OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 25 . RUANG ORTOPEDI


__ADS_3

"Nanti ibu sibin, tapi ibu shalat ashar dulu."


Lalu meninggalkan Pram ke kamar mandi dan setelahnya keluar.


Menggelar sajadah dan shalat, tak perlu lama ibu sudah menyudahinya, lalu bergegas ke kamar mandi dan keluar membawa baskom dan handuk kecil. "Kok nggak pakai ember Bu?" tanya Pram pada ibu. Seketika ibu langsung melihat dengan heran.


"Pakai ini Pram nanti di bilas." Kini ibu sudah mengeluarkan handuk kecil, Pram hanya mengangguk mendengar penjelasan ibu.


Ibu menyibin yang bisa di jangkau saja, asal segar badan Pram.


Rasanya tubuh Pram kini segar dan tak gerah, setelah membersihkan tubuh Pram dengan handuk, ibu kemudian menyisir rambut Pram yang tinggal sebagian saja.


"Sudah cantik," ucap ibu. Pram melihat semua tubuhnya, merasa ini benar-benar suatu yang ajaib, saat melihat keadaan Pram saat ini.


Tak terasa waktu berlalu dengan cepat setelah meminum obat, mata Pram terasa sangat berat, kantuk yang datang dengan cepat, tertidur dengan sedikit bersandar di bed membuat tubuh Pram sedikit nyaman.


Hingga tengah malam tiba-tiba Pram terbangun. Suara aneh yang membuat telinga Pram berdeging kencang. Masih dalam mode terkejut, kini Pram hanya bisa terdiam karena sosok ini sudah berdiri tepat di depan Pram dengan wajahnya yang sudah membiru ada beberapa luka sayatan di wajahnya serta belatung yang menempel dan matanya. Seketika perut Pram serasa di aduk, seketika perut Pram mual dan ingin memuntahkannya. Bau anyir dan busuk sudah menusuk hidung. Tak berapa lama Pram baru sadar ternyata posisi sosok ini terbalik dengan kakinya yang di atas dan kepalannya di bawah dengan rambutnya yang basah bercampur dengan darah dan darah itu menetes satu-satu dari rambutnya.


Tubuh Pram seketika menegang, keringat dingin keluar dari tubuhnya, kini wajah Pram berhadapan persis dengan wajah sosok ini. Sedikit mengatur napas sejenak, bau anyir dan busuk makin menusuk hidung.


Hingga berapa lama, serasa ada yang menuntun Pram. Meniupkan mantra dengan hembusan napas, beberapa saat sosok ini belum bergeming hingga hembusan yang ketiga membuatnya menjauh. Masih dengan posisi terbalik sosok ini berusaha mendekat berjalan di atas kepala Pram.


Saat ini Pram sudah bisa menguasai


keadaan mencoba untuk mengajaknya berbicara.


"Jangan menganggu pergilah, Pram tahu kamu hanya penasaran dengan keberadaanku."


Tak ada jawaban hanya suara berdenging kencang yang Pram dengar, setelahnya sosok itu sudah menghilang.


Melirik jam di dinding masih pukul tiga pagi, mencoba kembali terlelap. Saat antara sadar dan tidak terdengar suara wanita berguman lirih. Namun, tak jelas apa yang di ucapkannya dan itu dilakukan terus berulang-ulang hingga menimbulkan perasaan yang aneh dan tak nyaman.


Seperti orang berbisik lirih namun cepat dan berulang-ulang, Pram memindai seluruh ruangan. Dadanya seketika berdetak kencang saat melihat sosok itu duduk tepat di sudut kamar, bersila memandang Pram lekat dengan mata tajam dan melotot. 'Kenapa portalnya terbuka lagi pikir Pram.'


Pram hanya melihat, hingga tiba-tiba angin sudah berhembus menerpa wajah Pram.


Tiba-tiba ada sosok yang sudah berdiri di sisi Pram.


"Tidurlah biar aku berjaga untukmu akan ku selesaikan dia," ucap sosok ini.


Entah kenapa mata Pram juga tiba-tiba terasa berat dan hanya dalam hitungan detik Pram sudah terlelap. Hingga pagi menjelang, sudah pukul enam pagi saat ibu membangunkan.


"Bangun Nak lekas Ibu sibin, kita mau ke ruang Ortopedi," ucap Ibu sembari menyingkap selimutku.

__ADS_1


" ayo ... "


Kini ibu telah selesai menyibin merapikan baju dan menutup sebagian kaki Pram dengan selimut.


"Minum dulu Pram," sembari mendekatkan teh hangat ke bibir Pram.


Setelah menaruh gelas ibu mencari sesuatu di tasnya terlihat tersenyum saat yang di carinya ketemu.


