
"Kok bisa?" ucap Pram tak percaya. Saat membacanya. "Di sini aku tak mencantumkan sawah simbah untuk PKL ku Mas? Apa Mas Rian?" tanya Pram lagi. Mas Rian menatap Pram dengan heran. "Aku gak sedikit pun menulis tujuan PKL di daerah kampung kita Pram!"ucap mas Rian memastikan.
"Lalu?"tanya Pram dan Mas Rian bersamaan.
"Tapi, seketika aku menatap Hanifa yang masih tersenyum menatap Pram. "Pasti, pasti dia," ucap Pram pelan.
Masih dengan ragu Pram. "Jadi Mas satu tim dengan Hanifa?" tanyaku pelan. Kemudian kembali aku membaca dengan perlahan. "Aku malah dapat satu tim dengan Handra, Santi dan lagi aku membacanya satu persatu ini terdiri lima anggota," ucap Pram sambil mencatat.
"Ini jauh Mas," ucap Pram lemas karena Mas Rian terus memperhatikan aku.
Menatap Mas Rian, ada ragu menggelitik hati Pram. Bukan tentang Hanifa atau Mas Rian tapi kini aku teringat tentang rumah Simbah. "Mas, panggil Pram dengan menarik tangannya agar sedikit menjauh dari kerumunan.
"Mas, bagaimana dengan rumah Simbah, meski ini masih satu minggu keberangkatan tolong jangan biarkan anak-anak mendekat ke rumah Simbah," ucap Pram sedikit pelan.
"Jujur aku sedikit khawatir tentang ini, mas mau kan bantu aku mengawasinya," sembari Pram menatap wajah Rian.
"Aku akan berusaha untuk itu Pram. Kau tahu aku pasti akan merindukan wajah ini juga dalam satu bulan ke depan," ucapnya sembari tersenyum.
"Hm, kenapa tempat PKL Pram jauh dan Mas deket, awas kalau dekat dekat lagi dengan Hanifa, jadi serasa berat Pram pergi nanti, hatiku jadi nggak enak," ucapku sembari masuk ke kelas dan kembali duduk di kursi.
Tak ada jawaban dari Mas Rian hanya menunjukkan jari manisnya sembari menyentuh cincinnya, aku sedikit tersenyum melihatnya, tapi itu tak membuat Pram tenang ada hal yang menjadi firasat buruk di hati Pram.
Saat Dosen jurusan masuk, langsung membuka materi dan memanggil namaku
"Prameswari. "ya pak," sembari aku angkat tangan, melihat sejenak kemudian mengeluarkan selembar kertas, membacanya sesaat. Terima kasih sudah menerima teman teman kalian untuk PKL di tempat mu dan Hanifa juga sudah mau memberi masukan," ucap Dosen jurusan.
Seketika aku dan Mas Rian saling menatap tak percaya, semakin resah hati Pram mendengar ini, tapi setidaknya ada Mas Rian yang mengawasi mereka.
Bukan fokus dengan materi yang di sampaikan tapi kini pandangan Pram tertuju pada Hanifa yang sesekali melirik Mas Rian.
Satu jam kedepan materi terakhir untuk persiapan PKL sudah selesai di sampaikan Pram segera menghampiri Pak Dosen berusaha untuk berbicara agar bisa bertukar tim, hanya senyum yang Pram dapat dan semua sudah sesuai dengan prosedurnya.
Langkah Pram menjadi lemas saat ke luar kelas, nampak Mas Rian masih berbincang dengan Hanifa, Rani dan teman satu timnya.
"Hai Pram," panggil Santi dan mengajak aku bergabung untuk membahas tentang keberangkatan kami nanti.
__ADS_1
Hampir pukul tiga sore saat kami sepakat dengan semua diskusi kami memutuskan untuk berangkat lebih awal karena tempat yang kami tuju jauh.
"Sepertinya kau tak semangat Pram, karena akan jauh dengan Rian?" ucap Santi tiba-tiba.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. "Ada hal yang membuat aku berat meninggalkan kampung San," ucap Pram sembari berjalan menuju tempat parkir, nampak Mas Rian sudah menunggu.
Tersenyum saat aku menghampiri. "Sudah lama menunggu tanya Pram sembari memakai helm. "Lebih lama lagi kalau kita jauhan nanti," ucap Rian yang kini memandang Pram lekat.
"Cuma sebulan," ucap Pram sembari naik di boncengannya.
"Sebulan," hanya ini yang terucap kemudian melajukan motornya dengan sedikit lambat. "Mas, mungkin dua hari lagi aku akan berangkat, ingat jangan genit-genit dengan Hanifa, aku tahu dia masih sangat mengejar Mas," ucap Pram pelan.
Tak menjawab. "Pram, mampir ke ibu Pram?sekalian pamitan," ucap Mas Rian mengingatkan dan aku tersenyum menanggapinya.
Memasuki gang kampung. "Tumben sepi mas apa anak-anak pergi mengaji tanyaku lagi.
