
Setelah perdebatan kecil terjadi, Pram sedikit menurut, memang tubuhnya sedikit lemah karena selama hampir satu minggu tak ada asupan makanan dan air yang masuk ke tubuhnya dan muntah darah yang berulang kali terjadi menandakan betapa sulitnya dia di alam lain, meski para simbah leluhur telah membantunya.
Tim dokter yang merawatnya pun hanya mengatakan kekurangan cairan sehingga menyebabkan Pram dehidrasi.
Setelah dua hari siuman akhirnya Pram di perbolehkan pulang, wajahnya sudah terlihat kembali segar. "Mas Rian," panggilnya saat akan keluar dari rumah sakit.
"Ya, sembari aku meraih tangannya. "Ada yang harus segera aku selesaikan," ucapnya sembari melangkah
"Karena setelah ini jika aku terlambat lagi melakukannya, kemudian diam sejenak menatapku. Aku, takut ini akan bertambah sulit Mas."
"Pram," panggil Rian sembari memegang bahunya. "Kita bahas di rumah ya?"
Hanya tersenyum dan mengangguk, menunggu mobil yang aku pesan datang.
"Jangan melamun cerita saja Pram
aku melihat Pram masih terdiam dan menatap lurus ke depan. "Pram ... panggil Rian sekali lagi."
"He, iya, hanya tangannya yang semakin memegang dengan erat."
"Mas, jangan menghalangi Pram untuk melakukan nya, aku janji ini untuk yang terakhir Mas."
"Sungguh Mas, jika dia sampai lepas." Pram tak meneruskan ucapannya hanya diam dan menatap lurus kedepan.
"Ayo, ketika mobil yang aku pesan datang."
Masih terdiam dalam lamunannya, pandangannya lurus ke depan tanpa berkedip. "Pram, sembari aku merengkuh tubuhnya, sungguh aku lebih takut pram jika sesuatu terjadi padamu.
Tak ada jawaban hanya napasnya yang sesekali di hembuskan dengan kasar.
Tak lama mobil berhenti di depan halaman ibu yang sedari tadi menunggu langsung tersenyum begitu melihat kedatangan kami.
"Assalammualaikum," ucapku bersamaan. Mendengar jawaban dari ibu membuat Pram langsung meraih tangan ibu, tanpa berbicara pram langsung menuju kamar.
Ibu langsung menatapku seakan ingin bertanya aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Rian istirahat, saja ibu ke dapur. Tiba-tiba rasa letih terasa mulai menjalar di tubuhku, rasa kantuk yang tiba-tiba datang membuat aku langsung merebahkan diriku di sofa.
"Heum ... "
"Heum ... "
Tak lama setelah itu aku pun sudah memejamkan mata dan terbang ke alam mimpi dan tiba-tiba terbangun saat terdengar ibu berteriak memanggil Pram.
Masih dengan kantukku. "Rian, kejar Pram
__ADS_1
sembari melangkah keluar, teringat akan perbincangan kami di rumah sakit aku bergegas keluar menyusul ibu.
Dengan berlari aku, menuju rumah simbah
benar begitu tiba di halaman aku melihat Pram menatap pohon sawo, lalu berjalan mengitarinya hingga dua putaran, kemudian
tersenyum.
"Pram," panggil Rian heran.
"Husstt ... "
Bukan melihatku tapi kini Pram menuju teras dan memegang daun pintu, tak berapa lama aku melihat mulutnya sudah komat kamit dan menghentakkan kakinya tiga kali ke tanah
aku masih berdiri dengan bingung.
Beberapa menit kemudian aku melihat Pram menunduk hormat dan kembali lagi pada posisi awalnya.
Berjalan sedikit mendekat tak tahu apa yang akan aku lakukan tapi kakiku mengajak untuk lebih mendekat.
Secara tiba-tiba Pram memegang ukiran di daun pintu itu, terdengar Pram membaca satu persatu ukiran itu.
"Sang ireng jenenge muksa pangreksan
sang ening meneng jati rasane,
Bismilahi rohmnir rohim car mancur cahyaning Allah, sumsum balung rasane pangeran, getih daging rasane pangeran, otot lamat lamat rasane pangeran.
Bersamaan cuaca mulai berubah , langit yang awalnya cerah kini mulai muncul awan hitam, sedikit gelap, angin berhembus kencang dan suara petir terdengar menggelegar, Duaaarrr, Jedeeeer dengan kilatan putih dan merah bergantian.
