OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 128. TAMU TAK DI UNDANG


__ADS_3

Memang semua kejadian tak harus ada penyelesaian dengan cepat, betul kata mas Rian semua harus di lewati dan jika waktunya semua pasti bisa di selesaikan dengan tepat.


Masih dalam dekapan mas Rian fikiranku masih tertuju pada Kinara yang muntah darah, dengan perlahan aku memindahkan tangan mas Rian.


Dengan pelan-pelan kini, aku sedikit beringsut untuk menepi, tapi belum sampai kakiku menjejak lantai, tangan mas Rian sudah kembali merengkuhku "Ibunya bandel, jangan salahkan jika Kinara diam-diam mulai meniru sikapmu" ucap mas Rian sembari menarikku kembali dalam rengkuhannya.


"Istirahatkan tubuhmu, bukan untuk sehari dua hari kau menggunakannya Pram, masih ada waktu yang panjang untuk kita dan anak-anak" sembari tangan dan kaki mas Rian menindih tubuhku.


"Tidurlah atau aku akan mengerjaimu hingga lelah" kembali mas Rian berucap dengan ancaman.


Akhirnya dengan terpaksa aku memejamkan mataku dan benar-benar ancaman mas Rian membuatku aku menurut.


Hingga hampir magrib aku baru bangun dengan mengerjapkan mataku sesaat ku lihat sosok berdiri di depan jendela, menatap lurus ke luar jendela.


Aku masih menatapnya dari jauh, sosok yang selama ini terlihat tangguh untuk keluarganya, kini terlihat, termenung dengan segala gundah hatinya.


Turun perlahan menghampiri mas Rian, ku rengkuh tubuhnya dari belakang dengan berjingkit mas Rian melihatku, masih dengan senyumnya "sudah bangun Pram?" kini mas Rian memutar tubuhnya untuk melihatku.


"Apa, yang membuat mas Rian termenung, apa mas menyesal menikah denganku?! tanyaku ragu.


Seketika senyum mas Rian berubah " jangan berpikiran aneh-aneh Pram, menikah dan memiliki anak-anak darimu itu suatu kebanggaan buatku, bukan ini yang menjadi fikiranku" ucap mas Rian dengan menatapku.


Aku memikirkan Lintang, aku tak tega melepasnya ke pondok, meski itu pondok buyutnya dan Abah juga baik. "Lintang itu pendiam Pram aku takut saja."


Aku terdiam cukup lama mendengar keresahan mas Rian "mas, sebenarnya saat Lintang mengutarakan itu, aku sangat terkejut tapi melihat sikap Lintang yang sangat antusias aku jadi tak tega untuk mengatakan jangan, aku juga takut mas.Tapi aku berharap keputusan mas Rian sudah tepat mengijinkan Lintang untuk mondok."


Hanya terdengar napas mas Rian yang berhembus " ayo shalat, magrib" ajak mas Rian sembari melangkah ke luar kamar.


Memanggil satu persatu anaknya untuk turun dan shalat di mushola, aku masih menatapnya


hingga suara mas Rian mengejutkan aku "Bu, ayo" ajaknya sembari menuruni tangga.


Setelah sholat magrib mas Rian tak membahas lagi tentang Lintang, tapi aku tahu saat ini ada keresahan di hati mas Rian.


Sembari menunggu makan malam dan shalat isya anak-anak sudah ramai di ruang tengah dengan kelakarnya masing-masing aku sembari duduk di meja makan sesekali tersenyum mendengarnya.


Sore menjelang malam ini, merupakan hari yang tenang, tak ada hal hal aneh yang terjadi hingga Lintang datang mendekat padaku "bu, bapak mana? tanya Lintang.

__ADS_1


"Di kamar nak" tanpa menunggu dua kali Lintang langsung berlari kearah kamar, cukup lama Lintang menemui bapaknya hingga akhirnya keluar dengan senyum mengembang dan langsung berhambur ke dua kakaknya dan Arion.


Hingga tak berapa lama, nampak mereka berhambur ke kamar hampir bersamaan, terdengar celoteh mereka dengan ramai hingga suara adzan isya menghentikan mereka dan keluar dari kamar langsung bergegas menuju mushola "Pram, ayo" ajak mas Rian sembari melangkah ke mushola.


Aku yang masih dengan heranku, mengikuti langkah mas Rian, nampak anak-anak sudah pada posisinya dan rapi.


Memilih berdiri di tengah-tengah dua gadisku


hingga shalat di akhiri dengan salam, akhirnya Arion dengan senyumnya " sungguh kan, minggu kita jalan-jalan? tanyanya pada sang bapak yang masih berdzikir.


Ku lihat mas Rian mengangguk dan kemudian menutup dzikirnya "Hiya, minggu kita jalan-jalan ke pondok. "Bu, bagaimana kalau kita menginap di sana seminggu" ucap mas Rian padaku. Dengan sedikit terkejut aku menatapnya, melihat kode dari mas Rian akhirnya aku paham "boleh pak, mungkin sangat menyenangkan" ucapku membalas pertanyaan mas Rian.


