OMAH SIMBAH

OMAH SIMBAH
BAB 121. PENYESALAN PRAMESWARI


__ADS_3

Rian tak menyangka jika kepergian ibunya dan sang mertua membuat luka tersendiri bagi prameswari rasa bersalah dan penyesalan yang terus terucap dari mulutnya, tangisnya pun masih terdengar, saat aku menoleh ke arah anak-anak dan memberi isyarat pada mereka untuk masuk ke kamar nya masing-masing.


Namun anak-anak tak beranjak sedikit pun dari sisi ibunya, dalam dekapan ku tangis Pram tergugu hingga badanya terguncang.


ku usap pucuk kepalanya "kita ke kamar ya?tanyaku pelan.


Hanya menatapku sesaat, kemudian menggeleng tanda menolak, cukup lama hingga tangis Pram kini tinggal isakan-isakan kecil.


"Istirahat yuk," ajakku lagi.


"Aku ingin tidur di kamar ibu mas, sembari berusaha berdiri, tapi tubuhnya langsung terhuyung hendak jatuh.


"Bu...." teriak kami bersama, mendengar kami berteriak seketika Pram menarik lengan ku.


"Mas, panggilnya lemah.


"Antar aku ke kamar ibu," ucapnya lagi.


Dengan pelan aku memapahnya, begitu tiba di depan kamar dan membuka pintunya Pram sedikit tertegun, melihat kamar ibu.


"Mas aku ingin berbaring di ranjang, aku lelah mas," ucapnya lagi.


Dengan perlahan aku membaringkan Pram "mas, pergi lah, aku ingin di sini sendiri mas."


Masih ku tatap Pram yang terbaring lemah di ranjang ibu, nampak air matanya kembali turun sembari mencium mi selimut ibu.


Cukup lama aku melihat Pram di depan pintu


sebelum benar-benar aku menutup sedikit pintunya.


Tak terdengar suara apapun dari kamar ibu hingga sore menjelang.


Dengan ragu aku membuka pintu kamar ibu dengan sedikit heran aku masuk ke dalam


"Pram....kenapa? jangan begini lihat anak-anak mereka sangat merindukan mu Pram."


Sudah tak menangis tapi tatapan matanya kosong dan terus berguman "ini salahku, ini salahku, andai aku percaya dengan ucapan Kinara, semua ini pasti tidak terjadi mas."


"Sungguh aku sangat menyesal dan sangat berdosa" kembali Pram berucap.


Baru kali ini aku melihat Pram terpuruk di titik terendahnya "ya, hatinya tengah goyah dan sakit.

__ADS_1


"Mas ....ibu mas, ibu ... " sembari turun dengan segera dan seperti berusaha mengejar sesuatu.


"Pram, sadar!" itu bukan ibu "lihatlah" ucapku sedikit keras.


"Tapi ibu mas, aku harus mencarinya dan aku harus menolong ibu mas, kini Pram sudah memutari kamar sembari terus memanggil nama ibu.


Melihat kondisi Pram seperti ini, aku langsung kembali memeluknya "istifar Pram, istifar ...."


sembari ku sebut asma Allah di telingannya.


"Pram, masih dengan sedihnya, menatapku kosong. "Pram, semua sudah di atur dan jadi takdir Allah" ucapku lagi.


"Istirahatlah, tenangkan hatimu, aku akan mendampingi mu" ucapku lagi.


"Lihatlah anak-anak sangat merindukan mu mereka sangat bersedih melihatmu seperti ini Pram.


Ku lihat mereka telah berdiri di depan pintu


"Arion, Lintang, kemari sini!" temani ibu panggil ku pada mereka.


"Istirahat ya, biar mereka menemanimu aku akan duduk di sini" ucapku sembari membaringkan tubuhnya.


Dengan cepat Arion dan Lintang ikut berbaring di sisi Pram dan langsung memeluknya, sesaat tatapan Pram terlihat sedikit melunak dan sedikit tersenyum.


Rasa sesak di hatiku kian menjadi, banyak masalah yang belum terselesaikan, pekerjaan, sawah, toko dan Pram.


Memilih memasuki kamar ibu, hampir jarang aku masuk kamar ini, membuka pintunya begitu saja, menatap setiap sudut kamar ibuku.