Sudah pukul delapan pagi saat suster tiba, membawa bed yang Pram tiduri, mendorongnya pelan dan ibu mengiring di belakang.


"Maaf Bu, sengaja agak pagi biar dapat nomer yang pertama dan itu pesan Dokter kemarin."


Hanya itu yang Pram dengar saat suster bicara dengan Ibu sembari mendorong bed yang Pram tiduri.


Sampai di ruang Ortopedi, suster meminta surat-surat yang di perlukan, lalu meletakkan di sisi tubuh Pram.


Agak lama menunggu hingga Dokter tiba


dengan beberapa suster di belakangnya.


Ternyata Pram pasien satu-satunya hari ini


setelah Pram di dorong masuk, Dokter mengambil surat-surat yang ada di sebelahku membacanya sesaat kemudian mengambil alat dan memeriksa.


"Anak yang hebat tapi jangan di ulangi lagi ya? Ucap Dokter sembari mengusap kepala Pram.


"Sini Dokter periksa."


Dengan cekatan Dokter memeriksa secara detail kemudian tersenyum.


"Semuanya sudah baik, ini ajaib," ucap Dokter lagi.


"Mulai kita buka gipsnya, ini tidak akan sakit."


"Sus, tolong peralatannya."


Suster yang di panggil lalu mendekatkan alat alat yang di maksud, lalu mengambil alat seperti gergaji memiliki ujung tumpul dan bulat saat di dekatkan di kakiku alat itu mulai bergetar dan membelah gips di kakiku.


Setelah gips terbuka, perban tersebut kemudian di buka dan di angkat dengan menggunakan gunting untuk memotong bantalan pelindung dan stockinette di dalamnya.


Begitu semua sudah terlepas kini terlihat kulit kakiku yang pucat dan bersisik serta rambut kulitku terlihat lebih gelap serta otot-otot di sekitarnya terlihat lebih tipis.


Begitu juga untuk kaki sebelah nya serta tangan Pram, Pram sedikit terkejut saat melihatnya.

__ADS_1


Melihat Pram terkejut Dokter dan suster tersenyum.


"Nanti akan pulih seperti sedia kala, untuk sementara harus hati-hati dalam bergerak."


Setelah menyelesaikan semuanya, kini Dokter sudah duduk lagi di tempatnya.


Melihat suster sudah mendorong kursi roda dan dengan perlahan sudah memindahkan Pram di kursi roda.


Mendorongnya di sisi Ibu, sesaat Dokter memberi penjelasan pada ibu bahwa Pram harus terapi fisik.


Menjelaskan pada ibu kegunaan terapi ini untuk mengurangi rasa kaku dan sakit serta memperbaiki gerakan dan mempercepat proses penyembuhan, menstabilkan kekuatan otot dan sistem gerak.


Ibu hanya mangut-mangut saja mendengarkan dengan seksama, tak berapa lama dokter menuliskan sesuatu.


"Ini Bu, saya rekomend tempat terapinya," ucap Dokter sembari menyodorkan kertas itu ke ibu.


Setelah melalui pemeriksaan, akhirnya Pram bisa duduk di kursi roda, memang untuk saat ini kaki Pram sedikit lemas begitu juga dengan tangannya dan memang masih menggunakan penyangga untuk keduanya.


Setelah sampai di kamar. Pran kembali di bantu oleh suster untuk naik ke bed lagi.


Setelah suster pergi, tak berapa lama terlihat Simbah Rum dan Rian datang, seketika Pram tersenyum saat melihatnya.


"Sudah di lepas Nur?" tanya Simbah saat berdiri di dekat Pram, Pram hanya mengangguk begitu juga dengan ibu.


Tak berapa lama Simbah sudah mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Ini nanti sore di balurkan Nur, supaya hangat," ucap simbah lalu berlalu melangkah kedepan.


Rian tersenyum sembari menatap. "Ini aku bawain soal-soal supaya kamu nggak ketinggalan dan ini dari ibu, semoga kamu suka," ucapnya sembari tangannya menyerahkan sesuatu padaku.


"Apa ini Rian ?" tanya Pram, sembari menaruhnya di pangkuan ku.


"Apa ini ? tolong bukain tangan Pram masih lemas."


Sembari tersenyum Rian membuka bungkusan itu.


M ... masih anget kue perut ayam. "Ibumu bikin sendiri Rian ? yang ku tanya kini hanya mengangguk sebagai jawaban.


Mengambil satu untukku dan menyuapkan padaku. "Terima kasih," ucap Pram sembari mengunyah kue itu.


"Kemana yang biasa ngikuti kamu, kok gak kelihatan?" tanya Pram sembari menelan kunyahan Pram.


"Rahasia jawab Rian enteng."

__ADS_1


"Ini mau lagi nggak," ucap Rian , sembari menyodorkan satu suapan lagi.


__ADS_2