"Singgah singgah suminggah
sumisih, sumisih kang adoh. suminggah moring mulo asale, sumisih no soko praja mami, sun caraka balik, hyang agung.
Hingga saat tangan Pram menyentuh ukiran terakhir, terdengar suara dengusan yang besar dengan tawanya yang menggema.
Namun Pram tak goyah terus membaca ukiran itu hingga terdengar suara merintih panjang, kini tangan Pram menyentuh titik terakhir dari ukiran itu, bersamaan dengan keluar serbuk halus seperti pasir.
Dengan cepat Pram langsung menengadah untuk menampung serbuk itu dengan tangannya.
Suasana masih sama, saat kaki Pram melangkah ke halaman secara tiba-tiba langit menjadi semakin gelap, hingga Pram tiba di pohon sawo dan menaburkan serbuknya pada pohon sawo, setelah serbuk itu habis tersebar.
Angin mulai bertiup berputar perlahan menyibak awan hitam dan pelan namun pasti cuaca kembali cerah seperti semula.
Tubuh Pram langsung jatuh terduduk lemas
__ADS_1
bersamaan menghilangnya ukiran di pintu kini hanya tinggal daun pintu yang lapuk dan keropos sana sini.
Matahari sedikit condong ke barat saat semuanya berakhir, melangkah sedikit mendekat ke arah Pram.
"Mas, semuanya sudah selesai, sembari meraih tangan ku untuk berdiri namun kembali tubuhnya terjatuh, badan ku lemas Mas dengan suaranya yang pelan.
"Jangan lagi Pram, ini yang paling aku takutkan, segera mengangkatnya dan medudukkan nya di teras.
Ibu Nur yang sedari tadi melihat kini tergopoh mendekat. "Pram, kenapa kau masih ingin melakukannya, lihatlah kondisimu saat ini."
Tak sedikit pun keluar kata-kata dari mulutnya tersenyum manis menatap aku dan ibu. "Tugas ku sudah selesai Bu, kini tak akan ada lagi yang mengusik keluarga kita bahkan warga dusun ini. Pram sedikit terbatuk dan kembali mengeluarkan darah.
"Kedepannya kita lihat seperti apa pohon ini Bu." Hanya ini yang terucap kemudian matanya kembali terlelap.
"Jangan lagi, sungguh Pram aku tak ikhlas."
"Pram, bangun jangan seperti ini, kau membuatku takut Pram."
Kembali aku menggoyang tubuh Pram agar tersadar.
"Prameswari, aku sebut namanya berulang kali di sela tangisku."
Kini sadarku telah hilang aku masih duduk terperkur menatap tubuh yang terkulai lemas di depan ku.
Ibu yang baru tiba menyadarkan ku.
"Rian, sadar nak, tenangkan hatimu kita bawa Pram pulang ya?
Seperti terkena sengatan listrik, aku langsung berdiri dan mengendong tubuh Pram berjalan ber iringan dengan kedua ibu.
Membaringkannya secara perlahan di kamarnya, tak ingin beranjak pergi untuk meninggalkanya, berusaha untuk kembali membuatnya tersadar berkali-kali aku sebut namanya tapi tak ada reaksi sedikit pun.
Sudah dua jam Pram belum juga tersadar
masih menunggunya, hingga malam menjelang saat jari-jari tangannya mulai bergerak, aku kembali bersemangat dan harapan aku yang besar dan yakin jika Pram akan segera siuman.
Rasa kantuk yang tiba-tiba datang membuat Rian berusaha untuk menahannya dan tak ingin kejadian tadi siang terulang lagi.
"Pram, bangunlah, kau tidur terlalu lama Pram, lihatlah aku dan ke dua ibu kita, kau terlalu sering membuatnya menangis, pulang dan bangunlah Pram, lihatlah orion mu sedang melihat mu terbaring lemah."
"Pram, pulanglah dan bangunlah," ucap Rian lagi. "Kenapa senang sekali kau bermain di sana Pram, aku sudah bilang Pram ada aku Mas Rian mu yang selalu menunggumu untuk pulang."
Aku terkejut saat tangan Pram memegangku dengan erat. "Alhamdulillah ya Allah," ucapku sembari tersenyum.
Pukul tiga dini hari Pram tersadar. "Jangan pernah seperti ini Pram," sembari aku rangkul tubuhnya.
__ADS_1
Segera beranjak berdiri memanggil ibu
"Bu, Pram, Pram sudah sadar," ucap Rian sedikit keras.