Rasa lelah di tubuhku dan hatiku, masih duduk terpekur di sisi ranjang ibu, ternyata sama halnya seperti Pram aku juga merasa kehilangan dan terpukul dengan kepergian ibu dengan cara begini, tak terasa air mataku menitik dan dengan perlahan ku rebahkan tubuhku di ranjang.


Entah, sejak kapan aku tertidur yang jelas saat terbangun, aku sudah berselimut.


Terbangun saat tengah malam, aku bergegas ke luar kamar dan menuju kamar ibu dengan perlahan ku buka pintu kamar, ternyata Arion dan Lintang sudah pindah kamar dan Pram juga tengah tertidur.


Sejenak hatiku serasa tenang, ku dekati tubuhnya yang nampak menyusut karena sakitnya.


Masih duduk di sisi tubuhnya saat Pram mengingau memanggil nama ibu Asihb dan ibu Nur secara bergantian sesaat kemudian tertidur kembali.


Perlahan ku baringkan tubuhku di sisinya dan kembali aku terlelap hingga subuh menjelang.


Ku lihat Pram masih tertidur dengan lelapnya dan aku tak ada niatan untuk membangun kannya, memilih shalat di kamar ini.

__ADS_1


Hingga di salam terakhirku ku lihat Pram terbangun dan duduk di ranjang dengan senyum ku "shalat Pram?" yang ku tanya masih terdiam dan menatapku lekat.


ku lipat sajadah dan menaruhnya di kursi "ayo " ajakku kembali.


"Mas, semalam aku mimpi lihat ibu Asih dan ibu Nur, mereka melihat ku dari jauh dan saat aku mendekat mereka melarangku dan menyuruhku berhenti" ucapnya pelan.


"Mereka ku panggil tapi tak mendengarkan malah meninggalkan aku sembari tersenyum" cerita Pram lagi.


"Doakan mereka Pram, jangan terus menangisi dan menyesali ini semuanya, ada aku, anak anak mereka masih membutuhkan ibunya dan aku memerlukan juga isteriku ini" ucapku pelan.


Mendengar ucapanku Pram hanya menatapku dan menghembuskan napas kasar nya dan langsung memelukku.


"Mas ....bantu aku untuk melalui ini mas, berat hatiku melepas mereka" kembali kata-kata ini yang ke luar dari mulutnya.


"Aku akan berusaha dan melalui ini bersama sama" ucapku lagi.


Dengan perlahan Pram melepas pelukannya, kemudian beringsut turun dari ranjang "mau kemana? tanyaku sedikit heran."


"Bantu aku ke dapur mas, aku ingin menemani anak-anak sarapan, aku juga ingin memakan sesuatu mas.


Mendengar ucapannya aku tersenyum, akhirnya isteriku mulai berusaha untuk bangkit.


Saat tiba di meja makan anak-anak belum turun" mau di buatkan apa tanyaku lagi.


"Aku minum teh saja mas, tapi mas lihat anak anak di atas dan biar mbak Yas yang buatkan aku tehnya."


Aku bergegas menuju dapur, meminta menyiapkan sarapan dan menuju ke atas,


anak-anak masih di dalam kamar saat aku naik.


Satu persatu ku ketuk pintu kamar mereka, mereka sudah terlihat rapi, setelah memberi tahu bahwa ibu mereka menunggu di bawah dengan cepat anak-anak berhambur turun.


Melihat ibunya duduk di meja makan sembari menyesap teh nya, anak-anak tersenyum dan langsung memeluk secara bersamaan, senyum Pram terus terukir di wajahnya, menatap satu persatu anaknya, seakan lama sekali mereka terpisah.


"Bu ......lihat aku sudah tampan kan?" ucap Arion.


" Kata mbak Yas, den Arion harus belajar mandiri dan mengerjakan apa yang bisa" sambil meniru gaya bicara mbak Yas.


Sesaat Pram menatap Arion "sini, nak" panggil Pram.


Setelah Arion mendekat, Pram langsung menciumi seluruh wajah Arion "maafkan ibu ya nak? kemudian memanggil satu persatu anaknya.

__ADS_1


Ya, akhirnya Pram ku mau sedikit merelakan kepergian dua orang terkasihnya, dua orang yang sama-sama telah mengisi hidupnya dan dua orang yang berjasa dalam hidupnya, ku tatap lekat isteriku, hanya ini yang masih bisa ku lakukan untuknya.


Semoga, Pramku akan terus begini dan kembali menjadi Pram yang tangguh dan kuat seperti dulu.


__ADS_2