Seketika mereka langsung tersenyum, Lintang dan Arion langsung memburu sang bapaknya, sementara dua gadisku langsung merangkulku.


Kesenangan ini terhenti saat, suara mbak Yas memanggil " bu, ada tamu" ucapnya pelan.


" Siapa mbak? tanyaku sembari berdiri begitu juga dengan mas Rian. "M...katanya cucunya mbah Lasmi, atau siapa ya?! jawab mbak Yas, bingung.


"Suruh masuk mbak" jawabku sembari melangkah keluar, anak-anak juga mengikuti ku dari belakang.


Tapi, Lintang masih nampak mengekor bapaknya "sungguh kan pak, kita jadi


Begitu, sampai di ruang tengah, Kinanti tolong ambilkan hijab ibu dan kalian pakai juga hijabnya" ucapku mengingatkan.


Mas Rian sudah melangkah lebih dulu, ke ruang tamu tapi tak terdengar percakapan apapun, nampak kembali lagi ke ruang tengah.


" Siapa mas?! tanyaku heran.


" Aku juga heran gak ada siapa-siapa Pram" jawab mas Rian.


"Mbak Yas, mana tamunya? tanyaku memastikan. Mbak yas yang ku tanya terlihat bingung kemudian menjawil Ning.


"Tamunya kemana? tanyanya pelan. "Kan tadi di ruang tamu? jawab mbak Ning yakin.


"Assalammualaikum" terdengar suara dari ruang tamu dengan segera mbak Yas menghampiri "Ini kan tamunya" dengan bergegas mbak Yas menghampiri aku dan mas Rian " maaf bu, itu tamunya datang" ucap mbak Yas sembari menuju dapur.


Aku dan mas Rian langsung menuju ruang tamu, sementara anak-anak memilih duduk di meja makan.

__ADS_1


Aku dan mas Rian terkejut saat tahu siapa yang datang, tawaku dan tawa mas Rian langsung menggema di ruang tamu. "Maaf, tadi nyariin ya ?! tanya sang tamu, kelamaan nunggu aku tinggal duduk di halaman, noh liat anakku suka sekali main di halaman mu" jelas Satriya.


Sementara Ida sibuk dengan anaknya yang kira-kira umurnya di bawah Arion dan di sampingnya terlihat anak sebesar Lintang dan satu lagi, lebih besar dari Kinara dan Kinanti.


"Ajak masuk anakmu, Satriya" ucap mas Rian.


Karena ini jam makan malam, kami pun mengajak mereka untuk makan malam bersama, mengenalkan semua anggota keluarga yang ada, tatapanku tertuju pada anak Ida dan Satriya yang sulung, mungkin usianya dua tahun lebih tua dari Kinara dan Kinanti.


"Menginaplah" pinta mas Rian pada mereka, Satria dan Ida langsung tersenyum.


"Sebenarnya esok pagi kami harus sudah tiba


di rumah, tapi demi sahabat aku setuju saja" ucap Satria lagi.


"Mainlah ke rumah, kita reuni di sana, kita undang teman-teman kita yang


lain" ucap Satria lagi.


Nampak mas Rian menggaruk kepalannya dan melirik ke arahku " Maaf ida, bukannya aku tak mau, tapi kami sudah punya rencana ingin membawa anak-anak untuk menginap di pondok" ucapku pelan.


"Insyaallah, kami akan datang berkunjung dan kita reuni di sana" jawabku cepat.


Nampak rona senang dari wajah Satria, mbak Yas yang ku minta membereskan kamar bawah akhirnya selesai juga, terlihat Arion dan Lintang sudah akrab dengan anaknya Satria.


Senyumku terus terkembang, melihat ini. Ternyata mereka cepat akrab dan akur, hingga pukul sebelas anak-anak sudah masuk ke kamar masing-masing, kini tinggal aku dan mas Rian, beserta Satria dan Ida.


Seakan melepas rindu yang lama tak jumpa, sekilas Satria menatapku " keadaanmu baik kan Pram, maaf jika aku tak sempat berkunjung saat ibu berpulang" ucapnya pelan.


"Tak, apa" jawabku pelan.


" Aku tadi sempat keliling kampung ini, aku cari rumah simbahmu kok sudah gak ada Pram?! aku hanya tersenyum saja mendengar ucapan Satria.


"Lagian, apa yang kau cari Satria" jawab mas Rian.


Sekarang rumah itu sudah di buat Mushola, kau sih yang terlalu sering berkunjung jadi gak ngerti perkembangan kampung ini" jawab mas Rian lagi.


Ku lihat Ida dan Satria saling menatap kemudian tersenyum " kami sering melewati kampung ini, tapi entah kenapa aku enggan saja untuk singgah di rumahmu, tapi sekarang kenapa juga kaki ku mau berbelok ke rumahmu."

__ADS_1


Mas Rian hanya tersenyum kecut mendebgar ocehan Satria, kemudian mereka tertawa bersama-sama.


__ADS_2