masih terdiam hingga beberapa menit Kemudian.


"Tante m .... "


"Ada apa Pram?" tanya Ibu Rian.


"M ... yang di depan tadi?"


"Oh, itu seperti milikmu Pram, tapi nanti juga jadi milikmu," ucap ibu Rian.


"Pram, apa yang membuatmu bingung dan merasa terbebani, apa ini tentang rumah Simbahmu atau pohon itu."


"Dua-duanya tante," jawab Pram singkat.


"Apa yang akan kau lakukan melakukan sesuai amanat Simbahmu atau .... "


"Tante, apa aku salah jika keluar dari aturan yang tetapkan."


"Kenapa kau takut?" Pram menggeleng.


"Hanya tak ingin ada korban lagi Tante, Pram hanya mengetauhi cerita dari versi Simbah."


"Tante, apa selama Pram sakit dulu ada yang meninggal di bawah pohon itu?"


"Sssstttt ... ada yang menguping pembicaraan kita Pram.

__ADS_1


__ADS_2