'Sayang, saat nanti saat anak-anak lomba membaca al qur ' an, aku tak bisa melihatnya dan ada pasti nanti tim nya Mas Rian yang ikut melihat atau bahkan membantu, ada sedikit rasa kecewa di hatiku.'
"Ayo turun, Pram," ucap Mas Rian sembari melepas helm.
Tak menjawab semua pertanyaan Pram, kini malah menarik Pram ke dalam rumah. "Assalammualaikum," ucap Pram sembari sedikit masuk keruang tengah, ibu mana mas?"
Tak lama terdengar suara tawa anak-anak
"Ini mbaknya yang janji bikin mie," ucap mereka bersamaan dan kini ramai suara mereka saling berbicara mendahului.
"Sebentar, biar Mbaknya ketemu ibu dulu," ucap mas Rian mencoba menenangkan mereka.
Aku bergegas masuk ke dalam dan menemui Bu Asih, berbasa-basi sebentar dan Pram melihat Mas Rian sudah duduk di antara anak anak.
"Jadi kapan berangkatnya Pram? Dua hari lagi Bu, kini pandangan Pram tertuju pada Mas Rian.
"Pram, sebelum berangkat wujudkan ke inginan mereka dan kau juga sudah berjanji," ucap ibu pelan. Kebetulan kemarin ibu dan Mas mu sudah belanja, semuanya tersedia di dapur," ucap ibu sembari berjalan ke depan untuk mengajar mengaji.
"Pram, ingat, di tempat baru yang kau kunjungi nanti bersikaplah sopan, merendah dan jangan pernah menunjukkan kemampuanmu, jika harus dan terpaksa," ucap ibu sebelum benar-benar ke luar dari dapur.
__ADS_1
"Ya Bu, terima kasih sudah mengingatkan Pram."
"Rian, tolong bantu Pram di dapur, ibu akan mengajar ngaji dan jangan sampai anak-anak menunggu Rian," ucapan ibu seperti titah yang harus segera di kerjakan.
"Pram, panggil Rian saat aku melihat Pram mulai memotong bahan-bahannya. "Mas siapkan saja mangkuknya sepuluh anak kan?ucap Pram.
"Kasih lebih Pram siapa tahu mereka mau nambah," ucap Rian sembari tangannya menyiapkan mangkuk.
"Anak-anak atau Mas Rian?" jawab Pram dan itu membuat Mas Rian hanya tersenyum sembari menyiapkan mangkuk dan sendoknya. kemudian menjerang dua panci air satu untuk kuah dan satu untuk memasak mienya.
"Yap, matang bersamaan," ucap Pram sembari mengangkat mienya ke dekat mangkuk. Memasukkan mienya dan menuang kuahnya secara bergantian. "Mas sudah siap," panggil Pram. "Biar di tutup ibu dulu mengajinya Pram," sembari melangkah menyusun mienya di nampan.
"Anak-anak jangan pulang dulu, ini ada yang mau menepati janjinya. "Siapa yang mau mie? tanya Mas Rian yang langsung di jawab serentak oleh mereka. "Aku, aku, aku suara anak-anak berebut ingin maju. duduk saja pasti di bagi," ucap ibu sembari membagi mienya satu persatu.
Menatap wajah wajah mungil berlomba menghabiskan mie porsinya dan duduk sedikit terengah karena kenyang dengan mulut belepotan di sana sini, senyum Pram terus terkembang hingga seorang anak mendekat pada Pram. "Terima kasih kakak," ucapnya dan membisikkan sesuatu pada Pram dan itu membuat Pram tertawa.
Setelah menyelesaikan semuanya dan merapikan semua kini aku benar-benar berpamitan untuk pulang. "Terima kasih," ucap Pram sembari melangkah masuk rumah.
"Satu bulan, semoga semuanya baik-baik saja dan tak terjadi apa-apa," sembari aku tatap langit. "Satu bulan," ucap Pram kembali.
Waktu berjalan merambat pelan namun pasti sudah waktunya untuk berangkat, berpesan banyak hal pada ibu dan Mas Rian.
"Sudah mau berangkat atau menundannya hingga semester depan," ucap Mas Rian sembari menaikkan bawaan Pram di depan sepedanya.
"Hati-hati Pram, sering kabari ibu sembari mengecup kening Pram. "Sudah di tunggu anak-anak di depan antar saja sampai gang," ucap Pram.
"Mas, sungguh awasi mereka dan titip ibu ya! saat motor mas Rian sudah berhenti.
Menurunkan bawaan Pram, beberapa menit kemudian nampak mobil Handra berhenti persis di depan gang, melirik ke dalam sudah ada Santi, Nurdin dan dua lainnya.
"Nurdin, pindah ke depan biar Santi duduk dengan Pram," ucap mas Rian.
"Hati hati Pram jangan nakal ingat ini ya?sembari menunjuk jari manis Pram.
"Titip Pram, Hardan, Nurdin sembari melepas tangan Pram dan melihat Pram masuk dalam mobil."
__ADS_1
Ada rasa berat di hatiku meninggalkan semua nya, masih menunduk berusaha tenang dan menepis firasat di hati Pram.